Connect with us

Berita

Menjeritnya Peternak Ayam Ras: Ketika Pakan Lebih Mahal dari Harga Jual

Published

on

Spread the love
unnamed 26

Pendahuluan

Subsektor peternakan unggas, khususnya ayam ras pedaging (broiler) dan petelur (layer), merupakan komoditas yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga pakan. Mengapa demikian? Karena dalam struktur biaya produksi usaha perunggasan, pakan menyumbang porsi terbesar, yakni mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya operasional.

Memasuki Maret 2026, situasi harga pakan menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Kementerian Pertanian mencatat adanya tren penurunan harga pakan ternak di tingkat produsen sepanjang Februari hingga awal Maret 2026 . Penurunan ini diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak yang selama setahun terakhir tertekan oleh lonjakan harga bahan baku.

Namun, meski ada kabar baik ini, peternak ayam ras masih harus mencermati beberapa tantangan. Kebijakan pengalihan impor bungkil kedelai yang sempat memicu gejolak harga pada awal tahun, serta fluktuasi harga jagung, masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai . Artikel ini akan mengupas secara detail kondisi terkini harga pakan dan ketidakseimbangan ekonomi yang masih dihadapi peternak ayam ras, serta strategi bertahan yang mereka lakukan di tengah dinamika pasar Maret 2026.


Kabar Baik di Awal Maret 2026: Harga Pakan Mulai Terkoreksi

Setelah mengalami tekanan yang cukup berat sepanjang tahun 2025, peternak ayam ras mendapatkan angin segar di awal Maret 2026. Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementerian Pertanian, terjadi tren penurunan harga pada berbagai jenis pakan yang digunakan peternak ayam pedaging maupun petelur .

Data Harga Pakan Terbaru Maret 2026

Berikut adalah rincian harga pakan terkini di tingkat produsen berdasarkan data resmi Kementerian Pertanian per Maret 2026 :

Jenis PakanHarga SebelumnyaHarga Maret 2026Penurunan
BR0 (Broiler Pre-Starter)Rp 8.533/kgRp 8.451/kgRp 82/kg
BR1 (Broiler Starter)Rp 8.122/kgRp 8.010/kgRp 112/kg
BR2 (Broiler Finisher)Rp 8.056/kgRp 7.967/kgRp 89/kg
P3 (Layer Masa Produksi)Rp 6.889/kgRp 6.803/kgRp 86/kg
KP3 (Konsentrat Layer)Rp 7.809/kgRp 7.735/kgRp 74/kg

Sumber: SPORA Direktorat Pakan Kementan, pemantauan 33 pabrik pakan per Maret 2026

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menyatakan bahwa tren penurunan harga pakan ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.

“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan stabilitas harga produk peternakan juga lebih terjaga,” ujar Agung di Kantor Kementan, Jakarta, Kamis (5/3/2026) .

Meski demikian, perlu dicatat bahwa penurunan harga ini baru dilakukan oleh sekitar 33 pabrik dari total 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, atau sekitar 38 persen dari total industri .


Perbandingan Harga yang Masih Perlu Dicermati

Meskipun harga pakan mulai menunjukkan tren penurunan, peternak ayam ras masih harus menghadapi tantangan dari sisi harga jual ternak yang cenderung fluktuatif. Mari kita lihat perbandingan terkini:

Data Harga Ternak Terbaru Maret 2026

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia per 25 Maret 2026 :

KomoditasHarga Maret 2026
Daging Ayam Ras (eceran nasional)Rp 43.450/kg
Telur Ayam Ras (eceran nasional)Rp 32.350/kg

Sementara itu, berdasarkan data dari Pemerintah Kota Kediri per 26 Maret 2026, harga daging ayam ras tercatat Rp 40.600 per kilogram .

