Berita
Ramadan dan Gejolak Harga Pangan yang Tak Kunjung Usai
Published
4 weeks agoon
By
Fariz
Puasa Ramadan telah berjalan hampir tiga pekan. Detik-detik menuju Idulfitri semakin dekat. Namun di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, warga harus menjalani bulan suci ini dengan tantangan yang tidak ringan: harga-harga kebutuhan pokok yang tidak juga turun.
Di satu sisi pemerintah berulang kali menyampaikan bahwa stok pangan nasional berada dalam kondisi aman. Namun di sisi lain, dapur rumah tangga masyarakat tetap menghadapi kenyataan berbeda. Harga bahan pangan yang relatif tinggi membuat pengeluaran rumah tangga meningkat, sementara kemampuan membeli masyarakat tidak mengalami peningkatan signifikan.
Akibatnya, banyak keluarga harus menyesuaikan kembali pengeluaran dapur mereka. Uang yang sebelumnya cukup untuk membeli berbagai kebutuhan, kini terasa seperti berkurang nilainya karena jumlah barang yang bisa dibeli menjadi semakin sedikit.
Situasi ini menjadikan Ramadan sebagai bulan yang menghadirkan dua perasaan sekaligus: kegembiraan dan kegelisahan.
Ramadan: Antara Spiritualitas dan Tekanan Harga Pangan
Bagi umat Muslim, Ramadan merupakan bulan yang sangat istimewa. Ia dikenal sebagai bulan penuh rahmat, ampunan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Ramadan juga menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial serta mempererat hubungan keluarga.
Namun di sisi lain, Ramadan juga sering kali identik dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, terutama bahan pangan.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Setiap tahun menjelang Ramadan, harga berbagai komoditas pangan mulai mengalami peningkatan. Hal ini terjadi karena adanya perubahan pola konsumsi masyarakat selama bulan puasa.
Ramadan sering disebut sebagai bulan “pesta makan”. Banyak tradisi di berbagai daerah di Indonesia yang merayakan datangnya Ramadan dengan berbagai kegiatan makan bersama. Tradisi syukuran menyambut bulan suci sering kali diwujudkan dalam bentuk hidangan makanan yang melimpah.
Selain itu, menu berbuka puasa juga biasanya lebih beragam dibandingkan hari-hari biasa. Makanan yang jarang dikonsumsi pada hari biasa, terkadang karena harganya relatif mahal, justru menjadi menu yang hadir di meja makan saat berbuka puasa.
Tidak hanya itu, jumlah hidangan yang disajikan pun sering kali lebih banyak dari kebutuhan normal. Fenomena ini membuat permintaan terhadap bahan pangan meningkat secara signifikan selama Ramadan.
Peningkatan permintaan inilah yang kemudian menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga pangan.
Catatan Inflasi Ramadan dari Tahun ke Tahun
Secara historis, inflasi pada bulan Ramadan memang cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan lainnya. Data inflasi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pola tersebut secara konsisten.
Inflasi Ramadan yang terjadi pada bulan Juni tercatat sebagai berikut:
- 2016: 0,66%
- 2017: 0,69%
- 2018: 0,59%
- 2019: 0,68%
Sementara itu, inflasi Ramadan yang jatuh pada bulan April menunjukkan angka:
- 2020: 0,08%
- 2021: 0,13%
- 2022: 0,95%
- 2023: 0,33%
Sedangkan inflasi Ramadan yang terjadi pada bulan Maret tercatat:
- 2024: 0,52%
- 2025: 1,65%
Jika melihat catatan satu dekade sebelumnya, dari 2005 hingga 2015, inflasi Ramadan bahkan selalu berada pada level yang relatif tinggi dan tidak pernah berada di bawah 0,7 persen.
Tahun 2005 bahkan mencatat rekor inflasi Ramadan tertinggi dengan angka mencapai 8,7 persen.
Hanya pada beberapa tahun tertentu seperti 2020, 2021, dan 2023 inflasi Ramadan tercatat relatif rendah. Namun secara umum, pengendalian inflasi pada periode Ramadan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Harga Pangan sebagai Pemicu Utama Inflasi
Inflasi selama Ramadan sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga kelompok pangan, yang sering disebut sebagai volatile food.
Ketika permintaan meningkat sementara pasokan tidak mampu mengimbanginya, harga akan cenderung naik. Dalam kondisi tertentu, tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi tersebut untuk mengambil keuntungan lebih besar dengan menaikkan harga secara signifikan.
