Connect with us

Berita

Impor CLQ dan Ujian Kedaulatan Industri Perunggasan Nasional

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Oleh: Heri Irawan

Sekretaris Jenderal PERMINDO

Isu impor Chicken Leg Quarter (CLQ) kembali mengemuka dalam diskursus kebijakan pangan nasional. Perdebatan ini bukan sekadar soal perdagangan, melainkan menyangkut arah dan keberpihakan kebijakan negara terhadap industri perunggasan domestik.

Di satu sisi, Indonesia sebagai anggota World Trade Organization (WTO) terikat pada prinsip keterbukaan perdagangan internasional. Namun di sisi lain, konstitusi juga mengamanatkan negara untuk melindungi sektor strategis dan memastikan kesejahteraan pelaku usaha dalam negeri, termasuk jutaan peternak rakyat.

Pertanyaan mendasarnya sederhana namun krusial: apakah Indonesia benar-benar membutuhkan impor CLQ saat produksi nasional justru berada dalam kondisi surplus?


Produksi Nasional: Surplus yang Nyata

Data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian Republik Indonesia menunjukkan bahwa produksi daging ayam ras pedaging Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 3,84 juta ton. Bahkan proyeksi neraca pangan memperkirakan produksi berada di kisaran 4,20–4,28 juta ton per tahun.

Sementara itu, kebutuhan konsumsi nasional tercatat sekitar 3,87 juta ton per tahun. Artinya, secara agregat Indonesia tidak mengalami defisit, melainkan surplus produksi.

Data pemantauan bulanan juga memperlihatkan kondisi serupa. Pada Oktober 2025, produksi ayam ras pedaging diperkirakan mencapai sekitar 372.867 ton, sedangkan kebutuhan masyarakat sekitar 325.641 ton. Ini menunjukkan surplus lebih dari 47 ribu ton hanya dalam satu bulan.

Dengan kapasitas produksi sebesar ini, impor CLQ bukanlah jawaban atas persoalan pasokan. Persoalan utama justru terletak pada tata niaga dan stabilitas harga.


Masalah Sebenarnya: Harga di Bawah HPP

Ironisnya, di tengah surplus produksi, harga ayam hidup di tingkat peternak kerap berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP). Situasi ini menandakan adanya ketidakseimbangan dalam sistem distribusi dan penyerapan pasar.

Masuknya CLQ impor dengan harga yang sangat kompetitif—karena di negara asalnya bagian paha ayam sering menjadi komoditas sekunder—berpotensi memperburuk tekanan harga domestik. Ketika harga pasar turun akibat tambahan pasokan impor, peternak rakyat yang sudah beroperasi dengan margin tipis akan semakin tertekan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menggerus keberlanjutan produksi nasional dan mendorong konsentrasi pasar pada pelaku usaha besar yang memiliki daya tahan modal lebih kuat.


Kedaulatan Pangan: Soal Struktur, Bukan Sekadar Harga

Kedaulatan pangan tidak dapat direduksi hanya pada harga murah di pasar. Ia menyangkut kemampuan negara menjaga kapasitas produksinya sendiri secara berkelanjutan.

Industri perunggasan nasional melibatkan jutaan tenaga kerja dan menjadi tulang punggung ekonomi pedesaan. Jika kebijakan impor dilakukan tanpa perhitungan struktural, risikonya bukan hanya kerugian sementara, tetapi melemahnya fondasi produksi domestik.

Pengalaman global menunjukkan bahwa ketergantungan pada impor pangan menciptakan risiko saat terjadi gangguan rantai pasok internasional, fluktuasi nilai tukar, atau tekanan geopolitik. Produksi dalam negeri adalah benteng utama stabilitas pangan.


Alternatif Kebijakan yang Lebih Strategis

Daripada menjadikan impor sebagai solusi utama, terdapat sejumlah instrumen kebijakan yang lebih tepat dan berkelanjutan:

1. Penguatan Penyerapan Produksi Lokal
Perbaikan sistem distribusi agar surplus produksi terserap optimal di berbagai segmen konsumen.

2. Hilirisasi Produk Ayam Nasional
Pengembangan produk olahan bernilai tambah untuk memperluas pasar domestik dan meningkatkan daya saing ekspor.

3. Penegakan Harga yang Adil
Pengawasan harga di tingkat peternak agar tidak jatuh di bawah HPP.

4. Pemanfaatan Instrumen Perlindungan Perdagangan
Jika terdapat bukti kerugian serius akibat impor, mekanisme trade remedies sesuai aturan WTO dapat ditempuh secara sah.

