Kabar Kandang
Rp1.000 Triliun dari Ayam: Saatnya Peternak Rakyat Kembali Jadi Tuan Rumah
Published
1 month agoon
By
Fariz
Industri Ayam Nasional Bernilai Rp1.000 Triliun
Industri perunggasan nasional kini tidak lagi dapat dipandang sebagai sektor kecil dalam perekonomian Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini berkembang menjadi salah satu pilar penting penyedia protein hewani sekaligus penggerak ekonomi rakyat.
Sebagaimana disampaikan oleh Hartono dalam sebuah diskusi industri, nilai perputaran ekonomi ayam nasional saat ini diperkirakan telah mencapai Rp1.000 triliun per tahun.
Angka tersebut menggambarkan betapa besar skala industri ayam di Indonesia. Ia bukan sekadar komoditas pangan, melainkan sektor strategis yang menopang berbagai dimensi kehidupan ekonomi nasional.
Industri ini menyentuh jutaan tenaga kerja mulai dari:
- pembibitan ayam (DOC)
- industri pakan ternak
- budidaya ayam oleh peternak rakyat
- pengolahan produk unggas
- distribusi dan logistik
- perdagangan di pasar tradisional maupun modern
Aktivitas ekonomi tersebut menggerakkan roda ekonomi dari desa hingga kota, dari kandang peternak hingga meja makan masyarakat.
Ayam sebagai Fondasi Ketahanan Pangan Nasional
Ayam kini telah menjadi salah satu fondasi penting dalam sistem ketahanan pangan nasional. Konsumsi daging ayam yang tinggi menjadikannya sumber protein hewani paling terjangkau bagi masyarakat luas.
Dibandingkan dengan sumber protein hewani lain, ayam relatif lebih mudah diproduksi, lebih cepat siklus budidayanya, dan lebih stabil dalam distribusinya.
Karena itu, industri perunggasan memiliki dua peran strategis sekaligus, yaitu:
- Menjamin ketersediaan protein bagi masyarakat
- Menjadi sumber penghidupan bagi jutaan peternak rakyat
Di berbagai daerah di Indonesia, usaha peternakan ayam telah menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Banyak peternak menggantungkan penghasilan utama mereka dari usaha budidaya ayam, baik dalam skala kecil maupun menengah.
Pertanyaan Penting di Balik Angka Rp1.000 Triliun
Namun di balik besarnya angka Rp1.000 triliun tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar yang perlu menjadi bahan refleksi bersama:
Siapa yang sebenarnya menikmati perputaran ekonomi sebesar itu?
Pertanyaan ini menjadi sangat relevan karena struktur industri perunggasan Indonesia telah mengalami perubahan besar dalam dua dekade terakhir.
Pada masa lalu, budidaya ayam sebagian besar didominasi oleh peternak rakyat yang tersebar di berbagai daerah. Skala usaha memang relatif kecil hingga menengah, tetapi perputaran ekonomi terjadi secara luas di tingkat lokal.
Risiko usaha tersebar di banyak pelaku, dan manfaat ekonomi juga dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah.
Dengan kata lain, industri ayam pada masa itu memiliki karakter yang lebih inklusif dan merata.
Perubahan Struktur Industri Perunggasan
Seiring perkembangan teknologi, investasi, dan modernisasi sektor pangan, struktur industri perunggasan Indonesia mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Saat ini, banyak perusahaan besar yang telah membangun sistem integrasi vertikal dalam rantai pasok perunggasan.
Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki kendali yang kuat dalam berbagai tahapan produksi, mulai dari:
- penyediaan DOC (day old chick)
- produksi pakan ternak
- kegiatan budidaya
- pengolahan produk unggas
- distribusi hingga ke pasar
Perusahaan integrasi, baik PMA (Penanaman Modal Asing) maupun PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri), kini memainkan peran dominan dalam sistem produksi unggas nasional.
Model integrasi ini memungkinkan efisiensi yang lebih tinggi dalam produksi serta pengendalian kualitas yang lebih baik.
Integrasi Industri: Efisiensi dan Tantangan
Integrasi vertikal dalam industri perunggasan sebenarnya tidak sepenuhnya negatif. Dalam banyak kasus, sistem ini mampu memberikan berbagai keuntungan bagi industri secara keseluruhan.
Beberapa manfaat dari integrasi antara lain:
- meningkatkan efisiensi produksi
- menjaga standar kualitas produk
- memperkuat daya saing industri nasional
- meningkatkan kapasitas ekspor
Namun ketika integrasi tersebut juga mencakup sektor budidaya secara luas, muncul tantangan baru yang perlu diperhatikan.
