Connect with us

Berita

SPR–SASPRI–PERMINDO: Konsolidasi Ilmu dan Perjuangan Menuju Peternak Rakyat Naik Kelas

Published

on

Spread the love

Oleh : Kusnan (Ketua Umum PERMINDO)

Konsolidasi Nasional di Tengah Tantangan Industri Peternakan

Di tengah dinamika industri peternakan nasional yang semakin kompetitif dan terintegrasi secara global, peternak rakyat menghadapi tantangan yang tidak ringan. Fluktuasi harga ayam dan sapi, ketergantungan bahan baku pakan, keterbatasan akses pembiayaan, hingga rendahnya posisi tawar dalam rantai pasok menjadi realitas sehari-hari.

Namun dari ruang-ruang pendidikan dan konsolidasi gerakan, lahir sebuah model kolaborasi yang mempertemukan ilmu, solidaritas, dan perjuangan dalam satu ekosistem yang terintegrasi secara nasional.

Kolaborasi tersebut mempertautkan:

  • Sekolah Peternak Rakyat (SPR)
  • Solidaritas Alumni SPR Indonesia (SASPRI)
  • Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO)

Sinergi ini bukan sekadar kerja sama kelembagaan, tetapi konsolidasi gerakan nasional untuk menaikkan kelas peternak rakyat — dari usaha subsisten menuju korporasi rakyat yang profesional, kolektif, dan berdaya saing.


Dari Ilmu ke Implementasi: Transformasi Pola Pikir Peternak

SPR yang dikembangkan oleh IPB University telah menjadi model pendidikan berbasis klaster yang membangun kesadaran manajemen kolektif di kalangan peternak.

Di dalam SPR, peternak tidak hanya belajar teknis budidaya ternak, tetapi juga:

  • Tata kelola produksi berbasis data
  • Manajemen risiko usaha
  • Perencanaan keuangan
  • Strategi pemasaran kolektif
  • Kepemimpinan organisasi klaster

Pendekatan ini mengubah pola pikir peternak — dari bekerja sendiri-sendiri menjadi berjejaring dan berjamaah dalam usaha.

SASPRI kemudian hadir sebagai wadah alumni yang menjaga kesinambungan sistem. Solidaritas alumni memastikan bahwa pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas, melainkan berkembang menjadi jaringan nasional yang saling menguatkan dan berbagi praktik terbaik.

Sementara itu, PERMINDO mengambil peran implementatif dan advokatif. Organisasi ini mengkonsolidasikan klaster di lapangan, memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada peternak rakyat, serta membuka akses terhadap pembiayaan, pasar, dan program pemerintah.

Dalam konstruksi kolaborasi ini:

  • SPR memberikan ilmu dan standar manajemen.
  • SASPRI menjaga sistem dan solidaritas.
  • PERMINDO memastikan gerakan berjalan di lapangan dan diperkuat oleh kebijakan publik.

Membangun Ekosistem Bisnis Kolektif

Model yang dibangun bertumpu pada konsolidasi produksi dan tata niaga berbasis kolektif.

Peternak rakyat tidak lagi diposisikan sebagai price taker yang sepenuhnya bergantung pada fluktuasi pasar. Melalui agregasi volume dan manajemen klaster, posisi tawar dapat ditingkatkan.

Pendekatan kolektif ini meliputi:

  • Konsolidasi pembelian pakan untuk efisiensi harga
  • Penguatan manajemen produksi berbasis standar
  • Integrasi dengan offtaker dan lembaga pembiayaan
  • Transparansi data produksi antar anggota

Model ini sejalan dengan penguatan ekonomi pedesaan dan berbagai program pemberdayaan yang didorong pemerintah, termasuk oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar peternak rakyat tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem pangan nasional yang kokoh.

Dalam pendekatan ini, peternak rakyat diposisikan sebagai subjek pembangunan — terorganisir, terlatih, dan bankable.


Visi Kedaulatan Peternak: Mandiri dan Berdaya Tawar

Kolaborasi SPR–SASPRI–PERMINDO membawa visi besar: peternak rakyat mandiri dan berdaulat.

Mandiri dalam produksi.
Kuat dalam kelembagaan.
Berdaya tawar dalam kebijakan.

Kemandirian tersebut diwujudkan melalui:

  • Pembentukan klaster-klaster aktif
  • Standarisasi manajemen produksi nasional
  • Pusat data produksi berbasis anggota
  • Penguatan akses pasar dan pembiayaan

Target jangka menengahnya adalah membangun ratusan klaster produktif yang saling terhubung dalam jaringan nasional.

