Connect with us

Berita

Harga Ayam Hidup Anjlok ke Rp18.500, HPP Sudah Rp22.000: Peternak Rakyat Kembali Tertekan

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Pendahuluan

Industri perunggasan nasional kembali menghadapi tekanan berat. Setelah sempat stabil selama periode Ramadan, harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak kini mengalami penurunan tajam pasca Lebaran 2026.

Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp24.000/kg kini anjlok hingga menyentuh Rp18.500/kg. Kondisi ini menjadi pukulan keras bagi peternak rakyat, karena di saat yang sama biaya produksi justru meningkat.

Dengan Harga Pokok Produksi (HPP) yang telah mencapai Rp22.000/kg, banyak peternak kini harus menjual ayam di bawah biaya produksi, yang berarti mengalami kerugian langsung di setiap kilogram yang dijual.


Harga Ayam Anjlok, Peternak Rugi Rp4.000 per Kg

Berdasarkan laporan lapangan, harga ayam hidup di kandang saat ini berada di kisaran Rp18.000–Rp18.500 per kilogram.

Sementara itu, biaya produksi terus meningkat, terutama akibat kenaikan harga pakan dan biaya bibit. HPP saat ini telah mencapai sekitar Rp22.000/kg.

Artinya, peternak mengalami kerugian sekitar Rp3.500–Rp4.000/kg.

Dalam skala usaha, kerugian ini sangat signifikan. Misalnya:

  • Populasi 10.000 ekor
  • Bobot rata-rata 1,8 kg
  • Kerugian ± Rp4.000/kg

➡ Total kerugian bisa mencapai Rp72 juta per siklus

Ini bukan sekadar penurunan harga, tetapi kondisi krisis bagi peternak mandiri.


Penyebab Utama: Over Supply Pasca Lebaran

Salah satu penyebab utama anjloknya harga ayam adalah kelebihan pasokan (over supply) di pasar.

Setelah periode Lebaran, konsumsi masyarakat cenderung menurun drastis. Namun di sisi lain, produksi ayam tetap tinggi karena siklus produksi tidak bisa dihentikan secara instan.

Akibatnya:

  • Ayam siap panen menumpuk di kandang
  • Pasar tidak mampu menyerap seluruh produksi
  • Harga turun secara cepat

Data menunjukkan adanya peningkatan stok ayam di beberapa wilayah sentra produksi, yang semakin memperparah kondisi pasar.

Fenomena ini merupakan pola klasik dalam industri broiler Indonesia.


Daya Beli Melemah, Serapan Pasar Tidak Optimal

Selain faktor supply, sisi demand juga mengalami tekanan.

Setelah Ramadan dan Idul Fitri, daya beli masyarakat cenderung menurun karena:

  • Pengeluaran tinggi selama Lebaran
  • Penyesuaian konsumsi rumah tangga
  • Belum pulihnya ekonomi pasca momen musiman

Akibatnya, serapan ayam di pasar tradisional maupun industri pengolahan tidak maksimal.

Bahkan, beberapa program penyerapan seperti distribusi pangan atau industri pengolahan belum mampu mengimbangi lonjakan supply yang ada.


Faktor Tambahan: Program MBG Belum Berjalan

Salah satu faktor yang turut memperparah kondisi adalah belum optimalnya penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program ini sebelumnya diharapkan menjadi salah satu penopang demand ayam nasional. Namun ketika program belum berjalan maksimal, maka:

  • Pasar kehilangan salah satu saluran distribusi
  • Ayam yang seharusnya terserap menjadi tertahan di kandang

Akibatnya terjadi penumpukan ayam, terutama ukuran besar (2,0 kg ke atas), yang justru semakin menekan harga di pasar.


Kenaikan Biaya Produksi: Tekanan Ganda bagi Peternak

Yang membuat kondisi ini semakin berat adalah kenaikan biaya produksi.

1. Harga Pakan Naik

Harga pakan mengalami kenaikan sekitar Rp200/kg sejak awal April 2026.

Padahal, pakan menyumbang sekitar 70% dari total biaya produksi.

2. Harga DOC Masih Tinggi

Harga DOC masih berada di kisaran Rp6.800–Rp7.500 per ekor.

