Perhimpunan Peternak Mandiri Nasional (PERMINDO) menyoroti kondisi anomali harga di sektor perunggasan nasional, di mana harga ayam hidup (live bird/LB) justru melemah di saat harga Day Old Chick (DOC) mengalami kenaikan signifikan. Kondisi ini dinilai tidak wajar dan berdampak langsung terhadap margin usaha peternak, khususnya peternak mandiri.
Dalam situasi ideal, harga DOC dan harga ayam hidup bergerak relatif seimbang mengikuti dinamika supply-demand. Namun yang terjadi saat ini adalah ketimpangan harga yang cukup tajam, sehingga mempersempit bahkan menghilangkan potensi keuntungan peternak.
Ketidakseimbangan Biaya Produksi dan Harga Jual
Dari sisi ekonomi, kondisi ini mencerminkan adanya ketidakseimbangan antara biaya input dan harga output. Peternak harus membeli DOC dengan harga tinggi, sementara harga jual ayam hidup di pasar tidak mampu mengimbangi kenaikan tersebut.
Akibatnya, struktur biaya produksi menjadi tidak sehat. Margin usaha yang sebelumnya tipis kini semakin tertekan, bahkan dalam banyak kasus berubah menjadi kerugian.
Ketua PERMINDO menyampaikan bahwa kondisi ini berdampak langsung pada arus kas peternak.
“Peternak membeli input dalam harga tinggi, tetapi menjual output dalam kondisi tertekan. Ini membuat arus kas terganggu dan memperbesar risiko kerugian berulang.”
Jika kondisi ini terus berlangsung, peternak akan kesulitan mempertahankan siklus produksi, yang pada akhirnya dapat menurunkan kapasitas produksi nasional secara bertahap.
Distorsi Pasar dan Ancaman terhadap Peternak Mandiri
Lebih jauh, anomali harga ini juga menciptakan distorsi dalam struktur pasar industri perunggasan. Pelaku usaha dengan akses modal besar cenderung memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi tekanan harga.
Sebaliknya, peternak mandiri berada pada posisi paling rentan. Tanpa dukungan modal yang cukup, mereka berisiko mengalami kerugian berulang hingga akhirnya keluar dari usaha.
Jika tren ini terus berlanjut, maka struktur industri berpotensi semakin terkonsentrasi pada pemain besar. Hal ini dapat mengurangi kompetisi sehat di pasar dan memperlemah posisi peternak rakyat dalam rantai pasok perunggasan nasional.
Dampak terhadap Iklim Investasi Perunggasan
Ketidakstabilan harga juga memberikan sinyal negatif terhadap iklim investasi di sektor perunggasan. Investor, khususnya di sektor hulu (budidaya), cenderung menahan ekspansi ketika menghadapi volatilitas tinggi tanpa adanya kepastian margin.
Dalam perspektif investasi, stabilitas harga dan kepastian kebijakan merupakan faktor utama dalam pengambilan keputusan. Ketika risiko meningkat dan margin tidak terjamin, daya tarik sektor ini sebagai tujuan investasi menjadi menurun.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pelaku usaha saat ini, tetapi juga berpotensi menghambat masuknya investasi baru yang dibutuhkan untuk pertumbuhan industri ke depan.
Dorongan Intervensi Kebijakan
PERMINDO menilai bahwa diperlukan langkah konkret dari pemerintah untuk menstabilkan ekosistem industri perunggasan. Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan antara lain:
Pengendalian distribusi dan produksi DOC agar lebih terukur
Penyesuaian supply-demand secara nasional
Penguatan akses pembiayaan bagi peternak mandiri
Peningkatan transparansi harga di seluruh rantai pasok
Intervensi kebijakan ini penting untuk menjaga keseimbangan pasar serta melindungi keberlangsungan usaha peternak rakyat.
Risiko Jangka Panjang bagi Industri
Tanpa perbaikan tata kelola yang menyeluruh, tekanan margin yang terus berlangsung dikhawatirkan tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga menimbulkan risiko struktural bagi industri perunggasan nasional.
Penurunan jumlah peternak mandiri, berkurangnya kapasitas produksi, hingga menurunnya minat investasi merupakan ancaman nyata yang dapat terjadi.
“Jika margin terus tertekan dan risiko tidak terkelola, maka yang terpengaruh bukan hanya peternak, tetapi juga keberlanjutan investasi dan stabilitas industri perunggasan secara keseluruhan.”
Kesimpulan
Anomali harga ayam hidup dan DOC saat ini menjadi sinyal peringatan serius bagi industri perunggasan nasional. Ketidakseimbangan ini tidak hanya menekan margin peternak, tetapi juga berpotensi mengganggu struktur pasar dan iklim investasi.
Diperlukan sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah untuk menciptakan ekosistem yang lebih stabil, adil, dan berkelanjutan. Tanpa langkah perbaikan yang cepat dan tepat, sektor perunggasan berisiko kehilangan daya saingnya dalam jangka panjang.