Connect with us

Berita

Negara Harus Hadir Menjaga Keadilan Harga Perunggasan

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Industri perunggasan nasional kembali menghadapi tekanan serius akibat ketidakseimbangan struktur harga dan tata kelola produksi. Di tengah tingginya biaya produksi yang ditanggung peternak rakyat, harga jual ayam hidup (livebird) di lapangan belum sepenuhnya mencerminkan harga pokok produksi (HPP) yang riil. Situasi ini menjadi alarm bahwa persoalan yang terjadi bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan problem struktural yang memerlukan intervensi kebijakan.

Harga DOC (day old chick) masih berada pada level tinggi, sementara biaya pakan, energi, obat-obatan, serta operasional kandang terus membebani usaha peternak mandiri. Ironisnya, ketika ayam siap panen, harga livebird sering kali jatuh di bawah HPP. Dalam kondisi tersebut, peternak menjadi pihak yang paling terdampak karena seluruh risiko produksi berada di tangan mereka.

Siklus Musiman Bukan Alasan Pembiaran

Memang diakui bahwa pasar memiliki pola musiman. Periode H+1 hingga H+10 Ramadan lazim mengalami perlambatan konsumsi. Sebaliknya, menjelang pertengahan Ramadan hingga momen Nuzulul Qur’an, permintaan biasanya kembali meningkat. Namun, stabilitas harga tidak boleh semata bergantung pada siklus tahunan tersebut.

Tanpa instrumen penyangga yang jelas, setiap fase pelemahan permintaan hampir selalu berujung pada tekanan harga di tingkat peternak. Kondisi ini berulang dari tahun ke tahun dan menunjukkan lemahnya mekanisme stabilisasi di sektor perunggasan nasional.

Peternak mandiri tidak memiliki ruang perlindungan ketika harga jatuh. Mereka membeli DOC, pakan, dan kebutuhan produksi lainnya dengan harga pasar, tetapi menjual hasil ternaknya tanpa kepastian harga minimum yang melindungi biaya produksi. Jika situasi ini terus berulang, maka yang terancam bukan hanya margin keuntungan, melainkan keberlanjutan usaha peternakan rakyat.

PERMINDO: Negara Harus Bertindak

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO), Kusnan, menegaskan bahwa negara tidak boleh bersikap pasif menghadapi ketimpangan tersebut.

“Peternak rakyat mandiri hari ini berada dalam tekanan biaya produksi yang tinggi, sementara harga jual belum sepenuhnya mencerminkan HPP. Negara harus hadir sebagai penyeimbang. Skema serap livebird melalui Cadangan Pangan Pemerintah adalah instrumen konstitusional untuk menjaga keadilan pasar dan melindungi peternak rakyat,” tegas Kusnan.

Pernyataan ini merujuk pada amanat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 yang menegaskan bahwa cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Ayam hidup sebagai sumber protein utama masyarakat Indonesia merupakan komoditas strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan dan kedaulatan pangan.

Karena itu, PERMINDO mendorong pemerintah segera mengaktifkan skema serap livebird melalui mekanisme Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Instrumen ini tidak dimaksudkan untuk mendistorsi pasar, tetapi menjadi bantalan ketika harga berada di bawah titik keekonomian wajar. Negara hadir sebagai pembeli siaga pada harga yang melindungi HPP peternak.

Selain itu, PERMINDO juga mengusulkan subsidi penyangga harga untuk menutup selisih antara harga pasar dan biaya produksi dalam situasi tekanan ekstrem. Tanpa mekanisme tersebut, seluruh koreksi pasar sepenuhnya dibebankan kepada peternak rakyat.

Tata Kelola Produksi Harus Dibenahi

Sekretaris Jenderal PERMINDO, Heri Irawan, menyoroti bahwa persoalan harga tidak dapat dilepaskan dari pengaturan produksi, khususnya DOC.

“Masalah mendasar bukan hanya pada harga livebird, tetapi pada keseimbangan produksi. Jika suplai DOC tidak dikendalikan secara terukur dan berbasis data riil populasi, maka harga akan terus tertekan dan peternak rakyat menjadi korban siklus oversupply,” ujarnya.