Salah satu risiko yang sering dibahas adalah konsentrasi produksi pada segelintir pelaku usaha besar.
Ketika produksi terkonsentrasi pada pemain tertentu, keseimbangan industri dapat menjadi lebih sensitif terhadap keputusan bisnis mereka.
Tantangan yang Dihadapi Peternak Mandiri
Dalam struktur industri yang semakin terintegrasi, peternak mandiri sering menghadapi sejumlah tantangan yang tidak ringan.
Beberapa di antaranya adalah:
1. Akses terhadap DOC
Akses terhadap bibit ayam atau DOC (day old chick) menjadi lebih terbatas bagi sebagian peternak rakyat. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk mempertahankan usaha budidaya secara berkelanjutan.
2. Daya Tawar Harga
Peternak mandiri juga sering memiliki daya tawar yang lebih lemah dalam menentukan harga jual ayam hidup di tingkat peternak.
Ketika harga ayam di pasar mengalami fluktuasi, peternak kecil sering menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
3. Fluktuasi Pasar
Fluktuasi harga ayam hidup menjadi salah satu tantangan klasik dalam industri perunggasan. Jika produksi terkonsentrasi pada sebagian kecil pelaku, maka dinamika populasi ayam dan keseimbangan pasar dapat berubah dengan cepat.
Dalam kondisi seperti ini, peternak rakyat sering berada pada posisi yang paling rentan.
Pentingnya Kesadaran tentang Struktur Industri
Situasi ini menunjukkan bahwa industri ayam bukan sekadar persoalan produksi semata. Ia juga berkaitan dengan struktur ekonomi dan distribusi manfaat di dalam ekosistem industri.
Karena itu, penting bagi semua pihak untuk melihat industri perunggasan secara lebih komprehensif.
Jika nilai perputaran ekonominya sudah mencapai Rp1.000 triliun per tahun, maka diskusi tentang industri ini tidak lagi cukup berhenti pada upaya peningkatan produksi saja.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Bagaimana memastikan manfaat ekonomi tersebut dapat dirasakan secara lebih merata oleh seluruh pelaku usaha, terutama peternak rakyat?
Peran Peternak Rakyat dalam Masa Depan Industri Ayam
Peternak rakyat selama ini merupakan salah satu pilar penting dalam produksi unggas nasional. Mereka tersebar di berbagai daerah dan memiliki kontribusi besar terhadap pasokan ayam di pasar domestik.
Keberadaan peternak rakyat juga memiliki nilai strategis dalam menjaga ketahanan pangan berbasis masyarakat.
Ketika basis produksi tersebar di banyak daerah, sistem pangan menjadi lebih tangguh terhadap berbagai gangguan, baik ekonomi maupun logistik.
Karena itu, menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat bukan hanya soal kesejahteraan ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi menjaga ketahanan pangan nasional.
Saatnya Peternak Rakyat Kembali Jadi Tuan Rumah
Kesadaran tentang besarnya nilai industri ayam perlu menjadi titik awal untuk melihat kembali arah perkembangan sektor ini.
Jika benar perputaran ekonomi ayam sudah mencapai Rp1.000 triliun, maka fokus kebijakan dan perhatian publik tidak boleh hanya pada peningkatan produksi semata.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa industri besar ini tetap memiliki fondasi kuat di tingkat rakyat.
Ketika jutaan peternak mandiri tetap hidup dan berdaya, maka industri perunggasan Indonesia tidak hanya akan besar secara ekonomi, tetapi juga adil dalam distribusi manfaatnya.
Karena itu, pertanyaan mendasar yang perlu terus diajukan adalah:
Jika industri ayam bernilai Rp1.000 triliun per tahun, bagaimana nilai ekonomi sebesar itu dapat memberikan kesejahteraan yang lebih luas bagi rakyat yang terlibat di dalamnya?
Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan menentukan apakah industri ayam Indonesia benar-benar menjadi industri rakyat, atau hanya menjadi sektor ekonomi besar yang manfaatnya terkonsentrasi pada sebagian kecil pelaku usaha.
You may like
-
Membaca Siklus Industri Broiler Indonesia: Dari DOC hingga Harga Ayam di Pasar
-
Fenomena Harga Ayam Jatuh: Realita Lapangan yang Tidak Banyak Diketahui Publik
-
Harga Ayam Hidup Anjlok ke Rp18.500, HPP Sudah Rp22.000: Peternak Rakyat Kembali Tertekan
-
Cara Membaca Siklus Broiler di Indonesia: Strategi Prediksi Harga Ayam 1–2 Bulan ke Depan
-
Harga Livebird Terus Turun, Peternak Rakyat Sampai Kapan Harus Bertahan?
