Connect with us

Berita

Ramadan dan Gejolak Harga Pangan yang Tak Kunjung Usai

Avatar photo

Published

on

Spread the love
Menteri Amran Sulaiman

Puasa Ramadan telah berjalan hampir tiga pekan. Detik-detik menuju Idulfitri semakin dekat. Namun di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, warga harus menjalani bulan suci ini dengan tantangan yang tidak ringan: harga-harga kebutuhan pokok yang tidak juga turun.

Di satu sisi pemerintah berulang kali menyampaikan bahwa stok pangan nasional berada dalam kondisi aman. Namun di sisi lain, dapur rumah tangga masyarakat tetap menghadapi kenyataan berbeda. Harga bahan pangan yang relatif tinggi membuat pengeluaran rumah tangga meningkat, sementara kemampuan membeli masyarakat tidak mengalami peningkatan signifikan.

Akibatnya, banyak keluarga harus menyesuaikan kembali pengeluaran dapur mereka. Uang yang sebelumnya cukup untuk membeli berbagai kebutuhan, kini terasa seperti berkurang nilainya karena jumlah barang yang bisa dibeli menjadi semakin sedikit.

Situasi ini menjadikan Ramadan sebagai bulan yang menghadirkan dua perasaan sekaligus: kegembiraan dan kegelisahan.


Ramadan: Antara Spiritualitas dan Tekanan Harga Pangan

Bagi umat Muslim, Ramadan merupakan bulan yang sangat istimewa. Ia dikenal sebagai bulan penuh rahmat, ampunan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Ramadan juga menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial serta mempererat hubungan keluarga.

Namun di sisi lain, Ramadan juga sering kali identik dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, terutama bahan pangan.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Setiap tahun menjelang Ramadan, harga berbagai komoditas pangan mulai mengalami peningkatan. Hal ini terjadi karena adanya perubahan pola konsumsi masyarakat selama bulan puasa.

Ramadan sering disebut sebagai bulan “pesta makan”. Banyak tradisi di berbagai daerah di Indonesia yang merayakan datangnya Ramadan dengan berbagai kegiatan makan bersama. Tradisi syukuran menyambut bulan suci sering kali diwujudkan dalam bentuk hidangan makanan yang melimpah.

Selain itu, menu berbuka puasa juga biasanya lebih beragam dibandingkan hari-hari biasa. Makanan yang jarang dikonsumsi pada hari biasa, terkadang karena harganya relatif mahal, justru menjadi menu yang hadir di meja makan saat berbuka puasa.

Tidak hanya itu, jumlah hidangan yang disajikan pun sering kali lebih banyak dari kebutuhan normal. Fenomena ini membuat permintaan terhadap bahan pangan meningkat secara signifikan selama Ramadan.

Peningkatan permintaan inilah yang kemudian menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga pangan.


Catatan Inflasi Ramadan dari Tahun ke Tahun

Secara historis, inflasi pada bulan Ramadan memang cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan lainnya. Data inflasi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pola tersebut secara konsisten.

Inflasi Ramadan yang terjadi pada bulan Juni tercatat sebagai berikut:

  • 2016: 0,66%
  • 2017: 0,69%
  • 2018: 0,59%
  • 2019: 0,68%

Sementara itu, inflasi Ramadan yang jatuh pada bulan April menunjukkan angka:

  • 2020: 0,08%
  • 2021: 0,13%
  • 2022: 0,95%
  • 2023: 0,33%

Sedangkan inflasi Ramadan yang terjadi pada bulan Maret tercatat:

  • 2024: 0,52%
  • 2025: 1,65%

Jika melihat catatan satu dekade sebelumnya, dari 2005 hingga 2015, inflasi Ramadan bahkan selalu berada pada level yang relatif tinggi dan tidak pernah berada di bawah 0,7 persen.

Tahun 2005 bahkan mencatat rekor inflasi Ramadan tertinggi dengan angka mencapai 8,7 persen.

Hanya pada beberapa tahun tertentu seperti 2020, 2021, dan 2023 inflasi Ramadan tercatat relatif rendah. Namun secara umum, pengendalian inflasi pada periode Ramadan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.


