Sebuah daftar yang dirilis media internasional baru-baru ini memperlihatkan fakta yang menarik sekaligus menggambarkan wajah persaingan global saat ini. Beberapa universitas paling bergengsi di Amerika Serikat memiliki tingkat penerimaan mahasiswa yang sangat rendah.
Institusi seperti California Institute of Technology hanya menerima sekitar 3% dari seluruh pendaftar. Universitas lain seperti Harvard University, Stanford University, dan Massachusetts Institute of Technology menerima sekitar 4–5% saja dari puluhan ribu pelamar setiap tahun.
Bagi banyak orang, angka ini sekadar menunjukkan betapa elit dan eksklusifnya universitas-universitas tersebut. Namun jika dilihat dari sudut pandang ekonomi global, fakta ini sebenarnya mencerminkan sesuatu yang jauh lebih besar: persaingan dunia dalam menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan kekuatan ekonomi masa depan.
Universitas-universitas elite tersebut bukan hanya tempat belajar. Mereka adalah pusat inovasi global. Dari laboratorium mereka lahir teknologi baru, model bisnis baru, serta industri baru yang kemudian menguasai pasar dunia.
Yang sering tidak disadari, inovasi itu tidak hanya memengaruhi sektor teknologi tinggi seperti kecerdasan buatan atau industri digital. Ia juga merembes ke sektor yang terlihat sederhana, termasuk industri peternakan ayam.
Paradoks Industri Pangan Dunia
Di sinilah sebuah paradoks mulai terlihat.
Di satu sisi dunia, negara-negara maju mengembangkan teknologi pangan melalui riset kelas dunia. Mereka menginvestasikan dana besar untuk penelitian genetika, nutrisi ternak, teknologi produksi, dan sistem manajemen peternakan modern.
Di sisi lain, jutaan peternak ayam rakyat di negara berkembang seperti Indonesia masih harus berjuang menghadapi persoalan klasik.
Beberapa masalah yang sering mereka hadapi antara lain:
harga pakan yang terus meningkat
harga ayam yang tidak stabil
akses pasar yang terbatas
posisi tawar yang lemah dalam rantai industri
Perbedaan kondisi ini menunjukkan bahwa industri pangan modern sebenarnya tidak hanya ditentukan oleh kerja keras di lapangan, tetapi juga oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Universitas dan Dominasi Ekonomi Global
Banyak orang tidak menyadari bahwa universitas memiliki peran strategis dalam membentuk struktur ekonomi global.
Ekosistem inovasi yang lahir dari Stanford University, misalnya, menjadi fondasi berkembangnya Silicon Valley. Dari sana lahir berbagai perusahaan teknologi yang kemudian mengubah cara dunia bekerja, berkomunikasi, dan berbisnis.
Hal yang sama juga terjadi di Massachusetts Institute of Technology, yang dikenal sebagai pusat riset teknologi industri, bioteknologi, hingga kecerdasan buatan.
Riset yang dilakukan di universitas-universitas tersebut tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah. Pengetahuan itu berkembang menjadi:
paten teknologi
perusahaan rintisan (startup)
sistem produksi baru
inovasi industri
Pada akhirnya, inovasi tersebut berubah menjadi kekuatan ekonomi global.
Fenomena ini juga berlaku dalam sektor pertanian dan peternakan.
Teknologi Tinggi di Balik Industri Ayam Modern
Industri perunggasan dunia saat ini terlihat sederhana dari luar: peternak memelihara ayam hingga panen dan kemudian menjualnya ke pasar.
Namun jika dilihat lebih dalam, sistem produksi ayam modern sebenarnya sangat kompleks dan berbasis ilmu pengetahuan.
Beberapa teknologi penting dalam industri ayam modern meliputi:
genetika unggas yang menghasilkan ayam dengan pertumbuhan sangat cepat
formulasi pakan modern yang membuat konversi pakan semakin efisien
vaksin dan sistem kesehatan unggas untuk mencegah penyakit
manajemen kandang otomatis dengan pengaturan suhu dan ventilasi
Semua perkembangan ini merupakan hasil dari puluhan tahun penelitian ilmiah.