-
Harga Ayam Terjun Bebas, Pakan Naik per April: Peternak Rakyat Menjerit
Kabar Kandang
Akar Masalah: Mengapa Harga Pakan Sulit Terkendali?
Published
1 week agoon
March 28, 2026By
Fariz
Pendahuluan
Ketika harga pakan melambung tinggi, reaksi yang sering muncul adalah menyalahkan cuaca buruk atau kondisi pasar global. Namun benarkah faktor-faktor tersebut menjadi satu-satunya penyebab? Atau ada masalah struktural yang lebih dalam di sistem tata niaga pakan nasional?
Artikel ini akan membedah akar permasalahan mengapa harga pakan di Indonesia begitu sulit dikendalikan. Bukan hanya dari sisi hulu (bahan baku), tetapi juga dari rantai distribusi yang panjang dan kebijakan impor yang seringkali tidak tepat sasaran. Pemahaman atas akar masalah ini penting agar solusi yang ditawarkan tidak sekadar tambal sulam, tetapi benar-benar menyelesaikan masalah secara fundamental.
Panjangnya Rantai Distribusi Jagung
Jagung adalah komoditas utama penyusun pakan ternak, dengan porsi mencapai 50-60 persen dalam formulasi pakan. Indonesia sebenarnya memiliki potensi produksi jagung yang besar. Namun mengapa peternak selalu menghadapi harga jagung yang tinggi?
Dominasi Tengkulak dan Middleman
Mayoritas peternak rakyat tidak memiliki akses langsung untuk membeli jagung dari petani. Mereka harus melalui rantai perantara yang panjang:
- Petani Jagung → 2. Tengkulak Desa → 3. Pengumpul Kecamatan → 4. Gudang Kabupaten → 5. Distributor Provinsi → 6. Pengecer/Pabrik Pakan Skala Kecil → 7. Peternak
Setiap mata rantai mengambil margin keuntungan. Hasilnya, harga jagung yang di tingkat petani hanya Rp 4.500 per kilogram bisa melonjak menjadi Rp 7.000 atau lebih saat sampai ke tangan peternak. Margin distribusi bisa mencapai 40-60 persen.
Biaya Logistik yang Tinggi
Indonesia adalah negara kepulauan. Sentra produksi jagung utama berada di Jawa Timur, Lampung, dan Sulawesi Selatan. Sementara sentra peternakan tersebar di seluruh pulau. Biaya pengiriman jagung antar pulau menggunakan kapal laut menambah beban biaya yang signifikan.
Di beberapa daerah terpencil seperti Nusa Tenggara Timur atau Papua, harga jagung di tingkat peternak bisa mencapai Rp 10.000 – Rp 12.000 per kilogram. Ini membuat usaha peternakan di wilayah timur Indonesia hampir tidak kompetitif.
Bungkil Kedelai dan Ketergantungan Impor
Selain jagung, komponen penting lainnya dalam pakan adalah sumber protein seperti bungkil kedelai (soybean meal/SBM). Di sinilah letak kerentanan terbesar industri pakan nasional.
Fakta Impor Bungkil Kedelai
Indonesia mengimpor lebih dari 90 persen kebutuhan bungkil kedelainya. Negara pemasok utama adalah Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina. Akibatnya, harga bungkil kedelai di dalam negeri sangat dipengaruhi oleh:
- Kebijakan ekspor negara asal: Misalnya, ketika Amerika Serikat mengalami gagal panen kedelai, harga SBM dunia melonjak.
- Nilai tukar rupiah: Sebagian besar transaksi impor menggunakan dolar AS. Ketika rupiah melemah, harga SBM otomatis naik.
- Biaya pengiriman laut (freight cost): Fluktuasi harga minyak dunia berdampak langsung pada biaya logistik impor.
Dampak pada Pakan Pabrikan
Industri pakan ternak skala besar di Indonesia sangat bergantung pada SBM impor. Ketika harga SBM naik, pabrik pakan menaikkan harga jual produknya. Peternak rakyat, sebagai konsumen akhir, tidak memiliki daya tawar dan harus menerima harga yang ditetapkan.
H1: Rekomendasi Kebijakan Permindo
Berdasarkan analisis akar masalah di atas, Permindo merumuskan sejumlah rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang bagi peternak rakyat.
Pembentukan Koperasi Pembelian
Salah satu cara paling efektif untuk memotong rantai distribusi jagung adalah dengan membentuk koperasi pembelian yang terdiri dari kumpulan peternak. Koperasi ini bisa membeli jagung langsung dari petani dalam jumlah besar, menyimpannya di gudang sendiri, dan mendistribusikannya kepada anggota dengan harga yang lebih murah.
