Jakarta, Februari 2026 — Menjelang momentum chick-in strategis sebelum Ramadan dan Idulfitri 2026, peternak rakyat mandiri di berbagai daerah menghadapi persoalan serius: pasokan day-old chick (DOC) broiler sulit diperoleh tepat waktu. Kondisi ini terjadi justru saat periode produksi tersebut sangat menentukan panen pada puncak konsumsi Lebaran.
Ironi ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang tata kelola distribusi DOC nasional. Di satu sisi, data dari Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) menyebutkan produksi DOC broiler nasional berada di kisaran 70 juta ekor per minggu dan secara agregat pasokan ayam ras dinyatakan aman menghadapi Ramadan–Lebaran 2026. Namun di sisi lain, sejumlah peternak rakyat melaporkan tidak mendapatkan kepastian suplai DOC pada periode yang sangat krusial.
Kesenjangan antara data produksi nasional dan realitas distribusi di tingkat akar rumput ini menimbulkan dugaan adanya konsentrasi pasokan pada jaringan internal atau afiliasi perusahaan besar, sehingga akses bagi peternak mandiri menjadi terbatas.
Regulasi Sudah Ada, Implementasi Dipertanyakan
Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2024 telah menetapkan penataan distribusi DOC ayam ras, termasuk pengaturan proporsi distribusi final stock antara internal integrator dan eksternal (peternak di luar integrator). Kebijakan ini dirancang untuk menciptakan struktur industri yang lebih seimbang dan mencegah dominasi distribusi pada satu kelompok usaha.
Namun implementasi di lapangan menunjukkan dinamika yang jauh dari ideal. Sejumlah peternak menyampaikan bahwa meskipun secara normatif terdapat pembagian kuota yang lebih proporsional, akses riil terhadap DOC tetap terkendala. Momentum chick-in yang terlewat berarti hilangnya peluang panen pada harga premium Lebaran.
Dalam industri broiler yang berbasis siklus 30–35 hari, keterlambatan satu periode produksi dapat berdampak pada:
Hilangnya momentum harga tinggi
Peningkatan biaya tetap tanpa pendapatan
Gangguan arus kas usaha
Melemahnya daya tahan peternak kecil
Jika kondisi ini terus berulang, maka ketimpangan struktural dalam industri perunggasan akan semakin menguat.
Ancaman Ketimpangan Struktural
Peternak rakyat mandiri selama ini berada dalam posisi yang rentan. Mereka menghadapi fluktuasi harga pakan, volatilitas harga ayam hidup, serta keterbatasan akses pembiayaan dan perlindungan pasar. Momentum Ramadan dan Lebaran seharusnya menjadi ruang pemulihan ekonomi, bukan justru periode kehilangan akses input utama.
Apabila distribusi DOC tidak berjalan transparan dan proporsional, maka struktur industri berpotensi semakin terkonsentrasi. Hal ini bukan hanya berdampak pada keberlanjutan usaha rakyat, tetapi juga pada stabilitas jangka panjang sektor perunggasan nasional.
Keadilan distribusi DOC bukan sekadar isu bisnis, melainkan menyangkut prinsip persaingan usaha yang sehat dan ketahanan pangan nasional. Peternak rakyat berkontribusi signifikan terhadap suplai ayam ras domestik. Ketika mereka tidak dapat berproduksi optimal, maka struktur pasokan nasional menjadi tidak merata.
Perlunya Pengawasan dan Transparansi
Transformasi tata niaga DOC sebagaimana diatur dalam Permentan 10/2024 harus dibarengi dengan pengawasan distribusi yang terukur dan transparan. Data produksi nasional perlu diikuti dengan data distribusi yang dapat diverifikasi publik, sehingga tidak terjadi kesenjangan antara angka agregat dan kenyataan di kandang rakyat.
Momentum menjelang Ramadan–Lebaran 2026 menjadi ujian nyata efektivitas kebijakan tersebut. Tanpa implementasi yang konsisten, regulasi berisiko hanya menjadi norma administratif tanpa dampak nyata bagi peternak mandiri.
Penegasan Sikap
Fenomena terbatasnya akses DOC bagi peternak rakyat mandiri menjelang periode permintaan tinggi harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan. Diperlukan langkah korektif yang tegas dan berbasis data agar distribusi berjalan adil serta tidak terpusat pada jaringan tertentu.
Industri perunggasan nasional membutuhkan keseimbangan ekosistem, bukan konsentrasi kekuatan. Tanpa akses input yang setara, peternak rakyat akan terus berada pada posisi yang tidak kompetitif.
Menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, keadilan distribusi DOC menjadi indikator nyata komitmen terhadap keberlanjutan peternak rakyat dan stabilitas pangan nasional.