Connect with us

Berita

Sejarah Perjuangan Peternak Ayam Indonesia: Dari Aksi Jalanan hingga Perjuangan Menjaga Keberlangsungan Usaha Rakyat

Avatar photo

Published

on

Spread the love
image by Antara Foto

Industri perunggasan Indonesia tidak hanya dibangun oleh investasi dan teknologi, tetapi juga oleh perjuangan panjang peternak rakyat yang terus berupaya mempertahankan usahanya di tengah berbagai tantangan. Dalam perjalanan sejarahnya, aksi demonstrasi dan gerakan peternak ayam telah menjadi bagian penting dari upaya memperjuangkan keadilan usaha, stabilitas harga, dan keberlangsungan peternakan rakyat.

Bagi sebagian orang, aksi peternak mungkin hanya terlihat sebagai unjuk rasa biasa. Namun bagi peternak rakyat, aksi tersebut merupakan bentuk jeritan terakhir ketika harga ayam hidup (livebird) jatuh jauh di bawah biaya produksi, sementara harga pakan dan DOC terus meningkat.

Awal Munculnya Gelombang Aksi Peternak

Gelombang besar aksi peternak ayam mulai banyak terlihat sejak 2018 hingga 2019 ketika harga livebird mengalami penurunan berkepanjangan. Saat itu harga ayam hidup di tingkat peternak sering berada di bawah biaya produksi sehingga banyak peternak mengalami kerugian besar. Berbagai asosiasi dan komunitas peternak turun ke jalan menuntut pemerintah melakukan penataan industri perunggasan nasional dan mengendalikan kelebihan pasokan ayam di pasar.

Pada Maret 2019, ribuan peternak dari berbagai daerah melakukan aksi di depan Istana Negara. Salah satu tuntutan utama mereka adalah perlindungan terhadap peternak mandiri yang terus merugi akibat harga jual yang berada di bawah biaya produksi. Selain itu, peternak juga meminta pemerintah menurunkan biaya pakan dan memperbaiki tata niaga perunggasan nasional.

Mengapa Peternak Terus Melakukan Aksi?

Secara umum terdapat beberapa penyebab utama yang mendorong peternak melakukan aksi:

1. Harga Livebird di Bawah HPP

Masalah paling sering terjadi adalah harga ayam hidup yang jatuh jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP). Dalam beberapa periode bahkan harga livebird pernah berada pada kisaran Rp5.000 hingga Rp8.000 per kilogram di sejumlah daerah, jauh di bawah biaya produksi peternak.

2. Dugaan Oversupply Produksi

Peternak menilai produksi DOC dan ayam komersial sering tidak seimbang dengan kebutuhan pasar sehingga terjadi kelebihan pasokan yang menyebabkan harga anjlok. Kondisi ini berulang hampir setiap tahun dan menjadi salah satu isu utama yang selalu dibawa dalam berbagai aksi peternak.

3. Harga Pakan yang Terus Meningkat

Selain harga jual yang rendah, peternak juga harus menghadapi kenaikan harga pakan yang menjadi komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya ayam. Ketika harga pakan naik dan harga ayam turun, kerugian peternak menjadi semakin besar.

4. Ketimpangan Tata Niaga

Peternak rakyat sering menyuarakan perlunya perbaikan tata niaga perunggasan agar tercipta persaingan yang lebih sehat dan kesempatan usaha yang lebih adil bagi peternak mandiri.

Aksi yang Terus Berlanjut Hingga Saat Ini

Perjuangan peternak tidak berhenti pada tahun 2019. Pada tahun 2023, peternak kembali melakukan aksi di Jakarta karena harga livebird kembali berada di bawah HPP peternak. Saat itu peternak menuntut pemerintah mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga dan menyelamatkan usaha peternakan rakyat.

Gelombang aksi kembali terjadi pada tahun 2024 ketika harga livebird kembali mengalami penurunan signifikan. Dalam aksi tersebut, peternak bahkan membagikan ribuan ayam secara gratis kepada masyarakat sebagai simbol bahwa harga ayam di kandang sudah tidak lagi mencerminkan nilai ekonomi yang layak bagi peternak.

Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi peternak rakyat masih bersifat struktural dan membutuhkan solusi jangka panjang.

Apa Hasil dari Berbagai Aksi Peternak?

Meskipun tidak semua tuntutan dapat langsung diwujudkan, berbagai aksi peternak telah menghasilkan beberapa langkah kebijakan dari pemerintah.