Dengan teknologi tersebut, ayam pedaging saat ini dapat dipanen hanya dalam waktu sekitar 30–35 hari dengan efisiensi produksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa dekade lalu.
Perusahaan Global Menguasai Rantai Industri
Dalam skala global, industri ayam juga berkembang melalui integrasi besar-besaran.
Beberapa perusahaan multinasional menguasai berbagai lini dalam rantai industri, seperti:
produksi pakan ternak
genetika unggas
distribusi bahan baku
pengolahan produk pangan
Model integrasi ini memungkinkan mereka menciptakan efisiensi produksi yang sangat tinggi.
Namun dalam struktur industri seperti ini, peternak kecil sering berada di posisi yang paling rentan.
Peternak Rakyat: Mata Rantai Terlemah
Di Indonesia, jutaan peternak rakyat menjalankan usaha budidaya ayam dengan skala kecil hingga menengah.
Mereka memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat. Namun kenyataannya, mereka sering menghadapi tantangan ekonomi yang berat.
Beberapa masalah utama yang sering muncul antara lain:
Harga Pakan yang Terus Naik
Dalam struktur biaya produksi ayam, pakan menyumbang sekitar 60–70% dari total biaya. Kenaikan harga pakan sedikit saja dapat langsung mengurangi margin keuntungan peternak.
Ketergantungan pada DOC
Bibit ayam atau DOC sering kali berada di bawah kendali perusahaan besar. Peternak kecil sering tidak memiliki pengaruh terhadap harga maupun distribusi bibit.
Fluktuasi Harga Ayam
Harga ayam hidup di pasar sangat fluktuatif. Ketika produksi meningkat dan pasokan melimpah, harga bisa jatuh di bawah biaya produksi.
Sebaliknya ketika pasokan berkurang, harga di tingkat konsumen bisa melonjak, namun tidak selalu memberikan keuntungan yang adil bagi peternak.
Situasi ini membuat banyak peternak berada dalam kondisi ekonomi yang sangat rentan.
Ketimpangan Pengetahuan dalam Industri Pangan
Masalah terbesar sebenarnya bukan hanya soal harga pakan atau harga ayam.
Akar persoalannya lebih dalam, yaitu ketimpangan pengetahuan dan teknologi.
Di negara maju, peternakan adalah industri yang sepenuhnya berbasis sains. Setiap keputusan produksi didasarkan pada data, penelitian, dan teknologi modern.
Sementara di banyak wilayah Indonesia, peternakan masih sangat bergantung pada pengalaman lapangan dan praktik tradisional.
Perbedaan ini menciptakan kesenjangan efisiensi yang sangat besar.
Peternak yang tidak memiliki akses terhadap teknologi dan pengetahuan modern akan selalu berada pada posisi yang lebih lemah dalam persaingan industri.
Risiko bagi Ketahanan Pangan Nasional
Jika kondisi ini terus berlangsung, Indonesia menghadapi risiko yang tidak kecil.
Semakin banyak peternak rakyat yang berhenti berusaha karena tekanan ekonomi. Produksi ayam nasional kemudian semakin terkonsentrasi pada perusahaan besar yang memiliki integrasi vertikal dari hulu hingga hilir.
Konsentrasi industri memang dapat meningkatkan efisiensi produksi. Namun jika terlalu terkonsentrasi, kondisi ini juga dapat menciptakan ketergantungan pasar yang berbahaya.
Dalam jangka panjang, situasi tersebut dapat memengaruhi stabilitas harga pangan dan bahkan ketahanan pangan nasional.
Indonesia Membutuhkan Revolusi Pengetahuan di Sektor Perunggasan
Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar dalam industri perunggasan.
Konsumsi ayam terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kelas menengah. Pasar domestik sangat besar dan relatif stabil.
Namun potensi ini tidak akan berkembang optimal tanpa dukungan ekosistem ilmu pengetahuan yang kuat.