Ketidakseimbangan suplai DOC kerap menjadi faktor fundamental fluktuasi harga. Ketika produksi berlebih tidak dikendalikan, harga livebird jatuh. Sebaliknya, saat produksi berkurang drastis, harga melonjak dan memicu inflasi pangan. Pola ekstrem ini menunjukkan bahwa koordinasi produksi nasional masih perlu diperkuat.

Penguatan sistem monitoring populasi dan distribusi berbasis data menjadi kebutuhan mendesak. Keputusan produksi harus bersandar pada data riil kebutuhan konsumsi, bukan asumsi atau kepentingan jangka pendek. Dengan tata kelola yang lebih terukur, potensi oversupply dapat ditekan dan stabilitas harga lebih terjaga.

Transparansi dan Keadilan Rantai Pasok

PERMINDO juga mendorong transparansi biaya dan rantai distribusi. Audit terbuka terhadap komponen biaya produksi, jalur distribusi, serta struktur pembentukan harga perlu dilakukan guna memastikan tidak ada praktik yang merugikan peternak mandiri.

Industri yang sehat adalah industri dengan distribusi margin yang adil dan proporsional. Tanpa pembenahan struktural, peternak rakyat akan terus berada pada posisi lemah di tengah dominasi pelaku usaha besar yang memiliki integrasi hulu-hilir serta akses modal kuat.

Jika peternak mandiri terus tergerus, konsentrasi industri akan semakin menguat. Dampaknya bukan hanya pada ketimpangan ekonomi, tetapi juga pada ketahanan pangan jangka panjang.

Stabilitas Harga adalah Isu Strategis Nasional

Stabilitas harga perunggasan bukan semata persoalan bisnis. Ini adalah isu strategis nasional yang menyangkut keberlangsungan peternak rakyat sekaligus keterjangkauan protein hewani bagi masyarakat luas.

Negara tidak diminta mengambil alih pasar. Negara diminta menjalankan mandat konstitusi: hadir sebagai penyeimbang, penjaga keadilan, dan pelindung pelaku usaha kecil yang menjadi tulang punggung pangan nasional.

Melalui konsolidasi internal dan langkah advokasi kebijakan yang terukur, PERMINDO menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan stabilitas harga yang berkeadilan serta keberlanjutan usaha peternak mandiri di seluruh Indonesia.

Dengan kebijakan yang berpihak dan tata kelola yang transparan, industri perunggasan nasional dapat tumbuh sehat—menguatkan peternak rakyat sekaligus menjaga kedaulatan pangan bangsa.

Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

berita peternakan

Avatar photo

Published

on

Spread the love

berita peternakan

berita peternakan

PERMINDO berpandangan bahwa posisi Wakil Menteri Pertanian yang saat ini kosong merupakan momentum penting bagi pemerintah untuk memperkuat keberpihakan terhadap peternak rakyat Indonesia.

Kami berharap figur yang akan mengisi posisi tersebut adalah sosok yang memiliki integritas, independensi, memahami persoalan riil peternak di lapangan, serta bebas dari potensi konflik kepentingan yang dapat memengaruhi kebijakan perunggasan nasional.

Peternak rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu memastikan tata kelola sektor pertanian dan perunggasan berjalan secara adil, transparan, dan berpihak pada keberlangsungan usaha peternak mandiri.

PERMINDO tidak mempersoalkan siapa pun secara pribadi. Namun kami mengingatkan bahwa jabatan publik harus diisi oleh figur yang mengutamakan kepentingan bangsa, ketahanan pangan, dan kesejahteraan peternak rakyat di atas kepentingan kelompok usaha tertentu.

Inilah saatnya pemerintah menghadirkan kepemimpinan yang benar-benar mendengar suara peternak rakyat.

