Di tengah fluktuasi harga ayam hidup yang kerap merugikan peternak, persoalan lain yang tidak kalah serius terus menghantui: harga pakan yang tidak kunjung turun.
Padahal, berbagai indikator menunjukkan bahwa seharusnya terdapat ruang untuk penyesuaian harga. Namun di lapangan, peternak justru masih menghadapi biaya produksi yang tinggi.
Kondisi ini menciptakan tekanan ganda: harga jual ayam turun, sementara biaya produksi tetap tinggi. Situasi yang jelas tidak sehat bagi keberlangsungan usaha peternak rakyat.
Ketidakseimbangan yang Membebani Peternak
Dalam struktur biaya produksi ayam, pakan menyumbang sekitar 60–70% dari total biaya. Artinya, perubahan harga pakan sangat menentukan untung atau rugi.
Ketika harga ayam turun tetapi harga pakan tetap tinggi, maka:
Margin peternak langsung tergerus
Titik impas sulit dicapai
Risiko kerugian meningkat tajam
Peternak tidak memiliki ruang untuk mengkompensasi kerugian tersebut, karena harga jual ditentukan oleh pasar, sementara harga pakan cenderung mengikuti mekanisme industri.
Indikasi Masalah dalam Rantai Pasok Pakan
Situasi ini memunculkan pertanyaan penting: mengapa harga pakan tidak ikut turun ketika kondisi memungkinkan?
Beberapa faktor yang kerap disorot antara lain:
Ketergantungan pada bahan baku impor seperti jagung dan bungkil kedelai
Struktur pasar yang terkonsentrasi pada produsen besar
Kurangnya transparansi dalam pembentukan harga pakan
Distribusi yang tidak efisien
Jika tidak ada evaluasi menyeluruh, maka kondisi ini akan terus berulang dan membebani peternak, terutama skala kecil.
Peran Pemerintah Perlu Diperkuat
Melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia, pemerintah memiliki posisi strategis untuk memastikan stabilitas harga pakan.
Namun, dinamika yang terjadi menunjukkan bahwa intervensi yang ada belum cukup kuat untuk menurunkan harga di tingkat peternak.
Dalam hal ini, peran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dapat diperkuat, khususnya dalam:
Mengawasi distribusi dan harga bahan baku pakan
Mendorong transparansi harga dari produsen pakan
Menjaga keseimbangan antara kepentingan industri dan peternak
Dampak Jangka Panjang yang Perlu Diwaspadai
Jika harga pakan tetap tinggi tanpa penyesuaian, maka dampaknya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek.
Beberapa potensi dampak jangka panjang antara lain:
Menurunnya jumlah peternak aktif
Konsentrasi produksi pada perusahaan besar
Melemahnya kemandirian peternakan nasional
Ketergantungan yang lebih besar terhadap pasar global
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi stabilitas pasokan dan harga pangan di tingkat konsumen.
Momentum Evaluasi Kebijakan
Kondisi saat ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola industri pakan.
Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan:
Penguatan produksi bahan baku lokal seperti jagung
Pengawasan harga pakan di tingkat distribusi
Pembukaan akses yang lebih luas bagi peternak terhadap pakan alternatif
Mendorong persaingan usaha yang lebih sehat di industri pakan
Langkah-langkah ini memerlukan koordinasi lintas sektor serta komitmen jangka panjang.
Penutup
Harga pakan yang tidak kunjung turun di tengah tekanan harga ayam yang rendah menjadi sinyal bahwa ada ketidakseimbangan dalam sistem yang perlu segera diperbaiki.
Peternak rakyat membutuhkan ekosistem usaha yang lebih adil dan berkelanjutan. Oleh karena itu, kehadiran negara melalui kebijakan yang tepat dan implementasi yang konsisten menjadi kunci utama.
Dengan langkah yang terukur dan berpihak, diharapkan sektor perunggasan Indonesia dapat tumbuh lebih kuat tanpa meninggalkan peternak rakyat sebagai pilar utamanya.
Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas
Stabilisasi Harga Ayam, Permindo Apresiasi Langkah Pemerintah
Berita peternakan hari ini datang dari Perhimpunan Peternak Unggas Nasional (Permindo). Organisasi yang mewadahi peternak rakyat ini menyambut positif langkah pemerintah dalam menstabilkan harga ayam di tingkat peternak. Sekretaris Jenderal Permindo, Heri Irawan, menilai kebijakan ini menjadi momentum kebangkitan bagi peternak mandiri Indonesia.
Menurut Heri, lonjakan harga DOC (day-old chick) dan pakan yang terus melambung tinggi membuat banyak peternak kecil tertekan. Tanpa intervensi pemerintah, margin keuntungan mereka semakin tipis. Oleh karena itu, apresiasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan harapan baru agar industri perunggasan nasional tetap berdaya.
Momentum Kebangkitan Peternak Rakyat
Heri Irawan menegaskan bahwa stabilisasi harga ayam bukan hanya soal angka di pasar. Lebih dari itu, ini adalah langkah strategis untuk menghidupkan kembali semangat peternak rakyat yang sempat terpuruk. “Ini menjadi momentum bersama untuk kebangkitan peternak rakyat mandiri Indonesia,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima redaksi berita peternakan beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan, kenaikan harga DOC dan pakan yang terjadi secara simultan menjadi ujian berat. Namun, dengan adanya stabilisasi harga, peternak bisa bernapas lega. Permindo berharap langkah ini tidak berhenti pada pengumuman, melainkan diimplementasikan secara konsisten di lapangan.
Tantangan Berat Dunia Perunggasan
Meski ada angin segar, Heri juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan masih sangat berat. “Dunia perunggasan kita menghadapi tekanan dari berbagai sisi. Mulai dari fluktuasi harga input, perubahan permintaan pasar, hingga ancaman penyakit unggas,” jelasnya. Karena itu, soliditas antar stakeholder menjadi kunci utama.
Soliditas Pelaku Usaha dan Pemerintah
Heri mendorong semua pihak, baik pelaku usaha besar, menengah, kecil, maupun pemerintah, untuk bersama-sama menjaga iklim usaha tetap kondusif. Menurutnya, tidak ada satu pun entitas yang bisa berdiri sendiri dalam menghadapi gejolak berita peternakan yang terus berubah. “Kita harus bergotong royong. Pemerintah sebagai regulator, pelaku besar sebagai motor, dan peternak kecil sebagai tulang punggung,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan dan penindakan. “Pemerintah harus tegas mengambil langkah ketika ada oknum yang tidak mendukung upaya stabilisasi harga daging ayam dan telur. Jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan sesaat,” tambah Heri.
Langkah Tegas Pemerintah Diperlukan
Permindo menilai pemerintah perlu memiliki backup plan jika kebijakan stabilisasi harga tidak berjalan mulus. Beberapa opsi yang diusulkan antara lain:
Pengawasan ketat distribusi DOC dan pakan
Operasi pasar untuk menjaga harga acuan di tingkat peternak
Insentif bagi peternak yang bertahan di tengah kenaikan biaya produksi
Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat mencegah praktik spekulasi yang merugikan peternak rakyat. “Kami tidak ingin upaya stabilisasi hanya menjadi wacana. Buktikan dengan aksi nyata,” kata Heri.
Peran Media dalam Menyebarkan Informasi
Dalam konteks berita peternakan, media memiliki peran strategis untuk menyampaikan informasi yang akurat dan terkini. Peternak kecil di daerah sering kali kesulitan mengakses data harga dan kebijakan terbaru. Oleh karena itu, pemberitaan yang jelas dan mudah dipahami sangat membantu mereka mengambil keputusan bisnis.
Heri mengapresiasi media yang konsisten meliput isu perunggasan, termasuk redaksi berita peternakan yang rutin menginformasikan perkembangan harga dan kebijakan. “Kami berharap sinergi ini terus terjalin agar peternak rakyat tidak buta informasi,” pungkasnya.
