Connect with us

Opini Publik

Mengapa Peternak Rakyat Harus Bersatu? Kunci Memperkuat Daya Tawar dan Masa Depan Peternakan

Avatar photo

Published

on

Spread the love
peternak rakyat

Realitas yang Dihadapi Peternak Rakyat

Peternak rakyat merupakan salah satu tulang punggung produksi ayam di Indonesia. Banyak kebutuhan daging ayam dan telur masyarakat dipenuhi oleh peternak skala kecil yang tersebar di berbagai daerah.

Namun di balik peran penting tersebut, peternak rakyat sering menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah. Mereka harus berhadapan dengan fluktuasi harga ayam, kenaikan harga pakan, serta ketidakpastian pasar.

Tidak sedikit peternak yang harus bekerja keras setiap hari, tetapi tetap kesulitan mendapatkan keuntungan yang layak. Bahkan dalam beberapa situasi, peternak bisa mengalami kerugian ketika harga ayam jatuh di bawah biaya produksi.

Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah lemahnya posisi tawar peternak rakyat di dalam rantai industri perunggasan.


Masalah Utama yang Sering Dihadapi Peternak Kecil

Ada beberapa persoalan yang hampir selalu dihadapi oleh peternak rakyat. Masalah ini bukan hanya terjadi di satu daerah, tetapi juga di banyak wilayah peternakan di Indonesia.

1. Daya Tawar yang Lemah

Ketika peternak bekerja sendiri-sendiri, posisi tawar mereka di pasar menjadi sangat lemah. Peternak biasanya hanya menjadi penerima harga, bukan penentu harga.

Artinya, harga ayam sering kali ditentukan oleh pihak lain seperti pedagang besar atau tengkulak. Peternak hanya bisa menerima harga yang ditawarkan, meskipun harga tersebut terkadang tidak menutupi biaya produksi.

Situasi ini membuat peternak berada pada posisi yang kurang menguntungkan.

2. Sulit Mendapatkan Akses Modal

Masalah lain yang sering dihadapi peternak kecil adalah keterbatasan modal. Untuk menjalankan usaha peternakan ayam, peternak membutuhkan modal yang tidak sedikit.

Modal tersebut digunakan untuk membeli DOC, pakan, vitamin, obat-obatan, serta biaya operasional lainnya.

Sayangnya, tidak semua peternak memiliki akses yang mudah ke lembaga keuangan atau perbankan. Banyak peternak akhirnya harus meminjam kepada pihak lain dengan syarat yang kurang menguntungkan.

3. Sulit Mengakses Pasar yang Lebih Luas

Peternak rakyat biasanya hanya menjual ayam kepada pedagang lokal di sekitar wilayahnya. Hal ini membuat akses pasar mereka menjadi sangat terbatas.

Padahal sebenarnya kebutuhan pasar terhadap ayam sangat besar. Namun karena keterbatasan jaringan dan informasi, peternak sering kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas seperti rumah potong ayam, pasar modern, atau industri pengolahan.

Akibatnya, peternak tidak memiliki banyak pilihan dalam menjual hasil ternaknya.

4. Ketergantungan pada Tengkulak

Dalam banyak kasus, peternak sangat bergantung pada tengkulak atau pedagang perantara. Tengkulak biasanya membeli ayam langsung dari peternak, kemudian menjualnya kembali ke pasar dengan harga yang lebih tinggi.

Bagi peternak, kehadiran tengkulak memang membantu karena mereka tidak perlu mencari pembeli sendiri. Namun ketergantungan yang terlalu besar pada tengkulak juga memiliki risiko.

Harga ayam sering kali ditentukan oleh tengkulak, sehingga peternak tidak memiliki banyak ruang untuk bernegosiasi.


Ketika Peternak Berjalan Sendiri-Sendiri

Jika setiap peternak bekerja secara individu tanpa kerja sama, maka posisi mereka dalam rantai industri akan tetap lemah.

