Connect with us

Berita

Fenomena Harga Ayam Jatuh: Realita Lapangan yang Tidak Banyak Diketahui Publik

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Pendahuluan

Fenomena harga ayam hidup (livebird/LB) yang terus mengalami penurunan bukanlah hal baru di industri perunggasan Indonesia. Namun, yang sering tidak terlihat oleh masyarakat luas adalah bagaimana kondisi sebenarnya di lapangan—khususnya di tingkat peternak rakyat.

Melalui berbagai konten video singkat seperti yang beredar di platform YouTube Shorts, realita ini mulai terbuka ke publik. Video singkat tersebut memperlihatkan kondisi ayam di kandang yang siap panen, tetapi harus dijual dengan harga rendah, bahkan di bawah biaya produksi.

Fenomena ini bukan sekadar soal harga turun, tetapi mencerminkan masalah struktural yang sudah lama terjadi dalam sistem industri broiler nasional.


Realita Lapangan: Ayam Banyak, Harga Justru Jatuh

Dalam video tersebut, terlihat kondisi ayam yang sudah siap panen dengan ukuran optimal. Secara logika, ketika produksi berjalan normal dan ayam dalam kondisi baik, peternak seharusnya mendapatkan harga yang layak.

Namun kenyataannya justru sebaliknya:

  • Ayam melimpah di kandang
  • Panen terjadi hampir bersamaan
  • Harga di tingkat peternak justru jatuh

Kondisi ini menggambarkan adanya ketidakseimbangan antara supply dan demand.

Di satu sisi, produksi ayam tetap berjalan sesuai siklus. Namun di sisi lain, pasar tidak mampu menyerap seluruh produksi tersebut.


Masalah Utama: Over Supply yang Berulang

Salah satu penyebab utama harga ayam jatuh adalah over supply atau kelebihan pasokan.

Dalam industri broiler, siklus produksi tidak bisa dihentikan secara instan. Ketika peternak sudah melakukan chick in, maka ayam akan tetap tumbuh dan harus dipanen dalam waktu 30–35 hari.

Masalah muncul ketika:

  • Banyak peternak melakukan chick in di waktu yang sama
  • Panen terjadi secara bersamaan
  • Pasar tidak siap menyerap

Akibatnya:

➡ Harga langsung jatuh
➡ Peternak tidak punya pilihan selain menjual

Ini adalah fenomena klasik yang terus berulang di Indonesia.


Efek Psikologis Peternak: Ikut-ikutan Chick In

Salah satu faktor yang memperparah kondisi adalah perilaku psikologis peternak.

Ketika harga ayam sedang bagus, banyak peternak cenderung:

  • Menambah populasi
  • Melakukan chick in dalam jumlah besar

Namun keputusan ini sering tidak didasarkan pada analisa supply-demand jangka panjang.

Akibatnya:

  • Produksi meningkat drastis
  • 30 hari kemudian terjadi kelebihan supply
  • Harga jatuh

Ini dikenal sebagai efek “boom and bust” dalam industri broiler.


Tidak Ada Kontrol Produksi Nasional

Masalah mendasar lainnya adalah tidak adanya sistem kontrol produksi yang terintegrasi secara nasional.

Berbeda dengan sektor lain, industri broiler di Indonesia masih didominasi oleh:

  • Keputusan individu peternak
  • Strategi masing-masing integrator
  • Minimnya sinkronisasi data nasional

Akibatnya:

  • Produksi sulit dikendalikan
  • Supply sering tidak sesuai dengan kebutuhan pasar

Dalam kondisi seperti ini, harga menjadi sangat fluktuatif.


Peran Rantai Distribusi dalam Menentukan Harga

Selain faktor produksi, rantai distribusi juga memiliki peran besar dalam menentukan harga ayam di tingkat peternak.

Sering terjadi kondisi di mana:

  • Harga di kandang jatuh
  • Tetapi harga di konsumen tetap tinggi

Hal ini menunjukkan adanya ketidakefisienan dalam rantai distribusi.

