Connect with us

Berita

Ironi Jelang Lebaran 2026: Produksi DOC Nasional 70 Juta Ekor per Minggu, Namun Peternak Rakyat Kesulitan Akses

Published

on

Spread the love

Jakarta, Februari 2026 — Menjelang momentum chick-in strategis sebelum Ramadan dan Idulfitri 2026, peternak rakyat mandiri di berbagai daerah menghadapi persoalan serius: pasokan day-old chick (DOC) broiler sulit diperoleh tepat waktu. Kondisi ini terjadi justru saat periode produksi tersebut sangat menentukan panen pada puncak konsumsi Lebaran.

Ironi ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang tata kelola distribusi DOC nasional. Di satu sisi, data dari Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) menyebutkan produksi DOC broiler nasional berada di kisaran 70 juta ekor per minggu dan secara agregat pasokan ayam ras dinyatakan aman menghadapi Ramadan–Lebaran 2026. Namun di sisi lain, sejumlah peternak rakyat melaporkan tidak mendapatkan kepastian suplai DOC pada periode yang sangat krusial.

Kesenjangan antara data produksi nasional dan realitas distribusi di tingkat akar rumput ini menimbulkan dugaan adanya konsentrasi pasokan pada jaringan internal atau afiliasi perusahaan besar, sehingga akses bagi peternak mandiri menjadi terbatas.


Regulasi Sudah Ada, Implementasi Dipertanyakan

Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2024 telah menetapkan penataan distribusi DOC ayam ras, termasuk pengaturan proporsi distribusi final stock antara internal integrator dan eksternal (peternak di luar integrator). Kebijakan ini dirancang untuk menciptakan struktur industri yang lebih seimbang dan mencegah dominasi distribusi pada satu kelompok usaha.

Namun implementasi di lapangan menunjukkan dinamika yang jauh dari ideal. Sejumlah peternak menyampaikan bahwa meskipun secara normatif terdapat pembagian kuota yang lebih proporsional, akses riil terhadap DOC tetap terkendala. Momentum chick-in yang terlewat berarti hilangnya peluang panen pada harga premium Lebaran.

Dalam industri broiler yang berbasis siklus 30–35 hari, keterlambatan satu periode produksi dapat berdampak pada:

  • Hilangnya momentum harga tinggi
  • Peningkatan biaya tetap tanpa pendapatan
  • Gangguan arus kas usaha
  • Melemahnya daya tahan peternak kecil

Jika kondisi ini terus berulang, maka ketimpangan struktural dalam industri perunggasan akan semakin menguat.


Ancaman Ketimpangan Struktural

Peternak rakyat mandiri selama ini berada dalam posisi yang rentan. Mereka menghadapi fluktuasi harga pakan, volatilitas harga ayam hidup, serta keterbatasan akses pembiayaan dan perlindungan pasar. Momentum Ramadan dan Lebaran seharusnya menjadi ruang pemulihan ekonomi, bukan justru periode kehilangan akses input utama.

Apabila distribusi DOC tidak berjalan transparan dan proporsional, maka struktur industri berpotensi semakin terkonsentrasi. Hal ini bukan hanya berdampak pada keberlanjutan usaha rakyat, tetapi juga pada stabilitas jangka panjang sektor perunggasan nasional.

Keadilan distribusi DOC bukan sekadar isu bisnis, melainkan menyangkut prinsip persaingan usaha yang sehat dan ketahanan pangan nasional. Peternak rakyat berkontribusi signifikan terhadap suplai ayam ras domestik. Ketika mereka tidak dapat berproduksi optimal, maka struktur pasokan nasional menjadi tidak merata.


Perlunya Pengawasan dan Transparansi

Transformasi tata niaga DOC sebagaimana diatur dalam Permentan 10/2024 harus dibarengi dengan pengawasan distribusi yang terukur dan transparan. Data produksi nasional perlu diikuti dengan data distribusi yang dapat diverifikasi publik, sehingga tidak terjadi kesenjangan antara angka agregat dan kenyataan di kandang rakyat.

Momentum menjelang Ramadan–Lebaran 2026 menjadi ujian nyata efektivitas kebijakan tersebut. Tanpa implementasi yang konsisten, regulasi berisiko hanya menjadi norma administratif tanpa dampak nyata bagi peternak mandiri.


