Tahun 2026 menjadi titik krusial bagi industri perunggasan nasional. Di satu sisi, permintaan ayam hidup (live bird/LB) mulai membaik dan serapan pasar relatif lancar. Namun di sisi lain, perbaikan tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh peternak rakyat—mereka yang selama ini menjadi penopang utama 60 persen pasokan protein hewani nasional.
Inilah paradoks besar perunggasan kita: ketika pasar bergerak positif, kesejahteraan peternak rakyat belum ikut terangkat secara proporsional.
Harga pakan masih tinggi dan belum menunjukkan penurunan signifikan di tingkat kandang. Harga DOC (day old chick) kerap berada di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP), membuat tekanan biaya semakin berat di hulu. Sementara itu, implementasi kebijakan perbadan DOC dan LB yang direncanakan efektif Januari 2027 belum berjalan optimal. Sepuluh bulan masa transisi ke depan menjadi periode rawan bagi peternak rakyat.
Di saat yang sama, hasil produksi grand parent stock (GPS) tahun-tahun sebelumnya masih membayangi potensi surplus suplai, terutama di wilayah Jawa yang sudah padat produksi. Sebaliknya, luar Jawa masih menghadapi keterbatasan infrastruktur hilirisasi, rumah potong unggas (RPU), dan sistem rantai dingin (cold chain). Ketimpangan ini memperlihatkan bahwa persoalan kita bukan sekadar produksi, melainkan tata kelola.
Struktur Industri yang Belum Berkeadilan
Masalah mendasar perunggasan nasional bukan hanya fluktuasi harga, melainkan struktur industri yang belum sepenuhnya berkeadilan. Integrator besar memiliki kekuatan vertikal dari hulu hingga hilir—dari GPS, pakan, hingga distribusi. Sementara peternak rakyat masih berjuang mengakses DOC, pakan, pembiayaan, dan pasar dengan posisi tawar yang lemah.
Data peternak rakyat pun belum terkonsolidasi dengan baik. Akibatnya, intervensi kebijakan sering kali tidak tepat sasaran. Tanpa basis data yang akurat, pengaturan suplai DOC, stabilisasi harga, hingga program pembiayaan berisiko tidak menyentuh kelompok yang paling membutuhkan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, industri akan rapuh. Ketahanan pangan nasional dan program makan bergizi bagi masyarakat akan bergantung pada struktur yang timpang.
Hilirisasi sebagai Jalan Naik Kelas
Salah satu kunci transformasi adalah hilirisasi. Selama ini orientasi industri masih kuat pada penjualan ayam hidup. Padahal nilai tambah terbesar justru berada pada karkas, produk olahan, dan distribusi berantai dingin.
Ayam hidup dengan harga rata-rata Rp25 ribu per kilogram dapat meningkat nilainya menjadi sekitar Rp40 ribu per kilogram ketika masuk ke tahap pengolahan. Selisih nilai ini adalah ruang peningkatan kesejahteraan—jika peternak rakyat dilibatkan dalam rantai nilai tersebut.
Wilayah di luar Jawa memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan baru. Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua masih membutuhkan investasi RPU, pengolahan, dan sistem distribusi modern. Dengan pendekatan kolaboratif, peternak senior dapat menjadi mitra dalam proyek hilirisasi skala menengah.
Kolaborasi Empat Pilar
Perubahan struktural tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi empat pilar: pemerintah, akademisi, asosiasi, dan pelaku usaha/BUMN.
Pemerintah perlu menegakkan HAP DOC dan LB secara konsisten, memastikan kebijakan 50:50 berjalan, serta menyediakan skema pembiayaan khusus peternak rakyat. Akademisi harus mendorong transformasi teknologi budidaya secara bertahap, meningkatkan efisiensi pakan, dan memperbaiki performa teknis seperti FCR dan IP.
Asosiasi berperan mengonsolidasikan data dan kebutuhan riil peternak, sekaligus menjadi jembatan advokasi kebijakan. Sementara pelaku usaha dan BUMN diharapkan menjalankan kemitraan yang transparan dan berorientasi win–win, serta menjadi penyangga stabilisasi pasar, bukan dominator yang mempersempit ruang gerak rakyat.
Tantangan Mendesak: Akses DOC
Persoalan paling kritis tahun ini adalah akses DOC. Harga tinggi, kuota terbatas, dan ketergantungan pada broker membuat banyak peternak kesulitan memulai siklus produksi. Solusi jangka pendek harus realistis: pengadaan kolektif melalui asosiasi atau koperasi, kontrak suplai dua siklus, transparansi harga hatchery, serta pemanfaatan slot over-hatch yang tersedia.
Di tingkat kandang, disiplin manajemen menjadi penentu. Empat belas hari pertama pemeliharaan sangat menentukan performa panen. Efisiensi pakan—yang menyumbang 60–70 persen biaya produksi—harus menjadi fokus utama. Lebih baik memperoleh keuntungan kecil namun berkelanjutan daripada mengejar margin besar yang memutus siklus usaha.
Menempatkan Peternak sebagai Subjek
Tahun 2026 adalah tahun penuh tekanan sekaligus peluang. Tanpa pembenahan tata kelola, perbaikan harga tidak akan berarti banyak bagi peternak rakyat. Namun dengan kolaborasi yang terstruktur, penguatan data, hilirisasi, dan penegakan kebijakan yang konsisten, industri unggas nasional dapat menjadi lebih kokoh dan inklusif.
Peternak rakyat bukan pelengkap statistik. Mereka adalah fondasi ketahanan pangan. Jika mereka kuat, industri unggas nasional akan berdiri tegak. Jika mereka runtuh, ketahanan pangan ikut goyah.
Kini saatnya kebijakan menempatkan peternak rakyat sebagai subjek utama, bukan sekadar penonton dalam dinamika pasar yang terus berputar.