Perhitungan Feed Cost per Kilogram

Untuk memproduksi satu kilogram ayam hidup, diperlukan pakan sekitar 1,5 hingga 1,7 kilogram (tergantung kualitas pakan dan manajemen pemeliharaan). Dengan harga pakan BR1 terkini Rp 8.010 per kilogram, mari kita hitung biaya pakan:

  • Asumsi FCR (Feed Conversion Ratio) = 1,6
  • Harga pakan = Rp 8.010/kg
  • Biaya pakan per kg ayam hidup = 1,6 x Rp 8.010 = Rp 12.816

Nilai Rp 12.816 ini belum termasuk biaya DOC (day old chick), vitamin, obat-obatan, listrik, tenaga kerja, dan penyusutan kandang. Dengan harga jual ayam hidup di tingkat peternak yang berkisar Rp 18.000 – Rp 19.000 per kilogram (dengan asumsi margin distribusi dari peternak ke konsumen sekitar 50-60 persen), maka margin yang tersisa untuk menutup biaya lain masih sangat tipis.

Perbandingan dengan periode sebelumnya:

  • Akhir 2025: Biaya pakan mencapai Rp 14.400 per kg ayam hidup
  • Maret 2026: Biaya pakan turun menjadi Rp 12.816 per kg ayam hidup

Ada penurunan biaya pakan sekitar Rp 1.584 per kilogram ayam hidup atau sekitar 11 persen. Ini merupakan kabar baik, meskipun masih diperlukan upaya lebih lanjut agar margin keuntungan peternak dapat kembali pulih.


Tantangan yang Masih Menghantui

Meski ada tren penurunan harga pakan, peternak ayam ras masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi.

Gejolak Kebijakan Impor Bungkil Kedelai

Salah satu faktor yang sempat mengganggu stabilitas harga pakan di awal tahun 2026 adalah kebijakan pengalihan impor bungkil kedelai (soybean meal/SBM) dari swasta ke BUMN PT Berdikari yang mulai berlaku 1 Januari 2026 .

Pada akhir 2025 hingga awal Januari 2026, kebijakan ini sempat menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga SBM. Harga SBM melonjak dari kisaran Rp 6.800 – Rp 7.100 per kilogram menjadi Rp 7.700 – Rp 8.000 per kilogram .

Pemerintah kemudian merespons dengan menetapkan masa transisi selama tiga bulan (Januari–Maret 2026), di mana swasta masih diizinkan mengimpor SBM hingga 31 Maret 2026. Langkah ini membuat pasokan mulai kembali mengalir dan harga perlahan stabil .

Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Jawa Tengah Suwardi mengungkapkan kekhawatirannya:

“Kami berharap ketersediaan stok dan harga SBM dapat tetap terjaga selama masa transisi dan setelah kebijakan penuh diterapkan. Jika PT Berdikari bisa mendapatkan SBM dengan harga terjangkau dan kualitas baik, ini bisa menjadi solusi jangka panjang. Namun jika tidak, dampaknya ke para peternak unggas akan sangat luar biasa” .

Program SPHP Jagung Pakan

Untuk menjaga stabilitas harga pakan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan penyaluran 242.000 ton jagung pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dimulai Maret 2026 .

Program ini menyasar peternak unggas dengan harga jagung bersubsidi di bawah pasar. Pada tahun 2025, program SPHP jagung telah menyalurkan 51.200 ton kepada 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi .

Pada tahun 2026, target penyaluran meningkat drastis hingga 372,6 persen dengan anggaran Rp 678 miliar. Hal ini diharapkan mampu memberikan angin segar bagi peternak, terutama menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang biasanya disertai peningkatan permintaan .

I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, menyatakan:

“Program SPHP jagung pakan ini secara khusus menyasar para peternak unggas di berbagai wilayah Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengatasi gejolak harga jagung di tingkat peternak yang berdampak langsung pada biaya produksi” .


Strategi Bertahan ala Peternak Rakyat

Menghadapi dinamika harga yang masih fluktuatif, peternak rakyat yang tergabung dalam wadah Permindo terus melakukan berbagai strategi untuk menjaga keberlangsungan usaha.

