Industri perunggasan merupakan salah satu sektor pangan strategis di Indonesia. Daging ayam dan telur menjadi sumber protein hewani yang paling terjangkau bagi masyarakat.
Namun di balik pentingnya sektor ini, terdapat satu persoalan mendasar yang sering menimbulkan polemik di kalangan pelaku usaha: ketidakjelasan data produksi ayam nasional.
Perbedaan angka produksi antara berbagai sumber sering memunculkan pertanyaan besar di kalangan peternak rakyat: berapa sebenarnya jumlah produksi ayam di Indonesia?
Ketika Data Tidak Selalu Sama
Dalam beberapa kesempatan, data mengenai produksi ayam, populasi ayam, hingga kebutuhan pasar sering menunjukkan perbedaan antara lembaga pemerintah, asosiasi industri, maupun pelaku usaha.
Perbedaan ini bisa terjadi karena beberapa faktor seperti:
metode penghitungan yang berbeda
sumber data yang tidak seragam
keterbatasan sistem pelaporan produksi
Namun bagi peternak rakyat, perbedaan data ini dapat berdampak besar terhadap kondisi pasar.
Dampak Data yang Tidak Transparan
Ketika data produksi tidak jelas, maka pengambilan kebijakan juga berpotensi tidak tepat sasaran.
Misalnya ketika terjadi kelebihan pasokan ayam di pasar. Tanpa data produksi yang akurat, pemerintah bisa terlambat mengambil langkah stabilisasi.
Akibatnya harga ayam hidup di tingkat peternak sering mengalami penurunan tajam saat panen raya.
Situasi seperti ini paling dirasakan oleh peternak rakyat yang memiliki keterbatasan dalam mengendalikan produksi maupun akses pasar.
Pentingnya Data yang Akurat untuk Industri Perunggasan
Transparansi data produksi sebenarnya sangat penting bagi semua pihak dalam industri perunggasan.
Dengan data yang akurat dan terbuka, berbagai pihak dapat:
memprediksi kebutuhan pasar
mengatur jumlah produksi
menjaga stabilitas harga ayam
melindungi keberlangsungan usaha peternak
Data yang jelas juga membantu pemerintah dalam menyusun kebijakan yang lebih tepat bagi sektor peternakan.
Menuju Sistem Data Peternakan yang Lebih Modern
Di era digital, pengumpulan data produksi sebenarnya dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui sistem pelaporan berbasis teknologi.
Beberapa negara telah mengembangkan sistem data peternakan yang terintegrasi sehingga pemerintah, pelaku usaha, dan peternak dapat mengakses informasi produksi secara lebih transparan.
Langkah seperti ini dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kepercayaan dan stabilitas di industri perunggasan nasional.
Peran Organisasi Peternak
Organisasi peternak memiliki peran penting dalam mendorong transparansi data produksi di sektor perunggasan.
Melalui advokasi dan penguatan jaringan peternak, organisasi seperti PERMINDO dapat menyuarakan pentingnya sistem data yang lebih terbuka dan akurat.
Dengan transparansi data, diharapkan tercipta industri perunggasan yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan bagi seluruh pelaku usaha, terutama peternak rakyat.
Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat kebijakan pengelolaan produksi ayam ras nasional sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi keberlangsungan usaha peternak rakyat. Upaya ini dilakukan melalui penataan pemasukan bibit ayam secara terukur, adaptif, dan berbasis kebutuhan pasar.
Langkah ini menjadi krusial di tengah dinamika industri perunggasan nasional yang kerap mengalami fluktuasi harga akibat ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan. Dengan pengaturan yang lebih presisi, pemerintah berharap stabilitas pasar dapat terjaga secara berkelanjutan.
Evaluasi Produksi Ayam Nasional Triwulan I 2026
Penguatan kebijakan ini dibahas dalam Rapat Evaluasi Triwulan Pemasukan bibit ayam ras Grand Parent Stock (GPS) yang diselenggarakan pada 7 April 2026 secara virtual.
Dalam rapat tersebut, pemerintah mengevaluasi realisasi pemasukan bibit selama triwulan pertama tahun 2026 sekaligus menyusun strategi pengendalian produksi ke depan.
Berdasarkan data sementara:
Realisasi GPS broiler: 87.150 ekor DOC
Realisasi GPS layer: 2.995 ekor DOC
Data ini menjadi acuan penting dalam menyusun perencanaan produksi yang lebih akurat dan berkelanjutan, guna menghindari over supply maupun kekurangan pasokan di pasar.
