Berita

Menjeritnya Peternak Ayam Ras: Ketika Pakan Lebih Mahal dari Harga Jual

Published

on

Spread the love
unnamed 26

Pendahuluan

Subsektor peternakan unggas, khususnya ayam ras pedaging (broiler) dan petelur (layer), merupakan komoditas yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga pakan. Mengapa demikian? Karena dalam struktur biaya produksi usaha perunggasan, pakan menyumbang porsi terbesar, yakni mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya operasional.

Memasuki Maret 2026, situasi harga pakan menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Kementerian Pertanian mencatat adanya tren penurunan harga pakan ternak di tingkat produsen sepanjang Februari hingga awal Maret 2026 . Penurunan ini diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak yang selama setahun terakhir tertekan oleh lonjakan harga bahan baku.

Namun, meski ada kabar baik ini, peternak ayam ras masih harus mencermati beberapa tantangan. Kebijakan pengalihan impor bungkil kedelai yang sempat memicu gejolak harga pada awal tahun, serta fluktuasi harga jagung, masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai . Artikel ini akan mengupas secara detail kondisi terkini harga pakan dan ketidakseimbangan ekonomi yang masih dihadapi peternak ayam ras, serta strategi bertahan yang mereka lakukan di tengah dinamika pasar Maret 2026.


Kabar Baik di Awal Maret 2026: Harga Pakan Mulai Terkoreksi

Setelah mengalami tekanan yang cukup berat sepanjang tahun 2025, peternak ayam ras mendapatkan angin segar di awal Maret 2026. Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementerian Pertanian, terjadi tren penurunan harga pada berbagai jenis pakan yang digunakan peternak ayam pedaging maupun petelur .

Data Harga Pakan Terbaru Maret 2026

Berikut adalah rincian harga pakan terkini di tingkat produsen berdasarkan data resmi Kementerian Pertanian per Maret 2026 :

Jenis PakanHarga SebelumnyaHarga Maret 2026Penurunan
BR0 (Broiler Pre-Starter)Rp 8.533/kgRp 8.451/kgRp 82/kg
BR1 (Broiler Starter)Rp 8.122/kgRp 8.010/kgRp 112/kg
BR2 (Broiler Finisher)Rp 8.056/kgRp 7.967/kgRp 89/kg
P3 (Layer Masa Produksi)Rp 6.889/kgRp 6.803/kgRp 86/kg
KP3 (Konsentrat Layer)Rp 7.809/kgRp 7.735/kgRp 74/kg

Sumber: SPORA Direktorat Pakan Kementan, pemantauan 33 pabrik pakan per Maret 2026

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menyatakan bahwa tren penurunan harga pakan ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.

“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan stabilitas harga produk peternakan juga lebih terjaga,” ujar Agung di Kantor Kementan, Jakarta, Kamis (5/3/2026) .

Meski demikian, perlu dicatat bahwa penurunan harga ini baru dilakukan oleh sekitar 33 pabrik dari total 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, atau sekitar 38 persen dari total industri .


Perbandingan Harga yang Masih Perlu Dicermati

Meskipun harga pakan mulai menunjukkan tren penurunan, peternak ayam ras masih harus menghadapi tantangan dari sisi harga jual ternak yang cenderung fluktuatif. Mari kita lihat perbandingan terkini:

Data Harga Ternak Terbaru Maret 2026

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia per 25 Maret 2026 :

KomoditasHarga Maret 2026
Daging Ayam Ras (eceran nasional)Rp 43.450/kg
Telur Ayam Ras (eceran nasional)Rp 32.350/kg

Sementara itu, berdasarkan data dari Pemerintah Kota Kediri per 26 Maret 2026, harga daging ayam ras tercatat Rp 40.600 per kilogram .

