Momentum gerakan “Dorong Rembug” yang diinisiasi oleh Ketua Umum HKTI sekaligus Wakil Menteri Pertanian menjadi harapan baru bagi peternak rakyat. Dalam forum tersebut, disampaikan pesan yang sangat penting bahwa korporasi maupun perusahaan integrasi tidak boleh mengambil keuntungan secara berlebihan di atas penderitaan peternak rakyat.
Pernyataan tersebut bukan sekadar pesan moral, tetapi seharusnya menjadi pijakan dalam pengawasan pasar dan tata kelola industri perunggasan nasional.
Namun, kondisi yang terjadi di lapangan justru memunculkan kekhawatiran baru.
Sebelum harga Live Bird (LB) benar-benar bergerak membaik secara merata, harga DOC telah mengalami kenaikan hingga di atas Rp4.500 per ekor, sementara harga pakan juga terus meningkat. Situasi ini dikhawatirkan dapat mengurangi manfaat dari kebijakan pemerintah yang bertujuan memperbaiki harga ayam hidup di tingkat peternak.
Harga Live Bird Belum Menutup Biaya Produksi
Kesepakatan harga acuan pembelian Live Bird sebesar Rp19.500/kg merupakan langkah positif sebagai upaya stabilisasi pasar.
Namun demikian, bagi banyak peternak mandiri, angka tersebut masih berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) yang harus ditanggung selama satu periode pemeliharaan.
Artinya, harga tersebut lebih tepat dipandang sebagai langkah penyelamatan jangka pendek, bukan sebagai tingkat harga yang telah memberikan keuntungan yang memadai bagi peternak.
Harga Input Produksi Naik Lebih Cepat
Yang menjadi perhatian adalah kenaikan harga sarana produksi peternakan (sapronak) yang terjadi lebih dahulu dibandingkan peningkatan harga ayam hidup.
Ketika biaya produksi meningkat akibat naiknya harga DOC dan pakan, maka manfaat dari harga Live Bird Rp19.500 menjadi semakin berkurang.
Kondisi tersebut berpotensi membuat margin usaha peternak tetap tipis bahkan kembali mengalami kerugian.
Secara sederhana:
Harga jual belum sepenuhnya pulih.
Modal produksi sudah meningkat.
Risiko usaha tetap berada di pihak peternak.
Apabila kondisi ini terus berlangsung, maka tujuan awal kebijakan pemerintah berpotensi tidak tercapai secara optimal.
Momentum Kebijakan Harus Dijaga Bersama
Peternak berharap momentum yang telah dibangun pemerintah benar-benar menghasilkan perbaikan bagi seluruh pelaku usaha, bukan hanya sebagian pihak.
Keberhasilan kebijakan tidak hanya diukur dari kenaikan harga Live Bird, tetapi juga dari kemampuan menjaga agar biaya produksi tetap terkendali sehingga peternak memperoleh ruang usaha yang sehat.
Harapan kepada Pemerintah
PERMINDO memandang bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam memastikan keseimbangan industri perunggasan.
Beberapa langkah yang diharapkan antara lain:
1. Melakukan Pengawasan Harga Sapronak
Pemerintah perlu mencermati struktur biaya serta dinamika kenaikan harga DOC dan pakan agar mekanisme pasar tetap berjalan secara sehat dan transparan.
2. Menjaga Semangat Komitmen Wamentan
Pernyataan bahwa korporasi tidak mengambil keuntungan secara berlebihan perlu diwujudkan melalui pengawasan yang konsisten sehingga manfaat kebijakan benar-benar dirasakan peternak rakyat.
3. Menjaga Keseimbangan Hulu dan Hilir
Perbaikan harga ayam hidup sebaiknya berjalan seiring dengan pengendalian biaya produksi agar kebijakan tidak kehilangan efektivitasnya.
Harapan kepada Pelaku Usaha Besar
PERMINDO juga mengajak perusahaan integrasi dan pelaku usaha besar untuk bersama-sama menjaga keberlanjutan industri perunggasan nasional.
Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain:
Menahan kenaikan harga input secara berlebihan ketika kondisi peternak belum sepenuhnya pulih.
Membangun ekosistem usaha yang saling menguatkan antara sektor hulu dan budidaya.
Mengedepankan prinsip keberlanjutan industri dibandingkan keuntungan jangka pendek.
Industri perunggasan hanya dapat tumbuh apabila seluruh mata rantai memperoleh ruang usaha yang sehat.
Peternak Mandiri Membutuhkan Kepastian
Peternak mandiri merupakan bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Oleh karena itu, setiap kebijakan yang bertujuan memperbaiki harga ayam hidup perlu diikuti dengan pengendalian biaya produksi agar manfaatnya benar-benar dirasakan di tingkat peternak.
Kenaikan harga output seharusnya tidak langsung diikuti lonjakan harga input yang pada akhirnya mengurangi daya ungkit kebijakan tersebut.
Penutup
Momentum yang dibangun melalui gerakan “Dorong Rembug” diharapkan menjadi titik awal perbaikan tata niaga perunggasan nasional.
PERMINDO mengajak seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, perusahaan integrasi, pelaku usaha, dan peternak—untuk menjaga keseimbangan ekosistem industri sehingga kebijakan yang telah diambil benar-benar menghadirkan manfaat bagi peternak rakyat.
Keberhasilan sebuah kebijakan bukan hanya terlihat dari meningkatnya harga jual hasil produksi, tetapi juga dari kemampuan menjaga biaya produksi tetap rasional sehingga usaha peternakan dapat berlangsung secara berkelanjutan.