Connect with us

Berita

Berita Peternakan: Krisis Pakan Ternak

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Berita Peternakan: Krisis Pakan Ternak

Berita Peternakan: Krisis Pakan Ternak

Industri pakan ternak tengah menghadapi badai. Harga pokok produksi melonjak drastis, sementara harga jual live bird tak bergerak signifikan. Situasi ini sangat memberatkan peternak rakyat mandiri. Kebijakan impor pakan satu pintu melalui PT Berdikari BUMN menjadi pemicu utama. Kenaikan harga soybean meal mencapai lebih dari Rp2.000 per kilogram. Berita peternakan ini mengungkap betapa tertekannya para peternak di lapangan.

Lonjakan Harga Pakan Hantam Peternak Mandiri

Harga pakan ayam petelur dan ayam potong terus meroket. Peternak rakyat yang selama ini bergantung pada pakan impor merasakan dampaknya. Mereka tak mampu lagi menanggung beban produksi yang membengkak. Kebijakan impor satu pintu melalui PT Berdikari membuat rantai pasok semakin mahal. Akibatnya, harga soybean meal—salah satu bahan baku utama pakan—melonjak tajam.

Dampak Kebijakan Impor Satu Pintu

Kebijakan ini dinilai tidak berpihak pada peternak kecil. Dengan hanya satu pintu impor, harga bisa dikendalikan sepihak. PT Berdikari sebagai BUMN seharusnya menjaga stabilitas harga. Namun kenyataannya, justru terjadi lonjakan hingga Rp2.000 per kg soybean meal. Peternak mengeluh karena biaya pakan kini mencapai 70 persen dari total biaya produksi.

Perbandingan HPP dan Harga Jual yang Timpang

Harga pokok produksi (HPP) ayam potong terus naik. Saat ini, HPP diperkirakan Rp25.000 per kg, sementara harga jual live bird hanya Rp18.000-Rp20.000 per kg. Selisih yang besar membuat peternak merugi. Begitu pula dengan ayam petelur. Harga telur tak kunjung naik seiring kenaikan pakan. Para peternak hidup dalam tekanan ekonomi yang berat.

Peternak Terjepit di Antara Biaya dan Pendapatan

Beban operasional peternak mandiri meningkat drastis. Mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk pakan, sementara pendapatan stagnan. Banyak peternak mulai mengurangi populasi ayam atau bahkan berhenti berproduksi. Jika tidak ada perubahan kebijakan, ribuan peternak rakyat terancam gulung tikar. Berita peternakan ini menggambarkan situasi yang sangat kritis.

Beban Operasional Meningkat Tajam

Selain soybean meal, bahan baku lain seperti jagung dan bungkil kedelai juga ikut naik. Peternak yang biasa membeli pakan siap pakai harus merogoh kocek lebih dalam. Seorang peternak di Jawa Barat menuturkan, biaya pakan per ekor ayam potong naik 30 persen dalam setahun. “Kami tidak bisa menaikkan harga jual karena permintaan pasar rendah,” ujarnya.

Daya Tahan Peternak Makin Menipis

Banyak peternak mandiri yang sudah kehabisan modal. Mereka biasanya mengandalkan pinjaman bank atau koperasi. Namun dengan kerugian terus-menerus, cicilan pinjaman pun tak terbayar. Kondisi ini memicu gelombang PHK di sektor peternakan skala kecil. Jika tidak segera diatasi, rantai pasok ayam nasional bisa terganggu.

Mencari Solusi di Tengah Keterpurukan

Peternak dan asosiasi mendesak pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan impor satu pintu. Mereka meminta agar impor pakan dibuka kembali secara kompetitif. Dengan begitu, harga soybean meal bisa turun ke tingkat yang wajar. Berita peternakan mencatat beberapa alternatif yang mulai digulirkan.

Seruan Revisi Kebijakan Impor

Gabungan Perusahaan Peternakan Indonesia (GPPI) mengusulkan agar impor pakan tidak dimonopoli oleh satu BUMN. Mereka menilai persaingan pasar akan menekan harga. Selain itu, pengawasan terhadap PT Berdikari juga perlu diperketat. “Kami tidak anti-BUMN, tetapi kebijakan harus adil bagi semua,” ujar Ketua GPPI.