Peternak yang berjalan sendiri-sendiri biasanya menghadapi beberapa keterbatasan, seperti:

  • membeli pakan dengan harga lebih mahal karena membeli dalam jumlah kecil
  • sulit mendapatkan informasi pasar
  • tidak memiliki kekuatan untuk mempengaruhi harga
  • kesulitan menjangkau pembeli yang lebih besar

Kondisi ini membuat peternak kecil sering berada pada posisi yang tidak seimbang dibandingkan dengan pelaku industri yang lebih besar.

Padahal jika peternak memiliki kekuatan kolektif, situasinya bisa menjadi sangat berbeda.


Pentingnya Bersatu dalam Organisasi Peternak

Salah satu cara paling efektif untuk memperkuat posisi peternak rakyat adalah dengan bersatu dalam organisasi atau kelompok bersama.

Bentuk organisasi ini bisa berupa:

  • koperasi peternak
  • asosiasi peternak
  • kelompok peternak di tingkat desa atau daerah

Dengan bergabung dalam organisasi, peternak tidak lagi bergerak sendiri, tetapi memiliki kekuatan bersama.

Persatuan ini memberikan banyak keuntungan bagi peternak rakyat.


Keuntungan Jika Peternak Bersatu

Ketika peternak bergabung dalam satu kelompok atau organisasi, banyak hal yang sebelumnya sulit menjadi lebih mudah dilakukan.

1. Membeli Pakan dengan Harga Lebih Murah

Pakan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan ayam. Jika peternak membeli pakan secara individu dalam jumlah kecil, harga yang didapat biasanya lebih mahal.

Namun jika pembelian dilakukan secara bersama-sama melalui koperasi atau kelompok peternak, jumlah pembelian menjadi jauh lebih besar.

Dengan volume pembelian yang besar, kelompok peternak bisa mendapatkan harga yang lebih murah dari produsen atau distributor pakan.

Hal ini tentu dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan peternak.

2. Menjual Ayam dengan Harga yang Lebih Baik

Persatuan peternak juga dapat memperkuat posisi tawar dalam penjualan ayam. Jika peternak menjual ayam secara individu, jumlah ayam yang ditawarkan biasanya relatif kecil.

Namun jika penjualan dilakukan melalui kelompok atau koperasi, jumlah ayam yang tersedia bisa menjadi sangat besar.

Kondisi ini membuat kelompok peternak memiliki posisi tawar yang lebih kuat ketika bernegosiasi dengan pembeli, seperti pedagang besar, rumah potong ayam, atau perusahaan pengolahan makanan.

Dengan demikian, peternak memiliki peluang untuk mendapatkan harga jual yang lebih baik.

3. Membuka Akses Pasar yang Lebih Luas

Kelompok atau koperasi peternak juga dapat membantu membuka akses ke pasar yang lebih luas.

Sebagai contoh, koperasi peternak dapat bekerja sama langsung dengan:

  • pasar modern
  • rumah potong ayam
  • restoran atau industri makanan
  • perusahaan pengolahan daging

Kerja sama seperti ini sering kali sulit dilakukan oleh peternak individu. Namun jika dilakukan oleh kelompok peternak yang memiliki jumlah produksi besar dan stabil, peluangnya menjadi jauh lebih besar.

Dengan akses pasar yang lebih luas, peternak tidak lagi hanya bergantung pada tengkulak.


Persatuan sebagai Kunci Masa Depan Peternak Rakyat

Industri perunggasan terus berkembang dan menjadi semakin kompetitif. Dalam kondisi seperti ini, peternak rakyat tidak bisa terus berjalan sendiri-sendiri.

Persaingan dengan perusahaan besar, fluktuasi harga pakan, serta perubahan pasar membuat peternak perlu memiliki strategi yang lebih kuat.

Salah satu strategi paling penting adalah membangun kekuatan bersama melalui persatuan.

