Dalam enam bulan terakhir, sektor peternakan rakyat di Indonesia menghadapi badai yang tak kalah dahsyat dibanding pandemi. Bukan wabah penyakit, melainkan lonjakan harga pakan ternak yang terus merangkak naik tanpa kendali. Jagung, dedak, hingga bungkil kedelai—komoditas yang menjadi nadi kehidupan peternak—kini menjelma menjadi beban yang hampir tak tertahankan.
Peternak rakyat, yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional, kini terpaksa berhadapan dengan kenyataan pahit: biaya produksi melambung tinggi sementara harga jual ternak stagnan. Margin keuntungan yang tadinya tipis, kini berubah menjadi kerugian. Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana krisis pakan ini berdampak langsung pada peternak mandiri di berbagai daerah, serta apa yang sebenarnya terjadi di lapangan berdasarkan data dan kesaksian langsung.
Margin Tipis yang Kian Menipis
Peternak rakyat di Indonesia sebagian besar menjalankan usaha dengan skala kecil hingga menengah. Mereka tidak memiliki kekuatan tawar (bargaining power) terhadap pabrik pakan maupun distributor jagung. Dalam kondisi normal, keuntungan bersih seekor ayam broiler misalnya, hanya berkisar Rp 1.500 hingga Rp 3.000 per kilogram. Angka yang sangat tipis dan sangat sensitif terhadap perubahan harga pakan.
Dengan skema usaha seperti ini, kenaikan harga pakan sebesar 5-10 persen saja sudah cukup untuk menghapus seluruh keuntungan. Namun yang terjadi saat ini jauh lebih ekstrem. Berdasarkan data dari Asosiasi Peternak Ayam Ras Indonesia, harga pakan ayam ras tipe BR1 (broiler starter) telah melonjak hingga 25-30 persen dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
“Dulu modal pakan untuk 1.000 ekor ayam sekitar Rp 7 juta per minggu. Sekarang bisa tembus Rp 10 juta lebih. Sementara harga jual ayam hidup malah turun karena stok di pasar sedang melimpah,” ujar Sugeng, peternak ayam broiler asal Boyolali, saat ditemui tim Permindo.
Data di Lapangan yang Mengkhawatirkan
Tim Permindo melakukan pemantauan harga dan wawancara cepat di tiga sentra peternakan rakyat: Jawa Barat (Kabupaten Bogor dan Sukabumi), Jawa Tengah (Kabupaten Boyolali dan Temanggung), serta Jawa Timur (Kabupaten Blitar dan Malang). Hasilnya menggambarkan situasi yang mengkhawatirkan.
Fakta dari Survei Cepat Permindo
Berikut adalah temuan utama dari survei yang melibatkan 200 peternak rakyat tersebut:
60 persen peternak mengaku mengalami kerugian operasional dalam dua bulan terakhir. Kerugian berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 5 juta per siklus panen, tergantung skala usaha.
Harga jagung di tingkat peternak menyentuh angka Rp 6.500 – Rp 7.200 per kilogram. Padahal harga ideal yang masih memberikan keuntungan bagi peternak adalah di bawah Rp 5.500 per kilogram.
Harga dedak (bekatul) sebagai pakan alternatif juga ikut meroket. Dari harga normal Rp 2.500 per kilogram, kini melonjak hingga Rp 4.500 – Rp 5.000 per kilogram.
30 persen peternak mengaku mengurangi populasi ternak hingga 50 persen sebagai langkah antisipasi agar tidak terlalu besar menanggung biaya pakan.
15 persen peternak terpaksa melakukan forced selling (menjual ternak sebelum mencapai bobot ideal) hanya untuk memutar uang tunai membeli pakan untuk siklus berikutnya.
Dampak Domino terhadap Ketahanan Pangan Nasional
Jika krisis ini dibiarkan berlarut-larut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh peternak, tetapi juga oleh konsumen dan ketahanan pangan nasional secara keseluruhan.
Penurunan Produksi
Saat peternak mengurangi populasi atau menghentikan produksi sementara, pasokan daging dan telur ke pasar akan menurun. Dalam beberapa bulan ke depan, bukan tidak mungkin terjadi kelangkaan yang memicu lonjakan harga di tingkat konsumen. Ini adalah skenario klasik yang selalu terjadi ketika peternak rakyat terdesak.
Ketergantungan Impor
Indonesia selama ini bangga dengan kemandirian daging ayam dan telur. Namun jika peternak rakyat terus berguguran, celah itu akan diisi oleh produk impor. Negara tetangga seperti Thailand dan Brasil, yang memiliki industri peternakan terintegrasi, sudah menunggu peluang untuk membanjiri pasar Indonesia dengan produk unggas murah. Ini bukan sekadar soal harga, tetapi juga soal kedaulatan pangan.
Hilangnya Mata Pencaharian
Sektor peternakan menyerap jutaan tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Setiap satu peternak mandiri yang gulung tikar, berdampak pada beberapa orang lainnya: karyawan kandang, sopir angkutan ternak, penjual pakan eceran, hingga tukang potong ayam. Efek berantai ini bisa menciptakan pengangguran baru di perdesaan.
Kesimpulan dan Harapan
Krisis pakan yang melanda peternak rakyat saat ini bukanlah masalah musiman biasa. Ini adalah persoalan struktural yang membutuhkan perhatian serius dari semua pemangku kepentingan. Peternak rakyat tidak meminta subsidi yang memberatkan APBN. Mereka hanya menginginkan stabilitas harga pakan, akses terhadap bahan baku yang adil, dan perlindungan dari praktik monopoli yang merugikan.
Permindo akan terus memperjuangkan hak-hak peternak rakyat melalui advokasi kebijakan, pendampingan teknis, dan penguatan kelembagaan kelompok tani. Namun perjuangan ini tidak akan berarti tanpa dukungan dan solidaritas dari kita semua.
Call to Action
Apakah Anda juga merasakan dampak kenaikan harga pakan di daerah Anda? Bagikan cerita dan data Anda di kolom komentar di bawah. Mari kita kumpulkan suara peternak rakyat agar didengar oleh para pengambil kebijakan. Bersama Permindo, kita kuatkan peternak rakyat Indonesia!
Artikel ini adalah bagian dari rangkaian liputan Permindo tentang krisis pakan ternak. Baca juga artikel lainnya: Menjeritnya Peternak Ayam Ras dan Akar Masalah Harga Pakan.