Opini Publik
Setelah Harga Pakan Turun, Apakah Margin Peternak Akan Pulih?
Published
3 weeks agoon
By
Fariz
Harapan Baru bagi Peternak
Penurunan harga pakan yang mulai terjadi pada awal 2026 memberikan harapan baru bagi banyak peternak ayam di Indonesia.
Setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan biaya produksi yang tinggi, setiap penyesuaian harga pakan tentu menjadi kabar yang disambut positif oleh pelaku usaha peternakan.
Namun dalam praktiknya, pertanyaan yang sering muncul adalah apakah penurunan harga pakan tersebut cukup untuk memulihkan kondisi usaha peternak.
Jawaban atas pertanyaan ini tidak selalu sederhana.
Struktur Biaya Produksi Peternakan Ayam
Untuk memahami kondisi tersebut, penting melihat bagaimana struktur biaya produksi dalam usaha peternakan ayam.
Secara umum, komponen biaya produksi terdiri dari beberapa faktor utama, yaitu:
- pakan ternak
- bibit ayam (DOC)
- obat dan vaksin
- tenaga kerja
- biaya operasional kandang
Di antara semua komponen tersebut, pakan tetap menjadi biaya terbesar.
Karena itu, ketika harga pakan turun, biaya produksi peternak memang akan ikut menurun. Namun keuntungan peternak tidak hanya ditentukan oleh biaya produksi, tetapi juga oleh harga jual ayam di pasar.
Hubungan Harga Ayam dan Biaya Produksi
Dalam industri perunggasan, keseimbangan antara biaya produksi dan harga ayam hidup menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan usaha peternak.
Ketika harga ayam hidup berada di atas biaya produksi, peternak dapat memperoleh margin keuntungan yang cukup untuk mempertahankan usaha mereka.
Sebaliknya, ketika harga ayam turun di bawah biaya produksi, peternak akan mengalami kerugian meskipun biaya pakan sudah mengalami penurunan.
Situasi seperti ini bukan hal baru bagi peternak rakyat di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak peternak menghadapi periode di mana harga ayam di tingkat kandang berada di bawah biaya produksi.
Margin Peternak Masih Rentan
Meskipun harga pakan mulai menurun, margin peternak tetap sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar.
Beberapa faktor yang memengaruhi margin usaha peternak antara lain:
- fluktuasi harga ayam hidup
- keseimbangan antara produksi dan permintaan
- stabilitas harga DOC
- biaya operasional peternakan
Jika faktor-faktor tersebut tidak berada dalam kondisi yang seimbang, maka margin usaha peternak tetap akan berada dalam kondisi rentan.
Pentingnya Stabilitas Industri
Situasi ini menunjukkan bahwa stabilitas industri perunggasan tidak dapat hanya bergantung pada satu faktor saja.
Penurunan harga pakan memang membantu memperbaiki struktur biaya produksi, tetapi keberlanjutan usaha peternak juga membutuhkan stabilitas harga ayam di pasar.
Karena itu, diperlukan keseimbangan yang lebih luas di seluruh rantai industri perunggasan.
Mulai dari sektor hulu seperti pakan dan bibit ayam, hingga sektor hilir seperti distribusi dan pasar konsumen.
Menjaga Keberlanjutan Peternak
Peternak rakyat memiliki peran penting dalam menjaga pasokan ayam nasional.
Jika margin usaha peternak terus tertekan, maka risiko penurunan produksi akan semakin besar. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi stabilitas pasokan protein hewani bagi masyarakat.
Karena itu, upaya menjaga keseimbangan industri perunggasan bukan hanya kepentingan pelaku usaha, tetapi juga bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional.
You may like
-
Membaca Siklus Industri Broiler Indonesia: Dari DOC hingga Harga Ayam di Pasar
-
Fenomena Harga Ayam Jatuh: Realita Lapangan yang Tidak Banyak Diketahui Publik
-
Harga Ayam Hidup Anjlok ke Rp18.500, HPP Sudah Rp22.000: Peternak Rakyat Kembali Tertekan
-
Cara Membaca Siklus Broiler di Indonesia: Strategi Prediksi Harga Ayam 1–2 Bulan ke Depan
-
Harga Livebird Terus Turun, Peternak Rakyat Sampai Kapan Harus Bertahan?