Ketika peternak bersatu dalam koperasi, asosiasi, atau kelompok peternak, mereka tidak hanya memperkuat posisi ekonomi, tetapi juga memperkuat suara mereka dalam industri.

Persatuan membuat peternak rakyat tidak lagi menjadi pihak yang lemah dalam rantai produksi, tetapi menjadi pelaku usaha yang memiliki kekuatan untuk menentukan masa depan mereka sendiri.


Kesimpulan

Peternak rakyat memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Namun dalam praktiknya, mereka sering menghadapi berbagai tantangan seperti daya tawar yang lemah, keterbatasan modal, akses pasar yang sempit, serta ketergantungan pada tengkulak.

Jika peternak terus bekerja sendiri-sendiri, kondisi ini akan sulit berubah.

Sebaliknya, ketika peternak bersatu dalam koperasi, asosiasi, atau kelompok peternak, banyak peluang baru yang dapat terbuka. Mereka dapat membeli pakan dengan harga lebih murah, menjual ayam dengan harga yang lebih baik, serta memiliki akses pasar yang lebih luas.

Pada akhirnya, persatuan bukan hanya tentang kebersamaan, tetapi juga tentang membangun kekuatan bersama untuk masa depan peternak rakyat yang lebih sejahtera.

Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas

Opini Publik

Ilusi Stabilitas Harga: Realitas Ekonomi Peternak

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Ilusi Stabilitas Harga: Realitas Ekonomi Peternak

Ilusi Stabilitas Harga: Realitas Ekonomi Peternak

Ilusi “Stabilitas”: Ketika Klaim Pemerintah Berbenturan dengan Realitas Ekonomi Peternak

Pemberitaan mengenai keberhasilan pemerintah menstabilkan harga ayam dan telur di tingkat peternak sering kali disiarkan sebagai angin segar. Namun, jika dibaca secara kritis melalui kacamata ekonomi riil, klaim ini rentan terjebak dalam pembingkaian (*framing*) pencitraan semu. Faktanya, kenaikan harga yang terjadi saat ini bukanlah semata-mata buah dari intervensi kebijakan yang efektif, melainkan hasil dari hukum alam mekanisme pasar akibat berkurangnya populasi di kandang menyusul fase oversupply (kelebihan pasokan) yang berkepanjangan sebelumnya.

Pemerintah sering kali datang terlambat sebagai pemadam kebakaran, lalu mengklaim pemadaman tersebut sebagai hasil kerja keras dari kebijakan hulu–hilir mereka. Agar semua pihak—pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi—tidak terjebak dalam disinformasi birokratis ini, berikut adalah refleksi objektif bagi masing-masing pemangku kepentingan:

1. Kepada Pemerintah: Hentikan Klaim Semu, Benahi Akar Masalah di Hulu

Pemerintah tidak boleh berpuas diri hanya dengan melihat kenaikan harga nominal di tingkat peternak (live bird atau telur). Kenaikan harga jual tersebut menjadi tidak bermakna ketika Harga Pokok Penjualan (HPP) melambung jauh lebih cepat akibat lonjakan harga sarana produksi peternakan (sapronak), terutama pakan dan DOC (Day Old Chick).

Tantangan Solutif: Ketika terjadi oversupply, pemerintah terbukti kurang sigap memberikan solusi struktural yang solutif—seperti absennya intervensi langsung terhadap tata niaga pakan jagung dan monopoli bibit. Kedepan, pemerintah harus berhenti mengandalkan seremonial rembuk atau penetapan harga acuan di atas kertas yang lemah pengawasannya di pasar bebas. Kebijakan off-taker melalui program sosial seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) memang membantu, tetapi itu baru menyentuh hilir. Tanpa kontrol ketat terhadap harga input produksi di hulu, peternak mandiri akan tetap sekarat di tengah harga jual yang tinggi.

