Industri perunggasan Indonesia terus bergerak menuju modernisasi. Kandang closed house, sistem pemberian pakan otomatis, manajemen berbasis data, hingga integrasi rantai pasok menjadi standar baru dalam persaingan usaha.
Perubahan ini membawa efisiensi dan peningkatan produktivitas. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: di mana posisi peternak rakyat dalam lanskap industri yang semakin modern dan terkonsentrasi?
Apakah mereka akan bertransformasi dan bertahan, atau perlahan tersisih oleh struktur industri yang semakin besar dan terintegrasi?
Modernisasi dan Efisiensi Skala Besar
Perusahaan integrator besar telah berinvestasi dalam teknologi kandang tertutup (closed house) yang mampu meningkatkan feed conversion ratio (FCR) dan menekan angka kematian ayam. Dengan skala produksi besar, biaya per ekor menjadi lebih efisien.
Model integrasi vertikal—dari pembibitan hingga distribusi daging olahan—memberikan kendali penuh atas rantai pasok. Dalam situasi fluktuasi harga, integrator memiliki fleksibilitas untuk mengatur distribusi dan penyimpanan produk.
Di sisi lain, sebagian besar peternak rakyat masih menggunakan kandang open house dengan kapasitas terbatas. Modernisasi membutuhkan investasi besar yang tidak mudah dijangkau tanpa dukungan pembiayaan yang memadai.
Tantangan Akses Modal
Transformasi teknologi tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan modal. Pembangunan kandang closed house membutuhkan biaya miliaran rupiah tergantung kapasitasnya. Bagi peternak rakyat skala kecil dan menengah, angka tersebut bukan hal yang ringan.
Akses pembiayaan perbankan sering terkendala oleh jaminan dan risiko fluktuasi harga ayam. Tanpa skema pembiayaan khusus atau subsidi bunga, modernisasi menjadi sulit diwujudkan.
Padahal, peningkatan efisiensi sangat penting untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing.
Regulasi dan Perlindungan Struktural
Dalam konteks ini, kebijakan seperti Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2024 memiliki peran strategis untuk memastikan distribusi DOC tetap memberikan ruang bagi peternak eksternal.
Namun modernisasi industri menuntut kebijakan yang lebih luas dari sekadar distribusi DOC. Diperlukan pendekatan komprehensif yang mencakup:
Skema pembiayaan modernisasi kandang
Pelatihan manajemen berbasis teknologi
Integrasi peternak rakyat dalam klaster produksi
Penguatan koperasi atau asosiasi
Tanpa dukungan sistemik, kesenjangan teknologi akan semakin lebar.
Peran Data dan Digitalisasi
Industri perunggasan global bergerak menuju digitalisasi. Monitoring suhu kandang, konsumsi pakan, hingga performa pertumbuhan ayam kini dapat dipantau secara real time.
Peternak rakyat yang mampu mengadopsi teknologi sederhana—seperti pencatatan produksi digital dan analisis biaya—akan memiliki keunggulan kompetitif.
Asosiasi seperti Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas juga berperan dalam menyediakan data produksi nasional. Namun pemanfaatan data harus menjangkau peternak kecil agar mereka dapat merencanakan siklus produksi dengan lebih akurat.
Modernisasi tidak harus selalu berarti investasi besar. Langkah kecil berbasis manajemen dan efisiensi juga dapat meningkatkan daya tahan usaha.
Risiko Konsentrasi Industri
Jika modernisasi hanya dinikmati oleh perusahaan besar, struktur industri berpotensi semakin terkonsentrasi. Dalam jangka panjang, ketergantungan pada segelintir pelaku usaha dapat menimbulkan risiko sistemik bagi ketahanan pangan.
Keberadaan ribuan peternak rakyat di berbagai daerah menciptakan distribusi produksi yang lebih merata. Mereka menjadi penopang ekonomi lokal sekaligus penyeimbang struktur pasar.
Menjaga keberlanjutan mereka berarti menjaga stabilitas jangka panjang industri nasional.
Strategi Bertahan dan Beradaptasi
Agar tidak tersisih, peternak rakyat perlu melakukan beberapa langkah strategis:
Bergabung dalam koperasi atau klaster untuk memperkuat daya tawar.
Meningkatkan efisiensi manajemen kandang.
Mengadopsi teknologi sederhana yang terjangkau.