Pemanfaatan Bahan Pakan Alternatif

Gejolak harga SBM di awal tahun mendorong banyak peternak untuk mulai mencari bahan baku alternatif. Beberapa opsi yang mulai banyak digunakan antara lain :

  • Corn Gluten Meal (CGM) – sumber protein alternatif, harga saat ini Rp 10.500 – Rp 11.000 per kg
  • Corn Gluten Feed (CGF) – mengalami kenaikan permintaan signifikan, harga Rp 4.000 – Rp 4.300 per kg
  • Palm Kernel Meal (PKM) – sumber protein dari sawit, banyak tersedia di wilayah Sumatera dan Kalimantan
  • Bungkil Kopra – potensi besar di daerah penghasil kelapa

Tito Ari Santoso, dalam opininya di Poultry Indonesia edisi Februari 2026, menuliskan:

“Gejolak pasokan dan harga soybean meal yang mewarnai awal 2026 kembali menjadi pengingat sekaligus alarm bagi industri perunggasan nasional. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor membuat sektor ini sangat rentan terhadap perubahan kebijakan maupun gangguan pasokan global” .

Penguatan Kelembagaan Peternak

Permindo terus mendorong peternak untuk bergabung dalam kelompok atau koperasi. Dengan berkelompok, peternak memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam membeli pakan, baik dari pabrik maupun distributor.

Pembelian kolektif (bulk buying) memungkinkan peternak mendapatkan harga yang lebih kompetitif, serta akses terhadap informasi harga dan stok bahan baku secara lebih cepat dan akurat.


Harapan pada Kebijakan Pemerintah

Meskipun harga pakan mulai menunjukkan tren perbaikan, masih ada sejumlah harapan dari peternak kepada pemerintah.

Konsistensi Kebijakan

Peternak berharap kebijakan pengalihan impor SBM ke PT Berdikari dapat berjalan lancar setelah masa transisi berakhir pada 31 Maret 2026. PT Berdikari diharapkan mampu:

  • Mendapatkan SBM berkualitas dari produsen langsung (bukan distributor tingkat lanjut) sehingga harga lebih kompetitif
  • Menyiapkan infrastruktur logistik dan pergudangan yang memadai
  • Menjaga ketersediaan pasokan secara rutin tanpa gangguan
  • Menjual SBM dengan harga yang terjangkau bagi peternak skala kecil dan menengah 

Stabilitas Harga Jual Ternak

Penurunan harga pakan akan lebih bermakna jika diimbangi dengan stabilitas harga jual ternak di tingkat peternak. Pemerintah diharapkan terus memantau dan mengintervensi jika terjadi fluktuasi harga yang merugikan peternak.

Berdasarkan data PIHPS per 25 Maret 2026, harga daging ayam ras di tingkat konsumen masih di atas Rp 40.000 per kilogram . Dengan asumsi margin distribusi yang wajar, harga di tingkat peternak seharusnya berada di kisaran Rp 18.000 – Rp 20.000 per kilogram—masih memberikan ruang keuntungan tipis setelah memperhitungkan biaya pakan yang mulai turun.


Penutup

Memasuki Maret 2026, peternak ayam ras mulai melihat secercah harapan. Harga pakan yang mulai terkoreksi, program SPHP jagung yang ditingkatkan, serta masa transisi kebijakan impor SBM yang memberikan ruang adaptasi, menjadi kabar baik bagi peternak rakyat.

Namun, perjalanan masih panjang. Konsistensi kebijakan, ketersediaan bahan baku alternatif, serta penguatan kelembagaan peternak menjadi kunci agar momentum perbaikan ini dapat berkelanjutan.

Permindo akan terus mendampingi peternak rakyat dalam menghadapi dinamika pasar, memperjuangkan kebijakan yang berpihak, serta mendorong kemandirian pakan berbasis sumber daya lokal.


Call to Action

Apakah Anda peternak ayam ras yang sedang merasakan dampak penurunan harga pakan di daerah Anda? Bagikan pengalaman dan data Anda di kolom komentar. Mari kita kumpulkan suara peternak rakyat untuk memastikan bahwa momentum perbaikan ini benar-benar dirasakan oleh semua.

Bergabunglah dengan Permindo untuk mendapatkan akses informasi harga terkini, pelatihan pakan alternatif, dan pendampingan teknis. Bersama Permindo, kita kuatkan peternak rakyat Indonesia!