Dampaknya

  • HPP meningkat hingga Rp22.000/kg
  • Margin peternak tergerus
  • Risiko kerugian semakin besar

Ini menciptakan kondisi yang sering disebut sebagai “double pressure”:

  • Harga jual turun
  • Biaya produksi naik

Dampak Langsung ke Peternak Rakyat

Kondisi ini paling dirasakan oleh peternak mandiri (rakyat), karena:

  • Modal terbatas
  • Tidak memiliki integrasi pasar
  • Tidak memiliki kontrak harga

Dampak yang mulai terlihat:

  • Banyak peternak mengurangi chick in
  • Kandang mulai dikosongkan
  • Arus kas terganggu

Jika kondisi ini berlangsung lama, bukan tidak mungkin:

➡ Peternak kecil akan keluar dari usaha
➡ Produksi nasional terganggu di masa depan


Pola Siklus: Kenapa Ini Terus Terjadi?

Jika dilihat dari perspektif siklus broiler, kondisi ini sebenarnya bukan hal baru.

Pola yang terjadi:

  • Sebelum Lebaran → permintaan tinggi → produksi ditingkatkan
  • Setelah Lebaran → permintaan turun → supply tetap tinggi
  • Terjadi over supply → harga jatuh

Ini adalah siklus yang berulang hampir setiap tahun.

Namun yang menjadi masalah adalah:
➡ Tidak adanya kontrol produksi yang terintegrasi secara nasional


Potensi Pergerakan Harga ke Depan

Jika mengikuti pola siklus broiler:

Kondisi Saat Ini

  • Harga LB turun
  • Peternak mulai mengurangi chick in

Prediksi 1–2 Bulan ke Depan

  • Supply ayam akan berkurang
  • Harga LB berpotensi naik kembali

Ini merupakan siklus alami pasar.

Namun, pemulihan harga sangat bergantung pada:

  • Kecepatan pengurangan supply
  • Pemulihan demand
  • Intervensi pemerintah

Harapan Peternak: Harga Minimal Rp24.000/kg

Agar usaha tetap berjalan, peternak berharap harga ayam hidup bisa kembali ke level normal, yaitu sekitar Rp23.000–Rp24.000/kg.

Harga tersebut dianggap sebagai titik aman:

  • Menutup biaya produksi
  • Memberikan margin keuntungan wajar

Tanpa perbaikan harga, peternak akan terus berada dalam kondisi merugi.


Perlukah Intervensi Pemerintah?

Banyak pihak menilai bahwa kondisi ini membutuhkan intervensi pemerintah, terutama dalam:

  • Pengendalian supply DOC
  • Pengawasan integrator besar
  • Penyerapan ayam melalui program pemerintah
  • Stabilitas harga di tingkat peternak

Tanpa intervensi, pasar cenderung bergerak liar mengikuti mekanisme supply-demand yang tidak seimbang.


Kesimpulan

Anjloknya harga ayam hidup ke level Rp18.500/kg di tengah HPP Rp22.000/kg menjadi bukti bahwa industri broiler nasional masih menghadapi masalah struktural yang belum terselesaikan.

Penyebab utamanya meliputi:

  • Over supply pasca Lebaran
  • Lemahnya daya serap pasar
  • Kenaikan biaya produksi
  • Ketidakseimbangan supply-demand

Dampaknya sangat nyata:

  • Peternak merugi hingga Rp4.000/kg
  • Produksi mulai dikurangi
  • Risiko krisis peternak rakyat semakin besar

Jika tidak ada perbaikan sistemik, siklus ini akan terus berulang dan semakin menekan peternak kecil.

Namun di balik kondisi ini, tetap ada peluang:

➡ Ketika supply mulai turun, harga berpotensi naik kembali dalam 1–2 bulan ke depan

Pertanyaannya adalah:

Apakah peternak masih mampu bertahan sampai titik itu?

Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas

Berita

berita peternakan

Avatar photo

Published

on

Spread the love

berita peternakan

berita peternakan

PERMINDO berpandangan bahwa posisi Wakil Menteri Pertanian yang saat ini kosong merupakan momentum penting bagi pemerintah untuk memperkuat keberpihakan terhadap peternak rakyat Indonesia.

Kami berharap figur yang akan mengisi posisi tersebut adalah sosok yang memiliki integritas, independensi, memahami persoalan riil peternak di lapangan, serta bebas dari potensi konflik kepentingan yang dapat memengaruhi kebijakan perunggasan nasional.