Harga Pangan sebagai Pemicu Utama Inflasi

Inflasi selama Ramadan sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga kelompok pangan, yang sering disebut sebagai volatile food.

Ketika permintaan meningkat sementara pasokan tidak mampu mengimbanginya, harga akan cenderung naik. Dalam kondisi tertentu, tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi tersebut untuk mengambil keuntungan lebih besar dengan menaikkan harga secara signifikan.

Data historis menunjukkan bahwa beberapa komoditas pangan hampir selalu menjadi penyumbang inflasi saat Ramadan. Komoditas tersebut antara lain:

  • daging ayam ras
  • telur ayam ras
  • beras
  • minyak goreng
  • cabai rawit
  • bawang putih
  • gula konsumsi
  • ikan segar

Komoditas-komoditas tersebut merupakan bahan pangan yang memiliki peran penting dalam konsumsi masyarakat sehari-hari, sehingga kenaikan harganya langsung berdampak pada pengeluaran rumah tangga.


Situasi Harga Pangan Ramadan 2026

Memasuki Ramadan 2026, tekanan harga pangan kembali terlihat.

Pada sepuluh hari pertama bulan puasa, inflasi tercatat mencapai 0,68 persen. Dari kelompok pangan, komoditas yang menjadi penyumbang terbesar inflasi antara lain:

  • daging ayam ras
  • cabai rawit
  • cabai merah
  • ikan segar
  • tomat

Diperkirakan tekanan inflasi pada bulan Maret masih akan berlanjut.

Berdasarkan data dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per 6 Maret 2026, sejumlah komoditas pangan masih diperdagangkan di atas harga acuan maupun harga eceran tertinggi (HET).

Beberapa komoditas tersebut antara lain:

  • gula konsumsi
  • bawang merah
  • telur ayam ras
  • daging ayam ras
  • minyak goreng MinyaKita
  • cabai rawit
  • beras medium dan premium

Hal ini menunjukkan bahwa tekanan harga pangan masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius menjelang Idulfitri.


Langkah yang Bisa Dilakukan Pemerintah

Dalam jangka pendek, ruang gerak pemerintah untuk menurunkan harga pangan di sisa Ramadan memang tidak terlalu besar. Namun beberapa langkah tetap bisa dioptimalkan.

1. Memastikan Pangan Impor Segera Masuk Pasar

Untuk komoditas yang sebagian besar dipenuhi melalui impor, seperti bawang putih, pemerintah harus memastikan bahwa barang tersebut benar-benar segera masuk ke pasar.

Pemerintah perlu memastikan komoditas tersebut tidak hanya tersimpan di gudang importir. Untuk melakukan pengawasan yang efektif, otoritas pengawas perlu memiliki data yang jelas mengenai lokasi gudang dan jumlah stok yang tersimpan.

Tanpa data yang memadai, pengawasan akan sulit dilakukan secara efektif.

2. Memastikan Distribusi Pangan Lancar

Untuk komoditas yang diproduksi di dalam negeri, hal terpenting adalah memastikan distribusi dari daerah produsen ke daerah konsumen berjalan lancar.

Sistem logistik yang baik serta transportasi yang andal akan sangat membantu memastikan ketersediaan pasokan di pasar.

Jika terjadi kendala distribusi, pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, serta BUMN pangan perlu bekerja sama untuk segera mencari solusi.


Peran BUMN Pangan dalam Stabilitas Harga

Selain langkah distribusi, berbagai program stabilisasi harga pangan juga perlu terus dijalankan.

Program bazar pangan murah dan gerakan pangan murah dapat membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan dengan harga lebih terjangkau.

Di sisi lain, BUMN pangan juga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga.

Perum BULOG misalnya, perlu terus mengoptimalkan program operasi pasar beras melalui skema Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Saat ini penyaluran beras SPHP masih berkisar antara 4.000 hingga 5.000 ton per hari. Angka tersebut perlu dievaluasi agar distribusi beras benar-benar mampu menekan harga di pasar.

Selain itu, distribusi minyak goreng subsidi MinyaKita juga perlu diperbaiki. Fakta bahwa harga MinyaKita masih berada di atas HET sebesar Rp15.700 per liter menunjukkan bahwa distribusi belum sepenuhnya berjalan efektif.