Di tengah dominasi integrator besar, peternak rakyat hanya dapat bertahan dan tumbuh jika bersatu dan terorganisir dalam skala yang lebih besar.

Paradigma pembangunan peternakan perlu bergeser — dari pendekatan individual menuju korporasi rakyat berbasis kolektivitas.


Momentum Kebangkitan Peternak Rakyat

Indonesia membutuhkan fondasi pangan yang kuat dan inklusif. Ketahanan serta kedaulatan pangan tidak akan tercapai tanpa peternak rakyat yang sejahtera dan profesional.

Kolaborasi SPR–SASPRI–PERMINDO menghadirkan model konkret bahwa transformasi peternakan nasional dimulai dari:

  1. Pendidikan yang sistematis
  2. Solidaritas alumni yang berkelanjutan
  3. Organisasi perjuangan yang kuat dan advokatif

Gerakan ini menjadi pesan bahwa masa depan peternakan nasional tidak hanya ditentukan oleh modal besar, tetapi oleh kekuatan kolektif rakyat yang terdidik dan terorganisir.

Dari kandang rakyat menuju korporasi peternak nasional — itulah arah perjuangan bersama.

Ketika ilmu, solidaritas, dan advokasi bersatu, peternak rakyat bukan lagi sekadar bertahan. Mereka naik kelas. Mereka memimpin perubahan.

Berita

Harga Ayam Anjlok, Pengawasan Kebijakan Rp19.500/Kg Harus Diperketat untuk Melindungi Peternak Rakyat

Published

on

By

Spread the love

Industri perunggasan nasional kembali menghadapi persoalan klasik yang terus berulang, yaitu anjloknya harga ayam hidup (livebird) di tingkat peternak. Meskipun pemerintah melalui Kementerian Pertanian bersama para pelaku usaha telah menyepakati harga minimal ayam hidup sebesar Rp19.500 per kilogram untuk bobot 1,8 kg ke atas, kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak peternak yang menjual hasil panennya di bawah harga tersebut.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas pengawasan dan implementasi kebijakan yang telah disepakati bersama. Tanpa pengawasan yang ketat dan tindakan tegas terhadap pelanggaran, kebijakan harga hanya akan menjadi angka di atas kertas yang tidak memberikan perlindungan nyata bagi peternak rakyat.

Harga Rp19.500 Belum Menjamin Keuntungan Peternak

Kesepakatan harga minimal Rp19.500/kg sebenarnya merupakan langkah awal yang positif untuk menghentikan kejatuhan harga ayam hidup yang sebelumnya sempat berada di kisaran Rp18.000/kg bahkan di bawahnya. Namun, angka tersebut masih jauh dari Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah yang berada di level Rp25.000/kg.

Di sisi lain, biaya produksi peternak terus mengalami tekanan akibat tingginya harga pakan, DOC, obat-obatan, serta biaya operasional lainnya. Dalam kondisi tersebut, harga Rp19.500/kg sebenarnya hanya menjadi batas minimal agar kerugian peternak tidak semakin dalam. Ketika harga di lapangan masih berada di bawah angka tersebut, maka peternak rakyat menjadi pihak yang paling terdampak.

Lemahnya Pengawasan Menjadi Persoalan Utama

Salah satu akar masalah yang menyebabkan harga ayam terus jatuh adalah lemahnya pengawasan terhadap implementasi kebijakan harga. Pemerintah telah meminta seluruh pelaku usaha untuk mematuhi kesepakatan harga minimal, namun pengawasan di tingkat lapangan masih belum berjalan optimal.

Tidak sedikit laporan dari berbagai daerah yang menunjukkan adanya transaksi ayam hidup di bawah harga kesepakatan. Kondisi ini menciptakan persaingan yang tidak sehat dan menekan posisi tawar peternak rakyat yang umumnya tidak memiliki akses pasar yang kuat.

Apabila pelanggaran terhadap harga kesepakatan terus dibiarkan, maka kepercayaan peternak terhadap kebijakan pemerintah akan semakin menurun. Akibatnya, stabilisasi industri perunggasan yang menjadi tujuan utama kebijakan tersebut sulit untuk tercapai.

Peternak Rakyat Tidak Boleh Menjadi Korban

Peternak rakyat merupakan tulang punggung penyedia protein hewani nasional. Mereka berperan penting dalam menjaga ketersediaan daging ayam bagi masyarakat Indonesia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, peternak rakyat justru menjadi kelompok yang paling rentan ketika terjadi gejolak harga.