Data historis menunjukkan bahwa beberapa komoditas pangan hampir selalu menjadi penyumbang inflasi saat Ramadan. Komoditas tersebut antara lain:
- daging ayam ras
- telur ayam ras
- beras
- minyak goreng
- cabai rawit
- bawang putih
- gula konsumsi
- ikan segar
Komoditas-komoditas tersebut merupakan bahan pangan yang memiliki peran penting dalam konsumsi masyarakat sehari-hari, sehingga kenaikan harganya langsung berdampak pada pengeluaran rumah tangga.
Situasi Harga Pangan Ramadan 2026
Memasuki Ramadan 2026, tekanan harga pangan kembali terlihat.
Pada sepuluh hari pertama bulan puasa, inflasi tercatat mencapai 0,68 persen. Dari kelompok pangan, komoditas yang menjadi penyumbang terbesar inflasi antara lain:
- daging ayam ras
- cabai rawit
- cabai merah
- ikan segar
- tomat
Diperkirakan tekanan inflasi pada bulan Maret masih akan berlanjut.
Berdasarkan data dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per 6 Maret 2026, sejumlah komoditas pangan masih diperdagangkan di atas harga acuan maupun harga eceran tertinggi (HET).
Beberapa komoditas tersebut antara lain:
- gula konsumsi
- bawang merah
- telur ayam ras
- daging ayam ras
- minyak goreng MinyaKita
- cabai rawit
- beras medium dan premium
Hal ini menunjukkan bahwa tekanan harga pangan masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius menjelang Idulfitri.
Langkah yang Bisa Dilakukan Pemerintah
Dalam jangka pendek, ruang gerak pemerintah untuk menurunkan harga pangan di sisa Ramadan memang tidak terlalu besar. Namun beberapa langkah tetap bisa dioptimalkan.
1. Memastikan Pangan Impor Segera Masuk Pasar
Untuk komoditas yang sebagian besar dipenuhi melalui impor, seperti bawang putih, pemerintah harus memastikan bahwa barang tersebut benar-benar segera masuk ke pasar.
Pemerintah perlu memastikan komoditas tersebut tidak hanya tersimpan di gudang importir. Untuk melakukan pengawasan yang efektif, otoritas pengawas perlu memiliki data yang jelas mengenai lokasi gudang dan jumlah stok yang tersimpan.
Tanpa data yang memadai, pengawasan akan sulit dilakukan secara efektif.
2. Memastikan Distribusi Pangan Lancar
Untuk komoditas yang diproduksi di dalam negeri, hal terpenting adalah memastikan distribusi dari daerah produsen ke daerah konsumen berjalan lancar.
Sistem logistik yang baik serta transportasi yang andal akan sangat membantu memastikan ketersediaan pasokan di pasar.
Jika terjadi kendala distribusi, pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, serta BUMN pangan perlu bekerja sama untuk segera mencari solusi.
Peran BUMN Pangan dalam Stabilitas Harga
Selain langkah distribusi, berbagai program stabilisasi harga pangan juga perlu terus dijalankan.
Program bazar pangan murah dan gerakan pangan murah dapat membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan dengan harga lebih terjangkau.
Di sisi lain, BUMN pangan juga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga.
Perum BULOG misalnya, perlu terus mengoptimalkan program operasi pasar beras melalui skema Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Saat ini penyaluran beras SPHP masih berkisar antara 4.000 hingga 5.000 ton per hari. Angka tersebut perlu dievaluasi agar distribusi beras benar-benar mampu menekan harga di pasar.
Selain itu, distribusi minyak goreng subsidi MinyaKita juga perlu diperbaiki. Fakta bahwa harga MinyaKita masih berada di atas HET sebesar Rp15.700 per liter menunjukkan bahwa distribusi belum sepenuhnya berjalan efektif.
BUMN pangan lain seperti PT Berdikari juga perlu memastikan pasokan daging sapi dan daging kerbau tetap tersedia dengan harga yang sesuai dengan ketentuan pemerintah.
Saat ini harga daging sapi masih berada di kisaran harga acuan, yakni Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram. Namun harga daging kerbau tercatat jauh lebih tinggi dari harga acuan.
Kondisi ini tentu tidak ideal. Ketika pemerintah mewajibkan pelaku usaha swasta untuk mematuhi harga acuan, maka BUMN juga seharusnya memberikan contoh yang sama.
Bukankah nilai keadilan juga menjadi salah satu pesan utama yang diajarkan dalam bulan Ramadan?