Harapan ke Depan: Peternak Mandiri dan Sejahtera
Apresiasi Permindo terhadap langkah stabilisasi harga ayam bukan sekadar basa-basi. Ini merupakan harapan agar ekosistem perunggasan nasional bisa lebih adil dan berkelanjutan. Dengan dukungan pemerintah, soliditas pelaku usaha, serta informasi yang transparan melalui berita peternakan, bukan tidak mungkin peternak rakyat bangkit dan mandiri.
Heri Irawan menutup pernyataannya dengan optimisme. “Kita semua punya tanggung jawab. Pemerintah, pengusaha, peternak, dan media. Mari jadikan momentum ini awal kebangkitan sejati peternak rakyat Indonesia.”
Liputan ini merupakan bagian dari rangkaian reportase khusus tentang industri perunggasan nasional. Pantau terus berita peternakan untuk informasi terkini seputar pasar ayam dan telur.
Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat kebijakan pengelolaan produksi ayam ras nasional sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi keberlangsungan usaha peternak rakyat. Upaya ini dilakukan melalui penataan pemasukan bibit ayam secara terukur, adaptif, dan berbasis kebutuhan pasar.
Langkah ini menjadi krusial di tengah dinamika industri perunggasan nasional yang kerap mengalami fluktuasi harga akibat ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan. Dengan pengaturan yang lebih presisi, pemerintah berharap stabilitas pasar dapat terjaga secara berkelanjutan.
Evaluasi Produksi Ayam Nasional Triwulan I 2026
Penguatan kebijakan ini dibahas dalam Rapat Evaluasi Triwulan Pemasukan bibit ayam ras Grand Parent Stock (GPS) yang diselenggarakan pada 7 April 2026 secara virtual.
Dalam rapat tersebut, pemerintah mengevaluasi realisasi pemasukan bibit selama triwulan pertama tahun 2026 sekaligus menyusun strategi pengendalian produksi ke depan.
Berdasarkan data sementara:
Realisasi GPS broiler: 87.150 ekor DOC
Realisasi GPS layer: 2.995 ekor DOC
Data ini menjadi acuan penting dalam menyusun perencanaan produksi yang lebih akurat dan berkelanjutan, guna menghindari over supply maupun kekurangan pasokan di pasar.
Sinkronisasi Produksi dengan Kebutuhan Nasional
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian, Hary Suhada, menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan penyempurnaan tata kelola pemasukan bibit ayam.
Menurutnya, sinkronisasi antara perencanaan dan realisasi menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan produksi nasional.
“Perencanaan dan realisasi pemasukan GPS terus kami sinkronkan dengan kebutuhan nasional, sehingga pengaturan produksi dapat berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa jumlah produksi ayam di lapangan sesuai dengan kebutuhan konsumsi masyarakat, sehingga tidak terjadi tekanan harga yang merugikan peternak.
Peran Strategis National Stock Replacement (NSR)
Salah satu instrumen utama dalam pengendalian produksi ayam nasional adalah implementasi National Stock Replacement (NSR) yang mulai diterapkan sejak awal tahun 2026.
NSR berfungsi sebagai sistem pengaturan siklus produksi ayam melalui:
Penjadwalan pemasukan bibit
Pengaturan distribusi DOC
Pengendalian populasi ayam di pasar
Dengan sistem ini, produksi ayam dapat dikendalikan secara lebih terukur, sehingga fluktuasi harga dapat diminimalkan.
Bagi peternak rakyat, penerapan NSR memberikan dampak positif berupa:
Kepastian siklus produksi
Stabilitas harga di tingkat kandang
Keberlanjutan usaha yang lebih terjamin
Peningkatan Kualitas Bibit dan Daya Saing Nasional
Selain fokus pada kuantitas produksi, Kementan juga mendorong peningkatan kualitas bibit ayam ras nasional.
Upaya ini dilakukan melalui:
Penguatan mutu genetik
Peningkatan performa produksi
Standarisasi kualitas bibit
Dengan kualitas bibit yang lebih baik, produktivitas peternak dapat meningkat, sehingga mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional.
Peluang Impor GPS dari Negara Mitra
Dalam rangka menjaga ketersediaan bibit unggul, pemerintah juga membuka peluang impor GPS dari beberapa negara mitra yang telah memiliki kesepakatan harmonisasi dengan Indonesia, seperti:
Australia
United Kingdom
Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat pasokan bibit ayam ras nasional sekaligus menjaga keberlanjutan produksi dalam negeri.