Sinkronisasi Produksi dengan Kebutuhan Nasional
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian, Hary Suhada, menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan penyempurnaan tata kelola pemasukan bibit ayam.
Menurutnya, sinkronisasi antara perencanaan dan realisasi menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan produksi nasional.
“Perencanaan dan realisasi pemasukan GPS terus kami sinkronkan dengan kebutuhan nasional, sehingga pengaturan produksi dapat berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa jumlah produksi ayam di lapangan sesuai dengan kebutuhan konsumsi masyarakat, sehingga tidak terjadi tekanan harga yang merugikan peternak.
Peran Strategis National Stock Replacement (NSR)
Salah satu instrumen utama dalam pengendalian produksi ayam nasional adalah implementasi National Stock Replacement (NSR) yang mulai diterapkan sejak awal tahun 2026.
NSR berfungsi sebagai sistem pengaturan siklus produksi ayam melalui:
Penjadwalan pemasukan bibit
Pengaturan distribusi DOC
Pengendalian populasi ayam di pasar
Dengan sistem ini, produksi ayam dapat dikendalikan secara lebih terukur, sehingga fluktuasi harga dapat diminimalkan.
Bagi peternak rakyat, penerapan NSR memberikan dampak positif berupa:
Kepastian siklus produksi
Stabilitas harga di tingkat kandang
Keberlanjutan usaha yang lebih terjamin
Peningkatan Kualitas Bibit dan Daya Saing Nasional
Selain fokus pada kuantitas produksi, Kementan juga mendorong peningkatan kualitas bibit ayam ras nasional.
Upaya ini dilakukan melalui:
Penguatan mutu genetik
Peningkatan performa produksi
Standarisasi kualitas bibit
Dengan kualitas bibit yang lebih baik, produktivitas peternak dapat meningkat, sehingga mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional.
Peluang Impor GPS dari Negara Mitra
Dalam rangka menjaga ketersediaan bibit unggul, pemerintah juga membuka peluang impor GPS dari beberapa negara mitra yang telah memiliki kesepakatan harmonisasi dengan Indonesia, seperti:
Australia
United Kingdom
Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat pasokan bibit ayam ras nasional sekaligus menjaga keberlanjutan produksi dalam negeri.
Pentingnya Keseimbangan Produksi dan Pasar
Pakar Tim Analisa Penyediaan dan Kebutuhan Ayam Ras dan Telur Konsumsi, Trioso Purnawarman, menekankan bahwa keseimbangan produksi menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas pasar.
Menurutnya, distribusi NSR harus dilakukan secara proporsional agar tidak terjadi ketimpangan pasokan.
“Sebaran NSR perlu dijaga agar tetap proporsional, sehingga kesinambungan pasokan dan stabilitas pasar dapat terjaga,” jelasnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Dawami, juga menyoroti pentingnya pengelolaan produksi yang tepat.
“Dengan pengaturan produksi yang baik, stabilitas harga dapat tetap terjaga sehingga memberikan kepastian bagi peternak dan konsumen,” ujarnya.
Komitmen Pemerintah Melindungi Peternak Rakyat
Kementerian Pertanian menegaskan bahwa penguatan tata kelola produksi ayam ras merupakan bagian dari tanggung jawab negara dalam:
Melindungi peternak rakyat
Menjaga stabilitas harga ayam hidup
Menjamin keterjangkauan protein hewani bagi masyarakat
Dengan kebijakan yang semakin presisi, pemerintah optimistis sektor perunggasan nasional akan menjadi lebih stabil dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Penguatan pengaturan produksi ayam melalui kebijakan seperti NSR dan pengendalian pemasukan GPS menjadi langkah strategis dalam menjaga keseimbangan industri perunggasan nasional.
Jika implementasi kebijakan ini berjalan konsisten dan tepat sasaran, maka:
Harga ayam akan lebih stabil
Peternak rakyat terlindungi dari kerugian
Pasokan protein hewani tetap terjaga
Ke depan, sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan peternak menjadi kunci utama dalam menciptakan ekosistem perunggasan yang sehat, adil, dan berkelanjutan di Indonesia.
