Industri perunggasan nasional kembali menghadapi ketidakseimbangan yang semakin nyata. Di satu sisi, harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak terus mengalami penurunan di berbagai daerah. Namun di sisi lain, biaya produksi justru bergerak naik, terutama akibat rencana kenaikan harga pakan per 1 April 2026 serta harga DOC yang masih bertahan tinggi.
Kondisi ini menempatkan peternak rakyat mandiri dalam tekanan yang semakin berat. Mereka menghadapi situasi di mana harga jual produk terus melemah, sementara komponen biaya produksi tidak menunjukkan penurunan yang sebanding.
Harga Ayam di Bawah Biaya Produksi
Berdasarkan data yang dihimpun oleh PINSAR Indonesia per 29 Maret 2026, harga livebird di berbagai wilayah sentra produksi berada pada level yang mengkhawatirkan.
Di wilayah Jawa Barat, harga ayam hidup berada pada kisaran Rp21.500 hingga Rp23.000 per kilogram. Di daerah Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar bahkan berada di kisaran Rp21.500–Rp22.000 per kilogram.
Sementara itu, di sebagian wilayah Jawa Tengah, harga livebird tercatat lebih rendah lagi, yakni sekitar Rp20.500 hingga Rp21.500 per kilogram.
Angka tersebut berada di bawah perkiraan biaya pokok produksi (BPP) peternak broiler mandiri yang umumnya berkisar antara Rp23.000 hingga Rp25.000 per kilogram, tergantung harga pakan dan DOC saat periode pemeliharaan dimulai.
Artinya, banyak peternak saat ini terpaksa menjual ayam dalam kondisi merugi.
Harga Pakan Naik, Beban Produksi Semakin Berat
Tekanan terhadap peternak semakin meningkat setelah adanya pemberitahuan dari industri pakan mengenai penyesuaian harga mulai 1 April 2026.
Harga pakan komplit direncanakan naik sebesar Rp200 per kilogram, sementara pakan konsentrat naik Rp300 per kilogram.
Secara nominal, kenaikan ini mungkin terlihat kecil. Namun bagi peternak, dampaknya sangat signifikan.
Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya ayam broiler, dengan kontribusi sekitar 70% dari total biaya produksi. Dengan kebutuhan pakan rata-rata sekitar 3 kilogram per ekor ayam selama satu siklus pemeliharaan, maka kenaikan Rp200 per kilogram akan menambah biaya sekitar Rp600 per ekor.
Dalam skala ribuan hingga puluhan ribu ekor, tambahan biaya ini menjadi beban yang sangat besar bagi peternak rakyat.
Harga DOC Masih Tinggi, Tidak Seimbang dengan Kondisi Pasar
Selain pakan, peternak juga masih dibebani oleh harga DOC (Day Old Chick) yang bertahan di kisaran Rp6.000 per ekor.
Dalam kondisi harga ayam yang sedang turun tajam, peternak berharap adanya penyesuaian harga pada komponen input produksi. Namun hingga saat ini, penurunan harga DOC belum terlihat signifikan.
Situasi ini menciptakan tekanan dari tiga sisi sekaligus:
Harga ayam turun
Harga DOC tetap tinggi
Harga pakan justru meningkat
Kombinasi ini menjadi kondisi yang sangat berisiko bagi keberlangsungan usaha peternak rakyat mandiri.
Peternak Rakyat Paling Terdampak
Berbeda dengan perusahaan terintegrasi yang memiliki efisiensi dan kontrol rantai pasok, peternak rakyat mandiri harus membeli seluruh kebutuhan produksi dengan harga pasar.
Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap fluktuasi harga.
Melalui Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia, para peternak telah menyuarakan bahwa kondisi ini tidak dapat dibiarkan berlangsung terlalu lama tanpa adanya kebijakan penyeimbang.
Risiko Terhadap Struktur Industri Nasional
Peternak rakyat merupakan bagian penting dalam struktur produksi ayam nasional. Ribuan peternak kecil dan menengah berperan dalam menjaga pasokan ayam bagi masyarakat.
Jika tekanan ini terus berlanjut:
Banyak peternak berpotensi menghentikan usaha
Produksi akan terkonsentrasi pada perusahaan besar
Struktur pasar menjadi tidak seimbang
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi stabilitas harga dan ketahanan pangan nasional.
Perlu Kebijakan Stabilisasi yang Nyata
Dalam situasi seperti ini, diperlukan langkah konkret dari pemerintah, khususnya melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Beberapa langkah yang mulai didorong oleh kalangan peternak antara lain:
Pengaturan produksi DOC agar sesuai kebutuhan pasar
Stabilisasi harga pakan
Intervensi pasar untuk mencegah harga ayam jatuh terlalu dalam
Langkah-langkah tersebut tidak hanya bertujuan melindungi peternak, tetapi juga menjaga keberlanjutan industri perunggasan secara keseluruhan.
Penutup
Industri ayam broiler merupakan salah satu sektor strategis dalam penyediaan protein hewani bagi masyarakat Indonesia. Ayam menjadi sumber protein yang paling terjangkau dibandingkan dengan alternatif lainnya.
Namun, ketika harga ayam terus jatuh sementara biaya produksi meningkat, peternak rakyat tidak memiliki banyak ruang untuk bertahan.
Menjaga keberlangsungan peternak rakyat bukan hanya soal melindungi pelaku usaha kecil, tetapi juga menjaga fondasi produksi ayam nasional dan memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap protein hewani yang terjangkau.