Memperluas jaringan pemasaran langsung ke pasar lokal.
Mengakses program pelatihan dan pendampingan pemerintah.
Adaptasi menjadi kunci di tengah perubahan struktur industri.
Peran Negara dalam Transisi
Modernisasi industri tidak boleh meninggalkan pelaku usaha kecil. Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan transisi berjalan inklusif.
Kebijakan afirmatif, insentif investasi, dan perlindungan pasar perlu dirancang agar peternak rakyat memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Jika modernisasi hanya memperkuat yang sudah besar, maka ketimpangan akan semakin dalam.
Penutup
Era modernisasi perunggasan adalah keniscayaan. Teknologi, efisiensi, dan integrasi rantai pasok akan terus berkembang mengikuti tuntutan pasar.
Namun masa depan industri tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi, melainkan juga oleh keseimbangan struktur dan keberpihakan pada seluruh pelaku usaha.
Peternak rakyat bukan sekadar pelengkap statistik produksi. Mereka adalah bagian dari fondasi ketahanan pangan nasional.
Jika modernisasi dapat berjalan berdampingan dengan penguatan peternak rakyat, maka industri perunggasan Indonesia tidak hanya akan maju secara teknologi, tetapi juga kokoh secara sosial dan ekonomi.
Industri broiler di Indonesia dikenal memiliki pola yang berulang dan sebenarnya dapat diprediksi. Meskipun bagi sebagian orang pergerakan harga ayam terlihat fluktuatif dan sulit ditebak, bagi pelaku usaha yang memahami siklusnya, arah pasar justru bisa dibaca sejak jauh hari.
Hal ini dimungkinkan karena ayam broiler memiliki siklus produksi yang relatif singkat, yaitu sekitar 30–35 hari dari DOC (Day Old Chick) hingga panen. Artinya, perubahan supply ayam yang terjadi hari ini sebenarnya sudah ditentukan sekitar satu bulan sebelumnya.
Dalam praktiknya, ada empat faktor utama yang sangat mempengaruhi pergerakan industri broiler di Indonesia, yaitu:
Harga dan ketersediaan DOC
Jumlah chick in
Harga pakan
Struktur industri yang didominasi integrator besar
Keempat faktor ini saling berinteraksi dan membentuk siklus yang terus berulang dalam industri perunggasan nasional.
DOC: Titik Awal Seluruh Siklus Broiler
DOC (Day Old Chick) merupakan titik awal dari seluruh rantai produksi ayam broiler. Harga dan ketersediaan DOC sering menjadi indikator paling awal dari kondisi supply ayam di masa depan.
Sinyal Awal dari Pasar DOC
Ketika harga DOC turun tajam dan mudah didapat tanpa sistem booking, biasanya ini menandakan bahwa hatchery sedang mengalami kelebihan produksi. Dalam kondisi ini, perusahaan pembibitan berusaha mendorong distribusi DOC ke pasar agar stok terserap.
Beberapa tanda yang sering muncul di lapangan antara lain:
Harga DOC turun drastis
Tidak perlu booking untuk mendapatkan DOC
Adanya diskon atau bonus DOC
Sales hatchery lebih agresif menawarkan
Bagi peternak, kondisi ini sering dianggap sebagai peluang karena biaya awal terlihat lebih murah. Namun justru di sinilah awal dari potensi masalah berikutnya.
Chick In Serempak: Awal Terjadinya Oversupply
Ketika DOC murah dan mudah didapat, banyak peternak melakukan chick in secara bersamaan.
Secara jangka pendek, keputusan ini terlihat rasional. Namun dalam skala nasional, hal ini menciptakan efek domino.
Dampaknya
Chick in meningkat secara serempak
Ayam tumbuh dan dipanen dalam waktu yang hampir bersamaan
Supply ayam melonjak dalam satu periode
Sekitar 30–35 hari kemudian, pasar akan dibanjiri ayam hidup (livebird/LB) dalam jumlah besar.
Jika permintaan tidak mampu menyerap lonjakan supply ini, maka yang terjadi adalah:
➡ Harga ayam jatuh ➡ Peternak kehilangan daya tawar
Harga Live Bird: Titik Tekanan Pasar
Ketika terjadi oversupply, posisi tawar di pasar berubah.
Pihak yang memiliki akses pasar seperti:
Pedagang besar
Broker
Rumah Potong Ayam (RPA)
akan memiliki kendali lebih besar terhadap harga.