Saat harga ayam turun drastis, peternak menanggung kerugian besar. Sebaliknya, ketika harga ayam di tingkat konsumen tinggi, keuntungan yang diterima peternak sering kali tidak sebanding karena adanya ketidakseimbangan rantai distribusi.

Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa setiap kebijakan yang dibuat benar-benar berjalan di lapangan dan memberikan manfaat nyata bagi peternak. Pengawasan harus dilakukan secara berkala, transparan, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk asosiasi peternak.

PERMINDO Mendesak Pengawasan dan Penegakan Aturan

PERMINDO memandang bahwa stabilisasi harga tidak cukup hanya melalui kesepakatan bersama. Pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap implementasi harga minimal Rp19.500/kg serta memberikan sanksi tegas kepada pihak-pihak yang terbukti melanggar komitmen tersebut.

Selain itu, pemerintah juga perlu mengambil langkah strategis untuk menekan biaya produksi peternak, terutama melalui pengendalian harga pakan yang saat ini menjadi komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya ayam broiler. Upaya stabilisasi harga ayam harus berjalan beriringan dengan kebijakan penurunan biaya produksi agar peternak dapat memperoleh margin usaha yang layak.

Kesimpulan

Anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak menunjukkan bahwa kebijakan tanpa pengawasan yang kuat tidak akan memberikan dampak maksimal. Harga minimal Rp19.500/kg harus menjadi komitmen bersama yang benar-benar dijalankan di lapangan, bukan sekadar kesepakatan administratif.

Peternak rakyat membutuhkan keberpihakan nyata melalui pengawasan yang ketat, penegakan aturan yang konsisten, dan kebijakan yang mampu menekan biaya produksi. Dengan demikian, keberlangsungan usaha peternak dapat terjaga dan ketahanan pangan nasional tetap kuat.

PERMINDO akan terus mengawal kebijakan perunggasan nasional demi terciptanya iklim usaha yang adil, sehat, dan berkelanjutan bagi seluruh peternak rakyat Indonesia.

Continue Reading

Berita

PERMINDO Bertemu Direktur Pakan Kementan RI, Soroti Kenaikan Harga dan Penurunan Kualitas Pakan Broiler

Published

on

By

Spread the love

PERMINDO Sampaikan Keluhan Peternak Rakyat Terkait Harga dan Kualitas Pakan

Perhimpunan Masyarakat Indonesia Maju (PERMINDO) melakukan pertemuan dengan Direktorat Pakan Kementerian Pertanian Republik Indonesia guna menyampaikan berbagai persoalan yang tengah dihadapi peternak rakyat, khususnya terkait kenaikan harga pakan serta menurunnya performa beberapa produk pakan broiler di lapangan.

Dalam pertemuan tersebut, PERMINDO menyampaikan bahwa kondisi peternak rakyat saat ini semakin tertekan akibat tingginya biaya produksi yang didominasi oleh komponen pakan. Kenaikan harga pakan dinilai tidak sebanding dengan harga jual ayam hidup di tingkat peternak yang masih fluktuatif dan sering berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP).

Selain persoalan harga, PERMINDO juga melaporkan adanya keluhan dari para peternak mengenai beberapa produk pakan yang mengalami penurunan performa terhadap pertumbuhan ayam broiler. Beberapa peternak mengaku mengalami penurunan feed conversion ratio (FCR), pertumbuhan bobot badan yang tidak maksimal, hingga masa panen yang menjadi lebih lama dibanding biasanya.

PERMINDO menegaskan bahwa kualitas pakan merupakan faktor utama dalam keberhasilan budidaya ayam broiler. Oleh karena itu, pengawasan mutu dan stabilitas kualitas produk pakan harus menjadi perhatian serius seluruh pihak, terutama produsen pakan nasional.

Direktur Pakan Imbau Pabrik Tetap Jaga Kualitas Produk

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Direktorat Pakan Kementerian Pertanian RI menghimbau kepada seluruh perusahaan dan pabrik pakan agar tetap menjaga kualitas produk yang beredar di pasaran. Pemerintah juga meminta agar kenaikan harga pakan tidak dilakukan secara signifikan sehingga tidak semakin membebani peternak rakyat.

Direktorat Pakan menilai bahwa stabilitas industri perunggasan nasional hanya dapat tercapai apabila seluruh rantai usaha, mulai dari hulu hingga hilir, berjalan secara sehat dan berkeadilan. Peternak rakyat sebagai ujung tombak produksi nasional harus tetap mendapatkan perlindungan agar mampu bertahan di tengah tantangan industri saat ini.