Negara perlu mendorong penguatan riset di berbagai bidang penting, seperti:
genetika unggas nasional
teknologi pakan berbasis bahan lokal
sistem manajemen kandang modern
digitalisasi produksi peternakan
Universitas, lembaga penelitian, industri, serta organisasi peternak harus bekerja bersama dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Masa Depan Peternakan Ditentukan oleh Ilmu
Pelajaran terbesar dari universitas-universitas elite dunia sebenarnya sangat jelas: ekonomi masa depan ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan.
Negara yang berinvestasi besar pada riset akan menghasilkan inovasi. Inovasi tersebut kemudian berkembang menjadi teknologi, industri, dan kekuatan ekonomi.
Jika Indonesia ingin memperkuat peternak rakyat sekaligus menjaga ketahanan pangan, maka investasi pada ilmu pengetahuan tidak boleh dianggap sebagai pilihan, tetapi sebagai kebutuhan strategis.
Karena pada akhirnya, perbedaan antara negara yang memimpin industri pangan dunia dan negara yang hanya menjadi pasar sering kali hanya ditentukan oleh satu hal: siapa yang menguasai pengetahuan.
Dan dalam dunia modern, jarak antara laboratorium universitas dan kandang ayam rakyat sebenarnya tidak pernah sejauh yang kita bayangkan.
Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas
Ilusi “Stabilitas”: Ketika Klaim Pemerintah Berbenturan dengan Realitas Ekonomi Peternak
Pemberitaan mengenai keberhasilan pemerintah menstabilkan harga ayam dan telur di tingkat peternak sering kali disiarkan sebagai angin segar. Namun, jika dibaca secara kritis melalui kacamata ekonomi riil, klaim ini rentan terjebak dalam pembingkaian (*framing*) pencitraan semu. Faktanya, kenaikan harga yang terjadi saat ini bukanlah semata-mata buah dari intervensi kebijakan yang efektif, melainkan hasil dari hukum alam mekanisme pasar akibat berkurangnya populasi di kandang menyusul fase oversupply (kelebihan pasokan) yang berkepanjangan sebelumnya.
Pemerintah sering kali datang terlambat sebagai pemadam kebakaran, lalu mengklaim pemadaman tersebut sebagai hasil kerja keras dari kebijakan hulu–hilir mereka. Agar semua pihak—pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi—tidak terjebak dalam disinformasi birokratis ini, berikut adalah refleksi objektif bagi masing-masing pemangku kepentingan:
1. Kepada Pemerintah: Hentikan Klaim Semu, Benahi Akar Masalah di Hulu
Pemerintah tidak boleh berpuas diri hanya dengan melihat kenaikan harga nominal di tingkat peternak (live bird atau telur). Kenaikan harga jual tersebut menjadi tidak bermakna ketika Harga Pokok Penjualan (HPP) melambung jauh lebih cepat akibat lonjakan harga sarana produksi peternakan (sapronak), terutama pakan dan DOC (Day Old Chick).
Tantangan Solutif: Ketika terjadi oversupply, pemerintah terbukti kurang sigap memberikan solusi struktural yang solutif—seperti absennya intervensi langsung terhadap tata niaga pakan jagung dan monopoli bibit. Kedepan, pemerintah harus berhenti mengandalkan seremonial rembuk atau penetapan harga acuan di atas kertas yang lemah pengawasannya di pasar bebas. Kebijakan off-taker melalui program sosial seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) memang membantu, tetapi itu baru menyentuh hilir. Tanpa kontrol ketat terhadap harga input produksi di hulu, peternak mandiri akan tetap sekarat di tengah harga jual yang tinggi.
2. Kepada Pelaku Usaha & Peternak: Perkuat Konsolidasi dan Mitigasi Risiko Pasar
Bagi asosiasi dan peternak rakyat, realitas ini membuktikan bahwa menggantungkan nasib sepenuhnya pada kebijakan reaktif birokrasi adalah sebuah risiko besar. Ketika pasar mengalami oversupply, peternak rakyat selalu menjadi pihak paling rentan yang menanggung kerugian paling besar.