Permindo saat ini sedang menginisiasi pembentukan koperasi semacam ini di lima provinsi. Tantangan utamanya adalah modal awal dan manajemen pengelolaan stok. Diperlukan pendampingan dan akses permodalan dari perbankan.
Insentif bagi Petani Jagung Lokal
Kemandirian pakan tidak akan tercapai tanpa kemandirian jagung. Pemerintah perlu memberikan insentif bagi petani jagung, seperti:
- Bantuan benih unggul dengan produktivitas tinggi.
- Penyediaan pupuk bersubsidi tepat waktu.
- Jaminan harga pembelian oleh Bulog atau BUMN pangan agar petani tidak dilempar ke tengkulak.
Transparansi Harga
Peternak sering kali tidak mengetahui harga referensi jagung dan bahan baku pakan lainnya. Permindo mendorong pembuatan aplikasi monitoring harga yang bisa diakses seluruh peternak. Dengan informasi harga yang transparan, peternak bisa membandingkan harga antar distributor dan memilih yang paling menguntungkan.
Pengembangan Pakan Berbasis Sumber Daya Lokal
Untuk mengurangi ketergantungan pada SBM impor, riset dan pengembangan pakan alternatif berbasis sumber daya lokal harus digencarkan. Contoh potensi lokal yang besar:
- Bungkil kelapa (terutama di daerah penghasil kelapa seperti Sulawesi Utara, Riau)
- Bungkil inti sawit (di Sumatera dan Kalimantan)
- Maggot BSF (dapat diproduksi sendiri oleh peternak dengan biaya rendah)
Penutup
Akar masalah harga pakan yang sulit terkendali bersifat kompleks dan membutuhkan solusi sistemik. Tidak ada jalan pintas. Namun dengan kolaborasi antara peternak, pemerintah, dan swasta, kemandirian pakan bukanlah mimpi. Permindo berkomitmen untuk terus berada di garda depan dalam perjuangan ini.
Call to Action
Mari berkontribusi dalam gerakan kemandirian pakan! Bagikan artikel ini kepada sesama peternak dan pengambil kebijakan di daerah Anda. Ikuti akun media sosial Permindo untuk mendapatkan update kebijakan dan pelatihan pakan alternatif gratis.
Harga Pakan Ternak, Jagung ,Tata Niaga, Impor Pakan, Bungkil Kedelai ,Soybean Meal Distribusi Pangan, Peternak Rakyat ,Industri Pakan, Kebijakan Pangan, Kemandirian Pakan, Permindo
Berita
Menjeritnya Peternak Ayam Ras: Ketika Pakan Lebih Mahal dari Harga Jual
Published
1 week agoon
March 28, 2026By
Fariz
Pendahuluan
Subsektor peternakan unggas, khususnya ayam ras pedaging (broiler) dan petelur (layer), merupakan komoditas yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga pakan. Mengapa demikian? Karena dalam struktur biaya produksi usaha perunggasan, pakan menyumbang porsi terbesar, yakni mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya operasional.
Memasuki Maret 2026, situasi harga pakan menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Kementerian Pertanian mencatat adanya tren penurunan harga pakan ternak di tingkat produsen sepanjang Februari hingga awal Maret 2026 . Penurunan ini diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak yang selama setahun terakhir tertekan oleh lonjakan harga bahan baku.
Namun, meski ada kabar baik ini, peternak ayam ras masih harus mencermati beberapa tantangan. Kebijakan pengalihan impor bungkil kedelai yang sempat memicu gejolak harga pada awal tahun, serta fluktuasi harga jagung, masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai . Artikel ini akan mengupas secara detail kondisi terkini harga pakan dan ketidakseimbangan ekonomi yang masih dihadapi peternak ayam ras, serta strategi bertahan yang mereka lakukan di tengah dinamika pasar Maret 2026.
Kabar Baik di Awal Maret 2026: Harga Pakan Mulai Terkoreksi
Setelah mengalami tekanan yang cukup berat sepanjang tahun 2025, peternak ayam ras mendapatkan angin segar di awal Maret 2026. Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementerian Pertanian, terjadi tren penurunan harga pada berbagai jenis pakan yang digunakan peternak ayam pedaging maupun petelur .
