Connect with us

Berita

Stabilisasi Harga Ayam Hidup Jadi Kunci Keberlanjutan Peternak Rakyat 2026

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Fluktuasi Harga yang Terus Berulang

Industri perunggasan nasional kembali dihadapkan pada persoalan klasik yang belum sepenuhnya terselesaikan: fluktuasi harga ayam hidup (live bird) di tingkat kandang. Setiap kali produksi meningkat tanpa perencanaan berbasis kebutuhan riil pasar, harga langsung terkoreksi. Dampaknya paling terasa di tingkat peternak rakyat yang memiliki skala usaha terbatas dan daya tahan modal yang relatif kecil.

Dalam beberapa periode terakhir, harga ayam hidup di sejumlah sentra produksi bahkan turun mendekati atau di bawah biaya pokok produksi. Ketika kondisi tersebut terjadi, peternak tidak hanya kehilangan keuntungan, tetapi juga menghadapi risiko kerugian yang menggerus modal kerja untuk siklus berikutnya.

Fenomena ini bukan hal baru. Pola naik-turun harga ayam hidup sudah terjadi bertahun-tahun. Namun tanpa perbaikan struktural, siklus yang sama terus berulang dan membebani pelaku usaha kecil.

Struktur Biaya Produksi yang Tidak Fleksibel

Salah satu tantangan utama peternak rakyat adalah struktur biaya yang tidak fleksibel. Sejak awal periode pemeliharaan, peternak sudah mengeluarkan biaya untuk pembelian DOC, pakan, obat-obatan, vaksin, listrik, hingga tenaga kerja. Komponen pakan sendiri menyumbang lebih dari 60 persen total biaya produksi.

Ketika harga jual ayam hidup turun drastis saat panen, peternak tidak memiliki ruang untuk menyesuaikan biaya yang sudah dikeluarkan. Berbeda dengan sektor lain yang bisa menunda penjualan, ayam broiler memiliki masa panen yang relatif singkat dan tidak bisa ditahan terlalu lama tanpa meningkatkan risiko mortalitas serta penurunan performa.

Kondisi ini membuat stabilitas harga menjadi faktor krusial. Tanpa harga yang berada pada level wajar, kesinambungan usaha peternak rakyat terancam.

Ketidakseimbangan Produksi dan Penyerapan Pasar

Masalah mendasar dalam industri unggas nasional sering kali terletak pada ketidakseimbangan antara produksi dan penyerapan pasar. Ketika populasi ayam meningkat secara signifikan dalam waktu bersamaan, suplai melimpah dan harga terkoreksi.

Keterbatasan hilirisasi memperburuk situasi tersebut. Sebagian besar ayam masih dijual dalam bentuk hidup, sehingga pasar sangat sensitif terhadap lonjakan suplai harian. Jika produksi tidak terserap secara merata oleh rumah potong unggas atau industri pengolahan, tekanan harga di tingkat kandang sulit dihindari.

Penguatan sektor hilir menjadi salah satu solusi jangka panjang. Dengan memperbesar kapasitas pemotongan, pembekuan, dan distribusi produk olahan, kelebihan produksi dapat diserap lebih stabil tanpa langsung membanjiri pasar live bird.

Pentingnya Pengendalian Produksi Berbasis Data

Upaya stabilisasi harga tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan data produksi yang akurat dan transparan. Data populasi, chick in, hingga proyeksi panen harus dapat dipantau secara terintegrasi agar potensi surplus bisa diantisipasi lebih awal.

Pengendalian produksi bukan berarti membatasi usaha, melainkan menjaga keseimbangan pasar. Dengan perencanaan yang berbasis kebutuhan konsumsi nasional dan distribusi wilayah, risiko oversupply dapat ditekan.

Sistem pelaporan digital dan koordinasi lintas pelaku usaha menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa data yang solid, kebijakan cenderung bersifat reaktif dan terlambat mengatasi gejolak harga.

Peran Pemerintah dalam Stabilisasi Harga

Pemerintah memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan industri unggas. Kebijakan yang adaptif dan responsif sangat diperlukan untuk mengantisipasi potensi penurunan harga ekstrem.

Intervensi dapat dilakukan melalui pengaturan populasi, fasilitasi hilirisasi, hingga dukungan distribusi antarwilayah. Selain itu, penguatan regulasi terkait kemitraan dan tata niaga juga penting agar ekosistem usaha berjalan adil.

Stabilisasi harga bukan semata-mata melindungi pelaku usaha, tetapi juga menjaga ketersediaan protein hewani bagi masyarakat luas. Ketika peternak tertekan dan mengurangi produksi, pasokan jangka panjang dapat terganggu.