Apa yang Terjadi di Lapangan?
Harga LB mulai ditekan
Peternak dipaksa menjual
Terjadi panic selling
Karena ayam tidak bisa disimpan lama dan biaya pakan terus berjalan setiap hari, peternak tidak memiliki banyak pilihan selain menjual, meskipun dalam kondisi rugi.
Harga Pakan: Tekanan dari Sisi Biaya
Di sisi lain, harga pakan sering bergerak tidak sejalan dengan harga ayam.
Pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi, mencapai sekitar 70%.
Faktor yang Mempengaruhi Harga Pakan
Harga jagung domestik
Harga soybean meal (SBM) impor
Nilai tukar dolar
Kebijakan impor pemerintah
Biaya logistik
Selain itu, faktor global juga dapat berpengaruh secara tidak langsung.
Ketegangan geopolitik seperti antara United States dan Iran dapat mempengaruhi rantai pasok global dan nilai tukar, yang pada akhirnya berdampak pada harga bahan baku pakan.
Namun dalam praktiknya, faktor paling dominan tetap berasal dari dalam negeri, terutama harga jagung dan kebijakan impor.
Struktur Industri: Dominasi Integrator Besar
Yang membuat industri broiler di Indonesia semakin kompleks adalah struktur industrinya.
Sebagian besar rantai produksi dikuasai oleh perusahaan integrator besar seperti:
Charoen Pokphand Indonesia
Japfa Comfeed Indonesia
Malindo Feedmill
Perusahaan-perusahaan ini menguasai hampir seluruh rantai produksi:
Breeding farm
Hatchery DOC
Pabrik pakan
Kemitraan peternak
Rumah potong ayam
Distribusi
Dampaknya
Keputusan mereka, terutama terkait:
Setting telur
Produksi DOC
secara tidak langsung akan menentukan jumlah ayam yang masuk ke pasar nasional beberapa minggu ke depan.
Peran Pemerintah dalam Stabilitas Pasar
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia juga memiliki peran dalam menjaga stabilitas industri.
Beberapa kebijakan yang sering dilakukan antara lain:
Pemotongan telur tetas (cutting HE)
Pengaturan populasi
Intervensi saat harga jatuh
Namun, efektivitas kebijakan ini sering bergantung pada timing dan implementasi di lapangan.
Empat Indikator Utama Membaca Pasar Broiler
Dalam praktiknya, pelaku industri biasanya fokus pada empat indikator utama:
1. Harga DOC
Indikator awal supply ayam 30–35 hari ke depan.
2. Jumlah Chick In
Menentukan jumlah ayam yang akan dipanen.
3. Harga Live Bird
Menunjukkan kondisi pasar saat ini.
4. Tren Harga Pakan
Menentukan reaksi peternak terhadap produksi.
Pola Sederhana yang Sering Terjadi
Beberapa pola yang sering terjadi di industri broiler:
DOC murah + chick in naik ➡ 1 bulan kemudian harga ayam turun
DOC langka + chick in turun ➡ 1 bulan kemudian harga ayam naik
Pakan naik + DOC turun ➡ Peternak mengurangi produksi ➡ Supply turun ➡ Harga ayam naik
Analisa Strategis Kondisi Saat Ini
Jika melihat kondisi yang sering terjadi di lapangan:
DOC sedang turun
Stok DOC berpotensi menipis dalam 2 minggu
Harga pakan mulai naik
Maka ada kemungkinan besar terjadi skenario berikut:
➡ Peternak mulai mengurangi chick in ➡ 1 bulan kemudian supply ayam berkurang ➡ Harga livebird berpotensi naik
Estimasi Waktu
2 minggu: perubahan di DOC
4–6 minggu: dampak ke harga ayam
Strategi untuk Peternak
Dalam menghadapi siklus ini, peternak perlu lebih strategis dan tidak hanya mengikuti arus pasar.