Data Harga Pakan Terbaru Maret 2026
Berikut adalah rincian harga pakan terkini di tingkat produsen berdasarkan data resmi Kementerian Pertanian per Maret 2026 :
| Jenis Pakan | Harga Sebelumnya | Harga Maret 2026 | Penurunan |
|---|---|---|---|
| BR0 (Broiler Pre-Starter) | Rp 8.533/kg | Rp 8.451/kg | Rp 82/kg |
| BR1 (Broiler Starter) | Rp 8.122/kg | Rp 8.010/kg | Rp 112/kg |
| BR2 (Broiler Finisher) | Rp 8.056/kg | Rp 7.967/kg | Rp 89/kg |
| P3 (Layer Masa Produksi) | Rp 6.889/kg | Rp 6.803/kg | Rp 86/kg |
| KP3 (Konsentrat Layer) | Rp 7.809/kg | Rp 7.735/kg | Rp 74/kg |
Sumber: SPORA Direktorat Pakan Kementan, pemantauan 33 pabrik pakan per Maret 2026
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menyatakan bahwa tren penurunan harga pakan ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.
“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan stabilitas harga produk peternakan juga lebih terjaga,” ujar Agung di Kantor Kementan, Jakarta, Kamis (5/3/2026) .
Meski demikian, perlu dicatat bahwa penurunan harga ini baru dilakukan oleh sekitar 33 pabrik dari total 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, atau sekitar 38 persen dari total industri .
Perbandingan Harga yang Masih Perlu Dicermati
Meskipun harga pakan mulai menunjukkan tren penurunan, peternak ayam ras masih harus menghadapi tantangan dari sisi harga jual ternak yang cenderung fluktuatif. Mari kita lihat perbandingan terkini:
Data Harga Ternak Terbaru Maret 2026
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia per 25 Maret 2026 :
| Komoditas | Harga Maret 2026 |
|---|---|
| Daging Ayam Ras (eceran nasional) | Rp 43.450/kg |
| Telur Ayam Ras (eceran nasional) | Rp 32.350/kg |
Sementara itu, berdasarkan data dari Pemerintah Kota Kediri per 26 Maret 2026, harga daging ayam ras tercatat Rp 40.600 per kilogram .
Perhitungan Feed Cost per Kilogram
Untuk memproduksi satu kilogram ayam hidup, diperlukan pakan sekitar 1,5 hingga 1,7 kilogram (tergantung kualitas pakan dan manajemen pemeliharaan). Dengan harga pakan BR1 terkini Rp 8.010 per kilogram, mari kita hitung biaya pakan:
- Asumsi FCR (Feed Conversion Ratio) = 1,6
- Harga pakan = Rp 8.010/kg
- Biaya pakan per kg ayam hidup = 1,6 x Rp 8.010 = Rp 12.816
Nilai Rp 12.816 ini belum termasuk biaya DOC (day old chick), vitamin, obat-obatan, listrik, tenaga kerja, dan penyusutan kandang. Dengan harga jual ayam hidup di tingkat peternak yang berkisar Rp 18.000 – Rp 19.000 per kilogram (dengan asumsi margin distribusi dari peternak ke konsumen sekitar 50-60 persen), maka margin yang tersisa untuk menutup biaya lain masih sangat tipis.
Perbandingan dengan periode sebelumnya:
- Akhir 2025: Biaya pakan mencapai Rp 14.400 per kg ayam hidup
- Maret 2026: Biaya pakan turun menjadi Rp 12.816 per kg ayam hidup
Ada penurunan biaya pakan sekitar Rp 1.584 per kilogram ayam hidup atau sekitar 11 persen. Ini merupakan kabar baik, meskipun masih diperlukan upaya lebih lanjut agar margin keuntungan peternak dapat kembali pulih.
Tantangan yang Masih Menghantui
Meski ada tren penurunan harga pakan, peternak ayam ras masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi.
Gejolak Kebijakan Impor Bungkil Kedelai
Salah satu faktor yang sempat mengganggu stabilitas harga pakan di awal tahun 2026 adalah kebijakan pengalihan impor bungkil kedelai (soybean meal/SBM) dari swasta ke BUMN PT Berdikari yang mulai berlaku 1 Januari 2026 .
Pada akhir 2025 hingga awal Januari 2026, kebijakan ini sempat menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga SBM. Harga SBM melonjak dari kisaran Rp 6.800 – Rp 7.100 per kilogram menjadi Rp 7.700 – Rp 8.000 per kilogram .
Pemerintah kemudian merespons dengan menetapkan masa transisi selama tiga bulan (Januari–Maret 2026), di mana swasta masih diizinkan mengimpor SBM hingga 31 Maret 2026. Langkah ini membuat pasokan mulai kembali mengalir dan harga perlahan stabil .
Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Jawa Tengah Suwardi mengungkapkan kekhawatirannya:
“Kami berharap ketersediaan stok dan harga SBM dapat tetap terjaga selama masa transisi dan setelah kebijakan penuh diterapkan. Jika PT Berdikari bisa mendapatkan SBM dengan harga terjangkau dan kualitas baik, ini bisa menjadi solusi jangka panjang. Namun jika tidak, dampaknya ke para peternak unggas akan sangat luar biasa” .