2. Kepada Pelaku Usaha & Peternak: Perkuat Konsolidasi dan Mitigasi Risiko Pasar

Bagi asosiasi dan peternak rakyat, realitas ini membuktikan bahwa menggantungkan nasib sepenuhnya pada kebijakan reaktif birokrasi adalah sebuah risiko besar. Ketika pasar mengalami oversupply, peternak rakyat selalu menjadi pihak paling rentan yang menanggung kerugian paling besar.

Langkah Strategis: Pelaku usaha perlu memperkuat kemandirian, mulai dari efisiensi manajemen pakan alternatif (custom), penguatan koperasi mandiri untuk menekan biaya input, hingga membangun rantai pasok langsung yang tidak sepenuhnya bergantung pada korporasi besar atau fluktuasi bahan baku impor. Transparansi data populasi di tingkat kandang juga harus dikuasai oleh asosiasi agar peternak tidak “kecolongan” saat siklus oversupply kembali berulang.

3. Kepada Akademisi: Hadirkan Riset Kritis dan Kebijakan Berbasis Bukti (Evidence-Based Policy)

Dunia kampus dan akademisi memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menjadi perpanjangan lidah narasi birokrasi.

Peran Strategis: Akademisi harus aktif membongkar anomali ekonomi yang terjadi—meneliti mengapa transmisi harga dari hulu ke hilir selalu timpang, bagaimana struktur pasar pakan di Indonesia terbentuk, serta menguji efektivitas riil dari kebijakan intervensi pemerintah. Riset-riset independen harus didorong agar melahirkan policy brief yang objektif, sehingga pembuat kebijakan dipaksa bekerja berdasarkan data empiris di lapangan, bukan sekadar laporan administratif yang manis di atas kertas.

Kesimpulan

Keberhasilan sektor perunggasan nasional tidak diukur dari seberapa sering pemerintah mengklaim harga stabil di media, melainkan dari margin keuntungan yang adil dan berkelanjutan bagi peternak rakyat. Selama biaya input (pakan dan DOC) naik lebih cepat daripada harga jual produk, maka narasi “keberhasilan stabilisasi” hanyalah ilusi statistik yang sedang membiarkan peternak mandiri berjalan menuju kepunahan pelan-pelan.

Continue Reading

Opini Publik

Sejahtera Petani dan Peternak: Parameter Kedaulatan…

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Sejahtera Petani dan Peternak: Parameter Kedaulatan Pangan

Sejahtera Petani dan Peternak: Parameter Kedaulatan...

Oleh: Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO)

Kemajuan sebuah bangsa sering kali diukur dari pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan perkembangan teknologi. Semua itu penting. Namun, ada satu fondasi yang tidak boleh diabaikan, yaitu kemampuan sebuah negara memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya sendiri.

Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki gedung-gedung tinggi, industri modern, atau ekonomi digital yang berkembang pesat, tetapi juga bangsa yang mampu menjamin ketersediaan pangan bagi seluruh rakyatnya. Kedaulatan pangan merupakan salah satu pilar utama kedaulatan negara.

Dalam konteks tersebut, kesejahteraan petani dan peternak bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan bagian dari strategi nasional untuk menjaga ketahanan pangan, stabilitas sosial, dan kemandirian bangsa.

Sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perekonomian nasional disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan dan diselenggarakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Amanat konstitusi ini menegaskan bahwa pembangunan sektor pertanian dan peternakan harus menempatkan kesejahteraan petani dan peternak sebagai tujuan utama.

Indonesia Memiliki Potensi Menjadi Kekuatan Agribisnis Dunia

Indonesia dianugerahi sumber daya alam yang luar biasa. Lahan pertanian yang luas, iklim tropis sepanjang tahun, keanekaragaman hayati, sumber daya perikanan, serta kekayaan komoditas pangan merupakan modal besar yang tidak dimiliki banyak negara.

