Harga dan ketimpangan distribusi DOC (day old chick) menjadi salah satu persoalan utama yang dikeluhkan peternak rakyat mandiri menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. Momen strategis ini biasanya menjadi peluang besar untuk memulai siklus produksi ayam agar panen tepat ketika permintaan konsumsi meningkat. Namun faktanya banyak peternak justru menghadapi kesulitan mendapat pasokan DOC dari pasar.
Artikel ini dipublikasikan ulang dari Troboslivestock.com dengan izin resmi dan telah disesuaikan untuk kebutuhan publikasi.
Kesulitan Akses DOC di Saat Peluang Tinggi
Menurut Ketua Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO), Kusnan, pasokan DOC yang biasanya tersedia justru “menghilang” ketika permintaan pasar sedang meningkat. Ironisnya, kondisi ini terjadi meskipun data nasional menunjukkan stok DOC secara keseluruhan aman. Hal ini menunjukkan adanya masalah ketimpangan distribusi DOC yang masih belum terselesaikan.
Kusnan menekankan bahwa ketimpangan ini bukan hanya masalah teknis, tetapi juga soal keadilan dalam akses pasokan DOC untuk peternak rakyat. Ketika akses ke DOC terhambat di momen penting, peternak kehilangan kesempatan untuk mengejar momentum pasar dan berpotensi kehilangan pendapatan yang biasanya lebih tinggi pada masa Lebaran.
Regulasi Sudah Ada, Namun Implementasi Masih Lemah
Pemerintah telah menetapkan aturan melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2024 yang mengatur tata niaga DOC secara lebih adil bagi peternak di luar integrator besar. Regulasi ini dirancang untuk memastikan peternak rakyat mandiri memiliki akses yang layak dan tidak dianaktirikan dalam rantai pasok DOC.
Namun di lapangan, implementasi aturan tersebut dinilai masih lemah. Peternak masih mengalami kesulitan mendapatkan DOC pada saat kebutuhan sedang tinggi, sementara sebagian pasokan lebih dulu diserap oleh sistem internal perusahaan besar. Ketimpangan pola distribusi ini menunjukkan bahwa regulasi yang ada belum benar-benar dirasakan manfaatnya oleh peternak rakyat.
Dampak Ketimpangan bagi Peternak
Ketimpangan distribusi DOC membawa dampak langsung terhadap operasional peternak rakyat:
Biaya produksi meningkat: Peternak harus mencari DOC di luar jalur distribusi resmi.
Jadwal chick-in molor: Keterlambatan pasokan membuat jadwal produksi tidak tepat dengan waktu pasar.
Risiko kerugian meningkat: Keterlambatan panen mengurangi potensi keuntungan di momen harga tinggi.
Menurut PERMINDO, kalau kondisi ini terus dibiarkan, maka ketahanan pasokan protein hewani nasional bisa ikut terancam karena banyak peternak rakyat kehilangan momentum produksi.
Permintaan Solusi dan Perbaikan Sistem
PERMINDO mengusulkan beberapa langkah agar distribusi DOC lebih adil dan transparan:
Audit distribusi DOC mingguan secara terbuka — membandingkan pasokan internal integrator dengan eksternal (peternak rakyat/mandiri).
Segera mempercepat implementasi Permentan 10/2024 termasuk sanksi administratif jika terjadi pengalihan kuota.
Transparansi data pasokan DOC berbasis sistem informasi perunggasan nasional agar publik dapat mengawasi secara efektif.
Skema offtaker dan penyangga harga untuk memberikan keberanian bagi peternak rakyat melakukan chick-in tanpa takut tertekan harga.
Prioritas akses DOC bagi peternak rakyat mandiri terutama di momen strategis seperti Ramadan dan Lebaran.