Continue Reading

Berita

Berita Peternakan: Pakan Meroket, Peternak Tertekan

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Berita Peternakan: Pakan Meroket, Peternak Tertekan

Berita Peternakan: Pakan Meroket, Peternak Tertekan

Industri peternakan Indonesia saat ini menghadapi badai serius. Berita peternakan kali ini mengupas krisis yang melanda sektor pakan ternak, khususnya ayam petelur dan ayam potong. Harga pokok produksi yang tak terkendali membuat peternak rakyat mandiri kesulitan bertahan. Kebijakan impor satu pintu melalui PT Berdikari BUMN justru memperparah keadaan. Simak laporan lengkapnya.

Krisis Harga Pakan Ternak Makin Dalam

Dalam beberapa bulan terakhir, harga bahan baku pakan ternak meroket tajam. Soybean meal, salah satu komponen utama pakan, mengalami kenaikan lebih dari Rp2.000 per kilogram. Kenaikan ini dipicu oleh kebijakan impor satu pintu yang diterapkan pemerintah. Peternak rakyat mandiri menjadi pihak yang paling terpukul.

“Kami tidak sanggup lagi. Harga pakan naik terus, tapi harga jual live bird justru turun. Selisihnya terlalu jauh,” ujar Slamet, peternak ayam potong di Jawa Barat. Ia mengaku modal produksi setiap siklus semakin besar, sementara pendapatan tidak sebanding.

Data dari Asosiasi Peternak Ayam Mandiri menunjukkan bahwa harga pokok produksi (HPP) ayam potong kini berkisar Rp20.000–Rp22.000 per kilogram. Namun harga jual di tingkat peternak hanya Rp17.000–Rp18.000 per kilogram. Artinya, setiap kilogram ayam yang dijual, peternak merugi hingga Rp4.000.

Dampak bagi Peternak Rakyat

Peternak rakyat mandiri adalah tulang punggung sektor peternakan nasional. Mereka mengelola usaha secara mandiri tanpa mitra integrator. Namun, krisis kali ini memaksa banyak dari mereka gulung tikar. Berita peternakan mencatat setidaknya 30% peternak mandiri di Pulau Jawa sudah berhenti berproduksi dalam tiga bulan terakhir.

Berikut dampak langsung yang dirasakan peternak:

  • Beban operasional membengkak – Biaya pakan mencapai 70% dari total biaya produksi. Kenaikan harga soybean meal langsung menghantam margin.
  • Harga jual anjlok – Permintaan pasar yang stagnan membuat harga live bird tidak mampu menutupi HPP.
  • Utang menumpuk – Banyak peternak terpaksa meminjam dari rentenir atau koperasi dengan bunga tinggi untuk membeli pakan.
  • Produksi menurun drastis – Peternak mengurangi jumlah ayam yang dipelihara atau memperpanjang waktu panen.

Kondisi ini tidak hanya mengancam kelangsungan usaha peternak, tetapi juga pasokan daging ayam nasional. Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berpotensi mengalami defisit produksi ayam potong.

Kebijakan Impor Satu Pintu Menuai Kritik

Kebijakan impor satu pintu melalui PT Berdikari BUMN awalnya bertujuan menstabilkan harga pakan. Namun faktanya, harga soybean meal justru melonjak. Para pengamat menilai sistem ini menciptakan monopoli yang tidak efisien. Berita peternakan mengungkap bahwa harga soybean meal di pasar domestik kini lebih tinggi Rp2.000–Rp3.000 per kilogram dibandingkan harga internasional.

“Seharusnya impor satu pintu bisa menekan harga, bukan sebaliknya. Yang terjadi, peternak dibebani biaya tambahan tanpa transparansi,” kata Ahmad Fauzi, ekonom pertanian dari Universitas Gadjah Mada. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini perlu dievaluasi segera.

Selain itu, peternak juga mengeluhkan sulitnya akses terhadap pakan impor. Proses birokrasi yang panjang membuat pasokan terlambat tiba. Akibatnya, peternak terpaksa membeli pakan dari pedagang perantara dengan harga lebih mahal.

Peran PT Berdikari BUMN

PT Berdikari sebagai BUMN yang ditunjuk sebagai satu-satunya importir soybean meal dinilai kurang responsif. Distribusi pakan tidak merata, terutama ke daerah-daerah sentra peternakan. Peternak di luar Jawa seringkali menerima pakan dengan harga lebih tinggi karena biaya logistik.