5. Penguatan Infrastruktur Rantai Dingin (Cold Storage)
Optimalisasi kapasitas penyimpanan nasional untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga tanpa harus bergantung pada impor.

Langkah-langkah ini lebih mencerminkan strategi jangka panjang dibanding solusi instan yang berpotensi menimbulkan distorsi pasar.


Ujian Arah Kebijakan Nasional

Kebijakan impor tidak harus dianggap tabu. Namun kebijakan tersebut seharusnya menjadi opsi terakhir, digunakan hanya ketika terjadi kekurangan pasokan yang nyata dan terukur.

Dalam kondisi surplus produksi seperti saat ini, membuka keran impor CLQ justru berisiko melemahkan industri perunggasan nasional. Ini bukan sekadar isu dagang, melainkan ujian arah kebijakan pangan Indonesia.

Apakah negara akan memilih solusi jangka pendek yang menekan harga produsen, atau memperkuat fondasi produksi nasional demi keberlanjutan jangka panjang?

Indonesia memiliki kapasitas produksi ayam ras pedaging yang besar dan terus berkembang. Tantangannya bukan pada kekurangan pasokan, tetapi pada bagaimana mengelola surplus secara efektif dan adil.

Kedaulatan industri perunggasan nasional menuntut keseimbangan antara keterbukaan perdagangan dan perlindungan terhadap produksi dalam negeri. Impor harus menjadi pelengkap, bukan pengganti produksi nasional.

Keputusan hari ini akan menentukan apakah Indonesia tetap menjadi produsen protein hewani yang tangguh, atau perlahan bergeser menjadi pasar bagi produk luar negeri.

Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Hari/Tanggal: Selasa, 27 Oktober 2026
Waktu: 14.00 WIB – selesai
Tempat: Kafe di depan Graha Gabah
Agenda: Pembahasan dan evaluasi pola kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat

I. Latar Belakang

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari membahas konsep, mekanisme, serta tantangan implementasi kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat. Pembahasan juga menjadi momentum untuk melakukan flashback terhadap pengalaman model kemitraan sebelumnya, termasuk referensi pembahasan MK-RI tahun 2016, sekaligus melihat relevansinya dengan kondisi Peternak Rakyat saat ini.

PERMINDO memandang kemitraan BUMN semestinya tidak hanya berorientasi pada keamanan bisnis perusahaan, tetapi juga menjalankan fungsi strategis dalam pemberdayaan, perlindungan, pembinaan, dan peningkatan kapasitas Peternak Rakyat.

II. Pokok-Pokok Pembahasan

1. Pola Kemitraan dan Pembiayaan

Dalam pola yang dibahas, Berdikari pada prinsipnya menyediakan DOC saja atau DOC + pakan. Beberapa komponen biaya menjadi tanggung jawab peternak, antara lain biaya OVK sekitar Rp500/ekor, biaya operasional sekitar Rp4.500/ekor, serta kandang dan sarana produksi. Hasil ayam hidup (LB) dibeli Berdikari berdasarkan harga kontrak. Model ini dapat menjadi pola kerja sama yang baik apabila terdapat keseimbangan antara risiko perusahaan, biaya produksi, kualitas sapronak, harga kontrak, dan margin yang diterima peternak.

2. Akses dan Seleksi Peternak Rakyat

Berdikari cenderung memilih calon mitra berdasarkan performance produksi, track record, kemampuan modal, dan kesiapan kandang, termasuk kandang closed house yang representatif. Pendekatan tersebut dapat dipahami dari sisi kehati-hatian bisnis, tetapi apabila diterapkan terlalu ketat, Peternak Rakyat konvensional dengan modal terbatas dan performance yang belum optimal akan sulit memperoleh akses. Kemitraan BUMN seharusnya tidak hanya memilih peternak yang sudah kuat, tetapi juga membina peternak agar menjadi lebih kuat dan naik kelas.

3. Prinsip Kehati-hatian dan Keterbatasan Pendampingan

Berdikari berkepentingan menjaga performance produksi dan menghindari risiko kerugian sebagai bagian dari tata kelola BUMN yang prudent. Di sisi lain, keterbatasan jumlah dan kapasitas tim pendamping dapat mendorong perusahaan lebih memilih mitra yang sudah memiliki modal, kandang memadai, dan track record baik. PERMINDO memandang prudential governance harus berjalan bersama fungsi pemberdayaan, melalui pola pendampingan bertahap agar peternak konvensional tidak langsung tersisih karena belum memenuhi standar awal.

