Opini Publik

Program MBG Harus Jadi Peluang Besar bagi Peternak Rakyat, Bukan Hanya Industri Besar

Published

on

Spread the love

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dijalankan pemerintah menjadi harapan baru bagi jutaan masyarakat Indonesia. Selain bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak dan generasi muda, program ini juga memiliki potensi besar menjadi penggerak ekonomi nasional, khususnya di sektor peternakan rakyat.

Namun di balik besarnya potensi tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah peternak rakyat benar-benar akan dilibatkan dalam rantai pasok program MBG?

Sebab jika seluruh kebutuhan protein hewani dalam program ini hanya diserap dari perusahaan integrator besar atau industri berskala besar, maka peternak mandiri dan peternak rakyat hanya akan menjadi penonton di negeri sendiri.

Padahal, peternak rakyat selama ini menjadi tulang punggung produksi pangan nasional. Mereka tersebar di desa-desa, menopang ekonomi daerah, menyerap tenaga kerja lokal, dan menjaga ketahanan pangan dari tingkat akar rumput.

MBG Bisa Menjadi Momentum Kebangkitan Peternak Rakyat

Kebutuhan protein hewani untuk program MBG diperkirakan akan sangat besar dan berkelanjutan. Ayam, telur, hingga produk olahan unggas akan menjadi kebutuhan harian dalam jumlah masif.

Ini seharusnya menjadi momentum strategis untuk:

  • meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat,
  • menciptakan ekosistem peternakan desa,
  • memperkuat ekonomi daerah,
  • dan membangun kemandirian pangan nasional.

Jika pemerintah mampu menciptakan sistem distribusi dan kemitraan yang adil, maka program MBG bukan hanya program sosial, tetapi juga program pemberdayaan ekonomi rakyat.

Peternak Rakyat Jangan Hanya Dijadikan Pelengkap

Selama ini, banyak program besar nasional sering kali hanya melibatkan peternak rakyat di bagian hilir atau sekadar pelengkap administrasi. Sementara kendali produksi, distribusi, hingga margin keuntungan lebih banyak dinikmati pihak-pihak besar.

Hal seperti ini tidak boleh kembali terjadi dalam program MBG.

Peternak rakyat membutuhkan:

  • kepastian penyerapan hasil ternak,
  • harga yang sehat dan berkeadilan,
  • akses pembiayaan,
  • pendampingan teknis,
  • serta akses rantai pasok langsung ke dapur MBG.

Karena tanpa keberpihakan nyata, program sebesar apa pun tidak akan memberi dampak signifikan terhadap kesejahteraan peternak kecil.

Desa Harus Menjadi Basis Produksi MBG

Konsep MBG idealnya dibangun dari desa ke kota, bukan sebaliknya.

Artinya, kebutuhan ayam dan telur untuk dapur MBG di suatu wilayah sebaiknya diprioritaskan berasal dari peternak rakyat di daerah sekitar. Dengan pola ini, perputaran ekonomi akan terjadi di daerah, bukan terpusat hanya pada kelompok tertentu.

Skema seperti ini juga mampu:

  • menekan biaya distribusi,
  • menjaga kesegaran produk,
  • memperkuat BUMDes dan koperasi,
  • serta menciptakan lapangan kerja baru di pedesaan.

Ketika desa dilibatkan sebagai pusat produksi pangan, maka program MBG akan menjadi program yang benar-benar berdampak luas.

Saatnya Pemerintah Membuka Ruang yang Adil

Peternak rakyat tidak meminta belas kasihan. Yang dibutuhkan hanyalah ruang yang adil untuk ikut tumbuh bersama program nasional.

Negara perlu memastikan bahwa program MBG tidak hanya sukses secara angka, tetapi juga sukses menciptakan pemerataan ekonomi dan keberlanjutan usaha rakyat.

Melibatkan peternak rakyat berarti:

  • menjaga stabilitas produksi nasional,
  • memperkuat ketahanan pangan,
  • mengurangi ketimpangan ekonomi,
  • dan memastikan manfaat program dirasakan langsung oleh masyarakat kecil.

PERMINDO: Peternak Rakyat Harus Menjadi Mitra Strategis MBG

Perhimpunan Peternak Mandiri Nasional (PERMINDO) menilai program MBG dapat menjadi tonggak penting kebangkitan peternak rakyat apabila pemerintah membuka ruang kolaborasi yang sehat dan berkeadilan.

Peternak rakyat siap berkontribusi, siap meningkatkan kualitas produksi, dan siap menjadi bagian dari rantai pasok nasional. Namun keterlibatan tersebut harus dibangun dengan sistem yang berpihak, transparan, dan berkelanjutan.

Karena pada akhirnya, keberhasilan program pangan nasional tidak hanya diukur dari berapa banyak makanan yang dibagikan, tetapi juga dari seberapa besar program tersebut mampu menghidupkan ekonomi rakyat kecil di seluruh Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version