Penegasan Sikap

Fenomena terbatasnya akses DOC bagi peternak rakyat mandiri menjelang periode permintaan tinggi harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan. Diperlukan langkah korektif yang tegas dan berbasis data agar distribusi berjalan adil serta tidak terpusat pada jaringan tertentu.

Industri perunggasan nasional membutuhkan keseimbangan ekosistem, bukan konsentrasi kekuatan. Tanpa akses input yang setara, peternak rakyat akan terus berada pada posisi yang tidak kompetitif.

Menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, keadilan distribusi DOC menjadi indikator nyata komitmen terhadap keberlanjutan peternak rakyat dan stabilitas pangan nasional.


Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Harga Livebird Terus Turun, Peternak Rakyat Sampai Kapan Harus Bertahan?

Published

on

By

Spread the love

Industri perunggasan nasional kembali menghadapi tekanan serius. Penurunan harga ayam hidup (livebird/LB) yang terjadi hari ini di berbagai daerah menjadi sinyal kuat bahwa keseimbangan sektor ini masih jauh dari kata stabil. Di tengah biaya produksi yang tetap tinggi, kondisi ini semakin menekan peternak rakyat yang menjadi tulang punggung produksi protein hewani nasional.

Fenomena turunnya harga livebird bukan sekadar fluktuasi biasa. Bagi peternak mandiri, kondisi ini adalah ancaman langsung terhadap keberlangsungan usaha. Ketika harga jual ayam berada di bawah biaya produksi, maka setiap panen bukan lagi membawa keuntungan, melainkan kerugian yang harus ditanggung demi menjaga siklus usaha tetap berjalan.

Tekanan Ganda: Harga Turun, Biaya Tetap Tinggi

Dalam beberapa waktu terakhir, harga livebird di tingkat peternak terus mengalami pelemahan. Di sejumlah wilayah, harga bahkan dilaporkan menyentuh titik yang tidak lagi menutupi biaya produksi. Sementara itu, komponen biaya seperti pakan, DOC (day old chick), dan operasional kandang tidak menunjukkan penurunan yang signifikan.

Kondisi ini menciptakan tekanan ganda. Di satu sisi, peternak harus tetap menjual ayamnya karena keterbatasan kapasitas kandang dan kebutuhan cash flow. Namun di sisi lain, harga jual yang rendah membuat mereka harus rela merugi.

Situasi ini memperlihatkan adanya ketidakseimbangan struktural dalam industri perunggasan. Ketika biaya produksi cenderung stabil atau naik, namun harga jual sangat fluktuatif dan tidak terkendali, maka pihak yang paling terdampak adalah peternak di level bawah.

Peternak Rakyat Selalu Jadi Pihak Paling Rentan

Siklus harga dalam industri unggas sejatinya bukan hal baru. Namun yang menjadi persoalan adalah pola dampaknya yang selalu berulang: peternak rakyat menjadi pihak yang paling rentan.

Ketika harga ayam tinggi, peternak sering kali diminta untuk menahan produksi atau menjaga harga agar tetap terjangkau bagi konsumen. Namun ketika harga jatuh, tidak ada mekanisme perlindungan yang cukup kuat untuk menjaga peternak dari kerugian.

Hal ini menunjukkan bahwa sistem tata kelola industri unggas belum sepenuhnya berpihak pada keseimbangan. Peternak rakyat sering kali berada pada posisi yang tidak memiliki daya tawar kuat, baik terhadap pasar maupun terhadap rantai pasok yang lebih besar.

Jika kondisi ini terus berulang tanpa solusi konkret, maka bukan tidak mungkin jumlah peternak mandiri akan terus berkurang. Mereka yang tidak mampu bertahan akan keluar dari usaha, dan pada akhirnya struktur industri akan semakin didominasi oleh pelaku besar.

Sinkronisasi Hulu-Hilir Masih Jadi Tantangan

Dorongan untuk melakukan sinkronisasi kebijakan industri unggas sebenarnya telah disampaikan oleh berbagai pihak, termasuk Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU). Namun implementasi di lapangan masih belum menunjukkan hasil yang signifikan.