Dengan potensi tersebut, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan agribisnis dunia, bahkan menjadi lumbung pangan kawasan, apabila didukung oleh tata kelola yang baik, inovasi teknologi, investasi yang berkelanjutan, serta kebijakan yang berpihak kepada petani dan peternak sebagai pelaku utama produksi pangan nasional.

Potensi tersebut tidak akan terwujud apabila kesejahteraan produsen pangan justru tertinggal dibandingkan sektor lainnya.

Petani dan Peternak Menggerakkan Ekonomi Riil

Pertanian dan peternakan merupakan sektor ekonomi riil yang menghasilkan pangan, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan efek berganda (multiplier effect) yang sangat besar terhadap perekonomian nasional.

Ketika petani dan peternak memperoleh keuntungan yang layak, perputaran ekonomi terjadi secara alami di daerah pedesaan. Pendapatan mereka kembali dibelanjakan untuk membeli benih, pupuk, DOC, pakan, obat-obatan, peralatan produksi, memperbaiki lahan dan kandang, menggunakan jasa transportasi, memperkuat usaha mikro, hingga membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Setiap rupiah yang diterima petani dan peternak akan kembali berputar dalam perekonomian nasional, menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan daya beli masyarakat, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.

Karena itu, memperkuat petani dan peternak sejatinya bukanlah beban anggaran negara, melainkan investasi strategis bagi pembangunan ekonomi Indonesia.

Kesejahteraan Petani dan Peternak Adalah Indikator Kedaulatan Pangan

Kedaulatan pangan tidak cukup diukur dari besarnya angka produksi nasional semata. Keberhasilannya juga harus tercermin dari meningkatnya kesejahteraan para pelaku utama yang memproduksi pangan.

Apabila petani masih menjual hasil panennya di bawah biaya produksi, atau peternak terus mengalami kerugian akibat mahalnya sarana produksi dan lemahnya posisi tawar di pasar, maka keberhasilan pembangunan pangan belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat yang menjadi tulang punggung sektor tersebut.

Karena itu, kesejahteraan petani dan peternak harus menjadi salah satu indikator utama dalam mengevaluasi keberhasilan kebijakan pangan nasional.

Saatnya Membangun Kebijakan Pangan Jangka Panjang

PERMINDO memandang bahwa Indonesia memerlukan kebijakan jangka panjang yang konsisten untuk memperkuat sektor pertanian dan peternakan dari hulu hingga hilir.

Continue Reading

Opini Publik

Petani & Peternak Sejahtera: Parameter Kedaulata…

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Petani & Peternak Sejahtera: Parameter Kedaulatan Pangan

Petani & Peternak Sejahtera: Parameter Kedaulata...

Oleh: Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO)

Kemajuan sebuah bangsa sering kali diukur dari pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan perkembangan teknologi. Semua itu penting. Namun, ada satu fondasi yang tidak boleh diabaikan, yaitu kemampuan sebuah negara memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya sendiri.

Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki gedung-gedung tinggi, industri modern, atau ekonomi digital yang berkembang pesat, tetapi juga bangsa yang mampu menjamin ketersediaan pangan bagi seluruh rakyatnya. Kedaulatan pangan merupakan salah satu pilar utama kedaulatan negara.

Dalam konteks tersebut, kesejahteraan petani dan peternak bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan bagian dari strategi nasional untuk menjaga ketahanan pangan, stabilitas sosial, dan kemandirian bangsa.

Sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perekonomian nasional disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan dan diselenggarakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Amanat konstitusi ini menegaskan bahwa pembangunan sektor pertanian dan peternakan harus menempatkan kesejahteraan petani dan peternak sebagai tujuan utama.

Indonesia Memiliki Potensi Menjadi Kekuatan Agribisnis Dunia

Indonesia dianugerahi sumber daya alam yang luar biasa. Lahan pertanian yang luas, iklim tropis sepanjang tahun, keanekaragaman hayati, sumber daya perikanan, serta kekayaan komoditas pangan merupakan modal besar yang tidak dimiliki banyak negara.

