Badan Pangan Nasional (Bapanas) mulai menggelontorkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan pada Maret ini sebagai langkah konkret menjaga kestabilan harga pakan ternak nasional. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menekan potensi kenaikan harga telur dan daging ayam yang kerap terjadi menjelang Hari Raya Idulfitri.
Langkah ini dinilai strategis mengingat jagung merupakan bahan baku utama dalam industri pakan unggas. Ketika harga jagung bergejolak, biaya produksi peternak otomatis meningkat dan berdampak langsung pada harga produk di pasar. Melalui intervensi SPHP, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen.
Jagung Pakan: Komponen Vital Industri Perunggasan
Dalam formulasi pakan unggas, jagung memiliki porsi dominan yang dapat mencapai lebih dari separuh komposisi. Ketersediaan dan harga jagung yang stabil menjadi faktor penentu keberlangsungan usaha peternakan ayam petelur maupun ayam pedaging.
Ketika harga jagung melonjak, peternak dihadapkan pada dilema: menaikkan harga jual telur dan daging ayam atau menanggung kerugian akibat membengkaknya biaya produksi. Kondisi ini kerap memicu ketidakstabilan pasar, terutama pada momentum dengan tingkat konsumsi tinggi seperti Ramadan dan Idulfitri.
Dengan digulirkannya SPHP jagung pakan, pemerintah berupaya mengurangi tekanan biaya tersebut. Program ini diharapkan dapat menjaga harga jagung tetap dalam kisaran yang wajar sehingga peternak dapat mempertahankan produktivitas tanpa harus menaikkan harga secara signifikan.
Antisipasi Lonjakan Konsumsi Jelang Idulfitri
Menjelang Idulfitri, permintaan terhadap telur dan daging ayam biasanya mengalami peningkatan signifikan. Produk unggas menjadi salah satu bahan pangan utama dalam berbagai kebutuhan rumah tangga dan industri makanan selama bulan Ramadan hingga hari raya.
Lonjakan permintaan yang tidak diimbangi dengan stabilitas biaya produksi dapat menyebabkan kenaikan harga di tingkat konsumen. Oleh karena itu, SPHP jagung pakan yang dimulai pada Maret ini merupakan langkah preventif agar stabilitas harga tetap terjaga.
Dengan biaya pakan yang lebih terkendali, peternak dapat menjaga pasokan tetap optimal. Ketersediaan barang di pasar yang cukup akan membantu menahan lonjakan harga yang berlebihan.
Dampak Langsung bagi Peternak Rakyat
Peternak skala kecil dan menengah menjadi pihak yang paling rentan terhadap fluktuasi harga bahan baku. Berbeda dengan perusahaan besar yang memiliki cadangan modal dan kontrak pasokan jangka panjang, peternak rakyat sering kali membeli jagung secara harian atau mingguan dengan harga pasar yang fluktuatif.
Program SPHP jagung pakan diharapkan memberikan akses bahan baku dengan harga yang lebih terjangkau dan stabil. Hal ini tidak hanya membantu menjaga margin usaha, tetapi juga meningkatkan kepastian dalam perencanaan produksi.
Keberpihakan kebijakan kepada peternak rakyat sangat penting dalam menjaga struktur industri perunggasan nasional agar tetap inklusif dan berkeadilan. Stabilitas di tingkat peternak akan berdampak positif pada stabilitas harga di tingkat konsumen.
Menjaga Keseimbangan Hulu dan Hilir
Stabilisasi jagung pakan bukan hanya soal harga bahan baku, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan rantai pasok dari hulu hingga hilir. Ketika harga di tingkat produsen terlalu rendah, petani jagung dapat dirugikan. Sebaliknya, ketika harga terlalu tinggi, peternak menjadi korban.
Melalui mekanisme SPHP, pemerintah berupaya menjaga agar harga tetap berada pada titik keseimbangan yang adil bagi seluruh pelaku usaha. Pendekatan ini mencerminkan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam menjaga stabilitas pangan nasional.
Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, organisasi peternak, serta distributor menjadi faktor kunci keberhasilan program ini. Tanpa koordinasi yang baik, intervensi harga berpotensi tidak efektif atau bahkan menimbulkan distorsi pasar.
Strategi Ketahanan Pangan Nasional
SPHP jagung pakan merupakan bagian dari strategi yang lebih luas dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Ketersediaan protein hewani dengan harga terjangkau menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga kualitas konsumsi masyarakat.
Telur dan daging ayam merupakan sumber protein yang paling banyak dikonsumsi karena harganya relatif lebih terjangkau dibandingkan komoditas protein hewani lainnya. Oleh karena itu, stabilitas sektor perunggasan memiliki peran strategis dalam menjaga daya beli masyarakat.
Dengan menjaga biaya produksi tetap terkendali, pemerintah turut memastikan bahwa akses masyarakat terhadap pangan bergizi tetap terjamin, khususnya pada periode konsumsi tinggi seperti Ramadan dan Idulfitri.
Tantangan Implementasi di Lapangan
Meski memiliki tujuan yang jelas, pelaksanaan SPHP jagung pakan tetap menghadapi sejumlah tantangan. Distribusi yang tepat sasaran, pengawasan harga di tingkat pedagang, serta transparansi mekanisme penyaluran menjadi aspek penting yang perlu dijaga.
Pengawasan yang lemah berpotensi menimbulkan praktik spekulasi atau penyimpangan distribusi. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pelaku usaha menjadi sangat krusial.
Evaluasi berkala juga diperlukan untuk memastikan program benar-benar memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas harga telur dan daging ayam di pasar.
Harapan Stabilitas Harga Jelang Lebaran
Dengan dimulainya program SPHP jagung pakan pada Maret ini, harapan besar tertuju pada stabilitas harga telur dan daging ayam menjelang Idulfitri. Intervensi sejak dini memberi ruang bagi pasar untuk menyesuaikan diri tanpa tekanan yang berlebihan.
Peternak diharapkan dapat menjaga produksi tetap optimal, sementara konsumen dapat memperoleh produk unggas dengan harga yang wajar. Keseimbangan ini menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga selama momentum hari raya.
Keberhasilan program ini akan menjadi tolok ukur efektivitas kebijakan stabilisasi pangan ke depan. Jika berjalan optimal, SPHP jagung pakan dapat menjadi model intervensi yang berkelanjutan untuk komoditas strategis lainnya.
Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas
Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari
Hari/Tanggal: Selasa, 27 Oktober 2026 Waktu: 14.00 WIB – selesai Tempat: Kafe di depan Graha Gabah Agenda: Pembahasan dan evaluasi pola kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat
I. Latar Belakang
Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari membahas konsep, mekanisme, serta tantangan implementasi kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat. Pembahasan juga menjadi momentum untuk melakukan flashback terhadap pengalaman model kemitraan sebelumnya, termasuk referensi pembahasan MK-RI tahun 2016, sekaligus melihat relevansinya dengan kondisi Peternak Rakyat saat ini.
PERMINDO memandang kemitraan BUMN semestinya tidak hanya berorientasi pada keamanan bisnis perusahaan, tetapi juga menjalankan fungsi strategis dalam pemberdayaan, perlindungan, pembinaan, dan peningkatan kapasitas Peternak Rakyat.
II. Pokok-Pokok Pembahasan
1. Pola Kemitraan dan Pembiayaan
Dalam pola yang dibahas, Berdikari pada prinsipnya menyediakan DOC saja atau DOC + pakan. Beberapa komponen biaya menjadi tanggung jawab peternak, antara lain biaya OVK sekitar Rp500/ekor, biaya operasional sekitar Rp4.500/ekor, serta kandang dan sarana produksi. Hasil ayam hidup (LB) dibeli Berdikari berdasarkan harga kontrak. Model ini dapat menjadi pola kerja sama yang baik apabila terdapat keseimbangan antara risiko perusahaan, biaya produksi, kualitas sapronak, harga kontrak, dan margin yang diterima peternak.