Permasalahan utama terletak pada belum terintegrasinya kebijakan dari hulu hingga hilir. Produksi DOC yang tidak terkendali, fluktuasi harga pakan, hingga distribusi ayam di pasar yang tidak merata menjadi faktor utama yang memengaruhi harga livebird.

Tanpa pengendalian yang terkoordinasi, kelebihan pasokan di pasar akan terus terjadi, yang pada akhirnya menekan harga di tingkat peternak. Sementara itu, di sisi hilir, harga produk unggas di tingkat konsumen tidak selalu mencerminkan penurunan harga di tingkat peternak.

Kesenjangan ini menunjukkan adanya rantai distribusi yang belum efisien serta lemahnya pengawasan terhadap mekanisme pasar.

Suara Peternak: Butuh Keadilan dalam Tata Kelola

Ketua Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO), Kusnan, menegaskan bahwa kondisi ini harus menjadi perhatian serius bagi seluruh pemangku kepentingan.

Menurutnya, peternak rakyat tidak menolak persaingan dalam industri. Namun, yang dibutuhkan adalah sistem yang adil dan memberikan ruang bagi semua pelaku usaha untuk berkembang.

“Peternak rakyat tidak menolak persaingan, tetapi kami membutuhkan tata kelola industri yang adil dan sinkron. Jika setiap kali harga jatuh peternak rakyat harus menanggung kerugian sendirian, maka lama-lama banyak peternak yang tidak akan mampu bertahan,” ujarnya.

Pernyataan ini mencerminkan realitas yang dihadapi peternak di lapangan. Mereka tidak meminta perlindungan berlebihan, tetapi menginginkan adanya keseimbangan dalam sistem industri.

Ancaman terhadap Ketahanan Pangan

Keberlangsungan peternak rakyat bukan hanya soal ekonomi individu, tetapi juga berkaitan erat dengan ketahanan pangan nasional. Ayam merupakan salah satu sumber protein hewani utama bagi masyarakat Indonesia.

Jika peternak rakyat terus tertekan dan akhirnya gulung tikar, maka produksi ayam nasional akan terpengaruh. Ketergantungan terhadap pelaku usaha besar akan meningkat, yang berpotensi menciptakan ketimpangan baru dalam distribusi dan harga pangan.

Selain itu, hilangnya peternak rakyat juga berarti berkurangnya lapangan kerja di sektor perdesaan. Dampak sosial ekonomi dari kondisi ini tidak bisa dianggap remeh.

Solusi: Penguatan Kebijakan dan Pengawasan

Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan langkah konkret yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian antara lain:

1. Pengendalian Produksi DOC
Produksi DOC harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar agar tidak terjadi kelebihan pasokan yang berujung pada jatuhnya harga.

2. Stabilitas Harga Pakan
Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan. Kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga pakan akan sangat membantu peternak.

3. Penguatan Sistem Distribusi
Distribusi ayam dari peternak ke pasar harus lebih efisien agar harga di tingkat peternak dan konsumen lebih seimbang.

4. Intervensi Pemerintah Saat Harga Jatuh
Pemerintah perlu memiliki mekanisme intervensi yang jelas ketika harga livebird jatuh di bawah biaya produksi, misalnya melalui penyerapan atau program stabilisasi harga.

5. Transparansi Data Produksi dan Pasar
Data yang akurat dan transparan akan membantu semua pihak dalam mengambil keputusan yang tepat dan menghindari overproduksi.

Momentum Perbaikan Industri

Kondisi saat ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh dalam industri perunggasan nasional. Sinkronisasi kebijakan dari hulu hingga hilir bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

Semua pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha besar, hingga organisasi peternak, harus duduk bersama untuk merumuskan solusi yang berkelanjutan. Tanpa kolaborasi yang kuat, masalah yang sama akan terus berulang di masa depan.

Penutup

Penurunan harga livebird yang terus terjadi menjadi pengingat bahwa industri perunggasan nasional masih menghadapi tantangan struktural yang serius. Di tengah kondisi ini, peternak rakyat kembali menjadi pihak yang paling terdampak.