Dalam kesempatan tersebut, PERMINDO juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap kualitas bahan baku pakan serta transparansi formulasi agar performa ayam broiler tetap optimal dan produktivitas peternak tidak terus menurun.

PERMINDO Dorong Keberpihakan terhadap Peternak Rakyat

PERMINDO berharap hasil pertemuan ini dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan kebijakan yang lebih berpihak kepada peternak rakyat. Stabilitas harga pakan dan kualitas produk yang konsisten menjadi kebutuhan mendesak agar peternak mampu menjaga keberlangsungan usaha mereka.

Di tengah kondisi industri perunggasan yang masih penuh tantangan, PERMINDO menegaskan akan terus menjadi wadah perjuangan peternak rakyat dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah maupun stakeholder terkait demi terciptanya ekosistem peternakan yang sehat, adil, dan berkelanjutan.

Continue Reading

Berita

Harga Ayam Hidup Anjlok, Peternak Rakyat Desak Pemerintah Turunkan Harga Pakan

Published

on

By

Spread the love

Industri perunggasan nasional kembali menghadapi tekanan serius. Harga ayam hidup di tingkat peternak rakyat saat ini berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp19.500 per kilogram. Angka tersebut masih berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) peternak yang mencapai Rp20.000 sampai Rp22.000 per kilogram.

Kondisi ini membuat banyak peternak rakyat kembali mengalami kerugian. Di sisi lain, harga pakan ternak masih tinggi dan menjadi beban utama biaya produksi para peternak mandiri.

Harga Pakan Jadi Beban Utama Peternak Rakyat

Dalam struktur biaya produksi ayam broiler, pakan menjadi komponen terbesar yang bisa mencapai lebih dari 70 persen total biaya operasional. Ketika harga jagung dan bahan baku pakan naik, maka biaya produksi peternak otomatis ikut meningkat.

Peternak rakyat menilai kebijakan harga ayam hidup minimum Rp19.500 per kilogram masih belum cukup membantu apabila harga pakan tidak ikut dikendalikan. Banyak peternak berharap pemerintah tidak hanya fokus menjaga harga jual ayam, tetapi juga menurunkan biaya produksi agar usaha peternakan rakyat tetap berjalan.

Peternak Rakyat Minta Pemerintah Hadir

Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) meminta pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Direktorat Jenderal Peternakan untuk lebih serius memperhatikan kondisi peternak rakyat.

Peternak berharap adanya langkah konkret seperti:

  • Pengendalian harga pakan ternak
  • Pengawasan distribusi DOC
  • Penyerapan hasil ternak peternak rakyat
  • Stabilitas harga ayam hidup di tingkat kandang
  • Pelibatan peternak rakyat dalam program strategis nasional

Menurut peternak, tanpa kebijakan yang berpihak kepada sektor rakyat, banyak peternak kecil berpotensi gulung tikar akibat kerugian yang terus berulang.

Program MBG Dinilai Bisa Menjadi Solusi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang disiapkan pemerintah dinilai dapat menjadi peluang besar bagi industri perunggasan nasional. Program tersebut membutuhkan pasokan protein hewani dalam jumlah besar, termasuk ayam dan telur.

PERMINDO menilai program MBG seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat peternak rakyat, bukan hanya menguntungkan perusahaan integrator besar. Jika penyerapan produk unggas dilakukan langsung dari peternak rakyat, maka program ini dapat membantu menjaga stabilitas harga ayam hidup di pasar.

Hilirisasi Unggas Harus Libatkan Peternak Mandiri

Selain program MBG, pemerintah juga mulai mendorong hilirisasi industri unggas nasional. Namun peternak rakyat berharap program hilirisasi tidak hanya terpusat pada industri besar.

Peternak mandiri harus dilibatkan dalam rantai produksi dan distribusi agar pertumbuhan industri perunggasan nasional berjalan lebih adil dan merata. Dengan begitu, ketahanan pangan nasional dapat dibangun bersama seluruh pelaku usaha, termasuk peternak rakyat.

Kesimpulan

Turunnya harga ayam hidup di bawah HPP kembali menjadi alarm bagi dunia peternakan nasional. Tanpa pengendalian harga pakan dan perlindungan terhadap peternak rakyat, krisis di sektor perunggasan dapat terus berulang.

Peternak rakyat tidak meminta keuntungan besar. Mereka hanya ingin harga jual yang layak dan biaya produksi yang tetap terkendali agar usaha peternakan dapat terus bertahan di tengah tantangan industri yang semakin berat.

Continue Reading

Trending