Industri broiler di Indonesia dikenal memiliki pola yang berulang dan sebenarnya dapat diprediksi. Meskipun bagi sebagian orang pergerakan harga ayam terlihat fluktuatif dan sulit ditebak, bagi pelaku usaha yang memahami siklusnya, arah pasar justru bisa dibaca sejak jauh hari.
Hal ini dimungkinkan karena ayam broiler memiliki siklus produksi yang relatif singkat, yaitu sekitar 30–35 hari dari DOC (Day Old Chick) hingga panen. Artinya, perubahan supply ayam yang terjadi hari ini sebenarnya sudah ditentukan sekitar satu bulan sebelumnya.
Dalam praktiknya, ada empat faktor utama yang sangat mempengaruhi pergerakan industri broiler di Indonesia, yaitu:
Harga dan ketersediaan DOC
Jumlah chick in
Harga pakan
Struktur industri yang didominasi integrator besar
Keempat faktor ini saling berinteraksi dan membentuk siklus yang terus berulang dalam industri perunggasan nasional.
DOC: Titik Awal Seluruh Siklus Broiler
DOC (Day Old Chick) merupakan titik awal dari seluruh rantai produksi ayam broiler. Harga dan ketersediaan DOC sering menjadi indikator paling awal dari kondisi supply ayam di masa depan.
Sinyal Awal dari Pasar DOC
Ketika harga DOC turun tajam dan mudah didapat tanpa sistem booking, biasanya ini menandakan bahwa hatchery sedang mengalami kelebihan produksi. Dalam kondisi ini, perusahaan pembibitan berusaha mendorong distribusi DOC ke pasar agar stok terserap.
Beberapa tanda yang sering muncul di lapangan antara lain:
Harga DOC turun drastis
Tidak perlu booking untuk mendapatkan DOC
Adanya diskon atau bonus DOC
Sales hatchery lebih agresif menawarkan
Bagi peternak, kondisi ini sering dianggap sebagai peluang karena biaya awal terlihat lebih murah. Namun justru di sinilah awal dari potensi masalah berikutnya.
Chick In Serempak: Awal Terjadinya Oversupply
Ketika DOC murah dan mudah didapat, banyak peternak melakukan chick in secara bersamaan.
Secara jangka pendek, keputusan ini terlihat rasional. Namun dalam skala nasional, hal ini menciptakan efek domino.
Dampaknya
Chick in meningkat secara serempak
Ayam tumbuh dan dipanen dalam waktu yang hampir bersamaan
Supply ayam melonjak dalam satu periode
Sekitar 30–35 hari kemudian, pasar akan dibanjiri ayam hidup (livebird/LB) dalam jumlah besar.
Jika permintaan tidak mampu menyerap lonjakan supply ini, maka yang terjadi adalah:
➡ Harga ayam jatuh ➡ Peternak kehilangan daya tawar
Harga Live Bird: Titik Tekanan Pasar
Ketika terjadi oversupply, posisi tawar di pasar berubah.
Pihak yang memiliki akses pasar seperti:
Pedagang besar
Broker
Rumah Potong Ayam (RPA)
akan memiliki kendali lebih besar terhadap harga.
Apa yang Terjadi di Lapangan?
Harga LB mulai ditekan
Peternak dipaksa menjual
Terjadi panic selling
Karena ayam tidak bisa disimpan lama dan biaya pakan terus berjalan setiap hari, peternak tidak memiliki banyak pilihan selain menjual, meskipun dalam kondisi rugi.
Harga Pakan: Tekanan dari Sisi Biaya
Di sisi lain, harga pakan sering bergerak tidak sejalan dengan harga ayam.
Pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi, mencapai sekitar 70%.
Faktor yang Mempengaruhi Harga Pakan
Harga jagung domestik
Harga soybean meal (SBM) impor
Nilai tukar dolar
Kebijakan impor pemerintah
Biaya logistik
Selain itu, faktor global juga dapat berpengaruh secara tidak langsung.
Ketegangan geopolitik seperti antara United States dan Iran dapat mempengaruhi rantai pasok global dan nilai tukar, yang pada akhirnya berdampak pada harga bahan baku pakan.
Namun dalam praktiknya, faktor paling dominan tetap berasal dari dalam negeri, terutama harga jagung dan kebijakan impor.
Struktur Industri: Dominasi Integrator Besar
Yang membuat industri broiler di Indonesia semakin kompleks adalah struktur industrinya.