Peternak rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu memastikan tata kelola sektor pertanian dan perunggasan berjalan secara adil, transparan, dan berpihak pada keberlangsungan usaha peternak mandiri.

PERMINDO tidak mempersoalkan siapa pun secara pribadi. Namun kami mengingatkan bahwa jabatan publik harus diisi oleh figur yang mengutamakan kepentingan bangsa, ketahanan pangan, dan kesejahteraan peternak rakyat di atas kepentingan kelompok usaha tertentu.

Inilah saatnya pemerintah menghadirkan kepemimpinan yang benar-benar mendengar suara peternak rakyat.

Continue Reading

Berita

Berita Peternakan: Pakan Meroket, Peternak Tertekan

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Berita Peternakan: Pakan Meroket, Peternak Tertekan

Berita Peternakan: Pakan Meroket, Peternak Tertekan

Industri peternakan Indonesia saat ini menghadapi badai serius. Berita peternakan kali ini mengupas krisis yang melanda sektor pakan ternak, khususnya ayam petelur dan ayam potong. Harga pokok produksi yang tak terkendali membuat peternak rakyat mandiri kesulitan bertahan. Kebijakan impor satu pintu melalui PT Berdikari BUMN justru memperparah keadaan. Simak laporan lengkapnya.

Krisis Harga Pakan Ternak Makin Dalam

Dalam beberapa bulan terakhir, harga bahan baku pakan ternak meroket tajam. Soybean meal, salah satu komponen utama pakan, mengalami kenaikan lebih dari Rp2.000 per kilogram. Kenaikan ini dipicu oleh kebijakan impor satu pintu yang diterapkan pemerintah. Peternak rakyat mandiri menjadi pihak yang paling terpukul.

“Kami tidak sanggup lagi. Harga pakan naik terus, tapi harga jual live bird justru turun. Selisihnya terlalu jauh,” ujar Slamet, peternak ayam potong di Jawa Barat. Ia mengaku modal produksi setiap siklus semakin besar, sementara pendapatan tidak sebanding.

Data dari Asosiasi Peternak Ayam Mandiri menunjukkan bahwa harga pokok produksi (HPP) ayam potong kini berkisar Rp20.000–Rp22.000 per kilogram. Namun harga jual di tingkat peternak hanya Rp17.000–Rp18.000 per kilogram. Artinya, setiap kilogram ayam yang dijual, peternak merugi hingga Rp4.000.

Dampak bagi Peternak Rakyat

Peternak rakyat mandiri adalah tulang punggung sektor peternakan nasional. Mereka mengelola usaha secara mandiri tanpa mitra integrator. Namun, krisis kali ini memaksa banyak dari mereka gulung tikar. Berita peternakan mencatat setidaknya 30% peternak mandiri di Pulau Jawa sudah berhenti berproduksi dalam tiga bulan terakhir.

Berikut dampak langsung yang dirasakan peternak:

  • Beban operasional membengkak – Biaya pakan mencapai 70% dari total biaya produksi. Kenaikan harga soybean meal langsung menghantam margin.
  • Harga jual anjlok – Permintaan pasar yang stagnan membuat harga live bird tidak mampu menutupi HPP.
  • Utang menumpuk – Banyak peternak terpaksa meminjam dari rentenir atau koperasi dengan bunga tinggi untuk membeli pakan.
  • Produksi menurun drastis – Peternak mengurangi jumlah ayam yang dipelihara atau memperpanjang waktu panen.

Kondisi ini tidak hanya mengancam kelangsungan usaha peternak, tetapi juga pasokan daging ayam nasional. Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berpotensi mengalami defisit produksi ayam potong.

Kebijakan Impor Satu Pintu Menuai Kritik

Kebijakan impor satu pintu melalui PT Berdikari BUMN awalnya bertujuan menstabilkan harga pakan. Namun faktanya, harga soybean meal justru melonjak. Para pengamat menilai sistem ini menciptakan monopoli yang tidak efisien. Berita peternakan mengungkap bahwa harga soybean meal di pasar domestik kini lebih tinggi Rp2.000–Rp3.000 per kilogram dibandingkan harga internasional.

“Seharusnya impor satu pintu bisa menekan harga, bukan sebaliknya. Yang terjadi, peternak dibebani biaya tambahan tanpa transparansi,” kata Ahmad Fauzi, ekonom pertanian dari Universitas Gadjah Mada. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini perlu dievaluasi segera.