You may like
-
Membaca Siklus Industri Broiler Indonesia: Dari DOC hingga Harga Ayam di Pasar
-
Fenomena Harga Ayam Jatuh: Realita Lapangan yang Tidak Banyak Diketahui Publik
-
Harga Ayam Hidup Anjlok ke Rp18.500, HPP Sudah Rp22.000: Peternak Rakyat Kembali Tertekan
-
Cara Membaca Siklus Broiler di Indonesia: Strategi Prediksi Harga Ayam 1–2 Bulan ke Depan
-
Harga Livebird Terus Turun, Peternak Rakyat Sampai Kapan Harus Bertahan?
-
Harga Ayam Terjun Bebas, Pakan Naik per April: Peternak Rakyat Menjerit
Berita
Harga Livebird Terus Turun, Peternak Rakyat Sampai Kapan Harus Bertahan?
Published
1 week agoon
March 31, 2026By
Fariz
Industri perunggasan nasional kembali menghadapi tekanan serius. Penurunan harga ayam hidup (livebird/LB) yang terjadi hari ini di berbagai daerah menjadi sinyal kuat bahwa keseimbangan sektor ini masih jauh dari kata stabil. Di tengah biaya produksi yang tetap tinggi, kondisi ini semakin menekan peternak rakyat yang menjadi tulang punggung produksi protein hewani nasional.
Fenomena turunnya harga livebird bukan sekadar fluktuasi biasa. Bagi peternak mandiri, kondisi ini adalah ancaman langsung terhadap keberlangsungan usaha. Ketika harga jual ayam berada di bawah biaya produksi, maka setiap panen bukan lagi membawa keuntungan, melainkan kerugian yang harus ditanggung demi menjaga siklus usaha tetap berjalan.
Tekanan Ganda: Harga Turun, Biaya Tetap Tinggi
Dalam beberapa waktu terakhir, harga livebird di tingkat peternak terus mengalami pelemahan. Di sejumlah wilayah, harga bahkan dilaporkan menyentuh titik yang tidak lagi menutupi biaya produksi. Sementara itu, komponen biaya seperti pakan, DOC (day old chick), dan operasional kandang tidak menunjukkan penurunan yang signifikan.
Kondisi ini menciptakan tekanan ganda. Di satu sisi, peternak harus tetap menjual ayamnya karena keterbatasan kapasitas kandang dan kebutuhan cash flow. Namun di sisi lain, harga jual yang rendah membuat mereka harus rela merugi.
Situasi ini memperlihatkan adanya ketidakseimbangan struktural dalam industri perunggasan. Ketika biaya produksi cenderung stabil atau naik, namun harga jual sangat fluktuatif dan tidak terkendali, maka pihak yang paling terdampak adalah peternak di level bawah.
Peternak Rakyat Selalu Jadi Pihak Paling Rentan
Siklus harga dalam industri unggas sejatinya bukan hal baru. Namun yang menjadi persoalan adalah pola dampaknya yang selalu berulang: peternak rakyat menjadi pihak yang paling rentan.
Ketika harga ayam tinggi, peternak sering kali diminta untuk menahan produksi atau menjaga harga agar tetap terjangkau bagi konsumen. Namun ketika harga jatuh, tidak ada mekanisme perlindungan yang cukup kuat untuk menjaga peternak dari kerugian.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem tata kelola industri unggas belum sepenuhnya berpihak pada keseimbangan. Peternak rakyat sering kali berada pada posisi yang tidak memiliki daya tawar kuat, baik terhadap pasar maupun terhadap rantai pasok yang lebih besar.
Jika kondisi ini terus berulang tanpa solusi konkret, maka bukan tidak mungkin jumlah peternak mandiri akan terus berkurang. Mereka yang tidak mampu bertahan akan keluar dari usaha, dan pada akhirnya struktur industri akan semakin didominasi oleh pelaku besar.
Sinkronisasi Hulu-Hilir Masih Jadi Tantangan
Dorongan untuk melakukan sinkronisasi kebijakan industri unggas sebenarnya telah disampaikan oleh berbagai pihak, termasuk Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU). Namun implementasi di lapangan masih belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Permasalahan utama terletak pada belum terintegrasinya kebijakan dari hulu hingga hilir. Produksi DOC yang tidak terkendali, fluktuasi harga pakan, hingga distribusi ayam di pasar yang tidak merata menjadi faktor utama yang memengaruhi harga livebird.