Berita

Harga Ayam Anjlok, Pengawasan Kebijakan Rp19.500/Kg Harus Diperketat untuk Melindungi Peternak Rakyat

Published

on

By

Spread the love

Industri perunggasan nasional kembali menghadapi persoalan klasik yang terus berulang, yaitu anjloknya harga ayam hidup (livebird) di tingkat peternak. Meskipun pemerintah melalui Kementerian Pertanian bersama para pelaku usaha telah menyepakati harga minimal ayam hidup sebesar Rp19.500 per kilogram untuk bobot 1,8 kg ke atas, kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak peternak yang menjual hasil panennya di bawah harga tersebut.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas pengawasan dan implementasi kebijakan yang telah disepakati bersama. Tanpa pengawasan yang ketat dan tindakan tegas terhadap pelanggaran, kebijakan harga hanya akan menjadi angka di atas kertas yang tidak memberikan perlindungan nyata bagi peternak rakyat.

Harga Rp19.500 Belum Menjamin Keuntungan Peternak

Kesepakatan harga minimal Rp19.500/kg sebenarnya merupakan langkah awal yang positif untuk menghentikan kejatuhan harga ayam hidup yang sebelumnya sempat berada di kisaran Rp18.000/kg bahkan di bawahnya. Namun, angka tersebut masih jauh dari Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah yang berada di level Rp25.000/kg.

Di sisi lain, biaya produksi peternak terus mengalami tekanan akibat tingginya harga pakan, DOC, obat-obatan, serta biaya operasional lainnya. Dalam kondisi tersebut, harga Rp19.500/kg sebenarnya hanya menjadi batas minimal agar kerugian peternak tidak semakin dalam. Ketika harga di lapangan masih berada di bawah angka tersebut, maka peternak rakyat menjadi pihak yang paling terdampak.

Lemahnya Pengawasan Menjadi Persoalan Utama

Salah satu akar masalah yang menyebabkan harga ayam terus jatuh adalah lemahnya pengawasan terhadap implementasi kebijakan harga. Pemerintah telah meminta seluruh pelaku usaha untuk mematuhi kesepakatan harga minimal, namun pengawasan di tingkat lapangan masih belum berjalan optimal.

Tidak sedikit laporan dari berbagai daerah yang menunjukkan adanya transaksi ayam hidup di bawah harga kesepakatan. Kondisi ini menciptakan persaingan yang tidak sehat dan menekan posisi tawar peternak rakyat yang umumnya tidak memiliki akses pasar yang kuat.

Apabila pelanggaran terhadap harga kesepakatan terus dibiarkan, maka kepercayaan peternak terhadap kebijakan pemerintah akan semakin menurun. Akibatnya, stabilisasi industri perunggasan yang menjadi tujuan utama kebijakan tersebut sulit untuk tercapai.

Peternak Rakyat Tidak Boleh Menjadi Korban

Peternak rakyat merupakan tulang punggung penyedia protein hewani nasional. Mereka berperan penting dalam menjaga ketersediaan daging ayam bagi masyarakat Indonesia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, peternak rakyat justru menjadi kelompok yang paling rentan ketika terjadi gejolak harga.

Saat harga ayam turun drastis, peternak menanggung kerugian besar. Sebaliknya, ketika harga ayam di tingkat konsumen tinggi, keuntungan yang diterima peternak sering kali tidak sebanding karena adanya ketidakseimbangan rantai distribusi.

Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa setiap kebijakan yang dibuat benar-benar berjalan di lapangan dan memberikan manfaat nyata bagi peternak. Pengawasan harus dilakukan secara berkala, transparan, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk asosiasi peternak.

PERMINDO Mendesak Pengawasan dan Penegakan Aturan

PERMINDO memandang bahwa stabilisasi harga tidak cukup hanya melalui kesepakatan bersama. Pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap implementasi harga minimal Rp19.500/kg serta memberikan sanksi tegas kepada pihak-pihak yang terbukti melanggar komitmen tersebut.