Peternak berada di posisi paling lemah karena:

  • Tidak memiliki akses langsung ke pasar
  • Bergantung pada pengepul atau trader
  • Tidak memiliki daya tawar harga

Dampak Nyata bagi Peternak Rakyat

Kondisi harga ayam yang jatuh tidak hanya berdampak pada keuntungan, tetapi juga keberlangsungan usaha peternak.

Beberapa dampak nyata yang sering terjadi:

1. Kerugian Finansial

Peternak harus menjual ayam di bawah HPP (Harga Pokok Produksi).

2. Arus Kas Terganggu

Modal untuk siklus berikutnya menjadi terbatas.

3. Pengurangan Produksi

Peternak mulai mengurangi chick in atau bahkan berhenti sementara.

4. Risiko Gulung Tikar

Peternak kecil paling rentan keluar dari usaha.

Jika kondisi ini terus berlangsung, maka struktur industri akan semakin tidak seimbang.


Siklus yang Terus Berulang

Fenomena harga ayam jatuh sebenarnya merupakan bagian dari siklus broiler.

Pola yang sering terjadi:

  • Harga bagus → peternak ramai chick in
  • Produksi meningkat → supply berlebih
  • Harga jatuh → peternak berhenti produksi
  • Supply berkurang → harga naik kembali

Siklus ini biasanya terjadi setiap 3–4 bulan.

Namun tanpa intervensi atau sistem yang lebih baik, siklus ini akan terus berulang dengan dampak yang sama.


Peran Digital dan Media Sosial dalam Membuka Realita

Munculnya konten di platform seperti YouTube Shorts menjadi salah satu faktor penting dalam membuka realita industri ke publik.

Video singkat memiliki kekuatan besar karena:

  • Mudah dikonsumsi
  • Cepat viral
  • Menampilkan kondisi nyata di lapangan

Bahkan, platform ini memiliki miliaran pengguna global dan menjadi media utama penyebaran informasi cepat.

Dengan adanya konten seperti ini, masyarakat mulai memahami bahwa:

➡ Harga ayam murah di pasar tidak selalu berarti peternak untung


Apa yang Bisa Dilakukan?

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan langkah strategis dari berbagai pihak:

1. Pengendalian Produksi

  • Sinkronisasi data DOC dan chick in nasional
  • Pengaturan supply agar tidak berlebihan

2. Penguatan Peternak Rakyat

  • Akses pasar langsung
  • Kemitraan yang lebih adil

3. Intervensi Pemerintah

  • Penyerapan ayam saat over supply
  • Stabilitas harga

4. Edukasi Peternak

  • Pemahaman siklus broiler
  • Pengambilan keputusan berbasis data

Kesimpulan

Fenomena harga ayam jatuh bukan sekadar masalah sementara, tetapi merupakan bagian dari siklus yang terus berulang dalam industri broiler Indonesia.

Video lapangan yang beredar memperlihatkan realita bahwa:

  • Produksi berjalan normal
  • Ayam tersedia dalam jumlah banyak
  • Namun harga tetap jatuh

Ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara supply dan demand, serta lemahnya sistem kontrol produksi.

Jika tidak ada perubahan sistemik, maka kondisi ini akan terus terjadi dan semakin menekan peternak rakyat.

Namun di balik tantangan ini, ada peluang:

➡ Dengan pemahaman siklus dan strategi yang tepat, peternak bisa bertahan bahkan memanfaatkan momentum pasar

Pertanyaannya sekarang:

Apakah kita akan terus mengikuti siklus, atau mulai mengendalikannya?

Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Hari/Tanggal: Selasa, 27 Oktober 2026
Waktu: 14.00 WIB – selesai
Tempat: Kafe di depan Graha Gabah
Agenda: Pembahasan dan evaluasi pola kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat

I. Latar Belakang

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari membahas konsep, mekanisme, serta tantangan implementasi kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat. Pembahasan juga menjadi momentum untuk melakukan flashback terhadap pengalaman model kemitraan sebelumnya, termasuk referensi pembahasan MK-RI tahun 2016, sekaligus melihat relevansinya dengan kondisi Peternak Rakyat saat ini.

PERMINDO memandang kemitraan BUMN semestinya tidak hanya berorientasi pada keamanan bisnis perusahaan, tetapi juga menjalankan fungsi strategis dalam pemberdayaan, perlindungan, pembinaan, dan peningkatan kapasitas Peternak Rakyat.

II. Pokok-Pokok Pembahasan

1. Pola Kemitraan dan Pembiayaan

Dalam pola yang dibahas, Berdikari pada prinsipnya menyediakan DOC saja atau DOC + pakan. Beberapa komponen biaya menjadi tanggung jawab peternak, antara lain biaya OVK sekitar Rp500/ekor, biaya operasional sekitar Rp4.500/ekor, serta kandang dan sarana produksi. Hasil ayam hidup (LB) dibeli Berdikari berdasarkan harga kontrak. Model ini dapat menjadi pola kerja sama yang baik apabila terdapat keseimbangan antara risiko perusahaan, biaya produksi, kualitas sapronak, harga kontrak, dan margin yang diterima peternak.

2. Akses dan Seleksi Peternak Rakyat

Berdikari cenderung memilih calon mitra berdasarkan performance produksi, track record, kemampuan modal, dan kesiapan kandang, termasuk kandang closed house yang representatif. Pendekatan tersebut dapat dipahami dari sisi kehati-hatian bisnis, tetapi apabila diterapkan terlalu ketat, Peternak Rakyat konvensional dengan modal terbatas dan performance yang belum optimal akan sulit memperoleh akses. Kemitraan BUMN seharusnya tidak hanya memilih peternak yang sudah kuat, tetapi juga membina peternak agar menjadi lebih kuat dan naik kelas.

3. Prinsip Kehati-hatian dan Keterbatasan Pendampingan

Berdikari berkepentingan menjaga performance produksi dan menghindari risiko kerugian sebagai bagian dari tata kelola BUMN yang prudent. Di sisi lain, keterbatasan jumlah dan kapasitas tim pendamping dapat mendorong perusahaan lebih memilih mitra yang sudah memiliki modal, kandang memadai, dan track record baik. PERMINDO memandang prudential governance harus berjalan bersama fungsi pemberdayaan, melalui pola pendampingan bertahap agar peternak konvensional tidak langsung tersisih karena belum memenuhi standar awal.

4. Target Performance/IP

Dalam pembahasan terdapat penekanan bahwa peternak harus mencapai IP standar sekitar 350. Perhatian PERMINDO adalah bahwa Berdikari pada prinsipnya lebih menekankan hasil akhir IP dan tidak terlalu masuk pada bagaimana peternak mencapai angka tersebut. Peternak dapat melakukan berbagai upaya manajemen untuk mengejar IP, termasuk penambahan atau penggunaan pakan lebih banyak, selama target performance tercapai.

Kondisi tersebut perlu dievaluasi. IP seharusnya menjadi indikator hasil dari sistem produksi yang sehat, bukan sekadar angka yang harus dicapai dengan cara apa pun. Jika IP hanya menjadi target akhir, sementara kualitas DOC, kualitas pakan, kesehatan, OVK, mortalitas, FCR, kondisi kandang, manajemen pemeliharaan, dan dinamika kualitas sapronak tidak dievaluasi secara proporsional, akar persoalan performance produksi akan sulit diketahui. Target IP harus ditempatkan sebagai alat evaluasi, bukan sekadar target administratif.