Pentingnya Keseimbangan Produksi dan Pasar
Pakar Tim Analisa Penyediaan dan Kebutuhan Ayam Ras dan Telur Konsumsi, Trioso Purnawarman, menekankan bahwa keseimbangan produksi menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas pasar.
Menurutnya, distribusi NSR harus dilakukan secara proporsional agar tidak terjadi ketimpangan pasokan.
“Sebaran NSR perlu dijaga agar tetap proporsional, sehingga kesinambungan pasokan dan stabilitas pasar dapat terjaga,” jelasnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Dawami, juga menyoroti pentingnya pengelolaan produksi yang tepat.
“Dengan pengaturan produksi yang baik, stabilitas harga dapat tetap terjaga sehingga memberikan kepastian bagi peternak dan konsumen,” ujarnya.
Komitmen Pemerintah Melindungi Peternak Rakyat
Kementerian Pertanian menegaskan bahwa penguatan tata kelola produksi ayam ras merupakan bagian dari tanggung jawab negara dalam:
Melindungi peternak rakyat
Menjaga stabilitas harga ayam hidup
Menjamin keterjangkauan protein hewani bagi masyarakat
Dengan kebijakan yang semakin presisi, pemerintah optimistis sektor perunggasan nasional akan menjadi lebih stabil dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Penguatan pengaturan produksi ayam melalui kebijakan seperti NSR dan pengendalian pemasukan GPS menjadi langkah strategis dalam menjaga keseimbangan industri perunggasan nasional.
Jika implementasi kebijakan ini berjalan konsisten dan tepat sasaran, maka:
Harga ayam akan lebih stabil
Peternak rakyat terlindungi dari kerugian
Pasokan protein hewani tetap terjaga
Ke depan, sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan peternak menjadi kunci utama dalam menciptakan ekosistem perunggasan yang sehat, adil, dan berkelanjutan di Indonesia.
Industri broiler di Indonesia dikenal memiliki pola yang berulang dan sebenarnya dapat diprediksi. Meskipun bagi sebagian orang pergerakan harga ayam terlihat fluktuatif dan sulit ditebak, bagi pelaku usaha yang memahami siklusnya, arah pasar justru bisa dibaca sejak jauh hari.
Hal ini dimungkinkan karena ayam broiler memiliki siklus produksi yang relatif singkat, yaitu sekitar 30–35 hari dari DOC (Day Old Chick) hingga panen. Artinya, perubahan supply ayam yang terjadi hari ini sebenarnya sudah ditentukan sekitar satu bulan sebelumnya.
Dalam praktiknya, ada empat faktor utama yang sangat mempengaruhi pergerakan industri broiler di Indonesia, yaitu:
Harga dan ketersediaan DOC
Jumlah chick in
Harga pakan
Struktur industri yang didominasi integrator besar
Keempat faktor ini saling berinteraksi dan membentuk siklus yang terus berulang dalam industri perunggasan nasional.
DOC: Titik Awal Seluruh Siklus Broiler
DOC (Day Old Chick) merupakan titik awal dari seluruh rantai produksi ayam broiler. Harga dan ketersediaan DOC sering menjadi indikator paling awal dari kondisi supply ayam di masa depan.
Sinyal Awal dari Pasar DOC
Ketika harga DOC turun tajam dan mudah didapat tanpa sistem booking, biasanya ini menandakan bahwa hatchery sedang mengalami kelebihan produksi. Dalam kondisi ini, perusahaan pembibitan berusaha mendorong distribusi DOC ke pasar agar stok terserap.
Beberapa tanda yang sering muncul di lapangan antara lain:
Harga DOC turun drastis
Tidak perlu booking untuk mendapatkan DOC
Adanya diskon atau bonus DOC
Sales hatchery lebih agresif menawarkan
Bagi peternak, kondisi ini sering dianggap sebagai peluang karena biaya awal terlihat lebih murah. Namun justru di sinilah awal dari potensi masalah berikutnya.