-
Harga Ayam Terjun Bebas, Pakan Naik per April: Peternak Rakyat Menjerit
Berita
Harga Livebird Terus Turun, Peternak Rakyat Sampai Kapan Harus Bertahan?
Published
1 week agoon
March 31, 2026By
Fariz
Industri perunggasan nasional kembali menghadapi tekanan serius. Penurunan harga ayam hidup (livebird/LB) yang terjadi hari ini di berbagai daerah menjadi sinyal kuat bahwa keseimbangan sektor ini masih jauh dari kata stabil. Di tengah biaya produksi yang tetap tinggi, kondisi ini semakin menekan peternak rakyat yang menjadi tulang punggung produksi protein hewani nasional.
Fenomena turunnya harga livebird bukan sekadar fluktuasi biasa. Bagi peternak mandiri, kondisi ini adalah ancaman langsung terhadap keberlangsungan usaha. Ketika harga jual ayam berada di bawah biaya produksi, maka setiap panen bukan lagi membawa keuntungan, melainkan kerugian yang harus ditanggung demi menjaga siklus usaha tetap berjalan.
Tekanan Ganda: Harga Turun, Biaya Tetap Tinggi
Dalam beberapa waktu terakhir, harga livebird di tingkat peternak terus mengalami pelemahan. Di sejumlah wilayah, harga bahkan dilaporkan menyentuh titik yang tidak lagi menutupi biaya produksi. Sementara itu, komponen biaya seperti pakan, DOC (day old chick), dan operasional kandang tidak menunjukkan penurunan yang signifikan.
Kondisi ini menciptakan tekanan ganda. Di satu sisi, peternak harus tetap menjual ayamnya karena keterbatasan kapasitas kandang dan kebutuhan cash flow. Namun di sisi lain, harga jual yang rendah membuat mereka harus rela merugi.
Situasi ini memperlihatkan adanya ketidakseimbangan struktural dalam industri perunggasan. Ketika biaya produksi cenderung stabil atau naik, namun harga jual sangat fluktuatif dan tidak terkendali, maka pihak yang paling terdampak adalah peternak di level bawah.
Peternak Rakyat Selalu Jadi Pihak Paling Rentan
Siklus harga dalam industri unggas sejatinya bukan hal baru. Namun yang menjadi persoalan adalah pola dampaknya yang selalu berulang: peternak rakyat menjadi pihak yang paling rentan.
Ketika harga ayam tinggi, peternak sering kali diminta untuk menahan produksi atau menjaga harga agar tetap terjangkau bagi konsumen. Namun ketika harga jatuh, tidak ada mekanisme perlindungan yang cukup kuat untuk menjaga peternak dari kerugian.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem tata kelola industri unggas belum sepenuhnya berpihak pada keseimbangan. Peternak rakyat sering kali berada pada posisi yang tidak memiliki daya tawar kuat, baik terhadap pasar maupun terhadap rantai pasok yang lebih besar.
Jika kondisi ini terus berulang tanpa solusi konkret, maka bukan tidak mungkin jumlah peternak mandiri akan terus berkurang. Mereka yang tidak mampu bertahan akan keluar dari usaha, dan pada akhirnya struktur industri akan semakin didominasi oleh pelaku besar.
Sinkronisasi Hulu-Hilir Masih Jadi Tantangan
Dorongan untuk melakukan sinkronisasi kebijakan industri unggas sebenarnya telah disampaikan oleh berbagai pihak, termasuk Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU). Namun implementasi di lapangan masih belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Permasalahan utama terletak pada belum terintegrasinya kebijakan dari hulu hingga hilir. Produksi DOC yang tidak terkendali, fluktuasi harga pakan, hingga distribusi ayam di pasar yang tidak merata menjadi faktor utama yang memengaruhi harga livebird.
Tanpa pengendalian yang terkoordinasi, kelebihan pasokan di pasar akan terus terjadi, yang pada akhirnya menekan harga di tingkat peternak. Sementara itu, di sisi hilir, harga produk unggas di tingkat konsumen tidak selalu mencerminkan penurunan harga di tingkat peternak.