Tanpa pengendalian yang terkoordinasi, kelebihan pasokan di pasar akan terus terjadi, yang pada akhirnya menekan harga di tingkat peternak. Sementara itu, di sisi hilir, harga produk unggas di tingkat konsumen tidak selalu mencerminkan penurunan harga di tingkat peternak.
Kesenjangan ini menunjukkan adanya rantai distribusi yang belum efisien serta lemahnya pengawasan terhadap mekanisme pasar.
Suara Peternak: Butuh Keadilan dalam Tata Kelola
Ketua Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO), Kusnan, menegaskan bahwa kondisi ini harus menjadi perhatian serius bagi seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, peternak rakyat tidak menolak persaingan dalam industri. Namun, yang dibutuhkan adalah sistem yang adil dan memberikan ruang bagi semua pelaku usaha untuk berkembang.
“Peternak rakyat tidak menolak persaingan, tetapi kami membutuhkan tata kelola industri yang adil dan sinkron. Jika setiap kali harga jatuh peternak rakyat harus menanggung kerugian sendirian, maka lama-lama banyak peternak yang tidak akan mampu bertahan,” ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan realitas yang dihadapi peternak di lapangan. Mereka tidak meminta perlindungan berlebihan, tetapi menginginkan adanya keseimbangan dalam sistem industri.
Ancaman terhadap Ketahanan Pangan
Keberlangsungan peternak rakyat bukan hanya soal ekonomi individu, tetapi juga berkaitan erat dengan ketahanan pangan nasional. Ayam merupakan salah satu sumber protein hewani utama bagi masyarakat Indonesia.
Jika peternak rakyat terus tertekan dan akhirnya gulung tikar, maka produksi ayam nasional akan terpengaruh. Ketergantungan terhadap pelaku usaha besar akan meningkat, yang berpotensi menciptakan ketimpangan baru dalam distribusi dan harga pangan.
Selain itu, hilangnya peternak rakyat juga berarti berkurangnya lapangan kerja di sektor perdesaan. Dampak sosial ekonomi dari kondisi ini tidak bisa dianggap remeh.
Solusi: Penguatan Kebijakan dan Pengawasan
Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan langkah konkret yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian antara lain:
1. Pengendalian Produksi DOC
Produksi DOC harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar agar tidak terjadi kelebihan pasokan yang berujung pada jatuhnya harga.
2. Stabilitas Harga Pakan
Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan. Kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga pakan akan sangat membantu peternak.
3. Penguatan Sistem Distribusi
Distribusi ayam dari peternak ke pasar harus lebih efisien agar harga di tingkat peternak dan konsumen lebih seimbang.
4. Intervensi Pemerintah Saat Harga Jatuh
Pemerintah perlu memiliki mekanisme intervensi yang jelas ketika harga livebird jatuh di bawah biaya produksi, misalnya melalui penyerapan atau program stabilisasi harga.
5. Transparansi Data Produksi dan Pasar
Data yang akurat dan transparan akan membantu semua pihak dalam mengambil keputusan yang tepat dan menghindari overproduksi.
Momentum Perbaikan Industri
Kondisi saat ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh dalam industri perunggasan nasional. Sinkronisasi kebijakan dari hulu hingga hilir bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Semua pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha besar, hingga organisasi peternak, harus duduk bersama untuk merumuskan solusi yang berkelanjutan. Tanpa kolaborasi yang kuat, masalah yang sama akan terus berulang di masa depan.
Penutup
Penurunan harga livebird yang terus terjadi menjadi pengingat bahwa industri perunggasan nasional masih menghadapi tantangan struktural yang serius. Di tengah kondisi ini, peternak rakyat kembali menjadi pihak yang paling terdampak.
Menjaga keberlangsungan peternak rakyat bukan hanya soal keadilan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga fondasi ketahanan pangan Indonesia. Jika tidak ada langkah nyata dan terkoordinasi, maka pertanyaan yang muncul hari ini akan terus bergema: sampai kapan peternak rakyat harus bertahan?
Berita
Menjeritnya Peternak Ayam Ras: Ketika Pakan Lebih Mahal dari Harga Jual
Published
2 weeks agoon
March 28, 2026By
Fariz
Pendahuluan
Subsektor peternakan unggas, khususnya ayam ras pedaging (broiler) dan petelur (layer), merupakan komoditas yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga pakan. Mengapa demikian? Karena dalam struktur biaya produksi usaha perunggasan, pakan menyumbang porsi terbesar, yakni mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya operasional.
