Puasa Ramadan telah berjalan hampir tiga pekan. Detik-detik menuju Idulfitri semakin dekat. Namun di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, warga harus menjalani bulan suci ini dengan tantangan yang tidak ringan: harga-harga kebutuhan pokok yang tidak juga turun.
Di satu sisi pemerintah berulang kali menyampaikan bahwa stok pangan nasional berada dalam kondisi aman. Namun di sisi lain, dapur rumah tangga masyarakat tetap menghadapi kenyataan berbeda. Harga bahan pangan yang relatif tinggi membuat pengeluaran rumah tangga meningkat, sementara kemampuan membeli masyarakat tidak mengalami peningkatan signifikan.
Akibatnya, banyak keluarga harus menyesuaikan kembali pengeluaran dapur mereka. Uang yang sebelumnya cukup untuk membeli berbagai kebutuhan, kini terasa seperti berkurang nilainya karena jumlah barang yang bisa dibeli menjadi semakin sedikit.
Situasi ini menjadikan Ramadan sebagai bulan yang menghadirkan dua perasaan sekaligus: kegembiraan dan kegelisahan.
Ramadan: Antara Spiritualitas dan Tekanan Harga Pangan
Bagi umat Muslim, Ramadan merupakan bulan yang sangat istimewa. Ia dikenal sebagai bulan penuh rahmat, ampunan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Ramadan juga menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial serta mempererat hubungan keluarga.
Namun di sisi lain, Ramadan juga sering kali identik dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, terutama bahan pangan.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Setiap tahun menjelang Ramadan, harga berbagai komoditas pangan mulai mengalami peningkatan. Hal ini terjadi karena adanya perubahan pola konsumsi masyarakat selama bulan puasa.
Ramadan sering disebut sebagai bulan “pesta makan”. Banyak tradisi di berbagai daerah di Indonesia yang merayakan datangnya Ramadan dengan berbagai kegiatan makan bersama. Tradisi syukuran menyambut bulan suci sering kali diwujudkan dalam bentuk hidangan makanan yang melimpah.
Selain itu, menu berbuka puasa juga biasanya lebih beragam dibandingkan hari-hari biasa. Makanan yang jarang dikonsumsi pada hari biasa, terkadang karena harganya relatif mahal, justru menjadi menu yang hadir di meja makan saat berbuka puasa.
Tidak hanya itu, jumlah hidangan yang disajikan pun sering kali lebih banyak dari kebutuhan normal. Fenomena ini membuat permintaan terhadap bahan pangan meningkat secara signifikan selama Ramadan.
Peningkatan permintaan inilah yang kemudian menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga pangan.
Catatan Inflasi Ramadan dari Tahun ke Tahun
Secara historis, inflasi pada bulan Ramadan memang cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan lainnya. Data inflasi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pola tersebut secara konsisten.
Inflasi Ramadan yang terjadi pada bulan Juni tercatat sebagai berikut:
2016: 0,66%
2017: 0,69%
2018: 0,59%
2019: 0,68%
Sementara itu, inflasi Ramadan yang jatuh pada bulan April menunjukkan angka:
2020: 0,08%
2021: 0,13%
2022: 0,95%
2023: 0,33%
Sedangkan inflasi Ramadan yang terjadi pada bulan Maret tercatat:
2024: 0,52%
2025: 1,65%
Jika melihat catatan satu dekade sebelumnya, dari 2005 hingga 2015, inflasi Ramadan bahkan selalu berada pada level yang relatif tinggi dan tidak pernah berada di bawah 0,7 persen.
Tahun 2005 bahkan mencatat rekor inflasi Ramadan tertinggi dengan angka mencapai 8,7 persen.
Hanya pada beberapa tahun tertentu seperti 2020, 2021, dan 2023 inflasi Ramadan tercatat relatif rendah. Namun secara umum, pengendalian inflasi pada periode Ramadan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Harga Pangan sebagai Pemicu Utama Inflasi
Inflasi selama Ramadan sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga kelompok pangan, yang sering disebut sebagai volatile food.
Ketika permintaan meningkat sementara pasokan tidak mampu mengimbanginya, harga akan cenderung naik. Dalam kondisi tertentu, tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi tersebut untuk mengambil keuntungan lebih besar dengan menaikkan harga secara signifikan.