Kesenjangan ini menunjukkan adanya rantai distribusi yang belum efisien serta lemahnya pengawasan terhadap mekanisme pasar.
Suara Peternak: Butuh Keadilan dalam Tata Kelola
Ketua Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO), Kusnan, menegaskan bahwa kondisi ini harus menjadi perhatian serius bagi seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, peternak rakyat tidak menolak persaingan dalam industri. Namun, yang dibutuhkan adalah sistem yang adil dan memberikan ruang bagi semua pelaku usaha untuk berkembang.
“Peternak rakyat tidak menolak persaingan, tetapi kami membutuhkan tata kelola industri yang adil dan sinkron. Jika setiap kali harga jatuh peternak rakyat harus menanggung kerugian sendirian, maka lama-lama banyak peternak yang tidak akan mampu bertahan,” ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan realitas yang dihadapi peternak di lapangan. Mereka tidak meminta perlindungan berlebihan, tetapi menginginkan adanya keseimbangan dalam sistem industri.
Ancaman terhadap Ketahanan Pangan
Keberlangsungan peternak rakyat bukan hanya soal ekonomi individu, tetapi juga berkaitan erat dengan ketahanan pangan nasional. Ayam merupakan salah satu sumber protein hewani utama bagi masyarakat Indonesia.
Jika peternak rakyat terus tertekan dan akhirnya gulung tikar, maka produksi ayam nasional akan terpengaruh. Ketergantungan terhadap pelaku usaha besar akan meningkat, yang berpotensi menciptakan ketimpangan baru dalam distribusi dan harga pangan.
Selain itu, hilangnya peternak rakyat juga berarti berkurangnya lapangan kerja di sektor perdesaan. Dampak sosial ekonomi dari kondisi ini tidak bisa dianggap remeh.
Solusi: Penguatan Kebijakan dan Pengawasan
Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan langkah konkret yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian antara lain:
1. Pengendalian Produksi DOC
Produksi DOC harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar agar tidak terjadi kelebihan pasokan yang berujung pada jatuhnya harga.
2. Stabilitas Harga Pakan
Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan. Kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga pakan akan sangat membantu peternak.
3. Penguatan Sistem Distribusi
Distribusi ayam dari peternak ke pasar harus lebih efisien agar harga di tingkat peternak dan konsumen lebih seimbang.
4. Intervensi Pemerintah Saat Harga Jatuh
Pemerintah perlu memiliki mekanisme intervensi yang jelas ketika harga livebird jatuh di bawah biaya produksi, misalnya melalui penyerapan atau program stabilisasi harga.
5. Transparansi Data Produksi dan Pasar
Data yang akurat dan transparan akan membantu semua pihak dalam mengambil keputusan yang tepat dan menghindari overproduksi.
Momentum Perbaikan Industri
Kondisi saat ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh dalam industri perunggasan nasional. Sinkronisasi kebijakan dari hulu hingga hilir bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Semua pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha besar, hingga organisasi peternak, harus duduk bersama untuk merumuskan solusi yang berkelanjutan. Tanpa kolaborasi yang kuat, masalah yang sama akan terus berulang di masa depan.
Penutup
Penurunan harga livebird yang terus terjadi menjadi pengingat bahwa industri perunggasan nasional masih menghadapi tantangan struktural yang serius. Di tengah kondisi ini, peternak rakyat kembali menjadi pihak yang paling terdampak.
Menjaga keberlangsungan peternak rakyat bukan hanya soal keadilan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga fondasi ketahanan pangan Indonesia. Jika tidak ada langkah nyata dan terkoordinasi, maka pertanyaan yang muncul hari ini akan terus bergema: sampai kapan peternak rakyat harus bertahan?
Kabar Kandang
Akar Masalah: Mengapa Harga Pakan Sulit Terkendali?
Published
2 weeks agoon
March 28, 2026By
Fariz
Pendahuluan
Ketika harga pakan melambung tinggi, reaksi yang sering muncul adalah menyalahkan cuaca buruk atau kondisi pasar global. Namun benarkah faktor-faktor tersebut menjadi satu-satunya penyebab? Atau ada masalah struktural yang lebih dalam di sistem tata niaga pakan nasional?