Langkah Strategis: Pelaku usaha perlu memperkuat kemandirian, mulai dari efisiensi manajemen pakan alternatif (custom), penguatan koperasi mandiri untuk menekan biaya input, hingga membangun rantai pasok langsung yang tidak sepenuhnya bergantung pada korporasi besar atau fluktuasi bahan baku impor. Transparansi data populasi di tingkat kandang juga harus dikuasai oleh asosiasi agar peternak tidak “kecolongan” saat siklus oversupply kembali berulang.
3. Kepada Akademisi: Hadirkan Riset Kritis dan Kebijakan Berbasis Bukti (Evidence-Based Policy)
Dunia kampus dan akademisi memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menjadi perpanjangan lidah narasi birokrasi.
Peran Strategis: Akademisi harus aktif membongkar anomali ekonomi yang terjadi—meneliti mengapa transmisi harga dari hulu ke hilir selalu timpang, bagaimana struktur pasar pakan di Indonesia terbentuk, serta menguji efektivitas riil dari kebijakan intervensi pemerintah. Riset-riset independen harus didorong agar melahirkan policy brief yang objektif, sehingga pembuat kebijakan dipaksa bekerja berdasarkan data empiris di lapangan, bukan sekadar laporan administratif yang manis di atas kertas.
Kesimpulan
Keberhasilan sektor perunggasan nasional tidak diukur dari seberapa sering pemerintah mengklaim harga stabil di media, melainkan dari margin keuntungan yang adil dan berkelanjutan bagi peternak rakyat. Selama biaya input (pakan dan DOC) naik lebih cepat daripada harga jual produk, maka narasi “keberhasilan stabilisasi” hanyalah ilusi statistik yang sedang membiarkan peternak mandiri berjalan menuju kepunahan pelan-pelan.
Sejahtera Petani dan Peternak: Parameter Kedaulatan Pangan
Oleh: Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO)
Kemajuan sebuah bangsa sering kali diukur dari pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan perkembangan teknologi. Semua itu penting. Namun, ada satu fondasi yang tidak boleh diabaikan, yaitu kemampuan sebuah negara memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya sendiri.
Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki gedung-gedung tinggi, industri modern, atau ekonomi digital yang berkembang pesat, tetapi juga bangsa yang mampu menjamin ketersediaan pangan bagi seluruh rakyatnya. Kedaulatan pangan merupakan salah satu pilar utama kedaulatan negara.
Dalam konteks tersebut, kesejahteraan petani dan peternak bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan bagian dari strategi nasional untuk menjaga ketahanan pangan, stabilitas sosial, dan kemandirian bangsa.
Sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perekonomian nasional disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan dan diselenggarakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Amanat konstitusi ini menegaskan bahwa pembangunan sektor pertanian dan peternakan harus menempatkan kesejahteraan petani dan peternak sebagai tujuan utama.
Indonesia Memiliki Potensi Menjadi Kekuatan Agribisnis Dunia
Indonesia dianugerahi sumber daya alam yang luar biasa. Lahan pertanian yang luas, iklim tropis sepanjang tahun, keanekaragaman hayati, sumber daya perikanan, serta kekayaan komoditas pangan merupakan modal besar yang tidak dimiliki banyak negara.
Dengan potensi tersebut, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan agribisnis dunia, bahkan menjadi lumbung pangan kawasan, apabila didukung oleh tata kelola yang baik, inovasi teknologi, investasi yang berkelanjutan, serta kebijakan yang berpihak kepada petani dan peternak sebagai pelaku utama produksi pangan nasional.
Potensi tersebut tidak akan terwujud apabila kesejahteraan produsen pangan justru tertinggal dibandingkan sektor lainnya.
Petani dan Peternak Menggerakkan Ekonomi Riil
Pertanian dan peternakan merupakan sektor ekonomi riil yang menghasilkan pangan, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan efek berganda (multiplier effect) yang sangat besar terhadap perekonomian nasional.