Menjaga keberlangsungan peternak rakyat bukan hanya soal keadilan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga fondasi ketahanan pangan Indonesia. Jika tidak ada langkah nyata dan terkoordinasi, maka pertanyaan yang muncul hari ini akan terus bergema: sampai kapan peternak rakyat harus bertahan?

Continue Reading

Berita

Menjeritnya Peternak Ayam Ras: Ketika Pakan Lebih Mahal dari Harga Jual

Published

on

By

Spread the love
unnamed 26

Pendahuluan

Subsektor peternakan unggas, khususnya ayam ras pedaging (broiler) dan petelur (layer), merupakan komoditas yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga pakan. Mengapa demikian? Karena dalam struktur biaya produksi usaha perunggasan, pakan menyumbang porsi terbesar, yakni mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya operasional.

Memasuki Maret 2026, situasi harga pakan menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Kementerian Pertanian mencatat adanya tren penurunan harga pakan ternak di tingkat produsen sepanjang Februari hingga awal Maret 2026 . Penurunan ini diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak yang selama setahun terakhir tertekan oleh lonjakan harga bahan baku.

Namun, meski ada kabar baik ini, peternak ayam ras masih harus mencermati beberapa tantangan. Kebijakan pengalihan impor bungkil kedelai yang sempat memicu gejolak harga pada awal tahun, serta fluktuasi harga jagung, masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai . Artikel ini akan mengupas secara detail kondisi terkini harga pakan dan ketidakseimbangan ekonomi yang masih dihadapi peternak ayam ras, serta strategi bertahan yang mereka lakukan di tengah dinamika pasar Maret 2026.


Kabar Baik di Awal Maret 2026: Harga Pakan Mulai Terkoreksi

Setelah mengalami tekanan yang cukup berat sepanjang tahun 2025, peternak ayam ras mendapatkan angin segar di awal Maret 2026. Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementerian Pertanian, terjadi tren penurunan harga pada berbagai jenis pakan yang digunakan peternak ayam pedaging maupun petelur .

Data Harga Pakan Terbaru Maret 2026

Berikut adalah rincian harga pakan terkini di tingkat produsen berdasarkan data resmi Kementerian Pertanian per Maret 2026 :

Jenis PakanHarga SebelumnyaHarga Maret 2026Penurunan
BR0 (Broiler Pre-Starter)Rp 8.533/kgRp 8.451/kgRp 82/kg
BR1 (Broiler Starter)Rp 8.122/kgRp 8.010/kgRp 112/kg
BR2 (Broiler Finisher)Rp 8.056/kgRp 7.967/kgRp 89/kg
P3 (Layer Masa Produksi)Rp 6.889/kgRp 6.803/kgRp 86/kg
KP3 (Konsentrat Layer)Rp 7.809/kgRp 7.735/kgRp 74/kg

Sumber: SPORA Direktorat Pakan Kementan, pemantauan 33 pabrik pakan per Maret 2026

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menyatakan bahwa tren penurunan harga pakan ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.

“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan stabilitas harga produk peternakan juga lebih terjaga,” ujar Agung di Kantor Kementan, Jakarta, Kamis (5/3/2026) .

Meski demikian, perlu dicatat bahwa penurunan harga ini baru dilakukan oleh sekitar 33 pabrik dari total 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, atau sekitar 38 persen dari total industri .


Perbandingan Harga yang Masih Perlu Dicermati

Meskipun harga pakan mulai menunjukkan tren penurunan, peternak ayam ras masih harus menghadapi tantangan dari sisi harga jual ternak yang cenderung fluktuatif. Mari kita lihat perbandingan terkini:

Data Harga Ternak Terbaru Maret 2026

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia per 25 Maret 2026 :

KomoditasHarga Maret 2026
Daging Ayam Ras (eceran nasional)Rp 43.450/kg
Telur Ayam Ras (eceran nasional)Rp 32.350/kg

Sementara itu, berdasarkan data dari Pemerintah Kota Kediri per 26 Maret 2026, harga daging ayam ras tercatat Rp 40.600 per kilogram .