Artikel ini akan membedah akar permasalahan mengapa harga pakan di Indonesia begitu sulit dikendalikan. Bukan hanya dari sisi hulu (bahan baku), tetapi juga dari rantai distribusi yang panjang dan kebijakan impor yang seringkali tidak tepat sasaran. Pemahaman atas akar masalah ini penting agar solusi yang ditawarkan tidak sekadar tambal sulam, tetapi benar-benar menyelesaikan masalah secara fundamental.
Panjangnya Rantai Distribusi Jagung
Jagung adalah komoditas utama penyusun pakan ternak, dengan porsi mencapai 50-60 persen dalam formulasi pakan. Indonesia sebenarnya memiliki potensi produksi jagung yang besar. Namun mengapa peternak selalu menghadapi harga jagung yang tinggi?
Dominasi Tengkulak dan Middleman
Mayoritas peternak rakyat tidak memiliki akses langsung untuk membeli jagung dari petani. Mereka harus melalui rantai perantara yang panjang:
- Petani Jagung → 2. Tengkulak Desa → 3. Pengumpul Kecamatan → 4. Gudang Kabupaten → 5. Distributor Provinsi → 6. Pengecer/Pabrik Pakan Skala Kecil → 7. Peternak
Setiap mata rantai mengambil margin keuntungan. Hasilnya, harga jagung yang di tingkat petani hanya Rp 4.500 per kilogram bisa melonjak menjadi Rp 7.000 atau lebih saat sampai ke tangan peternak. Margin distribusi bisa mencapai 40-60 persen.
Biaya Logistik yang Tinggi
Indonesia adalah negara kepulauan. Sentra produksi jagung utama berada di Jawa Timur, Lampung, dan Sulawesi Selatan. Sementara sentra peternakan tersebar di seluruh pulau. Biaya pengiriman jagung antar pulau menggunakan kapal laut menambah beban biaya yang signifikan.
Di beberapa daerah terpencil seperti Nusa Tenggara Timur atau Papua, harga jagung di tingkat peternak bisa mencapai Rp 10.000 – Rp 12.000 per kilogram. Ini membuat usaha peternakan di wilayah timur Indonesia hampir tidak kompetitif.
Bungkil Kedelai dan Ketergantungan Impor
Selain jagung, komponen penting lainnya dalam pakan adalah sumber protein seperti bungkil kedelai (soybean meal/SBM). Di sinilah letak kerentanan terbesar industri pakan nasional.
Fakta Impor Bungkil Kedelai
Indonesia mengimpor lebih dari 90 persen kebutuhan bungkil kedelainya. Negara pemasok utama adalah Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina. Akibatnya, harga bungkil kedelai di dalam negeri sangat dipengaruhi oleh:
- Kebijakan ekspor negara asal: Misalnya, ketika Amerika Serikat mengalami gagal panen kedelai, harga SBM dunia melonjak.
- Nilai tukar rupiah: Sebagian besar transaksi impor menggunakan dolar AS. Ketika rupiah melemah, harga SBM otomatis naik.
- Biaya pengiriman laut (freight cost): Fluktuasi harga minyak dunia berdampak langsung pada biaya logistik impor.
Dampak pada Pakan Pabrikan
Industri pakan ternak skala besar di Indonesia sangat bergantung pada SBM impor. Ketika harga SBM naik, pabrik pakan menaikkan harga jual produknya. Peternak rakyat, sebagai konsumen akhir, tidak memiliki daya tawar dan harus menerima harga yang ditetapkan.
H1: Rekomendasi Kebijakan Permindo
Berdasarkan analisis akar masalah di atas, Permindo merumuskan sejumlah rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang bagi peternak rakyat.
Pembentukan Koperasi Pembelian
Salah satu cara paling efektif untuk memotong rantai distribusi jagung adalah dengan membentuk koperasi pembelian yang terdiri dari kumpulan peternak. Koperasi ini bisa membeli jagung langsung dari petani dalam jumlah besar, menyimpannya di gudang sendiri, dan mendistribusikannya kepada anggota dengan harga yang lebih murah.
