Tangerang, 8 Mei 2026 – Seminar Nasional dalam rangkaian AGRIMAT 2026 yang digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2 menjadi salah satu momentum penting bagi pelaku industri pertanian dan peternakan nasional. Acara ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, asosiasi peternak, hingga penyedia teknologi modern di sektor agribisnis.
AGRIMAT 2026 sendiri merupakan pameran dan forum bisnis internasional yang berfokus pada mesin pertanian, teknologi peternakan, rantai pasok pangan, serta pengembangan industri agribisnis modern di Indonesia. Kegiatan ini berlangsung pada 6–9 Mei 2026 di NICE PIK 2 dan menjadi bagian dari ekosistem pameran industri terpadu yang menghubungkan sektor pertanian, peternakan, logistik, cold chain, hingga pengolahan pangan.
Fokus Utama Seminar: Ketahanan Pangan dan Modernisasi Industri
Dalam seminar nasional tersebut, berbagai pembahasan strategis mengerucut pada pentingnya percepatan modernisasi sektor pertanian dan peternakan nasional di tengah tantangan global. Mulai dari fluktuasi harga pangan, kenaikan biaya produksi, ancaman penyakit ternak, hingga ketergantungan terhadap bahan baku impor menjadi isu yang banyak disorot.
Para narasumber menilai bahwa Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan pola produksi konvensional jika ingin menjaga stabilitas pangan nasional. Transformasi menuju sistem produksi yang lebih efisien, terintegrasi, dan berbasis teknologi dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
Beberapa teknologi yang menjadi perhatian dalam seminar meliputi:
Sistem smart farming dan smart livestock berbasis digital.
Otomatisasi kandang dan efisiensi manajemen pakan.
Penguatan sistem cold chain untuk menjaga kualitas distribusi pangan.
Penggunaan data dan artificial intelligence dalam pengelolaan produksi.
Pemanfaatan mesin pertanian modern untuk meningkatkan produktivitas.
Peternak Rakyat Jadi Sorotan Utama
Salah satu pembahasan yang paling banyak mendapat perhatian adalah kondisi peternak rakyat yang saat ini masih menghadapi tekanan berat akibat tingginya biaya produksi dan lemahnya posisi tawar di pasar.
Dalam berbagai sesi diskusi, muncul kekhawatiran bahwa tanpa keberpihakan nyata terhadap peternak mandiri, maka industri peternakan nasional akan semakin terkonsentrasi pada perusahaan besar. Kondisi ini dinilai berpotensi mengurangi kemandirian pangan nasional dalam jangka panjang.
Beberapa peserta seminar menyoroti persoalan klasik yang hingga kini masih terjadi, seperti:
Harga livebird yang sering berada di bawah biaya produksi.
Harga pakan yang terus mengalami kenaikan.
Ketergantungan bahan baku impor.
Lemahnya distribusi dan rantai pemasaran.
Kurangnya akses pembiayaan dan teknologi bagi peternak kecil.
Melalui forum ini, banyak pihak mendorong pemerintah agar lebih serius memperkuat ekosistem peternak rakyat melalui regulasi yang adil, perlindungan harga, dan pembangunan sistem distribusi yang sehat.
Kolaborasi Jadi Kunci Masa Depan
Seminar AGRIMAT 2026 juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk membangun industri pangan yang lebih kuat. Pemerintah, asosiasi, akademisi, pelaku usaha, hingga BUMDes dinilai harus bergerak dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Konsep integrasi dari hulu hingga hilir menjadi salah satu tema yang paling banyak dibahas. Model kemitraan berbasis desa, penguatan koperasi peternak, pembangunan fasilitas pengolahan sederhana, hingga pengembangan rantai distribusi berbasis komunitas disebut sebagai solusi yang dapat memperkuat ekonomi peternak rakyat.
Selain itu, forum ini juga membuka peluang kerja sama investasi dan transfer teknologi dari berbagai perusahaan nasional maupun internasional yang hadir dalam AGRIMAT 2026.
Transformasi Industri Harus Tetap Berpihak pada Rakyat
Meskipun modernisasi industri dianggap penting, banyak peserta seminar menegaskan bahwa transformasi sektor pertanian dan peternakan tidak boleh mengorbankan peternak kecil. Teknologi harus menjadi alat pemberdayaan, bukan justru memperlebar kesenjangan.
Karena itu, pemerintah didorong untuk memastikan bahwa digitalisasi dan modernisasi dapat diakses oleh peternak rakyat melalui:
Pelatihan dan pendampingan.
Akses pembiayaan.
Subsidi atau insentif alat produksi.
Penguatan kelembagaan peternak.
Pembangunan pusat distribusi dan pengolahan di daerah.
Dengan pendekatan tersebut, modernisasi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi tanpa menghilangkan peran peternak mandiri sebagai tulang punggung pangan nasional.
AGRIMAT 2026 Jadi Momentum Konsolidasi Industri
Penyelenggaraan AGRIMAT 2026 di NICE PIK 2 menjadi bukti bahwa sektor agribisnis Indonesia tengah bergerak menuju era baru yang lebih modern dan terintegrasi. Seminar nasional yang berlangsung pada 8 Mei 2026 tersebut tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga momentum konsolidasi antar pelaku industri dalam menghadapi tantangan pangan nasional.
Ke depan, hasil seminar ini diharapkan tidak berhenti sebagai wacana semata, melainkan mampu diterjemahkan menjadi kebijakan nyata dan program konkret yang berdampak langsung bagi petani dan peternak rakyat di seluruh Indonesia.
Dengan kolaborasi yang kuat, dukungan teknologi, serta keberpihakan terhadap pelaku usaha kecil dan menengah, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun industri pertanian dan peternakan yang lebih mandiri, modern, dan berkelanjutan.