Pemerintah beberapa kali melakukan pengendalian produksi DOC, mengadakan rapat koordinasi nasional perunggasan, serta menetapkan harga acuan dan langkah stabilisasi harga livebird untuk melindungi peternak rakyat. Pada tahun 2025, pemerintah bersama pemangku kepentingan perunggasan bahkan menyepakati harga minimal livebird sebesar Rp18.000 per kilogram sebagai bentuk perlindungan terhadap peternak mandiri.

Selain itu, aksi-aksi peternak juga berhasil meningkatkan perhatian publik terhadap persoalan yang selama ini dihadapi peternak rakyat. Isu tata niaga unggas, stabilitas harga, serta keberlangsungan usaha peternak kini menjadi pembahasan rutin dalam berbagai forum industri dan pemerintah.

Perjuangan Belum Selesai

Meski telah banyak aksi dilakukan, tantangan peternak rakyat masih belum sepenuhnya teratasi. Fluktuasi harga livebird, tingginya biaya produksi, serta ketimpangan struktur industri masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Karena itu, konsolidasi dan persatuan peternak menjadi sangat penting. Sejarah membuktikan bahwa setiap kemajuan yang diperoleh peternak lahir dari keberanian untuk bersuara dan memperjuangkan haknya secara bersama-sama.

Bagi peternak rakyat Indonesia, aksi bukan sekadar demonstrasi. Aksi adalah bentuk perjuangan mempertahankan mata pencaharian, menjaga keberlangsungan usaha keluarga, serta memastikan bahwa peternakan rakyat tetap menjadi bagian penting dari ketahanan pangan nasional.

Penutup

Perjalanan panjang aksi peternak ayam Indonesia menunjukkan bahwa keberlangsungan industri perunggasan tidak bisa hanya bergantung pada mekanisme pasar semata. Dibutuhkan kebijakan yang berpihak, pengawasan yang konsisten, serta keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan agar peternak rakyat dapat terus bertahan dan berkembang.

Sebagaimana semangat yang terus digaungkan oleh berbagai organisasi peternak, termasuk Perhimpunan Peternak Mandiri Nasional (PERMINDO), masa depan peternakan Indonesia hanya dapat terwujud apabila peternak rakyat memperoleh ruang usaha yang adil, berkelanjutan, dan terlindungi.

Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Hari/Tanggal: Selasa, 27 Oktober 2026
Waktu: 14.00 WIB – selesai
Tempat: Kafe di depan Graha Gabah
Agenda: Pembahasan dan evaluasi pola kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat

I. Latar Belakang

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari membahas konsep, mekanisme, serta tantangan implementasi kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat. Pembahasan juga menjadi momentum untuk melakukan flashback terhadap pengalaman model kemitraan sebelumnya, termasuk referensi pembahasan MK-RI tahun 2016, sekaligus melihat relevansinya dengan kondisi Peternak Rakyat saat ini.

PERMINDO memandang kemitraan BUMN semestinya tidak hanya berorientasi pada keamanan bisnis perusahaan, tetapi juga menjalankan fungsi strategis dalam pemberdayaan, perlindungan, pembinaan, dan peningkatan kapasitas Peternak Rakyat.

II. Pokok-Pokok Pembahasan

1. Pola Kemitraan dan Pembiayaan

Dalam pola yang dibahas, Berdikari pada prinsipnya menyediakan DOC saja atau DOC + pakan. Beberapa komponen biaya menjadi tanggung jawab peternak, antara lain biaya OVK sekitar Rp500/ekor, biaya operasional sekitar Rp4.500/ekor, serta kandang dan sarana produksi. Hasil ayam hidup (LB) dibeli Berdikari berdasarkan harga kontrak. Model ini dapat menjadi pola kerja sama yang baik apabila terdapat keseimbangan antara risiko perusahaan, biaya produksi, kualitas sapronak, harga kontrak, dan margin yang diterima peternak.

2. Akses dan Seleksi Peternak Rakyat

Berdikari cenderung memilih calon mitra berdasarkan performance produksi, track record, kemampuan modal, dan kesiapan kandang, termasuk kandang closed house yang representatif. Pendekatan tersebut dapat dipahami dari sisi kehati-hatian bisnis, tetapi apabila diterapkan terlalu ketat, Peternak Rakyat konvensional dengan modal terbatas dan performance yang belum optimal akan sulit memperoleh akses. Kemitraan BUMN seharusnya tidak hanya memilih peternak yang sudah kuat, tetapi juga membina peternak agar menjadi lebih kuat dan naik kelas.

3. Prinsip Kehati-hatian dan Keterbatasan Pendampingan

Berdikari berkepentingan menjaga performance produksi dan menghindari risiko kerugian sebagai bagian dari tata kelola BUMN yang prudent. Di sisi lain, keterbatasan jumlah dan kapasitas tim pendamping dapat mendorong perusahaan lebih memilih mitra yang sudah memiliki modal, kandang memadai, dan track record baik. PERMINDO memandang prudential governance harus berjalan bersama fungsi pemberdayaan, melalui pola pendampingan bertahap agar peternak konvensional tidak langsung tersisih karena belum memenuhi standar awal.