Ketika petani dan peternak memperoleh keuntungan yang layak, perputaran ekonomi terjadi secara alami di daerah pedesaan. Pendapatan mereka kembali dibelanjakan untuk membeli benih, pupuk, DOC, pakan, obat-obatan, peralatan produksi, memperbaiki lahan dan kandang, menggunakan jasa transportasi, memperkuat usaha mikro, hingga membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Setiap rupiah yang diterima petani dan peternak akan kembali berputar dalam perekonomian nasional, menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan daya beli masyarakat, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.
Karena itu, memperkuat petani dan peternak sejatinya bukanlah beban anggaran negara, melainkan investasi strategis bagi pembangunan ekonomi Indonesia.
Kesejahteraan Petani dan Peternak Adalah Indikator Kedaulatan Pangan
Kedaulatan pangan tidak cukup diukur dari besarnya angka produksi nasional semata. Keberhasilannya juga harus tercermin dari meningkatnya kesejahteraan para pelaku utama yang memproduksi pangan.
Apabila petani masih menjual hasil panennya di bawah biaya produksi, atau peternak terus mengalami kerugian akibat mahalnya sarana produksi dan lemahnya posisi tawar di pasar, maka keberhasilan pembangunan pangan belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat yang menjadi tulang punggung sektor tersebut.
Karena itu, kesejahteraan petani dan peternak harus menjadi salah satu indikator utama dalam mengevaluasi keberhasilan kebijakan pangan nasional.
Saatnya Membangun Kebijakan Pangan Jangka Panjang
PERMINDO memandang bahwa Indonesia memerlukan kebijakan jangka panjang yang konsisten untuk memperkuat sektor pertanian dan peternakan dari hulu hingga hilir.
Oleh: Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO)
Kemajuan sebuah bangsa sering kali diukur dari pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan perkembangan teknologi. Semua itu penting. Namun, ada satu fondasi yang tidak boleh diabaikan, yaitu kemampuan sebuah negara memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya sendiri.
Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki gedung-gedung tinggi, industri modern, atau ekonomi digital yang berkembang pesat, tetapi juga bangsa yang mampu menjamin ketersediaan pangan bagi seluruh rakyatnya. Kedaulatan pangan merupakan salah satu pilar utama kedaulatan negara.
Dalam konteks tersebut, kesejahteraan petani dan peternak bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan bagian dari strategi nasional untuk menjaga ketahanan pangan, stabilitas sosial, dan kemandirian bangsa.
Sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perekonomian nasional disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan dan diselenggarakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Amanat konstitusi ini menegaskan bahwa pembangunan sektor pertanian dan peternakan harus menempatkan kesejahteraan petani dan peternak sebagai tujuan utama.
Indonesia Memiliki Potensi Menjadi Kekuatan Agribisnis Dunia
Indonesia dianugerahi sumber daya alam yang luar biasa. Lahan pertanian yang luas, iklim tropis sepanjang tahun, keanekaragaman hayati, sumber daya perikanan, serta kekayaan komoditas pangan merupakan modal besar yang tidak dimiliki banyak negara.
Dengan potensi tersebut, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan agribisnis dunia, bahkan menjadi lumbung pangan kawasan, apabila didukung oleh tata kelola yang baik, inovasi teknologi, investasi yang berkelanjutan, serta kebijakan yang berpihak kepada petani dan peternak sebagai pelaku utama produksi pangan nasional.
Potensi tersebut tidak akan terwujud apabila kesejahteraan produsen pangan justru tertinggal dibandingkan sektor lainnya.
Petani dan Peternak Menggerakkan Ekonomi Riil
Pertanian dan peternakan merupakan sektor ekonomi riil yang menghasilkan pangan, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan efek berganda (multiplier effect) yang sangat besar terhadap perekonomian nasional.
Ketika petani dan peternak memperoleh keuntungan yang layak, perputaran ekonomi terjadi secara alami di daerah pedesaan. Pendapatan mereka kembali dibelanjakan untuk membeli benih, pupuk, DOC, pakan, obat-obatan, peralatan produksi, memperbaiki lahan dan kandang, menggunakan jasa transportasi, memperkuat usaha mikro, hingga membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Setiap rupiah yang diterima petani dan peternak akan kembali berputar dalam perekonomian nasional, menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan daya beli masyarakat, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.