2. Akses dan Seleksi Peternak Rakyat
Berdikari cenderung memilih calon mitra berdasarkan performance produksi, track record, kemampuan modal, dan kesiapan kandang, termasuk kandang closed house yang representatif. Pendekatan tersebut dapat dipahami dari sisi kehati-hatian bisnis, tetapi apabila diterapkan terlalu ketat, Peternak Rakyat konvensional dengan modal terbatas dan performance yang belum optimal akan sulit memperoleh akses. Kemitraan BUMN seharusnya tidak hanya memilih peternak yang sudah kuat, tetapi juga membina peternak agar menjadi lebih kuat dan naik kelas.
3. Prinsip Kehati-hatian dan Keterbatasan Pendampingan
Berdikari berkepentingan menjaga performance produksi dan menghindari risiko kerugian sebagai bagian dari tata kelola BUMN yang prudent. Di sisi lain, keterbatasan jumlah dan kapasitas tim pendamping dapat mendorong perusahaan lebih memilih mitra yang sudah memiliki modal, kandang memadai, dan track record baik. PERMINDO memandang prudential governance harus berjalan bersama fungsi pemberdayaan, melalui pola pendampingan bertahap agar peternak konvensional tidak langsung tersisih karena belum memenuhi standar awal.
4. Target Performance/IP
Dalam pembahasan terdapat penekanan bahwa peternak harus mencapai IP standar sekitar 350. Perhatian PERMINDO adalah bahwa Berdikari pada prinsipnya lebih menekankan hasil akhir IP dan tidak terlalu masuk pada bagaimana peternak mencapai angka tersebut. Peternak dapat melakukan berbagai upaya manajemen untuk mengejar IP, termasuk penambahan atau penggunaan pakan lebih banyak, selama target performance tercapai.
Kondisi tersebut perlu dievaluasi. IP seharusnya menjadi indikator hasil dari sistem produksi yang sehat, bukan sekadar angka yang harus dicapai dengan cara apa pun. Jika IP hanya menjadi target akhir, sementara kualitas DOC, kualitas pakan, kesehatan, OVK, mortalitas, FCR, kondisi kandang, manajemen pemeliharaan, dan dinamika kualitas sapronak tidak dievaluasi secara proporsional, akar persoalan performance produksi akan sulit diketahui. Target IP harus ditempatkan sebagai alat evaluasi, bukan sekadar target administratif.
5. Evaluasi Sapronak dan Beban Risiko Produksi
Kualitas DOC dan pakan dapat mengalami perubahan. Karena itu, tuntutan pencapaian IP tanpa evaluasi menyeluruh terhadap input produksi berpotensi menempatkan beban pencapaian performance terlalu besar pada peternak. Kemitraan yang sehat perlu melakukan evaluasi bersama terhadap kualitas DOC, kualitas dan konsumsi pakan, FCR, mortalitas, kesehatan dan OVK, manajemen kandang, kondisi lingkungan, biaya produksi, performance/IP, serta margin peternak.
Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup
“Peternak rakyat sedang menghadapi tekanan ganda (cost-price squeeze): harga input, terutama pakan, meningkat sehingga HPP semakin tinggi, tetapi pada saat yang sama harga ayam hidup di tingkat peternak justru turun jauh di bawah biaya produksi.”
Ada 3 tindakan konkret yang perlu didorong ke pemerintah:
1. Aktifkan Penyerapan Darurat Ayam Hidup
Pemerintah/Bapanas segera mengumpulkan RPA/RPHU, BUMN pangan, integrator, koperasi, dan offtaker.
Tetapkan volume penyerapan harian/mingguan dari sentra yang harganya jatuh.
Penyerapan diarahkan ke karkas/frozen/captive market, bukan sekadar memindahkan ayam hidup dari satu broker ke broker lain.