Selain itu, peternak juga mengeluhkan sulitnya akses terhadap pakan impor. Proses birokrasi yang panjang membuat pasokan terlambat tiba. Akibatnya, peternak terpaksa membeli pakan dari pedagang perantara dengan harga lebih mahal.

Peran PT Berdikari BUMN

PT Berdikari sebagai BUMN yang ditunjuk sebagai satu-satunya importir soybean meal dinilai kurang responsif. Distribusi pakan tidak merata, terutama ke daerah-daerah sentra peternakan. Peternak di luar Jawa seringkali menerima pakan dengan harga lebih tinggi karena biaya logistik.

“Kami di Sumatera harus bayar ongkos kirim sendiri. Itu bikin harga pakan semakin tidak terjangkau,” keluh Rudi, peternak ayam petelur di Lampung. Ia berharap pemerintah membuka kembali izin impor bagi perusahaan swasta agar persaingan harga kembali sehat.

Harapan dan Solusi ke Depan

Menghadapi krisis ini, peternak dan asosiasi telah mengajukan sejumlah permintaan kepada pemerintah. Berita peternakan merangkum beberapa solusi yang diusulkan:

  • Deregulasi impor pakan – Membuka kembali izin impor untuk perusahaan swasta guna menekan harga.
  • Subsidi pakan langsung – Memberikan bantuan langsung kepada peternak rakyat mandiri, misalnya dalam bentuk paket pakan murah.
  • Penetapan harga atap – Pemerintah perlu menetapkan harga maksimal soybean meal agar tidak merugikan peternak.
  • Pengawasan distribusi – Memastikan pakan impor sampai ke tangan peternak dengan harga wajar dan tepat waktu.

Di sisi lain, peternak juga didorong untuk diversifikasi pakan. Misalnya menggunakan bahan lokal seperti jagung, dedak, atau bungkil kelapa sebagai campuran. Namun kapasitas produksi bahan baku lokal masih terbatas. Pemerintah perlu memperkuat sektor hulu agar ketergantungan pada impor berkurang.

“Kami butuh kebijakan yang pro-peternak rakyat. Jangan sampai hanya menguntungkan segelintir pihak,” tegas Ketua Asosiasi Peternak Ayam Mandiri, Haryanto. Ia optimistis jika pemerintah mendengar aspirasi peternak, industri peternakan bisa bangkit kembali.

Kesimpulan

Berita peternakan kali ini menggambarkan betapa gentingnya situasi di lapangan. Kenaikan harga pakan akibat kebijakan impor satu pintu menjadi momok bagi peternak rakyat. Tanpa langkah konkret, ribuan peternak mandiri terancam kehilangan mata pencaharian. Pemerintah harus segera turun tangan, bukan hanya untuk menyelamatkan peternak, tetapi juga menjaga ketahanan pangan nasional.

Kami akan terus memantau perkembangan berita peternakan ini. Apakah ada perubahan kebijakan? Bagaimana nasib peternak ke depan? Ikuti terus laporan kami.

Continue Reading

Berita

Berita Peternakan: Krisis Pakan Ternak

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Berita Peternakan: Krisis Pakan Ternak

Berita Peternakan: Krisis Pakan Ternak

Industri pakan ternak tengah menghadapi badai. Harga pokok produksi melonjak drastis, sementara harga jual live bird tak bergerak signifikan. Situasi ini sangat memberatkan peternak rakyat mandiri. Kebijakan impor pakan satu pintu melalui PT Berdikari BUMN menjadi pemicu utama. Kenaikan harga soybean meal mencapai lebih dari Rp2.000 per kilogram. Berita peternakan ini mengungkap betapa tertekannya para peternak di lapangan.

Lonjakan Harga Pakan Hantam Peternak Mandiri

Harga pakan ayam petelur dan ayam potong terus meroket. Peternak rakyat yang selama ini bergantung pada pakan impor merasakan dampaknya. Mereka tak mampu lagi menanggung beban produksi yang membengkak. Kebijakan impor satu pintu melalui PT Berdikari membuat rantai pasok semakin mahal. Akibatnya, harga soybean meal—salah satu bahan baku utama pakan—melonjak tajam.

