Berita

Seminar AGRIMAT & AGRILIVESTOCK ASIA 2026 Dorong Hilirisasi Perunggasan Nasional dan Perlindungan Peternak Rakyat

Published

on

Spread the love

Jakarta, 8 Mei 2026 – Seminar nasional dalam rangkaian AGRIMAT & AGRILIVESTOCK ASIA 2026 yang berlangsung di NICE PIK 2 menjadi salah satu forum strategis terbesar tahun ini bagi sektor pertanian dan peternakan nasional. Acara tersebut mempertemukan pemerintah, asosiasi peternak, BUMN pangan, investor, akademisi, hingga pelaku industri untuk membahas masa depan ketahanan pangan dan transformasi industri perunggasan Indonesia.

Forum yang mengusung tema hilirisasi peternakan ini menyoroti kondisi peternak rakyat yang saat ini masih menghadapi tekanan besar akibat fluktuasi harga ayam hidup, kenaikan harga pakan, hingga dominasi rantai pasok oleh korporasi besar. Dalam seminar tersebut, hilirisasi dinilai sebagai solusi utama untuk memperkuat posisi peternak rakyat dan menciptakan industri yang lebih berkelanjutan.

Pemerintah Siapkan Pendanaan Rp20 Triliun

Salah satu poin yang paling banyak menjadi perhatian dalam seminar ini adalah rencana pemerintah bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan Kementerian Pertanian yang disebut menyiapkan pendanaan sebesar Rp20 triliun untuk pembangunan ekosistem peternakan ayam terintegrasi berskala nasional.

Dana tersebut direncanakan untuk memperkuat infrastruktur hilirisasi seperti:

  • Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU).
  • Cold storage atau fasilitas rantai dingin.
  • Sistem distribusi pangan protein nasional.
  • Penyerapan hasil ternak rakyat melalui BUMN pangan.
  • Penguatan cadangan pangan pemerintah berbasis protein hewani.

Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan stabilitas harga sekaligus mengurangi ketergantungan peternak terhadap pasar livebird yang sangat fluktuatif.

Peternak Rakyat Jadi Fokus Utama

Dalam berbagai sesi diskusi, kondisi peternak mandiri menjadi perhatian utama. Banyak asosiasi peternak menyampaikan bahwa selama ini peternak rakyat masih berada pada posisi paling rentan dalam rantai industri perunggasan nasional. Ketika harga ayam turun di bawah biaya produksi, peternak mengalami kerugian besar. Sebaliknya, saat harga bahan baku pakan naik, beban produksi meningkat drastis.

Melalui seminar ini, berbagai asosiasi seperti KPUN, PPN, PPUI, Berkah Telur Blitar, hingga PERMINDO menyampaikan aspirasi agar pemerintah menghadirkan regulasi yang lebih berpihak pada peternak rakyat.

Selain itu, muncul dorongan agar pemerintah membangun sistem offtaker nasional melalui BUMN pangan seperti Bulog dan Berdikari guna menyerap hasil ternak peternak rakyat ketika harga pasar jatuh.

Hilirisasi Dinilai Jadi Solusi Masa Depan

Para narasumber dalam seminar menegaskan bahwa hilirisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan industri perunggasan nasional. Selama ini banyak peternak hanya bergantung pada penjualan ayam hidup dan telur mentah tanpa memiliki akses terhadap pengolahan pascapanen yang dapat meningkatkan nilai tambah produk.

Melalui pembangunan RPHU dan cold storage di sentra peternakan rakyat, pemerintah diharapkan mampu menciptakan stabilitas penyerapan hasil produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Selain itu, seminar juga menargetkan beberapa hasil konkret, antara lain:

  1. Kesepakatan penyerapan hasil ternak rakyat oleh BUMN pangan.
  2. Skema pembiayaan pembangunan infrastruktur peternakan.
  3. Penyusunan roadmap Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) berbasis protein hewani.
  4. Integrasi ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir.
  5. Penguatan kolaborasi pemerintah, asosiasi, investor, dan koperasi peternak.

Isu Impor Bungkil Kedelai Ikut Disorot

Selain persoalan harga ayam dan hilirisasi, seminar AGRIMAT 2026 juga membahas rencana pengalihan impor bungkil kedelai atau soybean meal (SBM) dari pihak swasta kembali kepada BUMN. Kebijakan ini dinilai penting karena SBM merupakan komponen utama pakan ternak yang sangat mempengaruhi biaya produksi peternak.

Namun, para pelaku usaha mengingatkan agar pemerintah tetap menjaga koordinasi dengan asosiasi peternak dan pelaku industri agar kebijakan tersebut tidak menimbulkan gangguan pasokan maupun gejolak harga di lapangan.

AGRIMAT 2026 Jadi Momentum Konsolidasi Industri

Penyelenggaraan AGRIMAT & AGRILIVESTOCK ASIA 2026 di NICE PIK 2 menunjukkan bahwa sektor agribisnis nasional sedang memasuki era transformasi besar menuju industri yang lebih modern, terintegrasi, dan berbasis teknologi.

Tidak hanya menjadi ajang pameran teknologi pertanian dan peternakan, AGRIMAT 2026 juga menjadi ruang konsolidasi nasional untuk mencari solusi nyata terhadap persoalan pangan dan peternakan rakyat.

Banyak pihak berharap hasil seminar ini tidak berhenti pada wacana semata, tetapi benar-benar diterjemahkan menjadi kebijakan konkret yang mampu meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version