Perhitungan Feed Cost per Kilogram

Untuk memproduksi satu kilogram ayam hidup, diperlukan pakan sekitar 1,5 hingga 1,7 kilogram (tergantung kualitas pakan dan manajemen pemeliharaan). Dengan harga pakan BR1 terkini Rp 8.010 per kilogram, mari kita hitung biaya pakan:

  • Asumsi FCR (Feed Conversion Ratio) = 1,6
  • Harga pakan = Rp 8.010/kg
  • Biaya pakan per kg ayam hidup = 1,6 x Rp 8.010 = Rp 12.816

Nilai Rp 12.816 ini belum termasuk biaya DOC (day old chick), vitamin, obat-obatan, listrik, tenaga kerja, dan penyusutan kandang. Dengan harga jual ayam hidup di tingkat peternak yang berkisar Rp 18.000 – Rp 19.000 per kilogram (dengan asumsi margin distribusi dari peternak ke konsumen sekitar 50-60 persen), maka margin yang tersisa untuk menutup biaya lain masih sangat tipis.

Perbandingan dengan periode sebelumnya:

  • Akhir 2025: Biaya pakan mencapai Rp 14.400 per kg ayam hidup
  • Maret 2026: Biaya pakan turun menjadi Rp 12.816 per kg ayam hidup

Ada penurunan biaya pakan sekitar Rp 1.584 per kilogram ayam hidup atau sekitar 11 persen. Ini merupakan kabar baik, meskipun masih diperlukan upaya lebih lanjut agar margin keuntungan peternak dapat kembali pulih.


Tantangan yang Masih Menghantui

Meski ada tren penurunan harga pakan, peternak ayam ras masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi.

Gejolak Kebijakan Impor Bungkil Kedelai

Salah satu faktor yang sempat mengganggu stabilitas harga pakan di awal tahun 2026 adalah kebijakan pengalihan impor bungkil kedelai (soybean meal/SBM) dari swasta ke BUMN PT Berdikari yang mulai berlaku 1 Januari 2026 .

Pada akhir 2025 hingga awal Januari 2026, kebijakan ini sempat menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga SBM. Harga SBM melonjak dari kisaran Rp 6.800 – Rp 7.100 per kilogram menjadi Rp 7.700 – Rp 8.000 per kilogram .

Pemerintah kemudian merespons dengan menetapkan masa transisi selama tiga bulan (Januari–Maret 2026), di mana swasta masih diizinkan mengimpor SBM hingga 31 Maret 2026. Langkah ini membuat pasokan mulai kembali mengalir dan harga perlahan stabil .

Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Jawa Tengah Suwardi mengungkapkan kekhawatirannya:

“Kami berharap ketersediaan stok dan harga SBM dapat tetap terjaga selama masa transisi dan setelah kebijakan penuh diterapkan. Jika PT Berdikari bisa mendapatkan SBM dengan harga terjangkau dan kualitas baik, ini bisa menjadi solusi jangka panjang. Namun jika tidak, dampaknya ke para peternak unggas akan sangat luar biasa” .

Program SPHP Jagung Pakan

Untuk menjaga stabilitas harga pakan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan penyaluran 242.000 ton jagung pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dimulai Maret 2026 .

Program ini menyasar peternak unggas dengan harga jagung bersubsidi di bawah pasar. Pada tahun 2025, program SPHP jagung telah menyalurkan 51.200 ton kepada 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi .

Pada tahun 2026, target penyaluran meningkat drastis hingga 372,6 persen dengan anggaran Rp 678 miliar. Hal ini diharapkan mampu memberikan angin segar bagi peternak, terutama menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang biasanya disertai peningkatan permintaan .

I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, menyatakan:

“Program SPHP jagung pakan ini secara khusus menyasar para peternak unggas di berbagai wilayah Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengatasi gejolak harga jagung di tingkat peternak yang berdampak langsung pada biaya produksi” .


Strategi Bertahan ala Peternak Rakyat

Menghadapi dinamika harga yang masih fluktuatif, peternak rakyat yang tergabung dalam wadah Permindo terus melakukan berbagai strategi untuk menjaga keberlangsungan usaha.

