Berita

Stok Aman, Harga Harus Wajar: Pemerintah Turun Tangan Stabilkan Ayam Ras

Published

on

Spread the love

JAKARTA — Pemerintah bergerak cepat merespons dinamika harga daging ayam ras yang tercatat menjadi salah satu penyumbang inflasi cukup signifikan, baik terhadap inflasi umum maupun inflasi pangan bergejolak (volatile food) secara bulanan pada Februari 2026.

Selain itu, pemerintah juga mengungkap adanya anomali harga dalam rantai distribusi ayam ras, yang diduga dipicu oleh praktik pedagang perantara atau middleman.


Pemerintah Soroti Peran Middleman

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam rapat pengendalian inflasi di Jakarta, Senin (9/3/2026), menyoroti adanya pihak perantara dalam rantai pasok daging ayam ras yang berpotensi memicu fluktuasi harga di pasar.

Ia meminta Badan Pangan Nasional untuk memetakan wilayah yang mengalami kenaikan harga sekaligus mengidentifikasi penyebabnya.

Menurut Tito, harga ayam di tingkat peternak sebenarnya tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Namun harga melonjak ketika produk tersebut berpindah tangan melalui rantai distribusi.

“Daging ayam ras, Bapanas harus berpikir di daerah mana saja yang terjadi kenaikan dan apa penyebabnya. Dari penjelasan Menteri Pertanian, ada pihak middleman. Harga di tingkat peternak tidak naik, tetapi naik ketika masuk ke perantara,” ujar Tito.

Ia menjelaskan bahwa pihak yang membeli ayam dari peternak kemudian menjualnya kembali ke pasar berpotensi menjadi sumber kenaikan harga tersebut.


Tren Harga Mulai Membaik

Meski sempat menjadi perhatian, Tito juga mengapresiasi adanya tren perbaikan dalam perkembangan harga ayam ras di sejumlah daerah.

Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah daerah yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) mulai menurun dalam beberapa pekan terakhir.

Pada pekan pertama Maret 2026:

  • 176 kabupaten/kota mengalami kenaikan IPH
  • 96 kabupaten/kota mengalami penurunan IPH

Angka tersebut membaik dibandingkan kondisi pada pekan ketiga dan keempat Februari yang sempat mencapai:

  • 198 kabupaten/kota
  • 209 kabupaten/kota

Sementara itu, jumlah daerah yang mengalami penurunan harga juga meningkat dibandingkan dua pekan sebelumnya yang tercatat masing-masing 88 dan 84 kabupaten/kota.


Pemerintah Tegas Tindak Pelaku Spekulasi Harga

Terpisah, Kepala Badan Pangan Nasional yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memastikan pemerintah tidak akan mentoleransi praktik yang memicu anomali harga di pasar.

Ia menegaskan bahwa produksi ayam nasional sebenarnya berada dalam kondisi cukup.

“Daging ayam itu kami bereskan. Memang naik sedikit, tetapi tidak ada toleransi. Yang menaikkan harga ternyata middleman. Ayam dinaikkan sampai Rp8.000. Itu tidak benar karena produsen tidak menaikkan harga,” tegas Amran.

Pemerintah bahkan membuka kemungkinan melakukan tindakan tegas terhadap pelaku yang melanggar ketentuan harga acuan.

“Kami minta segel dan tutup jika ada yang melanggar. Sudah ada harga acuan, tidak boleh ada yang bermain harga,” tambahnya.


Stok Nasional Dipastikan Surplus

Dari sisi pasokan, pemerintah memastikan ketersediaan daging ayam ras nasional berada dalam kondisi aman.

Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan per 5 Maret 2026, hingga akhir Maret diperkirakan masih terjadi surplus sebesar 591,3 ribu ton.

Perhitungan tersebut berasal dari:

  • stok awal Maret: 478,5 ribu ton
  • produksi Maret: 475,7 ribu ton
  • kebutuhan konsumsi: 362,9 ribu ton

Dengan kondisi tersebut, pemerintah menilai bahwa lonjakan harga tidak disebabkan oleh kekurangan pasokan.


Pemerintah Daerah Diminta Turun Mengawasi Pasar

Dalam rapat pengendalian inflasi tersebut, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional, I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan arahan Kepala Bapanas agar seluruh pelaku usaha mematuhi ketentuan harga yang berlaku.

Ia juga meminta pemerintah daerah memperkuat pengawasan di lapangan.

“Di hulu tidak boleh nakal, di tengah juga tidak boleh nakal. Kami meminta para gubernur, wali kota, dan kepala dinas terkait untuk turun langsung ke lapangan agar tidak ada lagi kenaikan harga pangan pokok,” ujarnya.

Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga pangan menjelang meningkatnya permintaan selama Ramadan hingga Idulfitri.


Harga di Tingkat Konsumen Masih Wajar

Di tingkat konsumen, harga daging ayam ras masih dianggap berada dalam kisaran yang wajar.

Dewi, salah satu pembeli di Pasar Ciracas, mengatakan kenaikan harga yang terjadi masih dapat dipahami mengingat meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Ramadan.

Menurutnya, harga ayam yang saat ini berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp45.000 per ekor masih tergolong normal.

“Kalau lagi naik seperti ini masih wajar. Dulu sekitar Rp30.000 sampai Rp32.000 per ekor. Sekarang Rp35.000, masih wajar karena menjelang Lebaran,” ujarnya.


Intervensi Pasar Melalui Gerakan Pangan Murah

Untuk menjaga harga tetap sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP), pemerintah juga melakukan intervensi pasar melalui program Gerakan Pangan Murah.

Melalui program ini, masyarakat dapat memperoleh daging ayam beku berkualitas premium dengan harga maksimal Rp40.000 per kilogram.

Program tersebut saat ini tersedia di lebih dari 1.200 outlet di 17 provinsi dan akan berlangsung hingga sehari sebelum Idulfitri.

Program ini merupakan kolaborasi antara Badan Pangan Nasional dengan beberapa perusahaan besar di sektor perunggasan, antara lain:

  • Charoen Pokphand Indonesia
  • Japfa Comfeed Indonesia
  • Malindo Feedmill

Masyarakat dapat mengetahui lokasi Gerakan Pangan Murah daging ayam beku melalui tautan resmi yang disediakan pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please enable JavaScript

Trending

Exit mobile version