Belum diusulkan atau belum ada penugasan dari pemerintah untuk peternak rakyat secara luas; yang sudah jalan hanya sebatas anggota kemitraan Berdikari saja.
2. Kurangi Supply DOC–FS
Lakukan pengendalian chick-in dan produksi DOC secara proporsional, termasuk perusahaan integrator dan kemitraan, berdasarkan data surplus-demand. Pengawasan lemah atau bahkan belum dilaksanakan.
3. Stabilisasi Harga Peternak
Terapkan mekanisme harga minimum sementara berbasis HPP; ketika LB jauh di bawah HPP, selisih tekanan ditangani melalui penyerapan dan pengurangan supply, bukan dibebankan seluruhnya kepada peternak.
Sudah dilakukan, tetapi belum berdampak pada realisasi.
BOGOR — Peternak broiler rakyat kembali menghadapi tekanan biaya produksi. Memasuki November–Desember 2026, harga bahan baku pakan berpotensi naik ke Rp9.000–Rp10.000/kg. Harga jagung dan DOC juga masih menjadi beban peternak mandiri.
Kondisi ini dikhawatirkan menekan harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak. Biaya produksi naik, tetapi harga jual ayam tetap fluktuatif. Peternak pun menanggung risiko terbesar. Dalam berita peternakan nasional pekan ini, isu itu menjadi sorotan utama pelaku usaha unggas.
Biaya Produksi Naik, Peternak Rakyat Paling Rentan
PERMINDO menilai pemerintah perlu mengantisipasi kondisi ini sejak dini. Tekanan biaya produksi tidak boleh berubah menjadi kerugian berkepanjangan bagi peternak rakyat.
“Kalau pakan naik, DOC mahal dan terbatas, jangan sampai saat ayam panen justru harga livebird yang ditekan. Peternak tidak meminta harga tinggi, tetapi harga yang wajar dan mampu menutup biaya produksi,” ujar Sekretaris Jenderal PERMINDO, Heri Irawan.
Menurut Heri, struktur biaya produksi broiler sangat rentan terhadap gejolak pasar input. Pakan menyumbang porsi terbesar dalam total biaya. Kenaikan harga pakan langsung menggerus margin peternak. Terutama mereka yang mengelola kandang skala kecil dan menengah.
Selain pakan, harga DOC atau anak ayam umur sehari yang mahal dan terbatas turut memperbesar risiko. Peternak kerap bersaing memperoleh DOC berkualitas dengan harga tinggi pada periode permintaan puncak.
HAP Rp25.000/kg Harus Jadi Perlindungan Nyata
PERMINDO meminta pemerintah memastikan Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam ras pedaging di tingkat produsen sebesar Rp25.000/kg benar-benar berfungsi. HAP jangan hanya menjadi angka acuan tanpa implikasi di lapangan.
Menurut organisasi yang menaungi peternak broiler rakyat ini, HAP semestinya menjadi bagian dari mekanisme perlindungan harga. Tujuannya agar peternak tidak menjadi pihak terakhir yang menanggung seluruh beban kenaikan biaya.
“Jangan sampai pola yang sama berulang: input naik, HPP naik, tetapi ketika ayam panen harga LB turun. Kalau seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada peternak, keberlanjutan peternak rakyat akan semakin terancam,” tegas Heri Irawan.
Ia menegaskan, peternak tidak menuntut harga jual yang tinggi. Yang diminta adalah harga yang wajar, transparan, dan berkeadilan. Harga wajar berarti mampu menutup biaya produksi sekaligus memberi ruang usaha yang layak.
Lima Usulan PERMINDO kepada Pemerintah
Dalam pernyataan resminya, PERMINDO menyampaikan sejumlah usulan konkret agar gejolak harga tidak terus merugikan peternak. Usulan ini menyasar hulu hingga hilir industri broiler.
Menjaga harga livebird agar tidak jatuh jauh di bawah HAP Bapanas.