Permindo saat ini sedang menginisiasi pembentukan koperasi semacam ini di lima provinsi. Tantangan utamanya adalah modal awal dan manajemen pengelolaan stok. Diperlukan pendampingan dan akses permodalan dari perbankan.
Insentif bagi Petani Jagung Lokal
Kemandirian pakan tidak akan tercapai tanpa kemandirian jagung. Pemerintah perlu memberikan insentif bagi petani jagung, seperti:
- Bantuan benih unggul dengan produktivitas tinggi.
- Penyediaan pupuk bersubsidi tepat waktu.
- Jaminan harga pembelian oleh Bulog atau BUMN pangan agar petani tidak dilempar ke tengkulak.
Transparansi Harga
Peternak sering kali tidak mengetahui harga referensi jagung dan bahan baku pakan lainnya. Permindo mendorong pembuatan aplikasi monitoring harga yang bisa diakses seluruh peternak. Dengan informasi harga yang transparan, peternak bisa membandingkan harga antar distributor dan memilih yang paling menguntungkan.
Pengembangan Pakan Berbasis Sumber Daya Lokal
Untuk mengurangi ketergantungan pada SBM impor, riset dan pengembangan pakan alternatif berbasis sumber daya lokal harus digencarkan. Contoh potensi lokal yang besar:
- Bungkil kelapa (terutama di daerah penghasil kelapa seperti Sulawesi Utara, Riau)
- Bungkil inti sawit (di Sumatera dan Kalimantan)
- Maggot BSF (dapat diproduksi sendiri oleh peternak dengan biaya rendah)
Penutup
Akar masalah harga pakan yang sulit terkendali bersifat kompleks dan membutuhkan solusi sistemik. Tidak ada jalan pintas. Namun dengan kolaborasi antara peternak, pemerintah, dan swasta, kemandirian pakan bukanlah mimpi. Permindo berkomitmen untuk terus berada di garda depan dalam perjuangan ini.
Call to Action
Mari berkontribusi dalam gerakan kemandirian pakan! Bagikan artikel ini kepada sesama peternak dan pengambil kebijakan di daerah Anda. Ikuti akun media sosial Permindo untuk mendapatkan update kebijakan dan pelatihan pakan alternatif gratis.
Harga Pakan Ternak, Jagung ,Tata Niaga, Impor Pakan, Bungkil Kedelai ,Soybean Meal Distribusi Pangan, Peternak Rakyat ,Industri Pakan, Kebijakan Pangan, Kemandirian Pakan, Permindo
Berita
Menjeritnya Peternak Ayam Ras: Ketika Pakan Lebih Mahal dari Harga Jual
Published
2 weeks agoon
March 28, 2026By
Fariz
Pendahuluan
Subsektor peternakan unggas, khususnya ayam ras pedaging (broiler) dan petelur (layer), merupakan komoditas yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga pakan. Mengapa demikian? Karena dalam struktur biaya produksi usaha perunggasan, pakan menyumbang porsi terbesar, yakni mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya operasional.
Memasuki Maret 2026, situasi harga pakan menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Kementerian Pertanian mencatat adanya tren penurunan harga pakan ternak di tingkat produsen sepanjang Februari hingga awal Maret 2026 . Penurunan ini diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak yang selama setahun terakhir tertekan oleh lonjakan harga bahan baku.
Namun, meski ada kabar baik ini, peternak ayam ras masih harus mencermati beberapa tantangan. Kebijakan pengalihan impor bungkil kedelai yang sempat memicu gejolak harga pada awal tahun, serta fluktuasi harga jagung, masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai . Artikel ini akan mengupas secara detail kondisi terkini harga pakan dan ketidakseimbangan ekonomi yang masih dihadapi peternak ayam ras, serta strategi bertahan yang mereka lakukan di tengah dinamika pasar Maret 2026.
Kabar Baik di Awal Maret 2026: Harga Pakan Mulai Terkoreksi
Setelah mengalami tekanan yang cukup berat sepanjang tahun 2025, peternak ayam ras mendapatkan angin segar di awal Maret 2026. Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementerian Pertanian, terjadi tren penurunan harga pada berbagai jenis pakan yang digunakan peternak ayam pedaging maupun petelur .