Sebagian besar rantai produksi dikuasai oleh perusahaan integrator besar seperti:
Charoen Pokphand Indonesia
Japfa Comfeed Indonesia
Malindo Feedmill
Perusahaan-perusahaan ini menguasai hampir seluruh rantai produksi:
Breeding farm
Hatchery DOC
Pabrik pakan
Kemitraan peternak
Rumah potong ayam
Distribusi
Dampaknya
Keputusan mereka, terutama terkait:
Setting telur
Produksi DOC
secara tidak langsung akan menentukan jumlah ayam yang masuk ke pasar nasional beberapa minggu ke depan.
Peran Pemerintah dalam Stabilitas Pasar
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia juga memiliki peran dalam menjaga stabilitas industri.
Beberapa kebijakan yang sering dilakukan antara lain:
Pemotongan telur tetas (cutting HE)
Pengaturan populasi
Intervensi saat harga jatuh
Namun, efektivitas kebijakan ini sering bergantung pada timing dan implementasi di lapangan.
Empat Indikator Utama Membaca Pasar Broiler
Dalam praktiknya, pelaku industri biasanya fokus pada empat indikator utama:
1. Harga DOC
Indikator awal supply ayam 30–35 hari ke depan.
2. Jumlah Chick In
Menentukan jumlah ayam yang akan dipanen.
3. Harga Live Bird
Menunjukkan kondisi pasar saat ini.
4. Tren Harga Pakan
Menentukan reaksi peternak terhadap produksi.
Pola Sederhana yang Sering Terjadi
Beberapa pola yang sering terjadi di industri broiler:
DOC murah + chick in naik ➡ 1 bulan kemudian harga ayam turun
DOC langka + chick in turun ➡ 1 bulan kemudian harga ayam naik
Pakan naik + DOC turun ➡ Peternak mengurangi produksi ➡ Supply turun ➡ Harga ayam naik
Analisa Strategis Kondisi Saat Ini
Jika melihat kondisi yang sering terjadi di lapangan:
DOC sedang turun
Stok DOC berpotensi menipis dalam 2 minggu
Harga pakan mulai naik
Maka ada kemungkinan besar terjadi skenario berikut:
➡ Peternak mulai mengurangi chick in ➡ 1 bulan kemudian supply ayam berkurang ➡ Harga livebird berpotensi naik
Estimasi Waktu
2 minggu: perubahan di DOC
4–6 minggu: dampak ke harga ayam
Strategi untuk Peternak
Dalam menghadapi siklus ini, peternak perlu lebih strategis dan tidak hanya mengikuti arus pasar.
Beberapa pendekatan yang bisa dilakukan:
1. Jangan ikut euforia DOC murah Karena ini sering menjadi awal oversupply.
2. Perhatikan tren chick in nasional Bukan hanya kondisi kandang sendiri.
3. Waspada saat harga ayam tinggi Karena biasanya itu mendekati puncak siklus.
4. Manfaatkan momentum saat supply mulai turun Ini biasanya menjadi fase terbaik untuk panen.
Kesimpulan
Industri broiler di Indonesia bukanlah pasar yang sepenuhnya acak. Pergerakan harga ayam sebenarnya merupakan hasil dari interaksi kompleks antara:
Siklus biologis ayam
Perilaku peternak
Dinamika harga pakan
Struktur industri yang didominasi integrator
Beberapa poin penting yang perlu dipahami:
1️⃣ Geopolitik global bukan faktor utama, tetapi tetap berpengaruh secara tidak langsung 2️⃣ Harga pakan sangat ditentukan oleh jagung, SBM, kurs dolar, dan kebijakan impor 3️⃣ Kombinasi DOC turun dan pakan naik sering menjadi sinyal bullish untuk harga ayam
Proyeksi Pasar
Jika kondisi saat ini:
DOC turun
Pakan naik
Stok DOC mulai terbatas
Maka probabilitas yang cukup kuat adalah:
➡ Harga ayam berpotensi membaik dalam 4–6 minggu ke depan
Penutup
Memahami siklus broiler bukan hanya soal teori, tetapi menjadi kunci bertahan dalam industri yang sangat dinamis ini.
Peternak yang mampu membaca sinyal lebih awal akan memiliki keunggulan besar dibanding yang hanya mengikuti arus pasar.