4. Target Performance/IP

Dalam pembahasan terdapat penekanan bahwa peternak harus mencapai IP standar sekitar 350. Perhatian PERMINDO adalah bahwa Berdikari pada prinsipnya lebih menekankan hasil akhir IP dan tidak terlalu masuk pada bagaimana peternak mencapai angka tersebut. Peternak dapat melakukan berbagai upaya manajemen untuk mengejar IP, termasuk penambahan atau penggunaan pakan lebih banyak, selama target performance tercapai.

Kondisi tersebut perlu dievaluasi. IP seharusnya menjadi indikator hasil dari sistem produksi yang sehat, bukan sekadar angka yang harus dicapai dengan cara apa pun. Jika IP hanya menjadi target akhir, sementara kualitas DOC, kualitas pakan, kesehatan, OVK, mortalitas, FCR, kondisi kandang, manajemen pemeliharaan, dan dinamika kualitas sapronak tidak dievaluasi secara proporsional, akar persoalan performance produksi akan sulit diketahui. Target IP harus ditempatkan sebagai alat evaluasi, bukan sekadar target administratif.

5. Evaluasi Sapronak dan Beban Risiko Produksi

Kualitas DOC dan pakan dapat mengalami perubahan. Karena itu, tuntutan pencapaian IP tanpa evaluasi menyeluruh terhadap input produksi berpotensi menempatkan beban pencapaian performance terlalu besar pada peternak. Kemitraan yang sehat perlu melakukan evaluasi bersama terhadap kualitas DOC, kualitas dan konsumsi pakan, FCR, mortalitas, kesehatan dan OVK, manajemen kandang, kondisi lingkungan, biaya produksi, performance/IP, serta margin peternak.

Continue Reading

Berita

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

“Peternak rakyat sedang menghadapi tekanan ganda (cost-price squeeze): harga input, terutama pakan, meningkat sehingga HPP semakin tinggi, tetapi pada saat yang sama harga ayam hidup di tingkat peternak justru turun jauh di bawah biaya produksi.”

Ada 3 tindakan konkret yang perlu didorong ke pemerintah:

1. Aktifkan Penyerapan Darurat Ayam Hidup

Pemerintah/Bapanas segera mengumpulkan RPA/RPHU, BUMN pangan, integrator, koperasi, dan offtaker.

Tetapkan volume penyerapan harian/mingguan dari sentra yang harganya jatuh.

Penyerapan diarahkan ke karkas/frozen/captive market, bukan sekadar memindahkan ayam hidup dari satu broker ke broker lain.

Belum diusulkan atau belum ada penugasan dari pemerintah untuk peternak rakyat secara luas; yang sudah jalan hanya sebatas anggota kemitraan Berdikari saja.

2. Kurangi Supply DOC–FS

Lakukan pengendalian chick-in dan produksi DOC secara proporsional, termasuk perusahaan integrator dan kemitraan, berdasarkan data surplus-demand. Pengawasan lemah atau bahkan belum dilaksanakan.

3. Stabilisasi Harga Peternak

Terapkan mekanisme harga minimum sementara berbasis HPP; ketika LB jauh di bawah HPP, selisih tekanan ditangani melalui penyerapan dan pengurangan supply, bukan dibebankan seluruhnya kepada peternak.

Sudah dilakukan, tetapi belum berdampak pada realisasi.

Continue Reading

Berita

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

BOGOR — Peternak broiler rakyat kembali menghadapi tekanan biaya produksi. Memasuki November–Desember 2026, harga bahan baku pakan berpotensi naik ke Rp9.000–Rp10.000/kg. Harga jagung dan DOC juga masih menjadi beban peternak mandiri.

Kondisi ini dikhawatirkan menekan harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak. Biaya produksi naik, tetapi harga jual ayam tetap fluktuatif. Peternak pun menanggung risiko terbesar. Dalam berita peternakan nasional pekan ini, isu itu menjadi sorotan utama pelaku usaha unggas.

Biaya Produksi Naik, Peternak Rakyat Paling Rentan

PERMINDO menilai pemerintah perlu mengantisipasi kondisi ini sejak dini. Tekanan biaya produksi tidak boleh berubah menjadi kerugian berkepanjangan bagi peternak rakyat.

“Kalau pakan naik, DOC mahal dan terbatas, jangan sampai saat ayam panen justru harga livebird yang ditekan. Peternak tidak meminta harga tinggi, tetapi harga yang wajar dan mampu menutup biaya produksi,” ujar Sekretaris Jenderal PERMINDO, Heri Irawan.