Pemanfaatan Bahan Pakan Alternatif

Gejolak harga SBM di awal tahun mendorong banyak peternak untuk mulai mencari bahan baku alternatif. Beberapa opsi yang mulai banyak digunakan antara lain :

  • Corn Gluten Meal (CGM) – sumber protein alternatif, harga saat ini Rp 10.500 – Rp 11.000 per kg
  • Corn Gluten Feed (CGF) – mengalami kenaikan permintaan signifikan, harga Rp 4.000 – Rp 4.300 per kg
  • Palm Kernel Meal (PKM) – sumber protein dari sawit, banyak tersedia di wilayah Sumatera dan Kalimantan
  • Bungkil Kopra – potensi besar di daerah penghasil kelapa

Tito Ari Santoso, dalam opininya di Poultry Indonesia edisi Februari 2026, menuliskan:

“Gejolak pasokan dan harga soybean meal yang mewarnai awal 2026 kembali menjadi pengingat sekaligus alarm bagi industri perunggasan nasional. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor membuat sektor ini sangat rentan terhadap perubahan kebijakan maupun gangguan pasokan global” .

Penguatan Kelembagaan Peternak

Permindo terus mendorong peternak untuk bergabung dalam kelompok atau koperasi. Dengan berkelompok, peternak memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam membeli pakan, baik dari pabrik maupun distributor.

Pembelian kolektif (bulk buying) memungkinkan peternak mendapatkan harga yang lebih kompetitif, serta akses terhadap informasi harga dan stok bahan baku secara lebih cepat dan akurat.


Harapan pada Kebijakan Pemerintah

Meskipun harga pakan mulai menunjukkan tren perbaikan, masih ada sejumlah harapan dari peternak kepada pemerintah.

Konsistensi Kebijakan

Peternak berharap kebijakan pengalihan impor SBM ke PT Berdikari dapat berjalan lancar setelah masa transisi berakhir pada 31 Maret 2026. PT Berdikari diharapkan mampu:

  • Mendapatkan SBM berkualitas dari produsen langsung (bukan distributor tingkat lanjut) sehingga harga lebih kompetitif
  • Menyiapkan infrastruktur logistik dan pergudangan yang memadai
  • Menjaga ketersediaan pasokan secara rutin tanpa gangguan
  • Menjual SBM dengan harga yang terjangkau bagi peternak skala kecil dan menengah 

Stabilitas Harga Jual Ternak

Penurunan harga pakan akan lebih bermakna jika diimbangi dengan stabilitas harga jual ternak di tingkat peternak. Pemerintah diharapkan terus memantau dan mengintervensi jika terjadi fluktuasi harga yang merugikan peternak.

Berdasarkan data PIHPS per 25 Maret 2026, harga daging ayam ras di tingkat konsumen masih di atas Rp 40.000 per kilogram . Dengan asumsi margin distribusi yang wajar, harga di tingkat peternak seharusnya berada di kisaran Rp 18.000 – Rp 20.000 per kilogram—masih memberikan ruang keuntungan tipis setelah memperhitungkan biaya pakan yang mulai turun.


Penutup

Memasuki Maret 2026, peternak ayam ras mulai melihat secercah harapan. Harga pakan yang mulai terkoreksi, program SPHP jagung yang ditingkatkan, serta masa transisi kebijakan impor SBM yang memberikan ruang adaptasi, menjadi kabar baik bagi peternak rakyat.

Namun, perjalanan masih panjang. Konsistensi kebijakan, ketersediaan bahan baku alternatif, serta penguatan kelembagaan peternak menjadi kunci agar momentum perbaikan ini dapat berkelanjutan.

Permindo akan terus mendampingi peternak rakyat dalam menghadapi dinamika pasar, memperjuangkan kebijakan yang berpihak, serta mendorong kemandirian pakan berbasis sumber daya lokal.


Call to Action

Apakah Anda peternak ayam ras yang sedang merasakan dampak penurunan harga pakan di daerah Anda? Bagikan pengalaman dan data Anda di kolom komentar. Mari kita kumpulkan suara peternak rakyat untuk memastikan bahwa momentum perbaikan ini benar-benar dirasakan oleh semua.

Bergabunglah dengan Permindo untuk mendapatkan akses informasi harga terkini, pelatihan pakan alternatif, dan pendampingan teknis. Bersama Permindo, kita kuatkan peternak rakyat Indonesia!