BUMN pangan lain seperti PT Berdikari juga perlu memastikan pasokan daging sapi dan daging kerbau tetap tersedia dengan harga yang sesuai dengan ketentuan pemerintah.

Saat ini harga daging sapi masih berada di kisaran harga acuan, yakni Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram. Namun harga daging kerbau tercatat jauh lebih tinggi dari harga acuan.

Kondisi ini tentu tidak ideal. Ketika pemerintah mewajibkan pelaku usaha swasta untuk mematuhi harga acuan, maka BUMN juga seharusnya memberikan contoh yang sama.

Bukankah nilai keadilan juga menjadi salah satu pesan utama yang diajarkan dalam bulan Ramadan?

Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Hari/Tanggal: Selasa, 27 Oktober 2026
Waktu: 14.00 WIB – selesai
Tempat: Kafe di depan Graha Gabah
Agenda: Pembahasan dan evaluasi pola kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat

I. Latar Belakang

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari membahas konsep, mekanisme, serta tantangan implementasi kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat. Pembahasan juga menjadi momentum untuk melakukan flashback terhadap pengalaman model kemitraan sebelumnya, termasuk referensi pembahasan MK-RI tahun 2016, sekaligus melihat relevansinya dengan kondisi Peternak Rakyat saat ini.

PERMINDO memandang kemitraan BUMN semestinya tidak hanya berorientasi pada keamanan bisnis perusahaan, tetapi juga menjalankan fungsi strategis dalam pemberdayaan, perlindungan, pembinaan, dan peningkatan kapasitas Peternak Rakyat.

II. Pokok-Pokok Pembahasan

1. Pola Kemitraan dan Pembiayaan

Dalam pola yang dibahas, Berdikari pada prinsipnya menyediakan DOC saja atau DOC + pakan. Beberapa komponen biaya menjadi tanggung jawab peternak, antara lain biaya OVK sekitar Rp500/ekor, biaya operasional sekitar Rp4.500/ekor, serta kandang dan sarana produksi. Hasil ayam hidup (LB) dibeli Berdikari berdasarkan harga kontrak. Model ini dapat menjadi pola kerja sama yang baik apabila terdapat keseimbangan antara risiko perusahaan, biaya produksi, kualitas sapronak, harga kontrak, dan margin yang diterima peternak.

2. Akses dan Seleksi Peternak Rakyat

Berdikari cenderung memilih calon mitra berdasarkan performance produksi, track record, kemampuan modal, dan kesiapan kandang, termasuk kandang closed house yang representatif. Pendekatan tersebut dapat dipahami dari sisi kehati-hatian bisnis, tetapi apabila diterapkan terlalu ketat, Peternak Rakyat konvensional dengan modal terbatas dan performance yang belum optimal akan sulit memperoleh akses. Kemitraan BUMN seharusnya tidak hanya memilih peternak yang sudah kuat, tetapi juga membina peternak agar menjadi lebih kuat dan naik kelas.

3. Prinsip Kehati-hatian dan Keterbatasan Pendampingan

Berdikari berkepentingan menjaga performance produksi dan menghindari risiko kerugian sebagai bagian dari tata kelola BUMN yang prudent. Di sisi lain, keterbatasan jumlah dan kapasitas tim pendamping dapat mendorong perusahaan lebih memilih mitra yang sudah memiliki modal, kandang memadai, dan track record baik. PERMINDO memandang prudential governance harus berjalan bersama fungsi pemberdayaan, melalui pola pendampingan bertahap agar peternak konvensional tidak langsung tersisih karena belum memenuhi standar awal.

4. Target Performance/IP

Dalam pembahasan terdapat penekanan bahwa peternak harus mencapai IP standar sekitar 350. Perhatian PERMINDO adalah bahwa Berdikari pada prinsipnya lebih menekankan hasil akhir IP dan tidak terlalu masuk pada bagaimana peternak mencapai angka tersebut. Peternak dapat melakukan berbagai upaya manajemen untuk mengejar IP, termasuk penambahan atau penggunaan pakan lebih banyak, selama target performance tercapai.