Perhitungan Feed Cost per Kilogram

Untuk memproduksi satu kilogram ayam hidup, diperlukan pakan sekitar 1,5 hingga 1,7 kilogram (tergantung kualitas pakan dan manajemen pemeliharaan). Dengan harga pakan BR1 terkini Rp 8.010 per kilogram, mari kita hitung biaya pakan:

  • Asumsi FCR (Feed Conversion Ratio) = 1,6
  • Harga pakan = Rp 8.010/kg
  • Biaya pakan per kg ayam hidup = 1,6 x Rp 8.010 = Rp 12.816

Nilai Rp 12.816 ini belum termasuk biaya DOC (day old chick), vitamin, obat-obatan, listrik, tenaga kerja, dan penyusutan kandang. Dengan harga jual ayam hidup di tingkat peternak yang berkisar Rp 18.000 – Rp 19.000 per kilogram (dengan asumsi margin distribusi dari peternak ke konsumen sekitar 50-60 persen), maka margin yang tersisa untuk menutup biaya lain masih sangat tipis.

Perbandingan dengan periode sebelumnya:

  • Akhir 2025: Biaya pakan mencapai Rp 14.400 per kg ayam hidup
  • Maret 2026: Biaya pakan turun menjadi Rp 12.816 per kg ayam hidup

Ada penurunan biaya pakan sekitar Rp 1.584 per kilogram ayam hidup atau sekitar 11 persen. Ini merupakan kabar baik, meskipun masih diperlukan upaya lebih lanjut agar margin keuntungan peternak dapat kembali pulih.


Tantangan yang Masih Menghantui

Meski ada tren penurunan harga pakan, peternak ayam ras masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi.

Gejolak Kebijakan Impor Bungkil Kedelai

Salah satu faktor yang sempat mengganggu stabilitas harga pakan di awal tahun 2026 adalah kebijakan pengalihan impor bungkil kedelai (soybean meal/SBM) dari swasta ke BUMN PT Berdikari yang mulai berlaku 1 Januari 2026 .

Pada akhir 2025 hingga awal Januari 2026, kebijakan ini sempat menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga SBM. Harga SBM melonjak dari kisaran Rp 6.800 – Rp 7.100 per kilogram menjadi Rp 7.700 – Rp 8.000 per kilogram .

Pemerintah kemudian merespons dengan menetapkan masa transisi selama tiga bulan (Januari–Maret 2026), di mana swasta masih diizinkan mengimpor SBM hingga 31 Maret 2026. Langkah ini membuat pasokan mulai kembali mengalir dan harga perlahan stabil .

Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Jawa Tengah Suwardi mengungkapkan kekhawatirannya:

“Kami berharap ketersediaan stok dan harga SBM dapat tetap terjaga selama masa transisi dan setelah kebijakan penuh diterapkan. Jika PT Berdikari bisa mendapatkan SBM dengan harga terjangkau dan kualitas baik, ini bisa menjadi solusi jangka panjang. Namun jika tidak, dampaknya ke para peternak unggas akan sangat luar biasa” .

Program SPHP Jagung Pakan

Untuk menjaga stabilitas harga pakan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan penyaluran 242.000 ton jagung pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dimulai Maret 2026 .

Program ini menyasar peternak unggas dengan harga jagung bersubsidi di bawah pasar. Pada tahun 2025, program SPHP jagung telah menyalurkan 51.200 ton kepada 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi .

Pada tahun 2026, target penyaluran meningkat drastis hingga 372,6 persen dengan anggaran Rp 678 miliar. Hal ini diharapkan mampu memberikan angin segar bagi peternak, terutama menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang biasanya disertai peningkatan permintaan .

I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, menyatakan:

“Program SPHP jagung pakan ini secara khusus menyasar para peternak unggas di berbagai wilayah Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengatasi gejolak harga jagung di tingkat peternak yang berdampak langsung pada biaya produksi” .


Strategi Bertahan ala Peternak Rakyat

Menghadapi dinamika harga yang masih fluktuatif, peternak rakyat yang tergabung dalam wadah Permindo terus melakukan berbagai strategi untuk menjaga keberlangsungan usaha.