Alternatif Pakan Lokal

Sebagian peternak mulai beralih ke pakan lokal seperti dedak, ampas tahu, atau bungkil sawit. Namun kualitas dan konsistensi pasokan masih menjadi kendala. Penelitian tentang pakan alternatif perlu digencarkan. Pemerintah juga didorong memberikan subsidi pakan bagi peternak kecil. Diversifikasi pakan bisa menjadi solusi jangka panjang.

Krisis ini menjadi peringatan bagi seluruh pemangku kepentingan. Berita peternakan akan terus memantau perkembangan nasib peternak rakyat. Tanpa perubahan kebijakan yang cepat, sektor peternakan mandiri bisa ambruk. Peternak berharap ada terobosan dari pemerintah agar mereka bisa kembali bernapas lega.

  • Harga soybean meal naik Rp2.000/kg akibat kebijakan impor satu pintu.
  • HPP ayam potong Rp25.000/kg, harga jual hanya Rp18.000-Rp20.000/kg.
  • Peternak mandiri terancam gulung tikar jika tidak ada intervensi pemerintah.
  • Alternatif pakan lokal perlu dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan impor.

Berita peternakan ini menegaskan pentingnya keberpihakan pada peternak rakyat. Mereka adalah tulang punggung ketahanan pangan nasional. Jangan biarkan mereka terjepit oleh kebijakan yang tidak berpihak. Saatnya pemerintah mendengar suara peternak di lapangan.

Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Hari/Tanggal: Selasa, 27 Oktober 2026
Waktu: 14.00 WIB – selesai
Tempat: Kafe di depan Graha Gabah
Agenda: Pembahasan dan evaluasi pola kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat

I. Latar Belakang

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari membahas konsep, mekanisme, serta tantangan implementasi kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat. Pembahasan juga menjadi momentum untuk melakukan flashback terhadap pengalaman model kemitraan sebelumnya, termasuk referensi pembahasan MK-RI tahun 2016, sekaligus melihat relevansinya dengan kondisi Peternak Rakyat saat ini.

PERMINDO memandang kemitraan BUMN semestinya tidak hanya berorientasi pada keamanan bisnis perusahaan, tetapi juga menjalankan fungsi strategis dalam pemberdayaan, perlindungan, pembinaan, dan peningkatan kapasitas Peternak Rakyat.

II. Pokok-Pokok Pembahasan

1. Pola Kemitraan dan Pembiayaan

Dalam pola yang dibahas, Berdikari pada prinsipnya menyediakan DOC saja atau DOC + pakan. Beberapa komponen biaya menjadi tanggung jawab peternak, antara lain biaya OVK sekitar Rp500/ekor, biaya operasional sekitar Rp4.500/ekor, serta kandang dan sarana produksi. Hasil ayam hidup (LB) dibeli Berdikari berdasarkan harga kontrak. Model ini dapat menjadi pola kerja sama yang baik apabila terdapat keseimbangan antara risiko perusahaan, biaya produksi, kualitas sapronak, harga kontrak, dan margin yang diterima peternak.

2. Akses dan Seleksi Peternak Rakyat

Berdikari cenderung memilih calon mitra berdasarkan performance produksi, track record, kemampuan modal, dan kesiapan kandang, termasuk kandang closed house yang representatif. Pendekatan tersebut dapat dipahami dari sisi kehati-hatian bisnis, tetapi apabila diterapkan terlalu ketat, Peternak Rakyat konvensional dengan modal terbatas dan performance yang belum optimal akan sulit memperoleh akses. Kemitraan BUMN seharusnya tidak hanya memilih peternak yang sudah kuat, tetapi juga membina peternak agar menjadi lebih kuat dan naik kelas.

3. Prinsip Kehati-hatian dan Keterbatasan Pendampingan

Berdikari berkepentingan menjaga performance produksi dan menghindari risiko kerugian sebagai bagian dari tata kelola BUMN yang prudent. Di sisi lain, keterbatasan jumlah dan kapasitas tim pendamping dapat mendorong perusahaan lebih memilih mitra yang sudah memiliki modal, kandang memadai, dan track record baik. PERMINDO memandang prudential governance harus berjalan bersama fungsi pemberdayaan, melalui pola pendampingan bertahap agar peternak konvensional tidak langsung tersisih karena belum memenuhi standar awal.

4. Target Performance/IP

Dalam pembahasan terdapat penekanan bahwa peternak harus mencapai IP standar sekitar 350. Perhatian PERMINDO adalah bahwa Berdikari pada prinsipnya lebih menekankan hasil akhir IP dan tidak terlalu masuk pada bagaimana peternak mencapai angka tersebut. Peternak dapat melakukan berbagai upaya manajemen untuk mengejar IP, termasuk penambahan atau penggunaan pakan lebih banyak, selama target performance tercapai.