Chick In Serempak: Awal Terjadinya Oversupply
Ketika DOC murah dan mudah didapat, banyak peternak melakukan chick in secara bersamaan.
Secara jangka pendek, keputusan ini terlihat rasional. Namun dalam skala nasional, hal ini menciptakan efek domino.
Dampaknya
Chick in meningkat secara serempak
Ayam tumbuh dan dipanen dalam waktu yang hampir bersamaan
Supply ayam melonjak dalam satu periode
Sekitar 30–35 hari kemudian, pasar akan dibanjiri ayam hidup (livebird/LB) dalam jumlah besar.
Jika permintaan tidak mampu menyerap lonjakan supply ini, maka yang terjadi adalah:
➡ Harga ayam jatuh ➡ Peternak kehilangan daya tawar
Harga Live Bird: Titik Tekanan Pasar
Ketika terjadi oversupply, posisi tawar di pasar berubah.
Pihak yang memiliki akses pasar seperti:
Pedagang besar
Broker
Rumah Potong Ayam (RPA)
akan memiliki kendali lebih besar terhadap harga.
Apa yang Terjadi di Lapangan?
Harga LB mulai ditekan
Peternak dipaksa menjual
Terjadi panic selling
Karena ayam tidak bisa disimpan lama dan biaya pakan terus berjalan setiap hari, peternak tidak memiliki banyak pilihan selain menjual, meskipun dalam kondisi rugi.
Harga Pakan: Tekanan dari Sisi Biaya
Di sisi lain, harga pakan sering bergerak tidak sejalan dengan harga ayam.
Pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi, mencapai sekitar 70%.
Faktor yang Mempengaruhi Harga Pakan
Harga jagung domestik
Harga soybean meal (SBM) impor
Nilai tukar dolar
Kebijakan impor pemerintah
Biaya logistik
Selain itu, faktor global juga dapat berpengaruh secara tidak langsung.
Ketegangan geopolitik seperti antara United States dan Iran dapat mempengaruhi rantai pasok global dan nilai tukar, yang pada akhirnya berdampak pada harga bahan baku pakan.
Namun dalam praktiknya, faktor paling dominan tetap berasal dari dalam negeri, terutama harga jagung dan kebijakan impor.
Struktur Industri: Dominasi Integrator Besar
Yang membuat industri broiler di Indonesia semakin kompleks adalah struktur industrinya.
Sebagian besar rantai produksi dikuasai oleh perusahaan integrator besar seperti:
Charoen Pokphand Indonesia
Japfa Comfeed Indonesia
Malindo Feedmill
Perusahaan-perusahaan ini menguasai hampir seluruh rantai produksi:
Breeding farm
Hatchery DOC
Pabrik pakan
Kemitraan peternak
Rumah potong ayam
Distribusi
Dampaknya
Keputusan mereka, terutama terkait:
Setting telur
Produksi DOC
secara tidak langsung akan menentukan jumlah ayam yang masuk ke pasar nasional beberapa minggu ke depan.
Peran Pemerintah dalam Stabilitas Pasar
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia juga memiliki peran dalam menjaga stabilitas industri.
Beberapa kebijakan yang sering dilakukan antara lain:
Pemotongan telur tetas (cutting HE)
Pengaturan populasi
Intervensi saat harga jatuh
Namun, efektivitas kebijakan ini sering bergantung pada timing dan implementasi di lapangan.
Empat Indikator Utama Membaca Pasar Broiler
Dalam praktiknya, pelaku industri biasanya fokus pada empat indikator utama:
1. Harga DOC
Indikator awal supply ayam 30–35 hari ke depan.
2. Jumlah Chick In
Menentukan jumlah ayam yang akan dipanen.
3. Harga Live Bird
Menunjukkan kondisi pasar saat ini.
4. Tren Harga Pakan
Menentukan reaksi peternak terhadap produksi.