Beberapa pendekatan yang bisa dilakukan:
1. Jangan ikut euforia DOC murah Karena ini sering menjadi awal oversupply.
2. Perhatikan tren chick in nasional Bukan hanya kondisi kandang sendiri.
3. Waspada saat harga ayam tinggi Karena biasanya itu mendekati puncak siklus.
4. Manfaatkan momentum saat supply mulai turun Ini biasanya menjadi fase terbaik untuk panen.
Kesimpulan
Industri broiler di Indonesia bukanlah pasar yang sepenuhnya acak. Pergerakan harga ayam sebenarnya merupakan hasil dari interaksi kompleks antara:
Siklus biologis ayam
Perilaku peternak
Dinamika harga pakan
Struktur industri yang didominasi integrator
Beberapa poin penting yang perlu dipahami:
1️⃣ Geopolitik global bukan faktor utama, tetapi tetap berpengaruh secara tidak langsung 2️⃣ Harga pakan sangat ditentukan oleh jagung, SBM, kurs dolar, dan kebijakan impor 3️⃣ Kombinasi DOC turun dan pakan naik sering menjadi sinyal bullish untuk harga ayam
Proyeksi Pasar
Jika kondisi saat ini:
DOC turun
Pakan naik
Stok DOC mulai terbatas
Maka probabilitas yang cukup kuat adalah:
➡ Harga ayam berpotensi membaik dalam 4–6 minggu ke depan
Penutup
Memahami siklus broiler bukan hanya soal teori, tetapi menjadi kunci bertahan dalam industri yang sangat dinamis ini.
Peternak yang mampu membaca sinyal lebih awal akan memiliki keunggulan besar dibanding yang hanya mengikuti arus pasar.
Karena pada akhirnya, dalam industri broiler:
Yang bertahan bukan yang paling besar, tetapi yang paling paham siklus.
Industri perunggasan, khususnya broiler, di Indonesia dikenal memiliki pola yang berulang dan sebenarnya cukup “terbaca” bagi pelaku yang memahami siklusnya. Meskipun terlihat fluktuatif, harga ayam hidup (livebird/LB) tidak bergerak secara acak, melainkan mengikuti pola supply dan demand yang bisa dianalisa.
Para trader ayam, integrator, hingga peternak berpengalaman umumnya tidak hanya melihat satu indikator, tetapi menggabungkan beberapa faktor utama secara bersamaan. Ada empat indikator penting yang menjadi dasar dalam membaca arah pasar broiler nasional, yaitu:
Harga DOC (Day Old Chick)
Data chick in
Harga livebird (LB)
Harga pakan
Jika keempat indikator ini dipahami dengan benar, maka prediksi harga ayam 1–2 bulan ke depan bisa mencapai tingkat akurasi hingga 70–80%.
1. Harga DOC: Indikator Awal Supply Ayam
DOC atau Day Old Chick merupakan indikator paling awal dalam siklus broiler. DOC mencerminkan jumlah potensi ayam yang akan masuk ke kandang dan dipanen sekitar 30–35 hari ke depan.
Mengapa DOC Sangat Penting?
Siklus broiler relatif singkat:
DOC → Chick in → 30–32 hari → Panen (Livebird)
Artinya, harga DOC hari ini sebenarnya adalah gambaran kondisi pasar ayam satu bulan ke depan.
Pola Umum Harga DOC
DOC turun tajam
Menandakan hatchery mengalami oversupply
Peternak cenderung ragu untuk chick in
30 hari kemudian bisa terjadi ketidakseimbangan supply
DOC naik
Menandakan permintaan DOC meningkat
Chick in meningkat
Potensi oversupply ayam 30 hari ke depan
Jebakan Psikologis Pasar
Salah satu kesalahan umum adalah efek ikut-ikutan:
DOC murah → peternak ramai chick in
35 hari kemudian → ayam melimpah → harga jatuh
Inilah yang sering menyebabkan siklus “jatuh bangun” harga ayam di Indonesia.
2. Data Chick In: Cerminan Supply Nyata
Jika DOC adalah indikator niat, maka chick in adalah realisasi di lapangan.
Trader besar biasanya memiliki estimasi jumlah chick in nasional untuk memprediksi supply ayam di masa depan.
Logika Dasarnya
Jumlah DOC yang benar-benar masuk kandang = jumlah ayam yang akan dipanen ±30 hari ke depan.
Contoh Analisa
Jika dalam satu minggu:
Chick in nasional turun 10–15%
Maka kemungkinan besar:
30 hari ke depan supply ayam menurun
Harga livebird (LB) akan naik
Fenomena ini sering terjadi setelah periode harga ayam jatuh, di mana peternak mengurangi produksi untuk menghindari kerugian.
3. Harga Live Bird (LB): Cermin Kondisi Pasar Saat Ini
Harga livebird adalah indikator paling “real-time” yang menggambarkan kondisi pasar saat ini.
