Daging ayam ras tercatat sebagai salah satu komoditas penyumbang inflasi terbesar pada periode Februari hingga Maret 2026. Lonjakan harga yang signifikan di tingkat konsumen menjadi faktor utama meningkatnya tekanan inflasi pada kelompok bahan pangan.
Berdasarkan laporan perkembangan harga, rata-rata harga daging ayam ras di tingkat konsumen telah menyentuh Rp40.789 per kilogram. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu satu tahun terakhir dan memicu perhatian berbagai pihak, terutama pelaku usaha perunggasan serta pengambil kebijakan.
Harga Tertinggi dalam Setahun Terakhir
Kenaikan harga daging ayam ras pada awal 2026 menandai tren penguatan yang cukup tajam dibandingkan periode sebelumnya. Dalam beberapa bulan terakhir, harga relatif stabil, namun memasuki Februari terjadi akselerasi kenaikan yang berlanjut hingga Maret.
Rekor harga rata-rata Rp40.789 per kilogram menunjukkan adanya tekanan yang cukup kuat di sisi pasokan maupun permintaan. Momentum menjelang Ramadan serta peningkatan konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor pendorong utama naiknya harga.
Bagi konsumen, kenaikan ini terasa langsung pada pengeluaran rumah tangga. Sementara bagi pemerintah, kondisi tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya angka inflasi nasional, khususnya dari komponen bahan pangan bergejolak.
Faktor Pendorong Kenaikan Harga
Lonjakan harga daging ayam ras tidak terjadi tanpa sebab. Beberapa faktor utama yang berpotensi mendorong kenaikan harga antara lain:
1. Kenaikan Biaya Produksi
Biaya produksi peternak sangat dipengaruhi oleh harga pakan, terutama jagung dan bahan baku lainnya. Ketika harga pakan meningkat, biaya pemeliharaan ayam ikut terdongkrak. Pada akhirnya, kenaikan biaya tersebut diteruskan ke harga jual ayam hidup dan berdampak pada harga daging di tingkat konsumen.
2. Lonjakan Permintaan Musiman
Periode Februari–Maret bertepatan dengan persiapan Ramadan dan Idulfitri, di mana konsumsi protein hewani biasanya meningkat. Permintaan yang melonjak dalam waktu singkat dapat memicu kenaikan harga apabila pasokan tidak bertambah secara proporsional.
3. Distribusi dan Rantai Pasok
Faktor distribusi juga memiliki peran penting. Biaya transportasi, ketersediaan pasokan di daerah tertentu, serta ketidakseimbangan distribusi antarwilayah dapat memperlebar disparitas harga dan mendorong rata-rata nasional naik.
Dampak terhadap Konsumen dan Daya Beli
Daging ayam ras merupakan salah satu sumber protein hewani utama masyarakat Indonesia karena harganya relatif lebih terjangkau dibandingkan daging sapi. Ketika harga ayam mengalami kenaikan signifikan, dampaknya langsung terasa pada pengeluaran rumah tangga.
Bagi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, kenaikan harga hingga menyentuh rata-rata Rp40.789 per kilogram dapat memaksa penyesuaian pola konsumsi. Beberapa rumah tangga mungkin mengurangi frekuensi pembelian atau beralih ke alternatif sumber protein lain.
Tekanan terhadap daya beli inilah yang kemudian tercermin dalam angka inflasi. Komoditas pangan memiliki bobot besar dalam perhitungan inflasi, sehingga setiap lonjakan harga dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap angka nasional.
Perspektif Peternak: Antara Peluang dan Risiko
Di sisi lain, kenaikan harga di tingkat konsumen tidak selalu identik dengan keuntungan besar bagi peternak. Margin keuntungan sangat bergantung pada selisih antara biaya produksi dan harga jual ayam hidup di kandang.
Apabila kenaikan harga di tingkat konsumen disebabkan oleh lonjakan biaya pakan dan distribusi, maka keuntungan peternak belum tentu meningkat secara signifikan. Bahkan dalam beberapa kasus, peternak tetap menghadapi tekanan arus kas akibat fluktuasi harga yang cepat.