Data Harga Pakan Terbaru Maret 2026
Berikut adalah rincian harga pakan terkini di tingkat produsen berdasarkan data resmi Kementerian Pertanian per Maret 2026 :
| Jenis Pakan | Harga Sebelumnya | Harga Maret 2026 | Penurunan |
|---|---|---|---|
| BR0 (Broiler Pre-Starter) | Rp 8.533/kg | Rp 8.451/kg | Rp 82/kg |
| BR1 (Broiler Starter) | Rp 8.122/kg | Rp 8.010/kg | Rp 112/kg |
| BR2 (Broiler Finisher) | Rp 8.056/kg | Rp 7.967/kg | Rp 89/kg |
| P3 (Layer Masa Produksi) | Rp 6.889/kg | Rp 6.803/kg | Rp 86/kg |
| KP3 (Konsentrat Layer) | Rp 7.809/kg | Rp 7.735/kg | Rp 74/kg |
Sumber: SPORA Direktorat Pakan Kementan, pemantauan 33 pabrik pakan per Maret 2026
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menyatakan bahwa tren penurunan harga pakan ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.
“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan stabilitas harga produk peternakan juga lebih terjaga,” ujar Agung di Kantor Kementan, Jakarta, Kamis (5/3/2026) .
Meski demikian, perlu dicatat bahwa penurunan harga ini baru dilakukan oleh sekitar 33 pabrik dari total 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, atau sekitar 38 persen dari total industri .
Perbandingan Harga yang Masih Perlu Dicermati
Meskipun harga pakan mulai menunjukkan tren penurunan, peternak ayam ras masih harus menghadapi tantangan dari sisi harga jual ternak yang cenderung fluktuatif. Mari kita lihat perbandingan terkini:
Data Harga Ternak Terbaru Maret 2026
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia per 25 Maret 2026 :
| Komoditas | Harga Maret 2026 |
|---|---|
| Daging Ayam Ras (eceran nasional) | Rp 43.450/kg |
| Telur Ayam Ras (eceran nasional) | Rp 32.350/kg |
Sementara itu, berdasarkan data dari Pemerintah Kota Kediri per 26 Maret 2026, harga daging ayam ras tercatat Rp 40.600 per kilogram .
Perhitungan Feed Cost per Kilogram
Untuk memproduksi satu kilogram ayam hidup, diperlukan pakan sekitar 1,5 hingga 1,7 kilogram (tergantung kualitas pakan dan manajemen pemeliharaan). Dengan harga pakan BR1 terkini Rp 8.010 per kilogram, mari kita hitung biaya pakan:
- Asumsi FCR (Feed Conversion Ratio) = 1,6
- Harga pakan = Rp 8.010/kg
- Biaya pakan per kg ayam hidup = 1,6 x Rp 8.010 = Rp 12.816
Nilai Rp 12.816 ini belum termasuk biaya DOC (day old chick), vitamin, obat-obatan, listrik, tenaga kerja, dan penyusutan kandang. Dengan harga jual ayam hidup di tingkat peternak yang berkisar Rp 18.000 – Rp 19.000 per kilogram (dengan asumsi margin distribusi dari peternak ke konsumen sekitar 50-60 persen), maka margin yang tersisa untuk menutup biaya lain masih sangat tipis.
Perbandingan dengan periode sebelumnya:
- Akhir 2025: Biaya pakan mencapai Rp 14.400 per kg ayam hidup
- Maret 2026: Biaya pakan turun menjadi Rp 12.816 per kg ayam hidup
Ada penurunan biaya pakan sekitar Rp 1.584 per kilogram ayam hidup atau sekitar 11 persen. Ini merupakan kabar baik, meskipun masih diperlukan upaya lebih lanjut agar margin keuntungan peternak dapat kembali pulih.
Tantangan yang Masih Menghantui
Meski ada tren penurunan harga pakan, peternak ayam ras masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi.
Gejolak Kebijakan Impor Bungkil Kedelai
Salah satu faktor yang sempat mengganggu stabilitas harga pakan di awal tahun 2026 adalah kebijakan pengalihan impor bungkil kedelai (soybean meal/SBM) dari swasta ke BUMN PT Berdikari yang mulai berlaku 1 Januari 2026 .