Trader biasanya membaca tiga kondisi utama dari harga LB:
1. LB Naik Cepat
Menunjukkan:
Supply ayam mulai berkurang
Rumah Potong Ayam (RPA) mulai berebut ayam
Harga DOC biasanya ikut naik setelahnya
2. LB Stabil
Menunjukkan:
Supply dan demand seimbang
Pasar dalam kondisi normal
Harga DOC cenderung stabil
3. LB Turun Cepat
Menunjukkan:
Terjadi oversupply ayam
Banyak panen bersamaan
Terjadi panic selling
Biasanya kondisi ini langsung diikuti dengan penurunan harga DOC.
4. Harga Pakan: Faktor Psikologis Peternak
Berbeda dengan tiga indikator sebelumnya, harga pakan tidak secara langsung menentukan harga ayam. Namun, dampaknya sangat besar terhadap perilaku peternak.
Jika Harga Pakan Naik
Peternak biasanya akan:
Mengurangi chick in
Mengosongkan kandang sementara
Dampaknya
1 bulan kemudian supply ayam menurun
Harga livebird berpotensi naik
Efek ini bersifat tidak langsung, tetapi sangat konsisten terjadi dalam siklus broiler di Indonesia.
Diagram Siklus Broiler Indonesia
Jika dirangkum, siklus broiler di Indonesia umumnya bergerak dalam pola berikut:
DOC naik ↓
Peternak banyak chick in ↓ (30 hari)
Supply ayam meningkat ↓
Harga LB turun ↓
Peternak mengurangi chick in ↓ (30 hari)
Supply ayam menurun ↓
Harga LB naik kembali
Siklus ini biasanya terjadi berulang setiap 3–4 bulan.
Cara Trader Ayam Memprediksi Harga
Para trader ayam umumnya menggunakan pendekatan sederhana namun efektif dalam membaca arah pasar.
Rumus Dasar Prediksi
1. DOC turun + chick in turun ➡ Prediksi: 1 bulan ke depan harga LB naik
2. DOC murah + chick in naik ➡ Prediksi: 1 bulan ke depan harga LB turun
3. LB naik + DOC masih mahal ➡ Prediksi: akan terjadi oversupply berikutnya
Pendekatan ini sering digunakan dalam pengambilan keputusan cepat di lapangan.
Contoh Analisa Kondisi Pasar Saat Ini
Berdasarkan kondisi yang sering terjadi di lapangan:
Harga DOC sedang turun
Harga LB ikut turun
Informasi bahwa DOC akan mulai berkurang dalam 2 minggu ke depan
Interpretasi
2 minggu ke depan harga DOC berpotensi mulai naik
4 minggu ke depan supply ayam mulai berkurang
Harga livebird kemungkinan akan kembali naik
Ini merupakan pola klasik dalam siklus broiler nasional.
Strategi Peternak Senior Menghadapi Siklus
Peternak berpengalaman tidak hanya mengikuti pasar, tetapi justru memanfaatkan siklus tersebut.
1. Saat DOC Murah
Mereka tetap melakukan chick in, karena:
Biaya awal lebih rendah
Berharap panen saat harga LB naik
2. Saat DOC Mahal
Mereka justru mengurangi chick in, karena:
Risiko panen saat oversupply tinggi
Margin keuntungan lebih kecil
3. Saat Harga LB Jatuh
Mereka melakukan strategi bertahan:
Menahan ayam hingga bobot lebih besar (jika memungkinkan)
Mengincar pasar ayam besar yang lebih stabil
Strategi ini membutuhkan pengalaman, modal, dan keberanian mengambil risiko.
Kesimpulan
Membaca pasar broiler di Indonesia sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan, selama memahami indikator utamanya.
Empat indikator utama yang wajib diperhatikan:
Harga DOC
Jumlah chick in
Harga livebird (LB)
Tren harga pakan
Dari keempat indikator tersebut, tiga indikator pertama sudah cukup untuk memberikan gambaran yang cukup akurat mengenai arah pasar.
Dengan memahami pola siklus ini, peternak dan pelaku usaha dapat:
Mengurangi risiko kerugian
Mengambil keputusan produksi yang lebih tepat
Memanfaatkan momentum harga
Akurasi prediksi bahkan bisa mencapai 70–80% jika dilakukan secara konsisten dan disiplin.