Hilirisasi sebagai Penyangga Harga

Transformasi dari penjualan ayam hidup ke produk karkas dan olahan merupakan langkah strategis untuk menahan gejolak harga. Dengan sistem cold chain yang memadai, ayam dapat disimpan dan didistribusikan ke wilayah yang membutuhkan tanpa tergantung pada harga harian.

Hilirisasi juga membuka peluang peningkatan nilai tambah. Produk ayam beku, potongan siap masak, hingga makanan olahan memiliki margin lebih baik dibandingkan live bird.

Pengembangan rumah potong unggas modern dan sentra distribusi di luar Pulau Jawa dapat membantu pemerataan pasar. Langkah ini sekaligus mengurangi konsentrasi produksi yang selama ini bertumpu pada wilayah tertentu.

Perlindungan terhadap Peternak Rakyat

Peternak rakyat merupakan tulang punggung produksi ayam nasional. Jumlahnya yang besar dan tersebar menjadikan mereka elemen penting dalam menjaga ketahanan pangan.

Namun tanpa perlindungan kebijakan yang memadai, posisi tawar peternak kecil relatif lemah. Fluktuasi harga yang ekstrem berpotensi mendorong sebagian peternak keluar dari usaha.

Penguatan kelembagaan melalui koperasi atau asosiasi dapat meningkatkan daya tawar dan akses terhadap informasi pasar. Dengan sistem kolektif, risiko usaha dapat dikelola lebih baik.

Menuju Industri Unggas yang Berkelanjutan

Keberlanjutan industri unggas tidak hanya ditentukan oleh tingginya produksi, tetapi oleh keseimbangan yang sehat antara hulu dan hilir. Harga ayam hidup yang stabil memberikan kepastian bagi peternak untuk terus berproduksi.

Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha besar, dan peternak rakyat menjadi fondasi utama. Transparansi data, pengendalian produksi, penguatan hilirisasi, serta dukungan permodalan harus berjalan seiring.

Jika stabilisasi harga dapat diwujudkan secara konsisten, industri perunggasan nasional akan memiliki struktur yang lebih kokoh. Peternak rakyat dapat menjalankan usaha dengan rasa aman, sementara masyarakat tetap memperoleh akses protein hewani dengan harga terjangkau.

Tahun 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi tersebut. Tanpa langkah konkret dan terintegrasi, fluktuasi harga akan terus menjadi siklus yang berulang. Namun dengan kebijakan yang tepat dan sinergi semua pihak, stabilitas dan keberlanjutan bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.

Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Hari/Tanggal: Selasa, 27 Oktober 2026
Waktu: 14.00 WIB – selesai
Tempat: Kafe di depan Graha Gabah
Agenda: Pembahasan dan evaluasi pola kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat

I. Latar Belakang

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari membahas konsep, mekanisme, serta tantangan implementasi kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat. Pembahasan juga menjadi momentum untuk melakukan flashback terhadap pengalaman model kemitraan sebelumnya, termasuk referensi pembahasan MK-RI tahun 2016, sekaligus melihat relevansinya dengan kondisi Peternak Rakyat saat ini.

PERMINDO memandang kemitraan BUMN semestinya tidak hanya berorientasi pada keamanan bisnis perusahaan, tetapi juga menjalankan fungsi strategis dalam pemberdayaan, perlindungan, pembinaan, dan peningkatan kapasitas Peternak Rakyat.

II. Pokok-Pokok Pembahasan

1. Pola Kemitraan dan Pembiayaan

Dalam pola yang dibahas, Berdikari pada prinsipnya menyediakan DOC saja atau DOC + pakan. Beberapa komponen biaya menjadi tanggung jawab peternak, antara lain biaya OVK sekitar Rp500/ekor, biaya operasional sekitar Rp4.500/ekor, serta kandang dan sarana produksi. Hasil ayam hidup (LB) dibeli Berdikari berdasarkan harga kontrak. Model ini dapat menjadi pola kerja sama yang baik apabila terdapat keseimbangan antara risiko perusahaan, biaya produksi, kualitas sapronak, harga kontrak, dan margin yang diterima peternak.

2. Akses dan Seleksi Peternak Rakyat

Berdikari cenderung memilih calon mitra berdasarkan performance produksi, track record, kemampuan modal, dan kesiapan kandang, termasuk kandang closed house yang representatif. Pendekatan tersebut dapat dipahami dari sisi kehati-hatian bisnis, tetapi apabila diterapkan terlalu ketat, Peternak Rakyat konvensional dengan modal terbatas dan performance yang belum optimal akan sulit memperoleh akses. Kemitraan BUMN seharusnya tidak hanya memilih peternak yang sudah kuat, tetapi juga membina peternak agar menjadi lebih kuat dan naik kelas.