Memasuki Maret 2026, situasi harga pakan menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Kementerian Pertanian mencatat adanya tren penurunan harga pakan ternak di tingkat produsen sepanjang Februari hingga awal Maret 2026 . Penurunan ini diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak yang selama setahun terakhir tertekan oleh lonjakan harga bahan baku.
Namun, meski ada kabar baik ini, peternak ayam ras masih harus mencermati beberapa tantangan. Kebijakan pengalihan impor bungkil kedelai yang sempat memicu gejolak harga pada awal tahun, serta fluktuasi harga jagung, masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai . Artikel ini akan mengupas secara detail kondisi terkini harga pakan dan ketidakseimbangan ekonomi yang masih dihadapi peternak ayam ras, serta strategi bertahan yang mereka lakukan di tengah dinamika pasar Maret 2026.
Kabar Baik di Awal Maret 2026: Harga Pakan Mulai Terkoreksi
Setelah mengalami tekanan yang cukup berat sepanjang tahun 2025, peternak ayam ras mendapatkan angin segar di awal Maret 2026. Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementerian Pertanian, terjadi tren penurunan harga pada berbagai jenis pakan yang digunakan peternak ayam pedaging maupun petelur .
Data Harga Pakan Terbaru Maret 2026
Berikut adalah rincian harga pakan terkini di tingkat produsen berdasarkan data resmi Kementerian Pertanian per Maret 2026 :
| Jenis Pakan | Harga Sebelumnya | Harga Maret 2026 | Penurunan |
|---|---|---|---|
| BR0 (Broiler Pre-Starter) | Rp 8.533/kg | Rp 8.451/kg | Rp 82/kg |
| BR1 (Broiler Starter) | Rp 8.122/kg | Rp 8.010/kg | Rp 112/kg |
| BR2 (Broiler Finisher) | Rp 8.056/kg | Rp 7.967/kg | Rp 89/kg |
| P3 (Layer Masa Produksi) | Rp 6.889/kg | Rp 6.803/kg | Rp 86/kg |
| KP3 (Konsentrat Layer) | Rp 7.809/kg | Rp 7.735/kg | Rp 74/kg |
Sumber: SPORA Direktorat Pakan Kementan, pemantauan 33 pabrik pakan per Maret 2026
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menyatakan bahwa tren penurunan harga pakan ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.
“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan stabilitas harga produk peternakan juga lebih terjaga,” ujar Agung di Kantor Kementan, Jakarta, Kamis (5/3/2026) .
Meski demikian, perlu dicatat bahwa penurunan harga ini baru dilakukan oleh sekitar 33 pabrik dari total 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, atau sekitar 38 persen dari total industri .
Perbandingan Harga yang Masih Perlu Dicermati
Meskipun harga pakan mulai menunjukkan tren penurunan, peternak ayam ras masih harus menghadapi tantangan dari sisi harga jual ternak yang cenderung fluktuatif. Mari kita lihat perbandingan terkini:
Data Harga Ternak Terbaru Maret 2026
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia per 25 Maret 2026 :
| Komoditas | Harga Maret 2026 |
|---|---|
| Daging Ayam Ras (eceran nasional) | Rp 43.450/kg |
| Telur Ayam Ras (eceran nasional) | Rp 32.350/kg |
Sementara itu, berdasarkan data dari Pemerintah Kota Kediri per 26 Maret 2026, harga daging ayam ras tercatat Rp 40.600 per kilogram .
Perhitungan Feed Cost per Kilogram
Untuk memproduksi satu kilogram ayam hidup, diperlukan pakan sekitar 1,5 hingga 1,7 kilogram (tergantung kualitas pakan dan manajemen pemeliharaan). Dengan harga pakan BR1 terkini Rp 8.010 per kilogram, mari kita hitung biaya pakan:
- Asumsi FCR (Feed Conversion Ratio) = 1,6
- Harga pakan = Rp 8.010/kg
- Biaya pakan per kg ayam hidup = 1,6 x Rp 8.010 = Rp 12.816
Nilai Rp 12.816 ini belum termasuk biaya DOC (day old chick), vitamin, obat-obatan, listrik, tenaga kerja, dan penyusutan kandang. Dengan harga jual ayam hidup di tingkat peternak yang berkisar Rp 18.000 – Rp 19.000 per kilogram (dengan asumsi margin distribusi dari peternak ke konsumen sekitar 50-60 persen), maka margin yang tersisa untuk menutup biaya lain masih sangat tipis.
