peternak ayam keluhkan harga pakan tinggi 19tu3 dom
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini menjadi salah satu program strategis pemerintah membuka peluang besar bagi sektor peternakan nasional, khususnya industri unggas. Kebutuhan ayam dan telur dalam jumlah besar untuk mendukung program tersebut diperkirakan akan terus meningkat dan menjadi pasar jangka panjang yang sangat potensial.
Namun di tengah besarnya peluang tersebut, muncul kekhawatiran bahwa peternak rakyat justru akan tertinggal apabila hilirisasi industri unggas hanya dikuasai oleh perusahaan besar dan integrator.
Karena itu, hilirisasi unggas harus dirancang dengan melibatkan peternak rakyat secara langsung agar mereka dapat tumbuh, berkembang, dan membersamai program MBG sebagai bagian penting dari rantai pasok pangan nasional.
Hilirisasi Unggas Tidak Boleh Hanya Dinikmati Industri Besar
Hilirisasi di sektor unggas pada dasarnya merupakan langkah positif untuk meningkatkan nilai tambah produk peternakan. Mulai dari rumah potong unggas, pengolahan produk beku, distribusi dingin, hingga produk makanan siap konsumsi merupakan bagian penting dalam membangun industri pangan modern.
Namun jika seluruh proses hilirisasi hanya terpusat pada kelompok industri besar, maka peternak rakyat akan semakin sulit bersaing dan berpotensi hanya menjadi penonton.
Padahal selama ini peternak rakyat memiliki kontribusi besar terhadap produksi unggas nasional. Mereka tersebar di berbagai daerah dan menjadi penggerak ekonomi desa serta penyerap tenaga kerja masyarakat.
Program MBG seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat posisi peternak rakyat, bukan justru memperlebar ketimpangan usaha di sektor perunggasan.
Program MBG Bisa Menjadi Penggerak Ekonomi Peternak Desa
Kebutuhan protein hewani dalam program MBG dipastikan membutuhkan pasokan yang stabil dan berkelanjutan. Ayam dan telur menjadi komoditas utama yang paling memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut karena mudah didistribusikan dan memiliki kandungan gizi tinggi.
Apabila peternak rakyat dilibatkan secara aktif, maka program MBG dapat memberikan dampak besar terhadap:
peningkatan kesejahteraan peternak,
pertumbuhan ekonomi desa,
pembukaan lapangan kerja baru,
hingga penguatan ketahanan pangan nasional.
Skema kemitraan yang sehat antara pemerintah, BUMDes, koperasi, dan peternak rakyat perlu dibangun agar rantai pasok MBG tidak hanya dimonopoli segelintir pihak.
Dengan demikian, manfaat ekonomi dari program nasional ini dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat kecil di daerah.
Peternak Rakyat Membutuhkan Akses dalam Hilirisasi
Selama ini tantangan terbesar peternak rakyat bukan hanya pada produksi, tetapi juga akses pasar dan hilirisasi. Banyak peternak mampu menghasilkan ayam berkualitas, namun tidak memiliki akses terhadap:
rumah potong unggas,
fasilitas cold storage,
distribusi modern,
hingga kontrak pembelian jangka panjang.
Akibatnya, peternak rakyat sering berada pada posisi paling lemah dalam rantai bisnis perunggasan.
Karena itu, hilirisasi unggas harus dibangun dengan konsep pemerataan dan pemberdayaan. Pemerintah perlu membuka ruang agar peternak rakyat dapat ikut memiliki peran dalam sistem distribusi dan pengolahan hasil ternak.
Dengan keterlibatan tersebut, peternak rakyat tidak hanya menjual ayam hidup, tetapi juga bisa memperoleh nilai tambah dari produk hilir yang memiliki margin lebih baik.
Desa Harus Menjadi Basis Produksi Pangan Nasional
Program MBG idealnya dibangun dari kekuatan produksi daerah. Kebutuhan ayam dan telur di suatu wilayah seharusnya dapat dipenuhi oleh peternak rakyat di wilayah sekitar agar perputaran ekonomi tetap berada di daerah.
Model seperti ini akan:
memperkuat ekonomi desa,
mengurangi biaya distribusi,
menciptakan kemandirian pangan,
dan meningkatkan keberlanjutan program MBG dalam jangka panjang.
Ketika desa menjadi pusat produksi pangan nasional, maka program pemerintah tidak hanya menjadi program bantuan sosial, tetapi juga menjadi instrumen pembangunan ekonomi rakyat.
PERMINDO Dorong Keterlibatan Peternak Rakyat dalam Hilirisasi Unggas
Perhimpunan Peternak Mandiri Nasional (PERMINDO) menilai hilirisasi unggas harus berjalan seiring dengan pemberdayaan peternak rakyat agar tercipta ekosistem industri yang sehat dan berkeadilan.
Peternak rakyat siap meningkatkan kualitas produksi dan mendukung kebutuhan program MBG. Namun dukungan tersebut harus diiringi dengan akses yang adil terhadap pembiayaan, distribusi, pengolahan hasil ternak, dan kepastian pasar.
Dengan melibatkan peternak rakyat dalam hilirisasi unggas, pemerintah tidak hanya menjaga stabilitas pasokan pangan nasional, tetapi juga menciptakan pemerataan ekonomi yang nyata hingga ke tingkat desa.
Pada akhirnya, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari tersalurkannya makanan bergizi kepada masyarakat, tetapi juga dari seberapa besar program tersebut mampu menghidupkan dan memperkuat ekonomi peternak rakyat Indonesia