Selain itu, pemerintah juga perlu mengambil langkah strategis untuk menekan biaya produksi peternak, terutama melalui pengendalian harga pakan yang saat ini menjadi komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya ayam broiler. Upaya stabilisasi harga ayam harus berjalan beriringan dengan kebijakan penurunan biaya produksi agar peternak dapat memperoleh margin usaha yang layak.

Kesimpulan

Anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak menunjukkan bahwa kebijakan tanpa pengawasan yang kuat tidak akan memberikan dampak maksimal. Harga minimal Rp19.500/kg harus menjadi komitmen bersama yang benar-benar dijalankan di lapangan, bukan sekadar kesepakatan administratif.

Peternak rakyat membutuhkan keberpihakan nyata melalui pengawasan yang ketat, penegakan aturan yang konsisten, dan kebijakan yang mampu menekan biaya produksi. Dengan demikian, keberlangsungan usaha peternak dapat terjaga dan ketahanan pangan nasional tetap kuat.

PERMINDO akan terus mengawal kebijakan perunggasan nasional demi terciptanya iklim usaha yang adil, sehat, dan berkelanjutan bagi seluruh peternak rakyat Indonesia.

Continue Reading

Berita

PERMINDO Bertemu Direktur Pakan Kementan RI, Soroti Kenaikan Harga dan Penurunan Kualitas Pakan Broiler

Published

on

By

Spread the love

PERMINDO Sampaikan Keluhan Peternak Rakyat Terkait Harga dan Kualitas Pakan

Perhimpunan Masyarakat Indonesia Maju (PERMINDO) melakukan pertemuan dengan Direktorat Pakan Kementerian Pertanian Republik Indonesia guna menyampaikan berbagai persoalan yang tengah dihadapi peternak rakyat, khususnya terkait kenaikan harga pakan serta menurunnya performa beberapa produk pakan broiler di lapangan.

Dalam pertemuan tersebut, PERMINDO menyampaikan bahwa kondisi peternak rakyat saat ini semakin tertekan akibat tingginya biaya produksi yang didominasi oleh komponen pakan. Kenaikan harga pakan dinilai tidak sebanding dengan harga jual ayam hidup di tingkat peternak yang masih fluktuatif dan sering berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP).

Selain persoalan harga, PERMINDO juga melaporkan adanya keluhan dari para peternak mengenai beberapa produk pakan yang mengalami penurunan performa terhadap pertumbuhan ayam broiler. Beberapa peternak mengaku mengalami penurunan feed conversion ratio (FCR), pertumbuhan bobot badan yang tidak maksimal, hingga masa panen yang menjadi lebih lama dibanding biasanya.

PERMINDO menegaskan bahwa kualitas pakan merupakan faktor utama dalam keberhasilan budidaya ayam broiler. Oleh karena itu, pengawasan mutu dan stabilitas kualitas produk pakan harus menjadi perhatian serius seluruh pihak, terutama produsen pakan nasional.

Direktur Pakan Imbau Pabrik Tetap Jaga Kualitas Produk

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Direktorat Pakan Kementerian Pertanian RI menghimbau kepada seluruh perusahaan dan pabrik pakan agar tetap menjaga kualitas produk yang beredar di pasaran. Pemerintah juga meminta agar kenaikan harga pakan tidak dilakukan secara signifikan sehingga tidak semakin membebani peternak rakyat.

Direktorat Pakan menilai bahwa stabilitas industri perunggasan nasional hanya dapat tercapai apabila seluruh rantai usaha, mulai dari hulu hingga hilir, berjalan secara sehat dan berkeadilan. Peternak rakyat sebagai ujung tombak produksi nasional harus tetap mendapatkan perlindungan agar mampu bertahan di tengah tantangan industri saat ini.

Dalam kesempatan tersebut, PERMINDO juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap kualitas bahan baku pakan serta transparansi formulasi agar performa ayam broiler tetap optimal dan produktivitas peternak tidak terus menurun.

PERMINDO Dorong Keberpihakan terhadap Peternak Rakyat

PERMINDO berharap hasil pertemuan ini dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan kebijakan yang lebih berpihak kepada peternak rakyat. Stabilitas harga pakan dan kualitas produk yang konsisten menjadi kebutuhan mendesak agar peternak mampu menjaga keberlangsungan usaha mereka.