Pada akhir 2025 hingga awal Januari 2026, kebijakan ini sempat menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga SBM. Harga SBM melonjak dari kisaran Rp 6.800 – Rp 7.100 per kilogram menjadi Rp 7.700 – Rp 8.000 per kilogram .
Pemerintah kemudian merespons dengan menetapkan masa transisi selama tiga bulan (Januari–Maret 2026), di mana swasta masih diizinkan mengimpor SBM hingga 31 Maret 2026. Langkah ini membuat pasokan mulai kembali mengalir dan harga perlahan stabil .
Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Jawa Tengah Suwardi mengungkapkan kekhawatirannya:
“Kami berharap ketersediaan stok dan harga SBM dapat tetap terjaga selama masa transisi dan setelah kebijakan penuh diterapkan. Jika PT Berdikari bisa mendapatkan SBM dengan harga terjangkau dan kualitas baik, ini bisa menjadi solusi jangka panjang. Namun jika tidak, dampaknya ke para peternak unggas akan sangat luar biasa” .
Program SPHP Jagung Pakan
Untuk menjaga stabilitas harga pakan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan penyaluran 242.000 ton jagung pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dimulai Maret 2026 .
Program ini menyasar peternak unggas dengan harga jagung bersubsidi di bawah pasar. Pada tahun 2025, program SPHP jagung telah menyalurkan 51.200 ton kepada 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi .
Pada tahun 2026, target penyaluran meningkat drastis hingga 372,6 persen dengan anggaran Rp 678 miliar. Hal ini diharapkan mampu memberikan angin segar bagi peternak, terutama menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang biasanya disertai peningkatan permintaan .
I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, menyatakan:
“Program SPHP jagung pakan ini secara khusus menyasar para peternak unggas di berbagai wilayah Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengatasi gejolak harga jagung di tingkat peternak yang berdampak langsung pada biaya produksi” .
Strategi Bertahan ala Peternak Rakyat
Menghadapi dinamika harga yang masih fluktuatif, peternak rakyat yang tergabung dalam wadah Permindo terus melakukan berbagai strategi untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Pemanfaatan Bahan Pakan Alternatif
Gejolak harga SBM di awal tahun mendorong banyak peternak untuk mulai mencari bahan baku alternatif. Beberapa opsi yang mulai banyak digunakan antara lain :
- Corn Gluten Meal (CGM) – sumber protein alternatif, harga saat ini Rp 10.500 – Rp 11.000 per kg
- Corn Gluten Feed (CGF) – mengalami kenaikan permintaan signifikan, harga Rp 4.000 – Rp 4.300 per kg
- Palm Kernel Meal (PKM) – sumber protein dari sawit, banyak tersedia di wilayah Sumatera dan Kalimantan
- Bungkil Kopra – potensi besar di daerah penghasil kelapa
Tito Ari Santoso, dalam opininya di Poultry Indonesia edisi Februari 2026, menuliskan:
“Gejolak pasokan dan harga soybean meal yang mewarnai awal 2026 kembali menjadi pengingat sekaligus alarm bagi industri perunggasan nasional. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor membuat sektor ini sangat rentan terhadap perubahan kebijakan maupun gangguan pasokan global” .
Penguatan Kelembagaan Peternak
Permindo terus mendorong peternak untuk bergabung dalam kelompok atau koperasi. Dengan berkelompok, peternak memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam membeli pakan, baik dari pabrik maupun distributor.
Pembelian kolektif (bulk buying) memungkinkan peternak mendapatkan harga yang lebih kompetitif, serta akses terhadap informasi harga dan stok bahan baku secara lebih cepat dan akurat.
Harapan pada Kebijakan Pemerintah
Meskipun harga pakan mulai menunjukkan tren perbaikan, masih ada sejumlah harapan dari peternak kepada pemerintah.