Program SPHP Jagung Pakan
Untuk menjaga stabilitas harga pakan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan penyaluran 242.000 ton jagung pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dimulai Maret 2026 .
Program ini menyasar peternak unggas dengan harga jagung bersubsidi di bawah pasar. Pada tahun 2025, program SPHP jagung telah menyalurkan 51.200 ton kepada 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi .
Pada tahun 2026, target penyaluran meningkat drastis hingga 372,6 persen dengan anggaran Rp 678 miliar. Hal ini diharapkan mampu memberikan angin segar bagi peternak, terutama menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang biasanya disertai peningkatan permintaan .
I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, menyatakan:
“Program SPHP jagung pakan ini secara khusus menyasar para peternak unggas di berbagai wilayah Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengatasi gejolak harga jagung di tingkat peternak yang berdampak langsung pada biaya produksi” .
Strategi Bertahan ala Peternak Rakyat
Menghadapi dinamika harga yang masih fluktuatif, peternak rakyat yang tergabung dalam wadah Permindo terus melakukan berbagai strategi untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Pemanfaatan Bahan Pakan Alternatif
Gejolak harga SBM di awal tahun mendorong banyak peternak untuk mulai mencari bahan baku alternatif. Beberapa opsi yang mulai banyak digunakan antara lain :
- Corn Gluten Meal (CGM) – sumber protein alternatif, harga saat ini Rp 10.500 – Rp 11.000 per kg
- Corn Gluten Feed (CGF) – mengalami kenaikan permintaan signifikan, harga Rp 4.000 – Rp 4.300 per kg
- Palm Kernel Meal (PKM) – sumber protein dari sawit, banyak tersedia di wilayah Sumatera dan Kalimantan
- Bungkil Kopra – potensi besar di daerah penghasil kelapa
Tito Ari Santoso, dalam opininya di Poultry Indonesia edisi Februari 2026, menuliskan:
“Gejolak pasokan dan harga soybean meal yang mewarnai awal 2026 kembali menjadi pengingat sekaligus alarm bagi industri perunggasan nasional. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor membuat sektor ini sangat rentan terhadap perubahan kebijakan maupun gangguan pasokan global” .
Penguatan Kelembagaan Peternak
Permindo terus mendorong peternak untuk bergabung dalam kelompok atau koperasi. Dengan berkelompok, peternak memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam membeli pakan, baik dari pabrik maupun distributor.
Pembelian kolektif (bulk buying) memungkinkan peternak mendapatkan harga yang lebih kompetitif, serta akses terhadap informasi harga dan stok bahan baku secara lebih cepat dan akurat.
Harapan pada Kebijakan Pemerintah
Meskipun harga pakan mulai menunjukkan tren perbaikan, masih ada sejumlah harapan dari peternak kepada pemerintah.
Konsistensi Kebijakan
Peternak berharap kebijakan pengalihan impor SBM ke PT Berdikari dapat berjalan lancar setelah masa transisi berakhir pada 31 Maret 2026. PT Berdikari diharapkan mampu:
- Mendapatkan SBM berkualitas dari produsen langsung (bukan distributor tingkat lanjut) sehingga harga lebih kompetitif
- Menyiapkan infrastruktur logistik dan pergudangan yang memadai
- Menjaga ketersediaan pasokan secara rutin tanpa gangguan
- Menjual SBM dengan harga yang terjangkau bagi peternak skala kecil dan menengah
Stabilitas Harga Jual Ternak
Penurunan harga pakan akan lebih bermakna jika diimbangi dengan stabilitas harga jual ternak di tingkat peternak. Pemerintah diharapkan terus memantau dan mengintervensi jika terjadi fluktuasi harga yang merugikan peternak.
Berdasarkan data PIHPS per 25 Maret 2026, harga daging ayam ras di tingkat konsumen masih di atas Rp 40.000 per kilogram . Dengan asumsi margin distribusi yang wajar, harga di tingkat peternak seharusnya berada di kisaran Rp 18.000 – Rp 20.000 per kilogram—masih memberikan ruang keuntungan tipis setelah memperhitungkan biaya pakan yang mulai turun.
Penutup
Memasuki Maret 2026, peternak ayam ras mulai melihat secercah harapan. Harga pakan yang mulai terkoreksi, program SPHP jagung yang ditingkatkan, serta masa transisi kebijakan impor SBM yang memberikan ruang adaptasi, menjadi kabar baik bagi peternak rakyat.
Namun, perjalanan masih panjang. Konsistensi kebijakan, ketersediaan bahan baku alternatif, serta penguatan kelembagaan peternak menjadi kunci agar momentum perbaikan ini dapat berkelanjutan.