Di tengah kondisi industri perunggasan yang masih penuh tantangan, PERMINDO menegaskan akan terus menjadi wadah perjuangan peternak rakyat dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah maupun stakeholder terkait demi terciptanya ekosistem peternakan yang sehat, adil, dan berkelanjutan.

Continue Reading

Berita

Harga Ayam Hidup Anjlok, Peternak Rakyat Desak Pemerintah Turunkan Harga Pakan

Published

on

By

Spread the love

Industri perunggasan nasional kembali menghadapi tekanan serius. Harga ayam hidup di tingkat peternak rakyat saat ini berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp19.500 per kilogram. Angka tersebut masih berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) peternak yang mencapai Rp20.000 sampai Rp22.000 per kilogram.

Kondisi ini membuat banyak peternak rakyat kembali mengalami kerugian. Di sisi lain, harga pakan ternak masih tinggi dan menjadi beban utama biaya produksi para peternak mandiri.

Harga Pakan Jadi Beban Utama Peternak Rakyat

Dalam struktur biaya produksi ayam broiler, pakan menjadi komponen terbesar yang bisa mencapai lebih dari 70 persen total biaya operasional. Ketika harga jagung dan bahan baku pakan naik, maka biaya produksi peternak otomatis ikut meningkat.

Peternak rakyat menilai kebijakan harga ayam hidup minimum Rp19.500 per kilogram masih belum cukup membantu apabila harga pakan tidak ikut dikendalikan. Banyak peternak berharap pemerintah tidak hanya fokus menjaga harga jual ayam, tetapi juga menurunkan biaya produksi agar usaha peternakan rakyat tetap berjalan.

Peternak Rakyat Minta Pemerintah Hadir

Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) meminta pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Direktorat Jenderal Peternakan untuk lebih serius memperhatikan kondisi peternak rakyat.

Peternak berharap adanya langkah konkret seperti:

  • Pengendalian harga pakan ternak
  • Pengawasan distribusi DOC
  • Penyerapan hasil ternak peternak rakyat
  • Stabilitas harga ayam hidup di tingkat kandang
  • Pelibatan peternak rakyat dalam program strategis nasional

Menurut peternak, tanpa kebijakan yang berpihak kepada sektor rakyat, banyak peternak kecil berpotensi gulung tikar akibat kerugian yang terus berulang.

Program MBG Dinilai Bisa Menjadi Solusi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang disiapkan pemerintah dinilai dapat menjadi peluang besar bagi industri perunggasan nasional. Program tersebut membutuhkan pasokan protein hewani dalam jumlah besar, termasuk ayam dan telur.

PERMINDO menilai program MBG seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat peternak rakyat, bukan hanya menguntungkan perusahaan integrator besar. Jika penyerapan produk unggas dilakukan langsung dari peternak rakyat, maka program ini dapat membantu menjaga stabilitas harga ayam hidup di pasar.

Hilirisasi Unggas Harus Libatkan Peternak Mandiri

Selain program MBG, pemerintah juga mulai mendorong hilirisasi industri unggas nasional. Namun peternak rakyat berharap program hilirisasi tidak hanya terpusat pada industri besar.

Peternak mandiri harus dilibatkan dalam rantai produksi dan distribusi agar pertumbuhan industri perunggasan nasional berjalan lebih adil dan merata. Dengan begitu, ketahanan pangan nasional dapat dibangun bersama seluruh pelaku usaha, termasuk peternak rakyat.

Kesimpulan

Turunnya harga ayam hidup di bawah HPP kembali menjadi alarm bagi dunia peternakan nasional. Tanpa pengendalian harga pakan dan perlindungan terhadap peternak rakyat, krisis di sektor perunggasan dapat terus berulang.

Peternak rakyat tidak meminta keuntungan besar. Mereka hanya ingin harga jual yang layak dan biaya produksi yang tetap terkendali agar usaha peternakan dapat terus bertahan di tengah tantangan industri yang semakin berat.

Continue Reading

Trending