Mengevaluasi HPP broiler secara berkala berdasarkan harga aktual DOC, pakan, jagung, SBM, OVK, energi, dan biaya produksi lainnya.
Menjamin ketersediaan bahan baku pakan seperti SBM dan jagung pakan dengan harga yang wajar.
Memperkuat pengendalian keseimbangan supply-demand agar oversupply tidak terus dibebankan kepada peternak.
Membuka dialog rutin antara pemerintah, integrator, industri pakan, dan peternak mandiri sebelum gejolak harga membesar.
Evaluasi HPP Berbasis Data Aktual
Poin evaluasi HPP dinilai krusial. Perhitungan HPP perlu mencerminkan harga nyata di pasar, bukan asumsi lama yang sudah tidak relevan. Jika HPP tidak diperbarui, selisih biaya akan tetap ditanggung peternak.
Ketersediaan Jagung dan SBM
Ketersediaan jagung pakan dan SBM atau soybean meal menjadi penentu utama biaya pakan. Kelangkaan kedua bahan ini cepat memicu kenaikan harga di tingkat pabrik. Dampaknya langsung terasa pada harga pakan jadi yang dibeli peternak.
Dialog Rutin Sebelum Krisis Harga
PERMINDO menilai komunikasi antar pemangku kepentingan selama ini berjalan reaktif. Dialog baru digelar setelah harga terlanjur jatuh. Padahal, deteksi dini terhadap potensi oversupply bisa mencegah kerugian yang lebih besar.
Stabilisasi Butuh Keseimbangan Harga Input dan Output
Menurut PERMINDO, stabilisasi industri broiler tidak cukup hanya dengan mengendalikan harga input. Keseimbangan antara harga input dan harga output harus dijaga secara bersamaan.
Jika pemerintah hanya menekan harga pakan tanpa menjaga harga jual ayam, peternak tetap berada di posisi lemah. Sebaliknya, mendorong harga jual tanpa menjamin pasokan dan permintaan yang seimbang juga tidak akan bertahan lama.
Karena itu, PERMINDO menilai perlindungan harga harus berjalan seiring dengan tata kelola pasokan. Peternak rakyat butuh kepastian biaya, kepastian harga jual, dan kepastian pasar. Tanpa itu, keberlanjutan usaha broiler rakyat sulit dijaga.
Itulah sorotan berita peternakan pekan ini. PERMINDO berharap pemerintah bergerak cepat. Tujuannya agar harga livebird tetap wajar dan peternak rakyat tidak terus menanggung beban biaya produksi yang naik.
Contains information related to marketing campaigns of the user. These are shared with Google AdWords / Google Ads when the Google Ads and Google Analytics accounts are linked together.
90 days
__utma
ID used to identify users and sessions
2 years after last activity
__utmt
Used to monitor number of Google Analytics server requests
10 minutes
__utmb
Used to distinguish new sessions and visits. This cookie is set when the GA.js javascript library is loaded and there is no existing __utmb cookie. The cookie is updated every time data is sent to the Google Analytics server.
30 minutes after last activity
__utmc
Used only with old Urchin versions of Google Analytics and not with GA.js. Was used to distinguish between new sessions and visits at the end of a session.
End of session (browser)
__utmz
Contains information about the traffic source or campaign that directed user to the website. The cookie is set when the GA.js javascript is loaded and updated when data is sent to the Google Anaytics server
6 months after last activity
__utmv
Contains custom information set by the web developer via the _setCustomVar method in Google Analytics. This cookie is updated every time new data is sent to the Google Analytics server.
2 years after last activity
__utmx
Used to determine whether a user is included in an A / B or Multivariate test.
18 months
_ga
ID used to identify users
2 years
_gali
Used by Google Analytics to determine which links on a page are being clicked
30 seconds
_ga_
ID used to identify users
2 years
_gid
ID used to identify users for 24 hours after last activity
24 hours
_gat
Used to monitor number of Google Analytics server requests when using Google Tag Manager