4. Target Performance/IP

Dalam pembahasan terdapat penekanan bahwa peternak harus mencapai IP standar sekitar 350. Perhatian PERMINDO adalah bahwa Berdikari pada prinsipnya lebih menekankan hasil akhir IP dan tidak terlalu masuk pada bagaimana peternak mencapai angka tersebut. Peternak dapat melakukan berbagai upaya manajemen untuk mengejar IP, termasuk penambahan atau penggunaan pakan lebih banyak, selama target performance tercapai.

Kondisi tersebut perlu dievaluasi. IP seharusnya menjadi indikator hasil dari sistem produksi yang sehat, bukan sekadar angka yang harus dicapai dengan cara apa pun. Jika IP hanya menjadi target akhir, sementara kualitas DOC, kualitas pakan, kesehatan, OVK, mortalitas, FCR, kondisi kandang, manajemen pemeliharaan, dan dinamika kualitas sapronak tidak dievaluasi secara proporsional, akar persoalan performance produksi akan sulit diketahui. Target IP harus ditempatkan sebagai alat evaluasi, bukan sekadar target administratif.

5. Evaluasi Sapronak dan Beban Risiko Produksi

Kualitas DOC dan pakan dapat mengalami perubahan. Karena itu, tuntutan pencapaian IP tanpa evaluasi menyeluruh terhadap input produksi berpotensi menempatkan beban pencapaian performance terlalu besar pada peternak. Kemitraan yang sehat perlu melakukan evaluasi bersama terhadap kualitas DOC, kualitas dan konsumsi pakan, FCR, mortalitas, kesehatan dan OVK, manajemen kandang, kondisi lingkungan, biaya produksi, performance/IP, serta margin peternak.

Continue Reading

Berita

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

“Peternak rakyat sedang menghadapi tekanan ganda (cost-price squeeze): harga input, terutama pakan, meningkat sehingga HPP semakin tinggi, tetapi pada saat yang sama harga ayam hidup di tingkat peternak justru turun jauh di bawah biaya produksi.”

Ada 3 tindakan konkret yang perlu didorong ke pemerintah:

1. Aktifkan Penyerapan Darurat Ayam Hidup

Pemerintah/Bapanas segera mengumpulkan RPA/RPHU, BUMN pangan, integrator, koperasi, dan offtaker.

Tetapkan volume penyerapan harian/mingguan dari sentra yang harganya jatuh.

Penyerapan diarahkan ke karkas/frozen/captive market, bukan sekadar memindahkan ayam hidup dari satu broker ke broker lain.

Belum diusulkan atau belum ada penugasan dari pemerintah untuk peternak rakyat secara luas; yang sudah jalan hanya sebatas anggota kemitraan Berdikari saja.

2. Kurangi Supply DOC–FS

Lakukan pengendalian chick-in dan produksi DOC secara proporsional, termasuk perusahaan integrator dan kemitraan, berdasarkan data surplus-demand. Pengawasan lemah atau bahkan belum dilaksanakan.

3. Stabilisasi Harga Peternak

Terapkan mekanisme harga minimum sementara berbasis HPP; ketika LB jauh di bawah HPP, selisih tekanan ditangani melalui penyerapan dan pengurangan supply, bukan dibebankan seluruhnya kepada peternak.

Sudah dilakukan, tetapi belum berdampak pada realisasi.

Continue Reading

Berita

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

BOGOR — Peternak broiler rakyat kembali menghadapi tekanan biaya produksi. Memasuki November–Desember 2026, harga bahan baku pakan berpotensi naik ke Rp9.000–Rp10.000/kg. Harga jagung dan DOC juga masih menjadi beban peternak mandiri.

Kondisi ini dikhawatirkan menekan harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak. Biaya produksi naik, tetapi harga jual ayam tetap fluktuatif. Peternak pun menanggung risiko terbesar. Dalam berita peternakan nasional pekan ini, isu itu menjadi sorotan utama pelaku usaha unggas.

Biaya Produksi Naik, Peternak Rakyat Paling Rentan

PERMINDO menilai pemerintah perlu mengantisipasi kondisi ini sejak dini. Tekanan biaya produksi tidak boleh berubah menjadi kerugian berkepanjangan bagi peternak rakyat.

“Kalau pakan naik, DOC mahal dan terbatas, jangan sampai saat ayam panen justru harga livebird yang ditekan. Peternak tidak meminta harga tinggi, tetapi harga yang wajar dan mampu menutup biaya produksi,” ujar Sekretaris Jenderal PERMINDO, Heri Irawan.