3. Prinsip Kehati-hatian dan Keterbatasan Pendampingan

Berdikari berkepentingan menjaga performance produksi dan menghindari risiko kerugian sebagai bagian dari tata kelola BUMN yang prudent. Di sisi lain, keterbatasan jumlah dan kapasitas tim pendamping dapat mendorong perusahaan lebih memilih mitra yang sudah memiliki modal, kandang memadai, dan track record baik. PERMINDO memandang prudential governance harus berjalan bersama fungsi pemberdayaan, melalui pola pendampingan bertahap agar peternak konvensional tidak langsung tersisih karena belum memenuhi standar awal.

4. Target Performance/IP

Dalam pembahasan terdapat penekanan bahwa peternak harus mencapai IP standar sekitar 350. Perhatian PERMINDO adalah bahwa Berdikari pada prinsipnya lebih menekankan hasil akhir IP dan tidak terlalu masuk pada bagaimana peternak mencapai angka tersebut. Peternak dapat melakukan berbagai upaya manajemen untuk mengejar IP, termasuk penambahan atau penggunaan pakan lebih banyak, selama target performance tercapai.

Kondisi tersebut perlu dievaluasi. IP seharusnya menjadi indikator hasil dari sistem produksi yang sehat, bukan sekadar angka yang harus dicapai dengan cara apa pun. Jika IP hanya menjadi target akhir, sementara kualitas DOC, kualitas pakan, kesehatan, OVK, mortalitas, FCR, kondisi kandang, manajemen pemeliharaan, dan dinamika kualitas sapronak tidak dievaluasi secara proporsional, akar persoalan performance produksi akan sulit diketahui. Target IP harus ditempatkan sebagai alat evaluasi, bukan sekadar target administratif.

5. Evaluasi Sapronak dan Beban Risiko Produksi

Kualitas DOC dan pakan dapat mengalami perubahan. Karena itu, tuntutan pencapaian IP tanpa evaluasi menyeluruh terhadap input produksi berpotensi menempatkan beban pencapaian performance terlalu besar pada peternak. Kemitraan yang sehat perlu melakukan evaluasi bersama terhadap kualitas DOC, kualitas dan konsumsi pakan, FCR, mortalitas, kesehatan dan OVK, manajemen kandang, kondisi lingkungan, biaya produksi, performance/IP, serta margin peternak.

Continue Reading

Berita

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

“Peternak rakyat sedang menghadapi tekanan ganda (cost-price squeeze): harga input, terutama pakan, meningkat sehingga HPP semakin tinggi, tetapi pada saat yang sama harga ayam hidup di tingkat peternak justru turun jauh di bawah biaya produksi.”

Ada 3 tindakan konkret yang perlu didorong ke pemerintah:

1. Aktifkan Penyerapan Darurat Ayam Hidup

Pemerintah/Bapanas segera mengumpulkan RPA/RPHU, BUMN pangan, integrator, koperasi, dan offtaker.

Tetapkan volume penyerapan harian/mingguan dari sentra yang harganya jatuh.

Penyerapan diarahkan ke karkas/frozen/captive market, bukan sekadar memindahkan ayam hidup dari satu broker ke broker lain.

Belum diusulkan atau belum ada penugasan dari pemerintah untuk peternak rakyat secara luas; yang sudah jalan hanya sebatas anggota kemitraan Berdikari saja.

2. Kurangi Supply DOC–FS

Lakukan pengendalian chick-in dan produksi DOC secara proporsional, termasuk perusahaan integrator dan kemitraan, berdasarkan data surplus-demand. Pengawasan lemah atau bahkan belum dilaksanakan.

3. Stabilisasi Harga Peternak

Terapkan mekanisme harga minimum sementara berbasis HPP; ketika LB jauh di bawah HPP, selisih tekanan ditangani melalui penyerapan dan pengurangan supply, bukan dibebankan seluruhnya kepada peternak.

Sudah dilakukan, tetapi belum berdampak pada realisasi.

Continue Reading

Berita

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

BOGOR — Peternak broiler rakyat kembali menghadapi tekanan biaya produksi. Memasuki November–Desember 2026, harga bahan baku pakan berpotensi naik ke Rp9.000–Rp10.000/kg. Harga jagung dan DOC juga masih menjadi beban peternak mandiri.

Kondisi ini dikhawatirkan menekan harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak. Biaya produksi naik, tetapi harga jual ayam tetap fluktuatif. Peternak pun menanggung risiko terbesar. Dalam berita peternakan nasional pekan ini, isu itu menjadi sorotan utama pelaku usaha unggas.

Biaya Produksi Naik, Peternak Rakyat Paling Rentan

PERMINDO menilai pemerintah perlu mengantisipasi kondisi ini sejak dini. Tekanan biaya produksi tidak boleh berubah menjadi kerugian berkepanjangan bagi peternak rakyat.