Kondisi tersebut perlu dievaluasi. IP seharusnya menjadi indikator hasil dari sistem produksi yang sehat, bukan sekadar angka yang harus dicapai dengan cara apa pun. Jika IP hanya menjadi target akhir, sementara kualitas DOC, kualitas pakan, kesehatan, OVK, mortalitas, FCR, kondisi kandang, manajemen pemeliharaan, dan dinamika kualitas sapronak tidak dievaluasi secara proporsional, akar persoalan performance produksi akan sulit diketahui. Target IP harus ditempatkan sebagai alat evaluasi, bukan sekadar target administratif.

5. Evaluasi Sapronak dan Beban Risiko Produksi

Kualitas DOC dan pakan dapat mengalami perubahan. Karena itu, tuntutan pencapaian IP tanpa evaluasi menyeluruh terhadap input produksi berpotensi menempatkan beban pencapaian performance terlalu besar pada peternak. Kemitraan yang sehat perlu melakukan evaluasi bersama terhadap kualitas DOC, kualitas dan konsumsi pakan, FCR, mortalitas, kesehatan dan OVK, manajemen kandang, kondisi lingkungan, biaya produksi, performance/IP, serta margin peternak.

Continue Reading

Berita

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

“Peternak rakyat sedang menghadapi tekanan ganda (cost-price squeeze): harga input, terutama pakan, meningkat sehingga HPP semakin tinggi, tetapi pada saat yang sama harga ayam hidup di tingkat peternak justru turun jauh di bawah biaya produksi.”

Ada 3 tindakan konkret yang perlu didorong ke pemerintah:

1. Aktifkan Penyerapan Darurat Ayam Hidup

Pemerintah/Bapanas segera mengumpulkan RPA/RPHU, BUMN pangan, integrator, koperasi, dan offtaker.

Tetapkan volume penyerapan harian/mingguan dari sentra yang harganya jatuh.

Penyerapan diarahkan ke karkas/frozen/captive market, bukan sekadar memindahkan ayam hidup dari satu broker ke broker lain.

Belum diusulkan atau belum ada penugasan dari pemerintah untuk peternak rakyat secara luas; yang sudah jalan hanya sebatas anggota kemitraan Berdikari saja.

2. Kurangi Supply DOC–FS

Lakukan pengendalian chick-in dan produksi DOC secara proporsional, termasuk perusahaan integrator dan kemitraan, berdasarkan data surplus-demand. Pengawasan lemah atau bahkan belum dilaksanakan.

3. Stabilisasi Harga Peternak

Terapkan mekanisme harga minimum sementara berbasis HPP; ketika LB jauh di bawah HPP, selisih tekanan ditangani melalui penyerapan dan pengurangan supply, bukan dibebankan seluruhnya kepada peternak.

Sudah dilakukan, tetapi belum berdampak pada realisasi.

Continue Reading

Berita

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

BOGOR — Peternak broiler rakyat kembali menghadapi tekanan biaya produksi. Memasuki November–Desember 2026, harga bahan baku pakan berpotensi naik ke Rp9.000–Rp10.000/kg. Harga jagung dan DOC juga masih menjadi beban peternak mandiri.

Kondisi ini dikhawatirkan menekan harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak. Biaya produksi naik, tetapi harga jual ayam tetap fluktuatif. Peternak pun menanggung risiko terbesar. Dalam berita peternakan nasional pekan ini, isu itu menjadi sorotan utama pelaku usaha unggas.

Biaya Produksi Naik, Peternak Rakyat Paling Rentan

PERMINDO menilai pemerintah perlu mengantisipasi kondisi ini sejak dini. Tekanan biaya produksi tidak boleh berubah menjadi kerugian berkepanjangan bagi peternak rakyat.

“Kalau pakan naik, DOC mahal dan terbatas, jangan sampai saat ayam panen justru harga livebird yang ditekan. Peternak tidak meminta harga tinggi, tetapi harga yang wajar dan mampu menutup biaya produksi,” ujar Sekretaris Jenderal PERMINDO, Heri Irawan.

Menurut Heri, struktur biaya produksi broiler sangat rentan terhadap gejolak pasar input. Pakan menyumbang porsi terbesar dalam total biaya. Kenaikan harga pakan langsung menggerus margin peternak. Terutama mereka yang mengelola kandang skala kecil dan menengah.