Karena pada akhirnya, dalam industri broiler:
Yang bertahan bukan yang paling besar, tetapi yang paling paham siklus.
Fenomena harga ayam hidup (livebird/LB) yang terus mengalami penurunan bukanlah hal baru di industri perunggasan Indonesia. Namun, yang sering tidak terlihat oleh masyarakat luas adalah bagaimana kondisi sebenarnya di lapangan—khususnya di tingkat peternak rakyat.
Melalui berbagai konten video singkat seperti yang beredar di platform YouTube Shorts, realita ini mulai terbuka ke publik. Video singkat tersebut memperlihatkan kondisi ayam di kandang yang siap panen, tetapi harus dijual dengan harga rendah, bahkan di bawah biaya produksi.
Fenomena ini bukan sekadar soal harga turun, tetapi mencerminkan masalah struktural yang sudah lama terjadi dalam sistem industri broiler nasional.
Realita Lapangan: Ayam Banyak, Harga Justru Jatuh
Dalam video tersebut, terlihat kondisi ayam yang sudah siap panen dengan ukuran optimal. Secara logika, ketika produksi berjalan normal dan ayam dalam kondisi baik, peternak seharusnya mendapatkan harga yang layak.
Namun kenyataannya justru sebaliknya:
Ayam melimpah di kandang
Panen terjadi hampir bersamaan
Harga di tingkat peternak justru jatuh
Kondisi ini menggambarkan adanya ketidakseimbangan antara supply dan demand.
Di satu sisi, produksi ayam tetap berjalan sesuai siklus. Namun di sisi lain, pasar tidak mampu menyerap seluruh produksi tersebut.
Masalah Utama: Over Supply yang Berulang
Salah satu penyebab utama harga ayam jatuh adalah over supply atau kelebihan pasokan.
Dalam industri broiler, siklus produksi tidak bisa dihentikan secara instan. Ketika peternak sudah melakukan chick in, maka ayam akan tetap tumbuh dan harus dipanen dalam waktu 30–35 hari.
Masalah muncul ketika:
Banyak peternak melakukan chick in di waktu yang sama
Panen terjadi secara bersamaan
Pasar tidak siap menyerap
Akibatnya:
➡ Harga langsung jatuh ➡ Peternak tidak punya pilihan selain menjual
Ini adalah fenomena klasik yang terus berulang di Indonesia.
Efek Psikologis Peternak: Ikut-ikutan Chick In
Salah satu faktor yang memperparah kondisi adalah perilaku psikologis peternak.
Ketika harga ayam sedang bagus, banyak peternak cenderung:
Menambah populasi
Melakukan chick in dalam jumlah besar
Namun keputusan ini sering tidak didasarkan pada analisa supply-demand jangka panjang.
Akibatnya:
Produksi meningkat drastis
30 hari kemudian terjadi kelebihan supply
Harga jatuh
Ini dikenal sebagai efek “boom and bust” dalam industri broiler.
Tidak Ada Kontrol Produksi Nasional
Masalah mendasar lainnya adalah tidak adanya sistem kontrol produksi yang terintegrasi secara nasional.
Berbeda dengan sektor lain, industri broiler di Indonesia masih didominasi oleh:
Keputusan individu peternak
Strategi masing-masing integrator
Minimnya sinkronisasi data nasional
Akibatnya:
Produksi sulit dikendalikan
Supply sering tidak sesuai dengan kebutuhan pasar
Dalam kondisi seperti ini, harga menjadi sangat fluktuatif.
Peran Rantai Distribusi dalam Menentukan Harga
Selain faktor produksi, rantai distribusi juga memiliki peran besar dalam menentukan harga ayam di tingkat peternak.
Sering terjadi kondisi di mana:
Harga di kandang jatuh
Tetapi harga di konsumen tetap tinggi
Hal ini menunjukkan adanya ketidakefisienan dalam rantai distribusi.
Peternak berada di posisi paling lemah karena:
Tidak memiliki akses langsung ke pasar
Bergantung pada pengepul atau trader
Tidak memiliki daya tawar harga
Dampak Nyata bagi Peternak Rakyat
Kondisi harga ayam yang jatuh tidak hanya berdampak pada keuntungan, tetapi juga keberlangsungan usaha peternak.
Beberapa dampak nyata yang sering terjadi:
1. Kerugian Finansial
Peternak harus menjual ayam di bawah HPP (Harga Pokok Produksi).