Kondisi tersebut perlu dievaluasi. IP seharusnya menjadi indikator hasil dari sistem produksi yang sehat, bukan sekadar angka yang harus dicapai dengan cara apa pun. Jika IP hanya menjadi target akhir, sementara kualitas DOC, kualitas pakan, kesehatan, OVK, mortalitas, FCR, kondisi kandang, manajemen pemeliharaan, dan dinamika kualitas sapronak tidak dievaluasi secara proporsional, akar persoalan performance produksi akan sulit diketahui. Target IP harus ditempatkan sebagai alat evaluasi, bukan sekadar target administratif.

5. Evaluasi Sapronak dan Beban Risiko Produksi

Kualitas DOC dan pakan dapat mengalami perubahan. Karena itu, tuntutan pencapaian IP tanpa evaluasi menyeluruh terhadap input produksi berpotensi menempatkan beban pencapaian performance terlalu besar pada peternak. Kemitraan yang sehat perlu melakukan evaluasi bersama terhadap kualitas DOC, kualitas dan konsumsi pakan, FCR, mortalitas, kesehatan dan OVK, manajemen kandang, kondisi lingkungan, biaya produksi, performance/IP, serta margin peternak.

Continue Reading

Berita

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

“Peternak rakyat sedang menghadapi tekanan ganda (cost-price squeeze): harga input, terutama pakan, meningkat sehingga HPP semakin tinggi, tetapi pada saat yang sama harga ayam hidup di tingkat peternak justru turun jauh di bawah biaya produksi.”

Ada 3 tindakan konkret yang perlu didorong ke pemerintah:

1. Aktifkan Penyerapan Darurat Ayam Hidup

Pemerintah/Bapanas segera mengumpulkan RPA/RPHU, BUMN pangan, integrator, koperasi, dan offtaker.

Tetapkan volume penyerapan harian/mingguan dari sentra yang harganya jatuh.

Penyerapan diarahkan ke karkas/frozen/captive market, bukan sekadar memindahkan ayam hidup dari satu broker ke broker lain.

Belum diusulkan atau belum ada penugasan dari pemerintah untuk peternak rakyat secara luas; yang sudah jalan hanya sebatas anggota kemitraan Berdikari saja.

2. Kurangi Supply DOC–FS

Lakukan pengendalian chick-in dan produksi DOC secara proporsional, termasuk perusahaan integrator dan kemitraan, berdasarkan data surplus-demand. Pengawasan lemah atau bahkan belum dilaksanakan.

3. Stabilisasi Harga Peternak

Terapkan mekanisme harga minimum sementara berbasis HPP; ketika LB jauh di bawah HPP, selisih tekanan ditangani melalui penyerapan dan pengurangan supply, bukan dibebankan seluruhnya kepada peternak.

Sudah dilakukan, tetapi belum berdampak pada realisasi.

Continue Reading

Berita

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

BOGOR — Peternak broiler rakyat kembali menghadapi tekanan biaya produksi. Memasuki November–Desember 2026, harga bahan baku pakan berpotensi naik ke Rp9.000–Rp10.000/kg. Harga jagung dan DOC juga masih menjadi beban peternak mandiri.

Kondisi ini dikhawatirkan menekan harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak. Biaya produksi naik, tetapi harga jual ayam tetap fluktuatif. Peternak pun menanggung risiko terbesar. Dalam berita peternakan nasional pekan ini, isu itu menjadi sorotan utama pelaku usaha unggas.

Biaya Produksi Naik, Peternak Rakyat Paling Rentan

PERMINDO menilai pemerintah perlu mengantisipasi kondisi ini sejak dini. Tekanan biaya produksi tidak boleh berubah menjadi kerugian berkepanjangan bagi peternak rakyat.

“Kalau pakan naik, DOC mahal dan terbatas, jangan sampai saat ayam panen justru harga livebird yang ditekan. Peternak tidak meminta harga tinggi, tetapi harga yang wajar dan mampu menutup biaya produksi,” ujar Sekretaris Jenderal PERMINDO, Heri Irawan.