Perbandingan dengan periode sebelumnya:
- Akhir 2025: Biaya pakan mencapai Rp 14.400 per kg ayam hidup
- Maret 2026: Biaya pakan turun menjadi Rp 12.816 per kg ayam hidup
Ada penurunan biaya pakan sekitar Rp 1.584 per kilogram ayam hidup atau sekitar 11 persen. Ini merupakan kabar baik, meskipun masih diperlukan upaya lebih lanjut agar margin keuntungan peternak dapat kembali pulih.
Tantangan yang Masih Menghantui
Meski ada tren penurunan harga pakan, peternak ayam ras masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi.
Gejolak Kebijakan Impor Bungkil Kedelai
Salah satu faktor yang sempat mengganggu stabilitas harga pakan di awal tahun 2026 adalah kebijakan pengalihan impor bungkil kedelai (soybean meal/SBM) dari swasta ke BUMN PT Berdikari yang mulai berlaku 1 Januari 2026 .
Pada akhir 2025 hingga awal Januari 2026, kebijakan ini sempat menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga SBM. Harga SBM melonjak dari kisaran Rp 6.800 – Rp 7.100 per kilogram menjadi Rp 7.700 – Rp 8.000 per kilogram .
Pemerintah kemudian merespons dengan menetapkan masa transisi selama tiga bulan (Januari–Maret 2026), di mana swasta masih diizinkan mengimpor SBM hingga 31 Maret 2026. Langkah ini membuat pasokan mulai kembali mengalir dan harga perlahan stabil .
Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Jawa Tengah Suwardi mengungkapkan kekhawatirannya:
“Kami berharap ketersediaan stok dan harga SBM dapat tetap terjaga selama masa transisi dan setelah kebijakan penuh diterapkan. Jika PT Berdikari bisa mendapatkan SBM dengan harga terjangkau dan kualitas baik, ini bisa menjadi solusi jangka panjang. Namun jika tidak, dampaknya ke para peternak unggas akan sangat luar biasa” .
Program SPHP Jagung Pakan
Untuk menjaga stabilitas harga pakan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan penyaluran 242.000 ton jagung pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dimulai Maret 2026 .
Program ini menyasar peternak unggas dengan harga jagung bersubsidi di bawah pasar. Pada tahun 2025, program SPHP jagung telah menyalurkan 51.200 ton kepada 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi .
Pada tahun 2026, target penyaluran meningkat drastis hingga 372,6 persen dengan anggaran Rp 678 miliar. Hal ini diharapkan mampu memberikan angin segar bagi peternak, terutama menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang biasanya disertai peningkatan permintaan .
I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, menyatakan:
“Program SPHP jagung pakan ini secara khusus menyasar para peternak unggas di berbagai wilayah Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengatasi gejolak harga jagung di tingkat peternak yang berdampak langsung pada biaya produksi” .
Strategi Bertahan ala Peternak Rakyat
Menghadapi dinamika harga yang masih fluktuatif, peternak rakyat yang tergabung dalam wadah Permindo terus melakukan berbagai strategi untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Pemanfaatan Bahan Pakan Alternatif
Gejolak harga SBM di awal tahun mendorong banyak peternak untuk mulai mencari bahan baku alternatif. Beberapa opsi yang mulai banyak digunakan antara lain :
- Corn Gluten Meal (CGM) – sumber protein alternatif, harga saat ini Rp 10.500 – Rp 11.000 per kg
- Corn Gluten Feed (CGF) – mengalami kenaikan permintaan signifikan, harga Rp 4.000 – Rp 4.300 per kg
- Palm Kernel Meal (PKM) – sumber protein dari sawit, banyak tersedia di wilayah Sumatera dan Kalimantan
- Bungkil Kopra – potensi besar di daerah penghasil kelapa
Tito Ari Santoso, dalam opininya di Poultry Indonesia edisi Februari 2026, menuliskan:
“Gejolak pasokan dan harga soybean meal yang mewarnai awal 2026 kembali menjadi pengingat sekaligus alarm bagi industri perunggasan nasional. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor membuat sektor ini sangat rentan terhadap perubahan kebijakan maupun gangguan pasokan global” .
Penguatan Kelembagaan Peternak
Permindo terus mendorong peternak untuk bergabung dalam kelompok atau koperasi. Dengan berkelompok, peternak memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam membeli pakan, baik dari pabrik maupun distributor.
Pembelian kolektif (bulk buying) memungkinkan peternak mendapatkan harga yang lebih kompetitif, serta akses terhadap informasi harga dan stok bahan baku secara lebih cepat dan akurat.