2. Arus Kas Terganggu
Modal untuk siklus berikutnya menjadi terbatas.
3. Pengurangan Produksi
Peternak mulai mengurangi chick in atau bahkan berhenti sementara.
4. Risiko Gulung Tikar
Peternak kecil paling rentan keluar dari usaha.
Jika kondisi ini terus berlangsung, maka struktur industri akan semakin tidak seimbang.
Siklus yang Terus Berulang
Fenomena harga ayam jatuh sebenarnya merupakan bagian dari siklus broiler.
Pola yang sering terjadi:
Harga bagus → peternak ramai chick in
Produksi meningkat → supply berlebih
Harga jatuh → peternak berhenti produksi
Supply berkurang → harga naik kembali
Siklus ini biasanya terjadi setiap 3–4 bulan.
Namun tanpa intervensi atau sistem yang lebih baik, siklus ini akan terus berulang dengan dampak yang sama.
Peran Digital dan Media Sosial dalam Membuka Realita
Munculnya konten di platform seperti YouTube Shorts menjadi salah satu faktor penting dalam membuka realita industri ke publik.
Video singkat memiliki kekuatan besar karena:
Mudah dikonsumsi
Cepat viral
Menampilkan kondisi nyata di lapangan
Bahkan, platform ini memiliki miliaran pengguna global dan menjadi media utama penyebaran informasi cepat.
Dengan adanya konten seperti ini, masyarakat mulai memahami bahwa:
➡ Harga ayam murah di pasar tidak selalu berarti peternak untung
Apa yang Bisa Dilakukan?
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan langkah strategis dari berbagai pihak:
1. Pengendalian Produksi
Sinkronisasi data DOC dan chick in nasional
Pengaturan supply agar tidak berlebihan
2. Penguatan Peternak Rakyat
Akses pasar langsung
Kemitraan yang lebih adil
3. Intervensi Pemerintah
Penyerapan ayam saat over supply
Stabilitas harga
4. Edukasi Peternak
Pemahaman siklus broiler
Pengambilan keputusan berbasis data
Kesimpulan
Fenomena harga ayam jatuh bukan sekadar masalah sementara, tetapi merupakan bagian dari siklus yang terus berulang dalam industri broiler Indonesia.
Video lapangan yang beredar memperlihatkan realita bahwa:
Produksi berjalan normal
Ayam tersedia dalam jumlah banyak
Namun harga tetap jatuh
Ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara supply dan demand, serta lemahnya sistem kontrol produksi.
Jika tidak ada perubahan sistemik, maka kondisi ini akan terus terjadi dan semakin menekan peternak rakyat.
Namun di balik tantangan ini, ada peluang:
➡ Dengan pemahaman siklus dan strategi yang tepat, peternak bisa bertahan bahkan memanfaatkan momentum pasar
Pertanyaannya sekarang:
Apakah kita akan terus mengikuti siklus, atau mulai mengendalikannya?
Contains information related to marketing campaigns of the user. These are shared with Google AdWords / Google Ads when the Google Ads and Google Analytics accounts are linked together.
90 days
__utma
ID used to identify users and sessions
2 years after last activity
__utmt
Used to monitor number of Google Analytics server requests
10 minutes
__utmb
Used to distinguish new sessions and visits. This cookie is set when the GA.js javascript library is loaded and there is no existing __utmb cookie. The cookie is updated every time data is sent to the Google Analytics server.
30 minutes after last activity
__utmc
Used only with old Urchin versions of Google Analytics and not with GA.js. Was used to distinguish between new sessions and visits at the end of a session.
End of session (browser)
__utmz
Contains information about the traffic source or campaign that directed user to the website. The cookie is set when the GA.js javascript is loaded and updated when data is sent to the Google Anaytics server
6 months after last activity
__utmv
Contains custom information set by the web developer via the _setCustomVar method in Google Analytics. This cookie is updated every time new data is sent to the Google Analytics server.
2 years after last activity
__utmx
Used to determine whether a user is included in an A / B or Multivariate test.
18 months
_ga
ID used to identify users
2 years
_gali
Used by Google Analytics to determine which links on a page are being clicked
30 seconds
_ga_
ID used to identify users
2 years
_gid
ID used to identify users for 24 hours after last activity
24 hours
_gat
Used to monitor number of Google Analytics server requests when using Google Tag Manager