Karena itu, memperkuat petani dan peternak sejatinya bukanlah beban anggaran negara, melainkan investasi strategis bagi pembangunan ekonomi Indonesia.
Kesejahteraan Petani dan Peternak Adalah Indikator Kedaulatan Pangan
Kedaulatan pangan tidak cukup diukur dari besarnya angka produksi nasional semata. Keberhasilannya juga harus tercermin dari meningkatnya kesejahteraan para pelaku utama yang memproduksi pangan.
Apabila petani masih menjual hasil panennya di bawah biaya produksi, atau peternak terus mengalami kerugian akibat mahalnya sarana produksi dan lemahnya posisi tawar di pasar, maka keberhasilan pembangunan pangan belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat yang menjadi tulang punggung sektor tersebut.
Karena itu, kesejahteraan petani dan peternak harus menjadi salah satu indikator utama dalam mengevaluasi keberhasilan kebijakan pangan nasional.
Saatnya Membangun Kebijakan Pangan Jangka Panjang
PERMINDO memandang bahwa Indonesia memerlukan kebijakan jangka panjang yang konsisten untuk memperkuat sektor pertanian dan peternakan dari hulu hingga hilir.
Kebijakan tersebut harus menjamin tersedianya sarana produksi dengan harga yang terjangkau, memperkuat akses pembiayaan, menciptakan tata niaga yang adil, memperluas hilirisasi, meningkatkan daya saing produk dalam negeri, serta memastikan petani dan peternak memperoleh nilai tambah yang layak dari hasil usahanya.
Lebih dari itu, seluruh kebijakan pangan harus dirancang dengan semangat bahwa petani dan peternak bukan sekadar objek pembangunan, melainkan mitra strategis negara dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia.
Penutup
Indonesia akan benar-benar menjadi bangsa yang kuat bukan hanya karena pertumbuhan ekonominya tinggi, tetapi karena rakyat yang memproduksi pangannya hidup sejahtera.
Ketika petani memperoleh harga yang adil atas hasil panennya, ketika peternak mampu menjalankan usahanya secara berkelanjutan, dan ketika generasi muda melihat pertanian serta peternakan sebagai sektor yang menjanjikan, saat itulah Indonesia sedang membangun fondasi kemajuan yang sesungguhnya.
Sejahtera petani dan peternak bukan sekadar tujuan pembangunan, tetapi merupakan parameter utama kedaulatan pangan, ketahanan nasional, dan kekuatan Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat.
PERHIMPUNAN PETERNAK RAKYAT MANDIRI INDONESIA (PERMINDO)
Contains information related to marketing campaigns of the user. These are shared with Google AdWords / Google Ads when the Google Ads and Google Analytics accounts are linked together.
90 days
__utma
ID used to identify users and sessions
2 years after last activity
__utmt
Used to monitor number of Google Analytics server requests
10 minutes
__utmb
Used to distinguish new sessions and visits. This cookie is set when the GA.js javascript library is loaded and there is no existing __utmb cookie. The cookie is updated every time data is sent to the Google Analytics server.
30 minutes after last activity
__utmc
Used only with old Urchin versions of Google Analytics and not with GA.js. Was used to distinguish between new sessions and visits at the end of a session.
End of session (browser)
__utmz
Contains information about the traffic source or campaign that directed user to the website. The cookie is set when the GA.js javascript is loaded and updated when data is sent to the Google Anaytics server
6 months after last activity
__utmv
Contains custom information set by the web developer via the _setCustomVar method in Google Analytics. This cookie is updated every time new data is sent to the Google Analytics server.
2 years after last activity
__utmx
Used to determine whether a user is included in an A / B or Multivariate test.
18 months
_ga
ID used to identify users
2 years
_gali
Used by Google Analytics to determine which links on a page are being clicked
30 seconds
_ga_
ID used to identify users
2 years
_gid
ID used to identify users for 24 hours after last activity
24 hours
_gat
Used to monitor number of Google Analytics server requests when using Google Tag Manager