“Kalau pakan naik, DOC mahal dan terbatas, jangan sampai saat ayam panen justru harga livebird yang ditekan. Peternak tidak meminta harga tinggi, tetapi harga yang wajar dan mampu menutup biaya produksi,” ujar Sekretaris Jenderal PERMINDO, Heri Irawan.

Menurut Heri, struktur biaya produksi broiler sangat rentan terhadap gejolak pasar input. Pakan menyumbang porsi terbesar dalam total biaya. Kenaikan harga pakan langsung menggerus margin peternak. Terutama mereka yang mengelola kandang skala kecil dan menengah.

Selain pakan, harga DOC atau anak ayam umur sehari yang mahal dan terbatas turut memperbesar risiko. Peternak kerap bersaing memperoleh DOC berkualitas dengan harga tinggi pada periode permintaan puncak.

HAP Rp25.000/kg Harus Jadi Perlindungan Nyata

PERMINDO meminta pemerintah memastikan Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam ras pedaging di tingkat produsen sebesar Rp25.000/kg benar-benar berfungsi. HAP jangan hanya menjadi angka acuan tanpa implikasi di lapangan.

Menurut organisasi yang menaungi peternak broiler rakyat ini, HAP semestinya menjadi bagian dari mekanisme perlindungan harga. Tujuannya agar peternak tidak menjadi pihak terakhir yang menanggung seluruh beban kenaikan biaya.

“Jangan sampai pola yang sama berulang: input naik, HPP naik, tetapi ketika ayam panen harga LB turun. Kalau seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada peternak, keberlanjutan peternak rakyat akan semakin terancam,” tegas Heri Irawan.

Ia menegaskan, peternak tidak menuntut harga jual yang tinggi. Yang diminta adalah harga yang wajar, transparan, dan berkeadilan. Harga wajar berarti mampu menutup biaya produksi sekaligus memberi ruang usaha yang layak.

Lima Usulan PERMINDO kepada Pemerintah

Dalam pernyataan resminya, PERMINDO menyampaikan sejumlah usulan konkret agar gejolak harga tidak terus merugikan peternak. Usulan ini menyasar hulu hingga hilir industri broiler.

  • Menjaga harga livebird agar tidak jatuh jauh di bawah HAP Bapanas.
  • Mengevaluasi HPP broiler secara berkala berdasarkan harga aktual DOC, pakan, jagung, SBM, OVK, energi, dan biaya produksi lainnya.
  • Menjamin ketersediaan bahan baku pakan seperti SBM dan jagung pakan dengan harga yang wajar.
  • Memperkuat pengendalian keseimbangan supply-demand agar oversupply tidak terus dibebankan kepada peternak.
  • Membuka dialog rutin antara pemerintah, integrator, industri pakan, dan peternak mandiri sebelum gejolak harga membesar.

Evaluasi HPP Berbasis Data Aktual

Poin evaluasi HPP dinilai krusial. Perhitungan HPP perlu mencerminkan harga nyata di pasar, bukan asumsi lama yang sudah tidak relevan. Jika HPP tidak diperbarui, selisih biaya akan tetap ditanggung peternak.

Ketersediaan Jagung dan SBM

Ketersediaan jagung pakan dan SBM atau soybean meal menjadi penentu utama biaya pakan. Kelangkaan kedua bahan ini cepat memicu kenaikan harga di tingkat pabrik. Dampaknya langsung terasa pada harga pakan jadi yang dibeli peternak.

Dialog Rutin Sebelum Krisis Harga

PERMINDO menilai komunikasi antar pemangku kepentingan selama ini berjalan reaktif. Dialog baru digelar setelah harga terlanjur jatuh. Padahal, deteksi dini terhadap potensi oversupply bisa mencegah kerugian yang lebih besar.

Stabilisasi Butuh Keseimbangan Harga Input dan Output

Menurut PERMINDO, stabilisasi industri broiler tidak cukup hanya dengan mengendalikan harga input. Keseimbangan antara harga input dan harga output harus dijaga secara bersamaan.

Jika pemerintah hanya menekan harga pakan tanpa menjaga harga jual ayam, peternak tetap berada di posisi lemah. Sebaliknya, mendorong harga jual tanpa menjamin pasokan dan permintaan yang seimbang juga tidak akan bertahan lama.

Karena itu, PERMINDO menilai perlindungan harga harus berjalan seiring dengan tata kelola pasokan. Peternak rakyat butuh kepastian biaya, kepastian harga jual, dan kepastian pasar. Tanpa itu, keberlanjutan usaha broiler rakyat sulit dijaga.

Itulah sorotan berita peternakan pekan ini. PERMINDO berharap pemerintah bergerak cepat. Tujuannya agar harga livebird tetap wajar dan peternak rakyat tidak terus menanggung beban biaya produksi yang naik.

Continue Reading

Trending