Continue Reading

Berita

Stabilisasi Harga Ayam Pasca-Lebaran: Momentum Penguatan Keberpihakan Negara kepada Peternak Rakyat

Published

on

By

Spread the love

Fenomena penurunan harga ayam hidup (livebird) setelah Hari Raya Idul Fitri kembali terjadi dan menjadi perhatian serius para pelaku usaha perunggasan, khususnya peternak rakyat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga yang tajam pasca-Lebaran bukan lagi sekadar dinamika musiman, melainkan indikasi perlunya penguatan kebijakan tata kelola sektor perunggasan secara menyeluruh.

Dalam konteks ini, kehadiran negara menjadi sangat penting untuk memastikan keseimbangan antara kepentingan konsumen dan keberlangsungan usaha peternak.


Dinamika Harga dan Tantangan Struktural

Penurunan permintaan setelah Lebaran memang merupakan siklus yang dapat diprediksi. Namun, penurunan harga yang terjadi di tingkat peternak sering kali melampaui batas kewajaran dan berada di bawah biaya produksi.

Hal ini mengindikasikan adanya tantangan struktural dalam sistem perunggasan nasional, antara lain:

  • Ketidakseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar
  • Distribusi pasokan yang belum optimal
  • Keterbatasan instrumen stabilisasi harga di tingkat peternak

Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini berpotensi melemahkan daya tahan peternak rakyat sebagai salah satu pilar utama penyedia protein hewani nasional.


Peran Strategis Pemerintah dalam Stabilisasi

Melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia, pemerintah memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sektor perunggasan, baik dari sisi hulu maupun hilir.

Langkah-langkah yang selama ini dilakukan seperti pengaturan produksi, imbauan penyesuaian populasi, serta intervensi pasar merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan.

Namun demikian, dinamika yang terjadi menunjukkan perlunya:

  • Penguatan implementasi kebijakan di lapangan
  • Sinkronisasi data produksi dan kebutuhan secara real-time
  • Peningkatan efektivitas intervensi sebelum harga mengalami tekanan tajam

Peran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menjadi kunci dalam memastikan kebijakan tersebut berjalan secara konsisten dan terukur.


Penguatan Ekosistem yang Berkeadilan

Keberlanjutan sektor perunggasan sangat ditentukan oleh keseimbangan antar pelaku usaha, termasuk peternak rakyat, pelaku usaha menengah, dan industri terintegrasi.

Dalam hal ini, penting untuk memastikan bahwa:

  • Peternak rakyat memiliki akses yang adil terhadap pasar
  • Terdapat mekanisme perlindungan saat harga berada di bawah biaya produksi
  • Kebijakan yang diambil mampu menjaga iklim usaha yang sehat dan kompetitif

Pendekatan ini tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas harga, tetapi juga memperkuat struktur industri perunggasan nasional secara jangka panjang.


Momentum Perbaikan Kebijakan ke Depan

Kondisi pasca-Lebaran seharusnya menjadi momentum evaluasi dan perbaikan kebijakan.

Beberapa langkah strategis yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • Penyesuaian produksi DOC berbasis proyeksi kebutuhan nasional
  • Penguatan sistem buffer stock dan cold storage
  • Optimalisasi peran BUMN atau lembaga penyangga
  • Penyusunan mekanisme harga acuan yang lebih adaptif

Langkah-langkah ini memerlukan koordinasi lintas sektor serta komitmen bersama antara pemerintah dan pelaku usaha.


Penutup

Stabilisasi harga ayam bukan hanya persoalan ekonomi semata, tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan usaha peternak rakyat dan ketahanan pangan nasional.

Dengan penguatan kebijakan yang tepat, implementasi yang konsisten, serta keberpihakan yang terukur, sektor perunggasan Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh lebih stabil dan berdaya saing.

Momentum ini menjadi penting untuk memastikan bahwa ke depan, dinamika harga pasca-Lebaran tidak lagi menjadi siklus kerugian, melainkan dapat dikelola sebagai bagian dari sistem yang sehat dan berkelanjutan.


Meta Deskripsi (SEO)

Stabilisasi harga ayam pasca-Lebaran menjadi momentum penguatan kebijakan pemerintah untuk melindungi peternak rakyat dan menjaga ketahanan pangan.

Continue Reading

Trending