Menurut Heri, struktur biaya produksi broiler sangat rentan terhadap gejolak pasar input. Pakan menyumbang porsi terbesar dalam total biaya. Kenaikan harga pakan langsung menggerus margin peternak. Terutama mereka yang mengelola kandang skala kecil dan menengah.

Selain pakan, harga DOC atau anak ayam umur sehari yang mahal dan terbatas turut memperbesar risiko. Peternak kerap bersaing memperoleh DOC berkualitas dengan harga tinggi pada periode permintaan puncak.

HAP Rp25.000/kg Harus Jadi Perlindungan Nyata

PERMINDO meminta pemerintah memastikan Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam ras pedaging di tingkat produsen sebesar Rp25.000/kg benar-benar berfungsi. HAP jangan hanya menjadi angka acuan tanpa implikasi di lapangan.

Menurut organisasi yang menaungi peternak broiler rakyat ini, HAP semestinya menjadi bagian dari mekanisme perlindungan harga. Tujuannya agar peternak tidak menjadi pihak terakhir yang menanggung seluruh beban kenaikan biaya.

“Jangan sampai pola yang sama berulang: input naik, HPP naik, tetapi ketika ayam panen harga LB turun. Kalau seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada peternak, keberlanjutan peternak rakyat akan semakin terancam,” tegas Heri Irawan.

Ia menegaskan, peternak tidak menuntut harga jual yang tinggi. Yang diminta adalah harga yang wajar, transparan, dan berkeadilan. Harga wajar berarti mampu menutup biaya produksi sekaligus memberi ruang usaha yang layak.

Lima Usulan PERMINDO kepada Pemerintah

Dalam pernyataan resminya, PERMINDO menyampaikan sejumlah usulan konkret agar gejolak harga tidak terus merugikan peternak. Usulan ini menyasar hulu hingga hilir industri broiler.

  • Menjaga harga livebird agar tidak jatuh jauh di bawah HAP Bapanas.
  • Mengevaluasi HPP broiler secara berkala berdasarkan harga aktual DOC, pakan, jagung, SBM, OVK, energi, dan biaya produksi lainnya.
  • Menjamin ketersediaan bahan baku pakan seperti SBM dan jagung pakan dengan harga yang wajar.
  • Memperkuat pengendalian keseimbangan supply-demand agar oversupply tidak terus dibebankan kepada peternak.
  • Membuka dialog rutin antara pemerintah, integrator, industri pakan, dan peternak mandiri sebelum gejolak harga membesar.

Evaluasi HPP Berbasis Data Aktual

Poin evaluasi HPP dinilai krusial. Perhitungan HPP perlu mencerminkan harga nyata di pasar, bukan asumsi lama yang sudah tidak relevan. Jika HPP tidak diperbarui, selisih biaya akan tetap ditanggung peternak.

Ketersediaan Jagung dan SBM

Ketersediaan jagung pakan dan SBM atau soybean meal menjadi penentu utama biaya pakan. Kelangkaan kedua bahan ini cepat memicu kenaikan harga di tingkat pabrik. Dampaknya langsung terasa pada harga pakan jadi yang dibeli peternak.

Dialog Rutin Sebelum Krisis Harga

PERMINDO menilai komunikasi antar pemangku kepentingan selama ini berjalan reaktif. Dialog baru digelar setelah harga terlanjur jatuh. Padahal, deteksi dini terhadap potensi oversupply bisa mencegah kerugian yang lebih besar.

Stabilisasi Butuh Keseimbangan Harga Input dan Output

Menurut PERMINDO, stabilisasi industri broiler tidak cukup hanya dengan mengendalikan harga input. Keseimbangan antara harga input dan harga output harus dijaga secara bersamaan.

Jika pemerintah hanya menekan harga pakan tanpa menjaga harga jual ayam, peternak tetap berada di posisi lemah. Sebaliknya, mendorong harga jual tanpa menjamin pasokan dan permintaan yang seimbang juga tidak akan bertahan lama.

Karena itu, PERMINDO menilai perlindungan harga harus berjalan seiring dengan tata kelola pasokan. Peternak rakyat butuh kepastian biaya, kepastian harga jual, dan kepastian pasar. Tanpa itu, keberlanjutan usaha broiler rakyat sulit dijaga.

Itulah sorotan berita peternakan pekan ini. PERMINDO berharap pemerintah bergerak cepat. Tujuannya agar harga livebird tetap wajar dan peternak rakyat tidak terus menanggung beban biaya produksi yang naik.

Continue Reading

Trending