5. Evaluasi Sapronak dan Beban Risiko Produksi

Kualitas DOC dan pakan dapat mengalami perubahan. Karena itu, tuntutan pencapaian IP tanpa evaluasi menyeluruh terhadap input produksi berpotensi menempatkan beban pencapaian performance terlalu besar pada peternak. Kemitraan yang sehat perlu melakukan evaluasi bersama terhadap kualitas DOC, kualitas dan konsumsi pakan, FCR, mortalitas, kesehatan dan OVK, manajemen kandang, kondisi lingkungan, biaya produksi, performance/IP, serta margin peternak.

Continue Reading

Berita

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

“Peternak rakyat sedang menghadapi tekanan ganda (cost-price squeeze): harga input, terutama pakan, meningkat sehingga HPP semakin tinggi, tetapi pada saat yang sama harga ayam hidup di tingkat peternak justru turun jauh di bawah biaya produksi.”

Ada 3 tindakan konkret yang perlu didorong ke pemerintah:

1. Aktifkan Penyerapan Darurat Ayam Hidup

Pemerintah/Bapanas segera mengumpulkan RPA/RPHU, BUMN pangan, integrator, koperasi, dan offtaker.

Tetapkan volume penyerapan harian/mingguan dari sentra yang harganya jatuh.

Penyerapan diarahkan ke karkas/frozen/captive market, bukan sekadar memindahkan ayam hidup dari satu broker ke broker lain.

Belum diusulkan atau belum ada penugasan dari pemerintah untuk peternak rakyat secara luas; yang sudah jalan hanya sebatas anggota kemitraan Berdikari saja.

2. Kurangi Supply DOC–FS

Lakukan pengendalian chick-in dan produksi DOC secara proporsional, termasuk perusahaan integrator dan kemitraan, berdasarkan data surplus-demand. Pengawasan lemah atau bahkan belum dilaksanakan.

3. Stabilisasi Harga Peternak

Terapkan mekanisme harga minimum sementara berbasis HPP; ketika LB jauh di bawah HPP, selisih tekanan ditangani melalui penyerapan dan pengurangan supply, bukan dibebankan seluruhnya kepada peternak.

Sudah dilakukan, tetapi belum berdampak pada realisasi.

Continue Reading

Berita

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

BOGOR — Peternak broiler rakyat kembali menghadapi tekanan biaya produksi. Memasuki November–Desember 2026, harga bahan baku pakan berpotensi naik ke Rp9.000–Rp10.000/kg. Harga jagung dan DOC juga masih menjadi beban peternak mandiri.

Kondisi ini dikhawatirkan menekan harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak. Biaya produksi naik, tetapi harga jual ayam tetap fluktuatif. Peternak pun menanggung risiko terbesar. Dalam berita peternakan nasional pekan ini, isu itu menjadi sorotan utama pelaku usaha unggas.

Biaya Produksi Naik, Peternak Rakyat Paling Rentan

PERMINDO menilai pemerintah perlu mengantisipasi kondisi ini sejak dini. Tekanan biaya produksi tidak boleh berubah menjadi kerugian berkepanjangan bagi peternak rakyat.

“Kalau pakan naik, DOC mahal dan terbatas, jangan sampai saat ayam panen justru harga livebird yang ditekan. Peternak tidak meminta harga tinggi, tetapi harga yang wajar dan mampu menutup biaya produksi,” ujar Sekretaris Jenderal PERMINDO, Heri Irawan.

Menurut Heri, struktur biaya produksi broiler sangat rentan terhadap gejolak pasar input. Pakan menyumbang porsi terbesar dalam total biaya. Kenaikan harga pakan langsung menggerus margin peternak. Terutama mereka yang mengelola kandang skala kecil dan menengah.

Selain pakan, harga DOC atau anak ayam umur sehari yang mahal dan terbatas turut memperbesar risiko. Peternak kerap bersaing memperoleh DOC berkualitas dengan harga tinggi pada periode permintaan puncak.