Data historis menunjukkan bahwa beberapa komoditas pangan hampir selalu menjadi penyumbang inflasi saat Ramadan. Komoditas tersebut antara lain:
daging ayam ras
telur ayam ras
beras
minyak goreng
cabai rawit
bawang putih
gula konsumsi
ikan segar
Komoditas-komoditas tersebut merupakan bahan pangan yang memiliki peran penting dalam konsumsi masyarakat sehari-hari, sehingga kenaikan harganya langsung berdampak pada pengeluaran rumah tangga.
Situasi Harga Pangan Ramadan 2026
Memasuki Ramadan 2026, tekanan harga pangan kembali terlihat.
Pada sepuluh hari pertama bulan puasa, inflasi tercatat mencapai 0,68 persen. Dari kelompok pangan, komoditas yang menjadi penyumbang terbesar inflasi antara lain:
daging ayam ras
cabai rawit
cabai merah
ikan segar
tomat
Diperkirakan tekanan inflasi pada bulan Maret masih akan berlanjut.
Berdasarkan data dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per 6 Maret 2026, sejumlah komoditas pangan masih diperdagangkan di atas harga acuan maupun harga eceran tertinggi (HET).
Beberapa komoditas tersebut antara lain:
gula konsumsi
bawang merah
telur ayam ras
daging ayam ras
minyak goreng MinyaKita
cabai rawit
beras medium dan premium
Hal ini menunjukkan bahwa tekanan harga pangan masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius menjelang Idulfitri.
Langkah yang Bisa Dilakukan Pemerintah
Dalam jangka pendek, ruang gerak pemerintah untuk menurunkan harga pangan di sisa Ramadan memang tidak terlalu besar. Namun beberapa langkah tetap bisa dioptimalkan.
1. Memastikan Pangan Impor Segera Masuk Pasar
Untuk komoditas yang sebagian besar dipenuhi melalui impor, seperti bawang putih, pemerintah harus memastikan bahwa barang tersebut benar-benar segera masuk ke pasar.
Pemerintah perlu memastikan komoditas tersebut tidak hanya tersimpan di gudang importir. Untuk melakukan pengawasan yang efektif, otoritas pengawas perlu memiliki data yang jelas mengenai lokasi gudang dan jumlah stok yang tersimpan.
Tanpa data yang memadai, pengawasan akan sulit dilakukan secara efektif.
2. Memastikan Distribusi Pangan Lancar
Untuk komoditas yang diproduksi di dalam negeri, hal terpenting adalah memastikan distribusi dari daerah produsen ke daerah konsumen berjalan lancar.
Sistem logistik yang baik serta transportasi yang andal akan sangat membantu memastikan ketersediaan pasokan di pasar.
Jika terjadi kendala distribusi, pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, serta BUMN pangan perlu bekerja sama untuk segera mencari solusi.
Peran BUMN Pangan dalam Stabilitas Harga
Selain langkah distribusi, berbagai program stabilisasi harga pangan juga perlu terus dijalankan.
Program bazar pangan murah dan gerakan pangan murah dapat membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan dengan harga lebih terjangkau.
Di sisi lain, BUMN pangan juga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga.
Perum BULOG misalnya, perlu terus mengoptimalkan program operasi pasar beras melalui skema Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Saat ini penyaluran beras SPHP masih berkisar antara 4.000 hingga 5.000 ton per hari. Angka tersebut perlu dievaluasi agar distribusi beras benar-benar mampu menekan harga di pasar.
Selain itu, distribusi minyak goreng subsidi MinyaKita juga perlu diperbaiki. Fakta bahwa harga MinyaKita masih berada di atas HET sebesar Rp15.700 per liter menunjukkan bahwa distribusi belum sepenuhnya berjalan efektif.
BUMN pangan lain seperti PT Berdikari juga perlu memastikan pasokan daging sapi dan daging kerbau tetap tersedia dengan harga yang sesuai dengan ketentuan pemerintah.
Saat ini harga daging sapi masih berada di kisaran harga acuan, yakni Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram. Namun harga daging kerbau tercatat jauh lebih tinggi dari harga acuan.
Kondisi ini tentu tidak ideal. Ketika pemerintah mewajibkan pelaku usaha swasta untuk mematuhi harga acuan, maka BUMN juga seharusnya memberikan contoh yang sama.
Bukankah nilai keadilan juga menjadi salah satu pesan utama yang diajarkan dalam bulan Ramadan?