Program hilirisasi ayam terintegrasi yang didorong pemerintah saat ini memiliki landasan regulasi yang kuat. Namun, implementasinya di lapangan tetap menjadi kunci utama: apakah benar berpihak kepada peternak rakyat atau justru memperkuat dominasi korporasi besar?
Regulasi Sudah Jelas, Implementasi Jadi Tantangan
Secara normatif, berbagai regulasi telah memberikan perlindungan terhadap peternak rakyat.
UU Nomor 18 Tahun 2009 jo. UU 41 Tahun 2014 secara tegas menyatakan bahwa pemerintah wajib:
Memberdayakan peternak rakyat
Menjamin kepastian usaha
Melindungi dari persaingan tidak sehat
Namun dalam praktiknya, ketimpangan struktur industri masih sering terjadi.
Potensi Konflik dengan Regulasi Persaingan Usaha
Hilirisasi yang terintegrasi berpotensi berbenturan dengan prinsip persaingan usaha sehat jika tidak diawasi ketat.
Hal ini berkaitan dengan:
UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
Peran Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam mengawasi dominasi pasar
Jika integrasi dikuasai oleh segelintir perusahaan besar, maka struktur pasar bisa menjadi tidak sehat dan merugikan peternak kecil.
Masalah Klasik yang Belum Terselesaikan
Meski regulasi sudah ada, beberapa persoalan mendasar masih belum teratasi:
Harga ayam hidup yang sering jatuh di bawah HPP
Harga pakan yang tinggi dan tidak terkendali
Ketergantungan peternak pada integrator
Padahal, Permentan No. 32 Tahun 2017 sudah mengatur keseimbangan supply-demand. Namun implementasi di lapangan sering kali tidak optimal.
Hilirisasi Tanpa Pengawasan = Risiko Baru
Tanpa pengawasan ketat, hilirisasi justru berpotensi:
Mengunci peternak dalam sistem kemitraan yang tidak seimbang
Mengurangi daya tawar peternak
Memperbesar margin keuntungan di sisi hilir (industri besar)
Ini menjadi ironi, karena tujuan awal hilirisasi adalah memperkuat peternak rakyat.
Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?
Agar hilirisasi berjalan sesuai tujuan regulasi, pemerintah perlu:
Menetapkan harga acuan yang benar-benar ditegakkan
Memperkuat pengawasan KPPU terhadap integrator
Mendorong transparansi dalam pola kemitraan
Menjamin akses peternak terhadap pakan dan DOC dengan harga wajar
Regulasi Kuat, Tapi Harus Tegas
Hilirisasi ayam terintegrasi adalah langkah maju, namun tidak cukup hanya mengandalkan regulasi di atas kertas.
Tanpa pengawasan dan keberpihakan yang tegas, program ini berpotensi melenceng dari tujuan awalnya.
Peternak rakyat harus menjadi subjek utama, bukan sekadar pelengkap dalam rantai industri.
Contains information related to marketing campaigns of the user. These are shared with Google AdWords / Google Ads when the Google Ads and Google Analytics accounts are linked together.
90 days
__utma
ID used to identify users and sessions
2 years after last activity
__utmt
Used to monitor number of Google Analytics server requests
10 minutes
__utmb
Used to distinguish new sessions and visits. This cookie is set when the GA.js javascript library is loaded and there is no existing __utmb cookie. The cookie is updated every time data is sent to the Google Analytics server.
30 minutes after last activity
__utmc
Used only with old Urchin versions of Google Analytics and not with GA.js. Was used to distinguish between new sessions and visits at the end of a session.
End of session (browser)
__utmz
Contains information about the traffic source or campaign that directed user to the website. The cookie is set when the GA.js javascript is loaded and updated when data is sent to the Google Anaytics server
6 months after last activity
__utmv
Contains custom information set by the web developer via the _setCustomVar method in Google Analytics. This cookie is updated every time new data is sent to the Google Analytics server.
2 years after last activity
__utmx
Used to determine whether a user is included in an A / B or Multivariate test.
18 months
_ga
ID used to identify users
2 years
_gali
Used by Google Analytics to determine which links on a page are being clicked
30 seconds
_ga_
ID used to identify users
2 years
_gid
ID used to identify users for 24 hours after last activity
24 hours
_gat
Used to monitor number of Google Analytics server requests when using Google Tag Manager