Harapan pada Kebijakan Pemerintah
Meskipun harga pakan mulai menunjukkan tren perbaikan, masih ada sejumlah harapan dari peternak kepada pemerintah.
Konsistensi Kebijakan
Peternak berharap kebijakan pengalihan impor SBM ke PT Berdikari dapat berjalan lancar setelah masa transisi berakhir pada 31 Maret 2026. PT Berdikari diharapkan mampu:
- Mendapatkan SBM berkualitas dari produsen langsung (bukan distributor tingkat lanjut) sehingga harga lebih kompetitif
- Menyiapkan infrastruktur logistik dan pergudangan yang memadai
- Menjaga ketersediaan pasokan secara rutin tanpa gangguan
- Menjual SBM dengan harga yang terjangkau bagi peternak skala kecil dan menengah
Stabilitas Harga Jual Ternak
Penurunan harga pakan akan lebih bermakna jika diimbangi dengan stabilitas harga jual ternak di tingkat peternak. Pemerintah diharapkan terus memantau dan mengintervensi jika terjadi fluktuasi harga yang merugikan peternak.
Berdasarkan data PIHPS per 25 Maret 2026, harga daging ayam ras di tingkat konsumen masih di atas Rp 40.000 per kilogram . Dengan asumsi margin distribusi yang wajar, harga di tingkat peternak seharusnya berada di kisaran Rp 18.000 – Rp 20.000 per kilogram—masih memberikan ruang keuntungan tipis setelah memperhitungkan biaya pakan yang mulai turun.
Penutup
Memasuki Maret 2026, peternak ayam ras mulai melihat secercah harapan. Harga pakan yang mulai terkoreksi, program SPHP jagung yang ditingkatkan, serta masa transisi kebijakan impor SBM yang memberikan ruang adaptasi, menjadi kabar baik bagi peternak rakyat.
Namun, perjalanan masih panjang. Konsistensi kebijakan, ketersediaan bahan baku alternatif, serta penguatan kelembagaan peternak menjadi kunci agar momentum perbaikan ini dapat berkelanjutan.
Permindo akan terus mendampingi peternak rakyat dalam menghadapi dinamika pasar, memperjuangkan kebijakan yang berpihak, serta mendorong kemandirian pakan berbasis sumber daya lokal.
Call to Action
Apakah Anda peternak ayam ras yang sedang merasakan dampak penurunan harga pakan di daerah Anda? Bagikan pengalaman dan data Anda di kolom komentar. Mari kita kumpulkan suara peternak rakyat untuk memastikan bahwa momentum perbaikan ini benar-benar dirasakan oleh semua.
Bergabunglah dengan Permindo untuk mendapatkan akses informasi harga terkini, pelatihan pakan alternatif, dan pendampingan teknis. Bersama Permindo, kita kuatkan peternak rakyat Indonesia!
Berita
Stabilisasi Harga Ayam Pasca-Lebaran: Momentum Penguatan Keberpihakan Negara kepada Peternak Rakyat
Published
3 weeks agoon
March 19, 2026By
Fariz
Fenomena penurunan harga ayam hidup (livebird) setelah Hari Raya Idul Fitri kembali terjadi dan menjadi perhatian serius para pelaku usaha perunggasan, khususnya peternak rakyat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga yang tajam pasca-Lebaran bukan lagi sekadar dinamika musiman, melainkan indikasi perlunya penguatan kebijakan tata kelola sektor perunggasan secara menyeluruh.
Dalam konteks ini, kehadiran negara menjadi sangat penting untuk memastikan keseimbangan antara kepentingan konsumen dan keberlangsungan usaha peternak.
Dinamika Harga dan Tantangan Struktural
Penurunan permintaan setelah Lebaran memang merupakan siklus yang dapat diprediksi. Namun, penurunan harga yang terjadi di tingkat peternak sering kali melampaui batas kewajaran dan berada di bawah biaya produksi.
Hal ini mengindikasikan adanya tantangan struktural dalam sistem perunggasan nasional, antara lain:
- Ketidakseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar
- Distribusi pasokan yang belum optimal
- Keterbatasan instrumen stabilisasi harga di tingkat peternak
Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini berpotensi melemahkan daya tahan peternak rakyat sebagai salah satu pilar utama penyedia protein hewani nasional.
Peran Strategis Pemerintah dalam Stabilisasi
Melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia, pemerintah memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sektor perunggasan, baik dari sisi hulu maupun hilir.