Pemanfaatan Bahan Pakan Alternatif

Gejolak harga SBM di awal tahun mendorong banyak peternak untuk mulai mencari bahan baku alternatif. Beberapa opsi yang mulai banyak digunakan antara lain :

  • Corn Gluten Meal (CGM) – sumber protein alternatif, harga saat ini Rp 10.500 – Rp 11.000 per kg
  • Corn Gluten Feed (CGF) – mengalami kenaikan permintaan signifikan, harga Rp 4.000 – Rp 4.300 per kg
  • Palm Kernel Meal (PKM) – sumber protein dari sawit, banyak tersedia di wilayah Sumatera dan Kalimantan
  • Bungkil Kopra – potensi besar di daerah penghasil kelapa

Tito Ari Santoso, dalam opininya di Poultry Indonesia edisi Februari 2026, menuliskan:

“Gejolak pasokan dan harga soybean meal yang mewarnai awal 2026 kembali menjadi pengingat sekaligus alarm bagi industri perunggasan nasional. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor membuat sektor ini sangat rentan terhadap perubahan kebijakan maupun gangguan pasokan global” .

Penguatan Kelembagaan Peternak

Permindo terus mendorong peternak untuk bergabung dalam kelompok atau koperasi. Dengan berkelompok, peternak memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam membeli pakan, baik dari pabrik maupun distributor.

Pembelian kolektif (bulk buying) memungkinkan peternak mendapatkan harga yang lebih kompetitif, serta akses terhadap informasi harga dan stok bahan baku secara lebih cepat dan akurat.


Harapan pada Kebijakan Pemerintah

Meskipun harga pakan mulai menunjukkan tren perbaikan, masih ada sejumlah harapan dari peternak kepada pemerintah.

Konsistensi Kebijakan

Peternak berharap kebijakan pengalihan impor SBM ke PT Berdikari dapat berjalan lancar setelah masa transisi berakhir pada 31 Maret 2026. PT Berdikari diharapkan mampu:

  • Mendapatkan SBM berkualitas dari produsen langsung (bukan distributor tingkat lanjut) sehingga harga lebih kompetitif
  • Menyiapkan infrastruktur logistik dan pergudangan yang memadai
  • Menjaga ketersediaan pasokan secara rutin tanpa gangguan
  • Menjual SBM dengan harga yang terjangkau bagi peternak skala kecil dan menengah 

Stabilitas Harga Jual Ternak

Penurunan harga pakan akan lebih bermakna jika diimbangi dengan stabilitas harga jual ternak di tingkat peternak. Pemerintah diharapkan terus memantau dan mengintervensi jika terjadi fluktuasi harga yang merugikan peternak.

Berdasarkan data PIHPS per 25 Maret 2026, harga daging ayam ras di tingkat konsumen masih di atas Rp 40.000 per kilogram . Dengan asumsi margin distribusi yang wajar, harga di tingkat peternak seharusnya berada di kisaran Rp 18.000 – Rp 20.000 per kilogram—masih memberikan ruang keuntungan tipis setelah memperhitungkan biaya pakan yang mulai turun.


Penutup

Memasuki Maret 2026, peternak ayam ras mulai melihat secercah harapan. Harga pakan yang mulai terkoreksi, program SPHP jagung yang ditingkatkan, serta masa transisi kebijakan impor SBM yang memberikan ruang adaptasi, menjadi kabar baik bagi peternak rakyat.

Namun, perjalanan masih panjang. Konsistensi kebijakan, ketersediaan bahan baku alternatif, serta penguatan kelembagaan peternak menjadi kunci agar momentum perbaikan ini dapat berkelanjutan.

Permindo akan terus mendampingi peternak rakyat dalam menghadapi dinamika pasar, memperjuangkan kebijakan yang berpihak, serta mendorong kemandirian pakan berbasis sumber daya lokal.


Call to Action

Apakah Anda peternak ayam ras yang sedang merasakan dampak penurunan harga pakan di daerah Anda? Bagikan pengalaman dan data Anda di kolom komentar. Mari kita kumpulkan suara peternak rakyat untuk memastikan bahwa momentum perbaikan ini benar-benar dirasakan oleh semua.

Bergabunglah dengan Permindo untuk mendapatkan akses informasi harga terkini, pelatihan pakan alternatif, dan pendampingan teknis. Bersama Permindo, kita kuatkan peternak rakyat Indonesia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please enable JavaScript

Trending

Exit mobile version