Permindo akan terus mendampingi peternak rakyat dalam menghadapi dinamika pasar, memperjuangkan kebijakan yang berpihak, serta mendorong kemandirian pakan berbasis sumber daya lokal.
Call to Action
Apakah Anda peternak ayam ras yang sedang merasakan dampak penurunan harga pakan di daerah Anda? Bagikan pengalaman dan data Anda di kolom komentar. Mari kita kumpulkan suara peternak rakyat untuk memastikan bahwa momentum perbaikan ini benar-benar dirasakan oleh semua.
Bergabunglah dengan Permindo untuk mendapatkan akses informasi harga terkini, pelatihan pakan alternatif, dan pendampingan teknis. Bersama Permindo, kita kuatkan peternak rakyat Indonesia!
Kabar Kandang
Krisis Pakan Ternak di Mata Peternak Rakyat: Antara Untung dan Rugi
Published
1 week agoon
March 28, 2026By
Fariz
Pendahuluan
Dalam enam bulan terakhir, sektor peternakan rakyat di Indonesia menghadapi badai yang tak kalah dahsyat dibanding pandemi. Bukan wabah penyakit, melainkan lonjakan harga pakan ternak yang terus merangkak naik tanpa kendali. Jagung, dedak, hingga bungkil kedelai—komoditas yang menjadi nadi kehidupan peternak—kini menjelma menjadi beban yang hampir tak tertahankan.
Peternak rakyat, yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional, kini terpaksa berhadapan dengan kenyataan pahit: biaya produksi melambung tinggi sementara harga jual ternak stagnan. Margin keuntungan yang tadinya tipis, kini berubah menjadi kerugian. Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana krisis pakan ini berdampak langsung pada peternak mandiri di berbagai daerah, serta apa yang sebenarnya terjadi di lapangan berdasarkan data dan kesaksian langsung.
Margin Tipis yang Kian Menipis
Peternak rakyat di Indonesia sebagian besar menjalankan usaha dengan skala kecil hingga menengah. Mereka tidak memiliki kekuatan tawar (bargaining power) terhadap pabrik pakan maupun distributor jagung. Dalam kondisi normal, keuntungan bersih seekor ayam broiler misalnya, hanya berkisar Rp 1.500 hingga Rp 3.000 per kilogram. Angka yang sangat tipis dan sangat sensitif terhadap perubahan harga pakan.
Dengan skema usaha seperti ini, kenaikan harga pakan sebesar 5-10 persen saja sudah cukup untuk menghapus seluruh keuntungan. Namun yang terjadi saat ini jauh lebih ekstrem. Berdasarkan data dari Asosiasi Peternak Ayam Ras Indonesia, harga pakan ayam ras tipe BR1 (broiler starter) telah melonjak hingga 25-30 persen dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
“Dulu modal pakan untuk 1.000 ekor ayam sekitar Rp 7 juta per minggu. Sekarang bisa tembus Rp 10 juta lebih. Sementara harga jual ayam hidup malah turun karena stok di pasar sedang melimpah,” ujar Sugeng, peternak ayam broiler asal Boyolali, saat ditemui tim Permindo.
Data di Lapangan yang Mengkhawatirkan
Tim Permindo melakukan pemantauan harga dan wawancara cepat di tiga sentra peternakan rakyat: Jawa Barat (Kabupaten Bogor dan Sukabumi), Jawa Tengah (Kabupaten Boyolali dan Temanggung), serta Jawa Timur (Kabupaten Blitar dan Malang). Hasilnya menggambarkan situasi yang mengkhawatirkan.
Fakta dari Survei Cepat Permindo
Berikut adalah temuan utama dari survei yang melibatkan 200 peternak rakyat tersebut:
- 60 persen peternak mengaku mengalami kerugian operasional dalam dua bulan terakhir. Kerugian berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 5 juta per siklus panen, tergantung skala usaha.
- Harga jagung di tingkat peternak menyentuh angka Rp 6.500 – Rp 7.200 per kilogram. Padahal harga ideal yang masih memberikan keuntungan bagi peternak adalah di bawah Rp 5.500 per kilogram.
- Harga dedak (bekatul) sebagai pakan alternatif juga ikut meroket. Dari harga normal Rp 2.500 per kilogram, kini melonjak hingga Rp 4.500 – Rp 5.000 per kilogram.
- 30 persen peternak mengaku mengurangi populasi ternak hingga 50 persen sebagai langkah antisipasi agar tidak terlalu besar menanggung biaya pakan.
- 15 persen peternak terpaksa melakukan forced selling (menjual ternak sebelum mencapai bobot ideal) hanya untuk memutar uang tunai membeli pakan untuk siklus berikutnya.