“Kami di Sumatera harus bayar ongkos kirim sendiri. Itu bikin harga pakan semakin tidak terjangkau,” keluh Rudi, peternak ayam petelur di Lampung. Ia berharap pemerintah membuka kembali izin impor bagi perusahaan swasta agar persaingan harga kembali sehat.

Harapan dan Solusi ke Depan

Menghadapi krisis ini, peternak dan asosiasi telah mengajukan sejumlah permintaan kepada pemerintah. Berita peternakan merangkum beberapa solusi yang diusulkan:

  • Deregulasi impor pakan – Membuka kembali izin impor untuk perusahaan swasta guna menekan harga.
  • Subsidi pakan langsung – Memberikan bantuan langsung kepada peternak rakyat mandiri, misalnya dalam bentuk paket pakan murah.
  • Penetapan harga atap – Pemerintah perlu menetapkan harga maksimal soybean meal agar tidak merugikan peternak.
  • Pengawasan distribusi – Memastikan pakan impor sampai ke tangan peternak dengan harga wajar dan tepat waktu.

Di sisi lain, peternak juga didorong untuk diversifikasi pakan. Misalnya menggunakan bahan lokal seperti jagung, dedak, atau bungkil kelapa sebagai campuran. Namun kapasitas produksi bahan baku lokal masih terbatas. Pemerintah perlu memperkuat sektor hulu agar ketergantungan pada impor berkurang.

“Kami butuh kebijakan yang pro-peternak rakyat. Jangan sampai hanya menguntungkan segelintir pihak,” tegas Ketua Asosiasi Peternak Ayam Mandiri, Haryanto. Ia optimistis jika pemerintah mendengar aspirasi peternak, industri peternakan bisa bangkit kembali.

Kesimpulan

Berita peternakan kali ini menggambarkan betapa gentingnya situasi di lapangan. Kenaikan harga pakan akibat kebijakan impor satu pintu menjadi momok bagi peternak rakyat. Tanpa langkah konkret, ribuan peternak mandiri terancam kehilangan mata pencaharian. Pemerintah harus segera turun tangan, bukan hanya untuk menyelamatkan peternak, tetapi juga menjaga ketahanan pangan nasional.

Kami akan terus memantau perkembangan berita peternakan ini. Apakah ada perubahan kebijakan? Bagaimana nasib peternak ke depan? Ikuti terus laporan kami.

Continue Reading

Berita

Berita Peternakan: Krisis Pakan Ternak

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Berita Peternakan: Krisis Pakan Ternak

Berita Peternakan: Krisis Pakan Ternak

Industri pakan ternak tengah menghadapi badai. Harga pokok produksi melonjak drastis, sementara harga jual live bird tak bergerak signifikan. Situasi ini sangat memberatkan peternak rakyat mandiri. Kebijakan impor pakan satu pintu melalui PT Berdikari BUMN menjadi pemicu utama. Kenaikan harga soybean meal mencapai lebih dari Rp2.000 per kilogram. Berita peternakan ini mengungkap betapa tertekannya para peternak di lapangan.

Lonjakan Harga Pakan Hantam Peternak Mandiri

Harga pakan ayam petelur dan ayam potong terus meroket. Peternak rakyat yang selama ini bergantung pada pakan impor merasakan dampaknya. Mereka tak mampu lagi menanggung beban produksi yang membengkak. Kebijakan impor satu pintu melalui PT Berdikari membuat rantai pasok semakin mahal. Akibatnya, harga soybean meal—salah satu bahan baku utama pakan—melonjak tajam.

Dampak Kebijakan Impor Satu Pintu

Kebijakan ini dinilai tidak berpihak pada peternak kecil. Dengan hanya satu pintu impor, harga bisa dikendalikan sepihak. PT Berdikari sebagai BUMN seharusnya menjaga stabilitas harga. Namun kenyataannya, justru terjadi lonjakan hingga Rp2.000 per kg soybean meal. Peternak mengeluh karena biaya pakan kini mencapai 70 persen dari total biaya produksi.