Menurut Heri, struktur biaya produksi broiler sangat rentan terhadap gejolak pasar input. Pakan menyumbang porsi terbesar dalam total biaya. Kenaikan harga pakan langsung menggerus margin peternak. Terutama mereka yang mengelola kandang skala kecil dan menengah.

Selain pakan, harga DOC atau anak ayam umur sehari yang mahal dan terbatas turut memperbesar risiko. Peternak kerap bersaing memperoleh DOC berkualitas dengan harga tinggi pada periode permintaan puncak.

HAP Rp25.000/kg Harus Jadi Perlindungan Nyata

PERMINDO meminta pemerintah memastikan Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam ras pedaging di tingkat produsen sebesar Rp25.000/kg benar-benar berfungsi. HAP jangan hanya menjadi angka acuan tanpa implikasi di lapangan.

Menurut organisasi yang menaungi peternak broiler rakyat ini, HAP semestinya menjadi bagian dari mekanisme perlindungan harga. Tujuannya agar peternak tidak menjadi pihak terakhir yang menanggung seluruh beban kenaikan biaya.

“Jangan sampai pola yang sama berulang: input naik, HPP naik, tetapi ketika ayam panen harga LB turun. Kalau seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada peternak, keberlanjutan peternak rakyat akan semakin terancam,” tegas Heri Irawan.

Ia menegaskan, peternak tidak menuntut harga jual yang tinggi. Yang diminta adalah harga yang wajar, transparan, dan berkeadilan. Harga wajar berarti mampu menutup biaya produksi sekaligus memberi ruang usaha yang layak.

Lima Usulan PERMINDO kepada Pemerintah

Dalam pernyataan resminya, PERMINDO menyampaikan sejumlah usulan konkret agar gejolak harga tidak terus merugikan peternak. Usulan ini menyasar hulu hingga hilir industri broiler.

  • Menjaga harga livebird agar tidak jatuh jauh di bawah HAP Bapanas.
  • Mengevaluasi HPP broiler secara berkala berdasarkan harga aktual DOC, pakan, jagung, SBM, OVK, energi, dan biaya produksi lainnya.
  • Menjamin ketersediaan bahan baku pakan seperti SBM dan jagung pakan dengan harga yang wajar.
  • Memperkuat pengendalian keseimbangan supply-demand agar oversupply tidak terus dibebankan kepada peternak.
  • Membuka dialog rutin antara pemerintah, integrator, industri pakan, dan peternak mandiri sebelum gejolak harga membesar.

Evaluasi HPP Berbasis Data Aktual

Poin evaluasi HPP dinilai krusial. Perhitungan HPP perlu mencerminkan harga nyata di pasar, bukan asumsi lama yang sudah tidak relevan. Jika HPP tidak diperbarui, selisih biaya akan tetap ditanggung peternak.

Ketersediaan Jagung dan SBM

Ketersediaan jagung pakan dan SBM atau soybean meal menjadi penentu utama biaya pakan. Kelangkaan kedua bahan ini cepat memicu kenaikan harga di tingkat pabrik. Dampaknya langsung terasa pada harga pakan jadi yang dibeli peternak.

Dialog Rutin Sebelum Krisis Harga

PERMINDO menilai komunikasi antar pemangku kepentingan selama ini berjalan reaktif. Dialog baru digelar setelah harga terlanjur jatuh. Padahal, deteksi dini terhadap potensi oversupply bisa mencegah kerugian yang lebih besar.

Stabilisasi Butuh Keseimbangan Harga Input dan Output

Menurut PERMINDO, stabilisasi industri broiler tidak cukup hanya dengan mengendalikan harga input. Keseimbangan antara harga input dan harga output harus dijaga secara bersamaan.

Jika pemerintah hanya menekan harga pakan tanpa menjaga harga jual ayam, peternak tetap berada di posisi lemah. Sebaliknya, mendorong harga jual tanpa menjamin pasokan dan permintaan yang seimbang juga tidak akan bertahan lama.

Karena itu, PERMINDO menilai perlindungan harga harus berjalan seiring dengan tata kelola pasokan. Peternak rakyat butuh kepastian biaya, kepastian harga jual, dan kepastian pasar. Tanpa itu, keberlanjutan usaha broiler rakyat sulit dijaga.

Itulah sorotan berita peternakan pekan ini. PERMINDO berharap pemerintah bergerak cepat. Tujuannya agar harga livebird tetap wajar dan peternak rakyat tidak terus menanggung beban biaya produksi yang naik.

Continue Reading

Trending