Konsistensi Kebijakan
Peternak berharap kebijakan pengalihan impor SBM ke PT Berdikari dapat berjalan lancar setelah masa transisi berakhir pada 31 Maret 2026. PT Berdikari diharapkan mampu:
- Mendapatkan SBM berkualitas dari produsen langsung (bukan distributor tingkat lanjut) sehingga harga lebih kompetitif
- Menyiapkan infrastruktur logistik dan pergudangan yang memadai
- Menjaga ketersediaan pasokan secara rutin tanpa gangguan
- Menjual SBM dengan harga yang terjangkau bagi peternak skala kecil dan menengah
Stabilitas Harga Jual Ternak
Penurunan harga pakan akan lebih bermakna jika diimbangi dengan stabilitas harga jual ternak di tingkat peternak. Pemerintah diharapkan terus memantau dan mengintervensi jika terjadi fluktuasi harga yang merugikan peternak.
Berdasarkan data PIHPS per 25 Maret 2026, harga daging ayam ras di tingkat konsumen masih di atas Rp 40.000 per kilogram . Dengan asumsi margin distribusi yang wajar, harga di tingkat peternak seharusnya berada di kisaran Rp 18.000 – Rp 20.000 per kilogram—masih memberikan ruang keuntungan tipis setelah memperhitungkan biaya pakan yang mulai turun.
Penutup
Memasuki Maret 2026, peternak ayam ras mulai melihat secercah harapan. Harga pakan yang mulai terkoreksi, program SPHP jagung yang ditingkatkan, serta masa transisi kebijakan impor SBM yang memberikan ruang adaptasi, menjadi kabar baik bagi peternak rakyat.
Namun, perjalanan masih panjang. Konsistensi kebijakan, ketersediaan bahan baku alternatif, serta penguatan kelembagaan peternak menjadi kunci agar momentum perbaikan ini dapat berkelanjutan.
Permindo akan terus mendampingi peternak rakyat dalam menghadapi dinamika pasar, memperjuangkan kebijakan yang berpihak, serta mendorong kemandirian pakan berbasis sumber daya lokal.
Call to Action
Apakah Anda peternak ayam ras yang sedang merasakan dampak penurunan harga pakan di daerah Anda? Bagikan pengalaman dan data Anda di kolom komentar. Mari kita kumpulkan suara peternak rakyat untuk memastikan bahwa momentum perbaikan ini benar-benar dirasakan oleh semua.
Bergabunglah dengan Permindo untuk mendapatkan akses informasi harga terkini, pelatihan pakan alternatif, dan pendampingan teknis. Bersama Permindo, kita kuatkan peternak rakyat Indonesia!
Membaca Siklus Industri Broiler Indonesia: Dari DOC hingga Harga Ayam di Pasar
Fenomena Harga Ayam Jatuh: Realita Lapangan yang Tidak Banyak Diketahui Publik
Harga Ayam Hidup Anjlok ke Rp18.500, HPP Sudah Rp22.000: Peternak Rakyat Kembali Tertekan
Melawan Kartel dan Oligarki Asing: Mengapa Investasi Danantara Rp20 Triliun Begitu Krusial bagi Peternak Rakyat?
Setelah Lebaran Bukan Mekanisme Pasar, Tapi Kegagalan Tata Kelola Perunggasan.
Stabilitas Harga Ayam: Mencari Titik Seimbang antara Produksi dan Permintaan
Trending
-
Berita1 month agoMelawan Kartel dan Oligarki Asing: Mengapa Investasi Danantara Rp20 Triliun Begitu Krusial bagi Peternak Rakyat?
-
Business4 weeks agoSetelah Lebaran Bukan Mekanisme Pasar, Tapi Kegagalan Tata Kelola Perunggasan.
-
Business1 month agoStabilitas Harga Ayam: Mencari Titik Seimbang antara Produksi dan Permintaan
-
Kabar Kandang1 month agoRp1.000 Triliun dari Ayam: Saatnya Peternak Rakyat Kembali Jadi Tuan Rumah
-
Berita1 month agoEksportir: Proses Sertifikat Ekspor Kementan Hanya Satu Hari!
-
Berita4 weeks agoDOC Ayam dan Masa Depan Peternak Rakyat dalam Industri Perunggasan
-
Business1 month agoMemahami Regulasi Produksi Perunggasan: Panduan Praktis untuk Peternak Rakyat
-
Entertainment1 month agoEntertainment Dunia Ternak Unggas: Dari Edukasi Digital hingga Konten Viral Peternak Modern