Selain pakan, harga DOC atau anak ayam umur sehari yang mahal dan terbatas turut memperbesar risiko. Peternak kerap bersaing memperoleh DOC berkualitas dengan harga tinggi pada periode permintaan puncak.

HAP Rp25.000/kg Harus Jadi Perlindungan Nyata

PERMINDO meminta pemerintah memastikan Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam ras pedaging di tingkat produsen sebesar Rp25.000/kg benar-benar berfungsi. HAP jangan hanya menjadi angka acuan tanpa implikasi di lapangan.

Menurut organisasi yang menaungi peternak broiler rakyat ini, HAP semestinya menjadi bagian dari mekanisme perlindungan harga. Tujuannya agar peternak tidak menjadi pihak terakhir yang menanggung seluruh beban kenaikan biaya.

“Jangan sampai pola yang sama berulang: input naik, HPP naik, tetapi ketika ayam panen harga LB turun. Kalau seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada peternak, keberlanjutan peternak rakyat akan semakin terancam,” tegas Heri Irawan.

Ia menegaskan, peternak tidak menuntut harga jual yang tinggi. Yang diminta adalah harga yang wajar, transparan, dan berkeadilan. Harga wajar berarti mampu menutup biaya produksi sekaligus memberi ruang usaha yang layak.

Lima Usulan PERMINDO kepada Pemerintah

Dalam pernyataan resminya, PERMINDO menyampaikan sejumlah usulan konkret agar gejolak harga tidak terus merugikan peternak. Usulan ini menyasar hulu hingga hilir industri broiler.

  • Menjaga harga livebird agar tidak jatuh jauh di bawah HAP Bapanas.
  • Mengevaluasi HPP broiler secara berkala berdasarkan harga aktual DOC, pakan, jagung, SBM, OVK, energi, dan biaya produksi lainnya.
  • Menjamin ketersediaan bahan baku pakan seperti SBM dan jagung pakan dengan harga yang wajar.
  • Memperkuat pengendalian keseimbangan supply-demand agar oversupply tidak terus dibebankan kepada peternak.
  • Membuka dialog rutin antara pemerintah, integrator, industri pakan, dan peternak mandiri sebelum gejolak harga membesar.

Evaluasi HPP Berbasis Data Aktual

Poin evaluasi HPP dinilai krusial. Perhitungan HPP perlu mencerminkan harga nyata di pasar, bukan asumsi lama yang sudah tidak relevan. Jika HPP tidak diperbarui, selisih biaya akan tetap ditanggung peternak.

Ketersediaan Jagung dan SBM

Ketersediaan jagung pakan dan SBM atau soybean meal menjadi penentu utama biaya pakan. Kelangkaan kedua bahan ini cepat memicu kenaikan harga di tingkat pabrik. Dampaknya langsung terasa pada harga pakan jadi yang dibeli peternak.

Dialog Rutin Sebelum Krisis Harga

PERMINDO menilai komunikasi antar pemangku kepentingan selama ini berjalan reaktif. Dialog baru digelar setelah harga terlanjur jatuh. Padahal, deteksi dini terhadap potensi oversupply bisa mencegah kerugian yang lebih besar.

Stabilisasi Butuh Keseimbangan Harga Input dan Output

Menurut PERMINDO, stabilisasi industri broiler tidak cukup hanya dengan mengendalikan harga input. Keseimbangan antara harga input dan harga output harus dijaga secara bersamaan.

Jika pemerintah hanya menekan harga pakan tanpa menjaga harga jual ayam, peternak tetap berada di posisi lemah. Sebaliknya, mendorong harga jual tanpa menjamin pasokan dan permintaan yang seimbang juga tidak akan bertahan lama.

Karena itu, PERMINDO menilai perlindungan harga harus berjalan seiring dengan tata kelola pasokan. Peternak rakyat butuh kepastian biaya, kepastian harga jual, dan kepastian pasar. Tanpa itu, keberlanjutan usaha broiler rakyat sulit dijaga.

Itulah sorotan berita peternakan pekan ini. PERMINDO berharap pemerintah bergerak cepat. Tujuannya agar harga livebird tetap wajar dan peternak rakyat tidak terus menanggung beban biaya produksi yang naik.

Continue Reading

Trending