Dengan potensi tersebut, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan agribisnis dunia, bahkan menjadi lumbung pangan kawasan, apabila didukung oleh tata kelola yang baik, inovasi teknologi, investasi yang berkelanjutan, serta kebijakan yang berpihak kepada petani dan peternak sebagai pelaku utama produksi pangan nasional.

Potensi tersebut tidak akan terwujud apabila kesejahteraan produsen pangan justru tertinggal dibandingkan sektor lainnya.

Petani dan Peternak Menggerakkan Ekonomi Riil

Pertanian dan peternakan merupakan sektor ekonomi riil yang menghasilkan pangan, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan efek berganda (multiplier effect) yang sangat besar terhadap perekonomian nasional.

Ketika petani dan peternak memperoleh keuntungan yang layak, perputaran ekonomi terjadi secara alami di daerah pedesaan. Pendapatan mereka kembali dibelanjakan untuk membeli benih, pupuk, DOC, pakan, obat-obatan, peralatan produksi, memperbaiki lahan dan kandang, menggunakan jasa transportasi, memperkuat usaha mikro, hingga membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Setiap rupiah yang diterima petani dan peternak akan kembali berputar dalam perekonomian nasional, menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan daya beli masyarakat, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.

Karena itu, memperkuat petani dan peternak sejatinya bukanlah beban anggaran negara, melainkan investasi strategis bagi pembangunan ekonomi Indonesia.

Kesejahteraan Petani dan Peternak Adalah Indikator Kedaulatan Pangan

Kedaulatan pangan tidak cukup diukur dari besarnya angka produksi nasional semata. Keberhasilannya juga harus tercermin dari meningkatnya kesejahteraan para pelaku utama yang memproduksi pangan.

Apabila petani masih menjual hasil panennya di bawah biaya produksi, atau peternak terus mengalami kerugian akibat mahalnya sarana produksi dan lemahnya posisi tawar di pasar, maka keberhasilan pembangunan pangan belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat yang menjadi tulang punggung sektor tersebut.

Karena itu, kesejahteraan petani dan peternak harus menjadi salah satu indikator utama dalam mengevaluasi keberhasilan kebijakan pangan nasional.

Saatnya Membangun Kebijakan Pangan Jangka Panjang

PERMINDO memandang bahwa Indonesia memerlukan kebijakan jangka panjang yang konsisten untuk memperkuat sektor pertanian dan peternakan dari hulu hingga hilir.

Kebijakan tersebut harus menjamin tersedianya sarana produksi dengan harga yang terjangkau, memperkuat akses pembiayaan, menciptakan tata niaga yang adil, memperluas hilirisasi, meningkatkan daya saing produk dalam negeri, serta memastikan petani dan peternak memperoleh nilai tambah yang layak dari hasil usahanya.

Lebih dari itu, seluruh kebijakan pangan harus dirancang dengan semangat bahwa petani dan peternak bukan sekadar objek pembangunan, melainkan mitra strategis negara dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia.

Penutup

Indonesia akan benar-benar menjadi bangsa yang kuat bukan hanya karena pertumbuhan ekonominya tinggi, tetapi karena rakyat yang memproduksi pangannya hidup sejahtera.

Ketika petani memperoleh harga yang adil atas hasil panennya, ketika peternak mampu menjalankan usahanya secara berkelanjutan, dan ketika generasi muda melihat pertanian serta peternakan sebagai sektor yang menjanjikan, saat itulah Indonesia sedang membangun fondasi kemajuan yang sesungguhnya.

Sejahtera petani dan peternak bukan sekadar tujuan pembangunan, tetapi merupakan parameter utama kedaulatan pangan, ketahanan nasional, dan kekuatan Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat.

PERHIMPUNAN PETERNAK RAKYAT MANDIRI INDONESIA (PERMINDO)

Continue Reading

Trending