Dampak Kebijakan Impor Satu Pintu

Kebijakan ini dinilai tidak berpihak pada peternak kecil. Dengan hanya satu pintu impor, harga bisa dikendalikan sepihak. PT Berdikari sebagai BUMN seharusnya menjaga stabilitas harga. Namun kenyataannya, justru terjadi lonjakan hingga Rp2.000 per kg soybean meal. Peternak mengeluh karena biaya pakan kini mencapai 70 persen dari total biaya produksi.

Perbandingan HPP dan Harga Jual yang Timpang

Harga pokok produksi (HPP) ayam potong terus naik. Saat ini, HPP diperkirakan Rp25.000 per kg, sementara harga jual live bird hanya Rp18.000-Rp20.000 per kg. Selisih yang besar membuat peternak merugi. Begitu pula dengan ayam petelur. Harga telur tak kunjung naik seiring kenaikan pakan. Para peternak hidup dalam tekanan ekonomi yang berat.

Peternak Terjepit di Antara Biaya dan Pendapatan

Beban operasional peternak mandiri meningkat drastis. Mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk pakan, sementara pendapatan stagnan. Banyak peternak mulai mengurangi populasi ayam atau bahkan berhenti berproduksi. Jika tidak ada perubahan kebijakan, ribuan peternak rakyat terancam gulung tikar. Berita peternakan ini menggambarkan situasi yang sangat kritis.

Beban Operasional Meningkat Tajam

Selain soybean meal, bahan baku lain seperti jagung dan bungkil kedelai juga ikut naik. Peternak yang biasa membeli pakan siap pakai harus merogoh kocek lebih dalam. Seorang peternak di Jawa Barat menuturkan, biaya pakan per ekor ayam potong naik 30 persen dalam setahun. “Kami tidak bisa menaikkan harga jual karena permintaan pasar rendah,” ujarnya.

Daya Tahan Peternak Makin Menipis

Banyak peternak mandiri yang sudah kehabisan modal. Mereka biasanya mengandalkan pinjaman bank atau koperasi. Namun dengan kerugian terus-menerus, cicilan pinjaman pun tak terbayar. Kondisi ini memicu gelombang PHK di sektor peternakan skala kecil. Jika tidak segera diatasi, rantai pasok ayam nasional bisa terganggu.

Mencari Solusi di Tengah Keterpurukan

Peternak dan asosiasi mendesak pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan impor satu pintu. Mereka meminta agar impor pakan dibuka kembali secara kompetitif. Dengan begitu, harga soybean meal bisa turun ke tingkat yang wajar. Berita peternakan mencatat beberapa alternatif yang mulai digulirkan.

Seruan Revisi Kebijakan Impor

Gabungan Perusahaan Peternakan Indonesia (GPPI) mengusulkan agar impor pakan tidak dimonopoli oleh satu BUMN. Mereka menilai persaingan pasar akan menekan harga. Selain itu, pengawasan terhadap PT Berdikari juga perlu diperketat. “Kami tidak anti-BUMN, tetapi kebijakan harus adil bagi semua,” ujar Ketua GPPI.

Alternatif Pakan Lokal

Sebagian peternak mulai beralih ke pakan lokal seperti dedak, ampas tahu, atau bungkil sawit. Namun kualitas dan konsistensi pasokan masih menjadi kendala. Penelitian tentang pakan alternatif perlu digencarkan. Pemerintah juga didorong memberikan subsidi pakan bagi peternak kecil. Diversifikasi pakan bisa menjadi solusi jangka panjang.

Krisis ini menjadi peringatan bagi seluruh pemangku kepentingan. Berita peternakan akan terus memantau perkembangan nasib peternak rakyat. Tanpa perubahan kebijakan yang cepat, sektor peternakan mandiri bisa ambruk. Peternak berharap ada terobosan dari pemerintah agar mereka bisa kembali bernapas lega.

  • Harga soybean meal naik Rp2.000/kg akibat kebijakan impor satu pintu.
  • HPP ayam potong Rp25.000/kg, harga jual hanya Rp18.000-Rp20.000/kg.
  • Peternak mandiri terancam gulung tikar jika tidak ada intervensi pemerintah.
  • Alternatif pakan lokal perlu dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan impor.

Berita peternakan ini menegaskan pentingnya keberpihakan pada peternak rakyat. Mereka adalah tulang punggung ketahanan pangan nasional. Jangan biarkan mereka terjepit oleh kebijakan yang tidak berpihak. Saatnya pemerintah mendengar suara peternak di lapangan.

Continue Reading

Trending