Menurut Heri, struktur biaya produksi broiler sangat rentan terhadap gejolak pasar input. Pakan menyumbang porsi terbesar dalam total biaya. Kenaikan harga pakan langsung menggerus margin peternak. Terutama mereka yang mengelola kandang skala kecil dan menengah.

Selain pakan, harga DOC atau anak ayam umur sehari yang mahal dan terbatas turut memperbesar risiko. Peternak kerap bersaing memperoleh DOC berkualitas dengan harga tinggi pada periode permintaan puncak.

HAP Rp25.000/kg Harus Jadi Perlindungan Nyata

PERMINDO meminta pemerintah memastikan Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam ras pedaging di tingkat produsen sebesar Rp25.000/kg benar-benar berfungsi. HAP jangan hanya menjadi angka acuan tanpa implikasi di lapangan.

Menurut organisasi yang menaungi peternak broiler rakyat ini, HAP semestinya menjadi bagian dari mekanisme perlindungan harga. Tujuannya agar peternak tidak menjadi pihak terakhir yang menanggung seluruh beban kenaikan biaya.

“Jangan sampai pola yang sama berulang: input naik, HPP naik, tetapi ketika ayam panen harga LB turun. Kalau seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada peternak, keberlanjutan peternak rakyat akan semakin terancam,” tegas Heri Irawan.

Ia menegaskan, peternak tidak menuntut harga jual yang tinggi. Yang diminta adalah harga yang wajar, transparan, dan berkeadilan. Harga wajar berarti mampu menutup biaya produksi sekaligus memberi ruang usaha yang layak.

Lima Usulan PERMINDO kepada Pemerintah

Dalam pernyataan resminya, PERMINDO menyampaikan sejumlah usulan konkret agar gejolak harga tidak terus merugikan peternak. Usulan ini menyasar hulu hingga hilir industri broiler.

  • Menjaga harga livebird agar tidak jatuh jauh di bawah HAP Bapanas.
  • Mengevaluasi HPP broiler secara berkala berdasarkan harga aktual DOC, pakan, jagung, SBM, OVK, energi, dan biaya produksi lainnya.
  • Menjamin ketersediaan bahan baku pakan seperti SBM dan jagung pakan dengan harga yang wajar.
  • Memperkuat pengendalian keseimbangan supply-demand agar oversupply tidak terus dibebankan kepada peternak.
  • Membuka dialog rutin antara pemerintah, integrator, industri pakan, dan peternak mandiri sebelum gejolak harga membesar.

Evaluasi HPP Berbasis Data Aktual

Poin evaluasi HPP dinilai krusial. Perhitungan HPP perlu mencerminkan harga nyata di pasar, bukan asumsi lama yang sudah tidak relevan. Jika HPP tidak diperbarui, selisih biaya akan tetap ditanggung peternak.

Ketersediaan Jagung dan SBM

Ketersediaan jagung pakan dan SBM atau soybean meal menjadi penentu utama biaya pakan. Kelangkaan kedua bahan ini cepat memicu kenaikan harga di tingkat pabrik. Dampaknya langsung terasa pada harga pakan jadi yang dibeli peternak.

Dialog Rutin Sebelum Krisis Harga

PERMINDO menilai komunikasi antar pemangku kepentingan selama ini berjalan reaktif. Dialog baru digelar setelah harga terlanjur jatuh. Padahal, deteksi dini terhadap potensi oversupply bisa mencegah kerugian yang lebih besar.

Stabilisasi Butuh Keseimbangan Harga Input dan Output

Menurut PERMINDO, stabilisasi industri broiler tidak cukup hanya dengan mengendalikan harga input. Keseimbangan antara harga input dan harga output harus dijaga secara bersamaan.

Jika pemerintah hanya menekan harga pakan tanpa menjaga harga jual ayam, peternak tetap berada di posisi lemah. Sebaliknya, mendorong harga jual tanpa menjamin pasokan dan permintaan yang seimbang juga tidak akan bertahan lama.

Karena itu, PERMINDO menilai perlindungan harga harus berjalan seiring dengan tata kelola pasokan. Peternak rakyat butuh kepastian biaya, kepastian harga jual, dan kepastian pasar. Tanpa itu, keberlanjutan usaha broiler rakyat sulit dijaga.

Itulah sorotan berita peternakan pekan ini. PERMINDO berharap pemerintah bergerak cepat. Tujuannya agar harga livebird tetap wajar dan peternak rakyat tidak terus menanggung beban biaya produksi yang naik.

Continue Reading

Trending