Pola Sederhana yang Sering Terjadi
Beberapa pola yang sering terjadi di industri broiler:
DOC murah + chick in naik ➡ 1 bulan kemudian harga ayam turun
DOC langka + chick in turun ➡ 1 bulan kemudian harga ayam naik
Pakan naik + DOC turun ➡ Peternak mengurangi produksi ➡ Supply turun ➡ Harga ayam naik
Analisa Strategis Kondisi Saat Ini
Jika melihat kondisi yang sering terjadi di lapangan:
DOC sedang turun
Stok DOC berpotensi menipis dalam 2 minggu
Harga pakan mulai naik
Maka ada kemungkinan besar terjadi skenario berikut:
➡ Peternak mulai mengurangi chick in ➡ 1 bulan kemudian supply ayam berkurang ➡ Harga livebird berpotensi naik
Estimasi Waktu
2 minggu: perubahan di DOC
4–6 minggu: dampak ke harga ayam
Strategi untuk Peternak
Dalam menghadapi siklus ini, peternak perlu lebih strategis dan tidak hanya mengikuti arus pasar.
Beberapa pendekatan yang bisa dilakukan:
1. Jangan ikut euforia DOC murah Karena ini sering menjadi awal oversupply.
2. Perhatikan tren chick in nasional Bukan hanya kondisi kandang sendiri.
3. Waspada saat harga ayam tinggi Karena biasanya itu mendekati puncak siklus.
4. Manfaatkan momentum saat supply mulai turun Ini biasanya menjadi fase terbaik untuk panen.
Kesimpulan
Industri broiler di Indonesia bukanlah pasar yang sepenuhnya acak. Pergerakan harga ayam sebenarnya merupakan hasil dari interaksi kompleks antara:
Siklus biologis ayam
Perilaku peternak
Dinamika harga pakan
Struktur industri yang didominasi integrator
Beberapa poin penting yang perlu dipahami:
1️⃣ Geopolitik global bukan faktor utama, tetapi tetap berpengaruh secara tidak langsung 2️⃣ Harga pakan sangat ditentukan oleh jagung, SBM, kurs dolar, dan kebijakan impor 3️⃣ Kombinasi DOC turun dan pakan naik sering menjadi sinyal bullish untuk harga ayam
Proyeksi Pasar
Jika kondisi saat ini:
DOC turun
Pakan naik
Stok DOC mulai terbatas
Maka probabilitas yang cukup kuat adalah:
➡ Harga ayam berpotensi membaik dalam 4–6 minggu ke depan
Penutup
Memahami siklus broiler bukan hanya soal teori, tetapi menjadi kunci bertahan dalam industri yang sangat dinamis ini.
Peternak yang mampu membaca sinyal lebih awal akan memiliki keunggulan besar dibanding yang hanya mengikuti arus pasar.
Karena pada akhirnya, dalam industri broiler:
Yang bertahan bukan yang paling besar, tetapi yang paling paham siklus.
Contains information related to marketing campaigns of the user. These are shared with Google AdWords / Google Ads when the Google Ads and Google Analytics accounts are linked together.
90 days
__utma
ID used to identify users and sessions
2 years after last activity
__utmt
Used to monitor number of Google Analytics server requests
10 minutes
__utmb
Used to distinguish new sessions and visits. This cookie is set when the GA.js javascript library is loaded and there is no existing __utmb cookie. The cookie is updated every time data is sent to the Google Analytics server.
30 minutes after last activity
__utmc
Used only with old Urchin versions of Google Analytics and not with GA.js. Was used to distinguish between new sessions and visits at the end of a session.
End of session (browser)
__utmz
Contains information about the traffic source or campaign that directed user to the website. The cookie is set when the GA.js javascript is loaded and updated when data is sent to the Google Anaytics server
6 months after last activity
__utmv
Contains custom information set by the web developer via the _setCustomVar method in Google Analytics. This cookie is updated every time new data is sent to the Google Analytics server.
2 years after last activity
__utmx
Used to determine whether a user is included in an A / B or Multivariate test.
18 months
_ga
ID used to identify users
2 years
_gali
Used by Google Analytics to determine which links on a page are being clicked
30 seconds
_ga_
ID used to identify users
2 years
_gid
ID used to identify users for 24 hours after last activity
24 hours
_gat
Used to monitor number of Google Analytics server requests when using Google Tag Manager