Opini Publik

PERMINDO Apresiasi Stabilitas Harga Ayam, Tegaskan Pentingnya Margin Sehat bagi Peternak Rakyat

Published

on

Spread the love

Jakarta — Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) mengapresiasi langkah stabilisasi pangan yang dilakukan pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) dalam menjaga tren penurunan harga cabai rawit merah serta stabilitas harga daging ayam ras secara nasional.

Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, sebelumnya menegaskan bahwa penguatan pengawasan distribusi dan inspeksi mendadak (sidak) pasar terus dilakukan guna memastikan harga tetap terkendali dan pasokan aman di berbagai daerah.

Stabilitas Harga Dinilai Positif, Namun Hulu Tetap Rentan

PERMINDO menilai stabilitas harga ayam ras di tingkat konsumen pada kisaran Rp38.000–Rp40.000 per kilogram merupakan sinyal positif dalam menjaga inflasi pangan tetap terkendali. Kondisi tersebut dinilai membantu daya beli masyarakat sekaligus mendukung stabilitas ekonomi nasional.

Namun demikian, organisasi peternak rakyat ini menekankan bahwa stabilitas di hilir harus berjalan seiring dengan keberlanjutan usaha peternak di hulu.

Saat ini harga DOC broiler di lapangan masih berada pada kisaran Rp7.000 per ekor (ukuran besar), sementara harga ayam hidup (live bird) berada di kisaran Rp22.500–Rp23.500 per kilogram. Secara umum kondisi tersebut relatif stabil, tetapi margin peternak sangat sensitif terhadap fluktuasi harga pakan yang merupakan komponen biaya produksi terbesar dalam usaha perunggasan.

PERMINDO: Stabilitas Harus Disertai Margin Sehat

Ketua Umum PERMINDO, Kusnan B.B.A., menyatakan bahwa keseimbangan tata kelola perunggasan menjadi kunci utama keberlanjutan sektor ini.

“Kami mengapresiasi langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan. Namun perlu ditegaskan bahwa stabilitas di tingkat konsumen harus dibarengi dengan jaminan margin usaha yang sehat bagi peternak rakyat. Jika harga sarana produksi, terutama pakan, tidak terkendali, maka stabilitas tersebut akan sulit bertahan dalam jangka panjang,” ujar Kusnan.

Ia menambahkan bahwa momentum penguatan peran BUMN dan pengawasan distribusi harus dimanfaatkan untuk menciptakan struktur industri yang lebih berkeadilan.

“Peternak rakyat adalah fondasi ketahanan protein hewani nasional. Negara perlu memastikan tidak terjadi tekanan biaya di hulu, khususnya dari kenaikan harga pakan atau DOC yang tidak rasional. Stabilitas harus dirasakan secara merata, bukan hanya di sisi konsumen,” tegasnya.

Dorong Tata Kelola Perunggasan yang Berkeadilan

PERMINDO memandang tata kelola perunggasan yang sehat harus menjamin tiga prinsip utama, yakni harga wajar bagi masyarakat, margin layak bagi peternak, serta rantai pasok yang transparan dan adil.

Sebagai organisasi peternak rakyat, PERMINDO menyatakan siap bersinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus mendorong kebijakan yang menjaga keberlanjutan usaha peternak mandiri di seluruh Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please enable JavaScript

Trending

Exit mobile version