Langkah-langkah yang selama ini dilakukan seperti pengaturan produksi, imbauan penyesuaian populasi, serta intervensi pasar merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan.
Namun demikian, dinamika yang terjadi menunjukkan perlunya:
- Penguatan implementasi kebijakan di lapangan
- Sinkronisasi data produksi dan kebutuhan secara real-time
- Peningkatan efektivitas intervensi sebelum harga mengalami tekanan tajam
Peran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menjadi kunci dalam memastikan kebijakan tersebut berjalan secara konsisten dan terukur.
Penguatan Ekosistem yang Berkeadilan
Keberlanjutan sektor perunggasan sangat ditentukan oleh keseimbangan antar pelaku usaha, termasuk peternak rakyat, pelaku usaha menengah, dan industri terintegrasi.
Dalam hal ini, penting untuk memastikan bahwa:
- Peternak rakyat memiliki akses yang adil terhadap pasar
- Terdapat mekanisme perlindungan saat harga berada di bawah biaya produksi
- Kebijakan yang diambil mampu menjaga iklim usaha yang sehat dan kompetitif
Pendekatan ini tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas harga, tetapi juga memperkuat struktur industri perunggasan nasional secara jangka panjang.
Momentum Perbaikan Kebijakan ke Depan
Kondisi pasca-Lebaran seharusnya menjadi momentum evaluasi dan perbaikan kebijakan.
Beberapa langkah strategis yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Penyesuaian produksi DOC berbasis proyeksi kebutuhan nasional
- Penguatan sistem buffer stock dan cold storage
- Optimalisasi peran BUMN atau lembaga penyangga
- Penyusunan mekanisme harga acuan yang lebih adaptif
Langkah-langkah ini memerlukan koordinasi lintas sektor serta komitmen bersama antara pemerintah dan pelaku usaha.
Penutup
Stabilisasi harga ayam bukan hanya persoalan ekonomi semata, tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan usaha peternak rakyat dan ketahanan pangan nasional.
Dengan penguatan kebijakan yang tepat, implementasi yang konsisten, serta keberpihakan yang terukur, sektor perunggasan Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh lebih stabil dan berdaya saing.
Momentum ini menjadi penting untuk memastikan bahwa ke depan, dinamika harga pasca-Lebaran tidak lagi menjadi siklus kerugian, melainkan dapat dikelola sebagai bagian dari sistem yang sehat dan berkelanjutan.
Meta Deskripsi (SEO)
Stabilisasi harga ayam pasca-Lebaran menjadi momentum penguatan kebijakan pemerintah untuk melindungi peternak rakyat dan menjaga ketahanan pangan.
Membaca Siklus Industri Broiler Indonesia: Dari DOC hingga Harga Ayam di Pasar
Fenomena Harga Ayam Jatuh: Realita Lapangan yang Tidak Banyak Diketahui Publik
Harga Ayam Hidup Anjlok ke Rp18.500, HPP Sudah Rp22.000: Peternak Rakyat Kembali Tertekan
Melawan Kartel dan Oligarki Asing: Mengapa Investasi Danantara Rp20 Triliun Begitu Krusial bagi Peternak Rakyat?
Setelah Lebaran Bukan Mekanisme Pasar, Tapi Kegagalan Tata Kelola Perunggasan.
Stabilitas Harga Ayam: Mencari Titik Seimbang antara Produksi dan Permintaan
Trending
-
Berita1 month agoMelawan Kartel dan Oligarki Asing: Mengapa Investasi Danantara Rp20 Triliun Begitu Krusial bagi Peternak Rakyat?
-
Business4 weeks agoSetelah Lebaran Bukan Mekanisme Pasar, Tapi Kegagalan Tata Kelola Perunggasan.
-
Business1 month agoStabilitas Harga Ayam: Mencari Titik Seimbang antara Produksi dan Permintaan
-
Kabar Kandang1 month agoRp1.000 Triliun dari Ayam: Saatnya Peternak Rakyat Kembali Jadi Tuan Rumah
-
Berita1 month agoEksportir: Proses Sertifikat Ekspor Kementan Hanya Satu Hari!
-
Berita4 weeks agoDOC Ayam dan Masa Depan Peternak Rakyat dalam Industri Perunggasan
-
Business1 month agoMemahami Regulasi Produksi Perunggasan: Panduan Praktis untuk Peternak Rakyat
-
Entertainment1 month agoEntertainment Dunia Ternak Unggas: Dari Edukasi Digital hingga Konten Viral Peternak Modern