Dampak Domino terhadap Ketahanan Pangan Nasional
Jika krisis ini dibiarkan berlarut-larut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh peternak, tetapi juga oleh konsumen dan ketahanan pangan nasional secara keseluruhan.
Penurunan Produksi
Saat peternak mengurangi populasi atau menghentikan produksi sementara, pasokan daging dan telur ke pasar akan menurun. Dalam beberapa bulan ke depan, bukan tidak mungkin terjadi kelangkaan yang memicu lonjakan harga di tingkat konsumen. Ini adalah skenario klasik yang selalu terjadi ketika peternak rakyat terdesak.
Ketergantungan Impor
Indonesia selama ini bangga dengan kemandirian daging ayam dan telur. Namun jika peternak rakyat terus berguguran, celah itu akan diisi oleh produk impor. Negara tetangga seperti Thailand dan Brasil, yang memiliki industri peternakan terintegrasi, sudah menunggu peluang untuk membanjiri pasar Indonesia dengan produk unggas murah. Ini bukan sekadar soal harga, tetapi juga soal kedaulatan pangan.
Hilangnya Mata Pencaharian
Sektor peternakan menyerap jutaan tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Setiap satu peternak mandiri yang gulung tikar, berdampak pada beberapa orang lainnya: karyawan kandang, sopir angkutan ternak, penjual pakan eceran, hingga tukang potong ayam. Efek berantai ini bisa menciptakan pengangguran baru di perdesaan.
Kesimpulan dan Harapan
Krisis pakan yang melanda peternak rakyat saat ini bukanlah masalah musiman biasa. Ini adalah persoalan struktural yang membutuhkan perhatian serius dari semua pemangku kepentingan. Peternak rakyat tidak meminta subsidi yang memberatkan APBN. Mereka hanya menginginkan stabilitas harga pakan, akses terhadap bahan baku yang adil, dan perlindungan dari praktik monopoli yang merugikan.
Permindo akan terus memperjuangkan hak-hak peternak rakyat melalui advokasi kebijakan, pendampingan teknis, dan penguatan kelembagaan kelompok tani. Namun perjuangan ini tidak akan berarti tanpa dukungan dan solidaritas dari kita semua.
Call to Action
Apakah Anda juga merasakan dampak kenaikan harga pakan di daerah Anda? Bagikan cerita dan data Anda di kolom komentar di bawah. Mari kita kumpulkan suara peternak rakyat agar didengar oleh para pengambil kebijakan. Bersama Permindo, kita kuatkan peternak rakyat Indonesia!
Artikel ini adalah bagian dari rangkaian liputan Permindo tentang krisis pakan ternak. Baca juga artikel lainnya: Menjeritnya Peternak Ayam Ras dan Akar Masalah Harga Pakan.
Membaca Siklus Industri Broiler Indonesia: Dari DOC hingga Harga Ayam di Pasar
Fenomena Harga Ayam Jatuh: Realita Lapangan yang Tidak Banyak Diketahui Publik
Harga Ayam Hidup Anjlok ke Rp18.500, HPP Sudah Rp22.000: Peternak Rakyat Kembali Tertekan
Melawan Kartel dan Oligarki Asing: Mengapa Investasi Danantara Rp20 Triliun Begitu Krusial bagi Peternak Rakyat?
Setelah Lebaran Bukan Mekanisme Pasar, Tapi Kegagalan Tata Kelola Perunggasan.
Stabilitas Harga Ayam: Mencari Titik Seimbang antara Produksi dan Permintaan
Trending
-
Berita1 month agoMelawan Kartel dan Oligarki Asing: Mengapa Investasi Danantara Rp20 Triliun Begitu Krusial bagi Peternak Rakyat?
-
Business4 weeks agoSetelah Lebaran Bukan Mekanisme Pasar, Tapi Kegagalan Tata Kelola Perunggasan.
-
Business1 month agoStabilitas Harga Ayam: Mencari Titik Seimbang antara Produksi dan Permintaan
-
Berita1 month agoEksportir: Proses Sertifikat Ekspor Kementan Hanya Satu Hari!
-
Berita4 weeks agoDOC Ayam dan Masa Depan Peternak Rakyat dalam Industri Perunggasan
-
Business1 month agoMemahami Regulasi Produksi Perunggasan: Panduan Praktis untuk Peternak Rakyat
-
Entertainment1 month agoEntertainment Dunia Ternak Unggas: Dari Edukasi Digital hingga Konten Viral Peternak Modern
-
Berita1 month agoKenapa Peternak Harus Memahami Regulasi? Kunci Bertahan di Industri Perunggasan