HAP Rp25.000/kg Harus Jadi Perlindungan Nyata

PERMINDO meminta pemerintah memastikan Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam ras pedaging di tingkat produsen sebesar Rp25.000/kg benar-benar berfungsi. HAP jangan hanya menjadi angka acuan tanpa implikasi di lapangan.

Menurut organisasi yang menaungi peternak broiler rakyat ini, HAP semestinya menjadi bagian dari mekanisme perlindungan harga. Tujuannya agar peternak tidak menjadi pihak terakhir yang menanggung seluruh beban kenaikan biaya.

“Jangan sampai pola yang sama berulang: input naik, HPP naik, tetapi ketika ayam panen harga LB turun. Kalau seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada peternak, keberlanjutan peternak rakyat akan semakin terancam,” tegas Heri Irawan.

Ia menegaskan, peternak tidak menuntut harga jual yang tinggi. Yang diminta adalah harga yang wajar, transparan, dan berkeadilan. Harga wajar berarti mampu menutup biaya produksi sekaligus memberi ruang usaha yang layak.

Lima Usulan PERMINDO kepada Pemerintah

Dalam pernyataan resminya, PERMINDO menyampaikan sejumlah usulan konkret agar gejolak harga tidak terus merugikan peternak. Usulan ini menyasar hulu hingga hilir industri broiler.

  • Menjaga harga livebird agar tidak jatuh jauh di bawah HAP Bapanas.
  • Mengevaluasi HPP broiler secara berkala berdasarkan harga aktual DOC, pakan, jagung, SBM, OVK, energi, dan biaya produksi lainnya.
  • Menjamin ketersediaan bahan baku pakan seperti SBM dan jagung pakan dengan harga yang wajar.
  • Memperkuat pengendalian keseimbangan supply-demand agar oversupply tidak terus dibebankan kepada peternak.
  • Membuka dialog rutin antara pemerintah, integrator, industri pakan, dan peternak mandiri sebelum gejolak harga membesar.

Evaluasi HPP Berbasis Data Aktual

Poin evaluasi HPP dinilai krusial. Perhitungan HPP perlu mencerminkan harga nyata di pasar, bukan asumsi lama yang sudah tidak relevan. Jika HPP tidak diperbarui, selisih biaya akan tetap ditanggung peternak.

Ketersediaan Jagung dan SBM

Ketersediaan jagung pakan dan SBM atau soybean meal menjadi penentu utama biaya pakan. Kelangkaan kedua bahan ini cepat memicu kenaikan harga di tingkat pabrik. Dampaknya langsung terasa pada harga pakan jadi yang dibeli peternak.

Dialog Rutin Sebelum Krisis Harga

PERMINDO menilai komunikasi antar pemangku kepentingan selama ini berjalan reaktif. Dialog baru digelar setelah harga terlanjur jatuh. Padahal, deteksi dini terhadap potensi oversupply bisa mencegah kerugian yang lebih besar.

Stabilisasi Butuh Keseimbangan Harga Input dan Output

Menurut PERMINDO, stabilisasi industri broiler tidak cukup hanya dengan mengendalikan harga input. Keseimbangan antara harga input dan harga output harus dijaga secara bersamaan.

Jika pemerintah hanya menekan harga pakan tanpa menjaga harga jual ayam, peternak tetap berada di posisi lemah. Sebaliknya, mendorong harga jual tanpa menjamin pasokan dan permintaan yang seimbang juga tidak akan bertahan lama.

Karena itu, PERMINDO menilai perlindungan harga harus berjalan seiring dengan tata kelola pasokan. Peternak rakyat butuh kepastian biaya, kepastian harga jual, dan kepastian pasar. Tanpa itu, keberlanjutan usaha broiler rakyat sulit dijaga.

Itulah sorotan berita peternakan pekan ini. PERMINDO berharap pemerintah bergerak cepat. Tujuannya agar harga livebird tetap wajar dan peternak rakyat tidak terus menanggung beban biaya produksi yang naik.

Continue Reading

Trending