Perbandingan HPP dan Harga Jual yang Timpang

Harga pokok produksi (HPP) ayam potong terus naik. Saat ini, HPP diperkirakan Rp25.000 per kg, sementara harga jual live bird hanya Rp18.000-Rp20.000 per kg. Selisih yang besar membuat peternak merugi. Begitu pula dengan ayam petelur. Harga telur tak kunjung naik seiring kenaikan pakan. Para peternak hidup dalam tekanan ekonomi yang berat.

Peternak Terjepit di Antara Biaya dan Pendapatan

Beban operasional peternak mandiri meningkat drastis. Mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk pakan, sementara pendapatan stagnan. Banyak peternak mulai mengurangi populasi ayam atau bahkan berhenti berproduksi. Jika tidak ada perubahan kebijakan, ribuan peternak rakyat terancam gulung tikar. Berita peternakan ini menggambarkan situasi yang sangat kritis.

Beban Operasional Meningkat Tajam

Selain soybean meal, bahan baku lain seperti jagung dan bungkil kedelai juga ikut naik. Peternak yang biasa membeli pakan siap pakai harus merogoh kocek lebih dalam. Seorang peternak di Jawa Barat menuturkan, biaya pakan per ekor ayam potong naik 30 persen dalam setahun. “Kami tidak bisa menaikkan harga jual karena permintaan pasar rendah,” ujarnya.

Daya Tahan Peternak Makin Menipis

Banyak peternak mandiri yang sudah kehabisan modal. Mereka biasanya mengandalkan pinjaman bank atau koperasi. Namun dengan kerugian terus-menerus, cicilan pinjaman pun tak terbayar. Kondisi ini memicu gelombang PHK di sektor peternakan skala kecil. Jika tidak segera diatasi, rantai pasok ayam nasional bisa terganggu.

Mencari Solusi di Tengah Keterpurukan

Peternak dan asosiasi mendesak pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan impor satu pintu. Mereka meminta agar impor pakan dibuka kembali secara kompetitif. Dengan begitu, harga soybean meal bisa turun ke tingkat yang wajar. Berita peternakan mencatat beberapa alternatif yang mulai digulirkan.

Seruan Revisi Kebijakan Impor

Gabungan Perusahaan Peternakan Indonesia (GPPI) mengusulkan agar impor pakan tidak dimonopoli oleh satu BUMN. Mereka menilai persaingan pasar akan menekan harga. Selain itu, pengawasan terhadap PT Berdikari juga perlu diperketat. “Kami tidak anti-BUMN, tetapi kebijakan harus adil bagi semua,” ujar Ketua GPPI.

Alternatif Pakan Lokal

Sebagian peternak mulai beralih ke pakan lokal seperti dedak, ampas tahu, atau bungkil sawit. Namun kualitas dan konsistensi pasokan masih menjadi kendala. Penelitian tentang pakan alternatif perlu digencarkan. Pemerintah juga didorong memberikan subsidi pakan bagi peternak kecil. Diversifikasi pakan bisa menjadi solusi jangka panjang.

Krisis ini menjadi peringatan bagi seluruh pemangku kepentingan. Berita peternakan akan terus memantau perkembangan nasib peternak rakyat. Tanpa perubahan kebijakan yang cepat, sektor peternakan mandiri bisa ambruk. Peternak berharap ada terobosan dari pemerintah agar mereka bisa kembali bernapas lega.

  • Harga soybean meal naik Rp2.000/kg akibat kebijakan impor satu pintu.
  • HPP ayam potong Rp25.000/kg, harga jual hanya Rp18.000-Rp20.000/kg.
  • Peternak mandiri terancam gulung tikar jika tidak ada intervensi pemerintah.
  • Alternatif pakan lokal perlu dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan impor.

Berita peternakan ini menegaskan pentingnya keberpihakan pada peternak rakyat. Mereka adalah tulang punggung ketahanan pangan nasional. Jangan biarkan mereka terjepit oleh kebijakan yang tidak berpihak. Saatnya pemerintah mendengar suara peternak di lapangan.

Continue Reading

Trending