Peternak skala kecil khususnya sering kali berada pada posisi paling rentan karena keterbatasan modal dan akses pasar. Ketidakstabilan harga dapat menyulitkan perencanaan produksi dan investasi jangka panjang.
Peran Pemerintah dalam Stabilitas Harga
Dalam menghadapi tekanan inflasi akibat kenaikan harga daging ayam ras, pemerintah memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas pasar. Langkah yang dapat ditempuh meliputi penguatan pasokan, pengawasan distribusi, serta kebijakan stabilisasi harga bahan baku pakan.
Intervensi yang tepat di sisi hulu, seperti menjaga harga jagung dan pakan tetap stabil, dapat membantu menekan biaya produksi peternak. Dengan demikian, harga di tingkat konsumen dapat lebih terkendali.
Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha menjadi kunci penting dalam meredam volatilitas harga, terutama menjelang periode konsumsi tinggi.
Proyeksi Harga ke Depan
Memasuki periode Ramadan dan Idulfitri, potensi fluktuasi harga daging ayam ras masih terbuka. Jika pasokan tetap terjaga dan distribusi berjalan lancar, harga berpeluang stabil meskipun permintaan tinggi.
Namun, apabila terdapat gangguan pasokan atau lonjakan biaya produksi lanjutan, tekanan harga bisa berlanjut dalam jangka pendek. Oleh karena itu, pemantauan intensif terhadap pergerakan harga di berbagai daerah menjadi sangat penting.
Stabilitas harga daging ayam ras bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Menjaga Keseimbangan Pasar Perunggasan Nasional
Kenaikan harga hingga mencapai rata-rata Rp40.789 per kilogram menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara produksi dan konsumsi dalam industri perunggasan. Pasokan yang cukup, biaya produksi yang terkendali, serta distribusi yang efisien merupakan fondasi utama stabilitas pasar.
Industri perunggasan nasional memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat. Oleh karena itu, sinergi antara peternak, distributor, pelaku usaha, dan pemerintah harus terus diperkuat agar fluktuasi harga tidak berujung pada gejolak berkepanjangan.
Ke depan, penguatan data produksi, peningkatan efisiensi pakan, serta manajemen rantai pasok yang lebih terintegrasi dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengurangi potensi lonjakan harga ekstrem.
Industri perunggasan nasional kembali menghadapi persoalan klasik yang terus berulang, yaitu anjloknya harga ayam hidup (livebird) di tingkat peternak. Meskipun pemerintah melalui Kementerian Pertanian bersama para pelaku usaha telah menyepakati harga minimal ayam hidup sebesar Rp19.500 per kilogram untuk bobot 1,8 kg ke atas, kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak peternak yang menjual hasil panennya di bawah harga tersebut.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas pengawasan dan implementasi kebijakan yang telah disepakati bersama. Tanpa pengawasan yang ketat dan tindakan tegas terhadap pelanggaran, kebijakan harga hanya akan menjadi angka di atas kertas yang tidak memberikan perlindungan nyata bagi peternak rakyat.
Harga Rp19.500 Belum Menjamin Keuntungan Peternak
Kesepakatan harga minimal Rp19.500/kg sebenarnya merupakan langkah awal yang positif untuk menghentikan kejatuhan harga ayam hidup yang sebelumnya sempat berada di kisaran Rp18.000/kg bahkan di bawahnya. Namun, angka tersebut masih jauh dari Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah yang berada di level Rp25.000/kg.
Di sisi lain, biaya produksi peternak terus mengalami tekanan akibat tingginya harga pakan, DOC, obat-obatan, serta biaya operasional lainnya. Dalam kondisi tersebut, harga Rp19.500/kg sebenarnya hanya menjadi batas minimal agar kerugian peternak tidak semakin dalam. Ketika harga di lapangan masih berada di bawah angka tersebut, maka peternak rakyat menjadi pihak yang paling terdampak.
Lemahnya Pengawasan Menjadi Persoalan Utama
Salah satu akar masalah yang menyebabkan harga ayam terus jatuh adalah lemahnya pengawasan terhadap implementasi kebijakan harga. Pemerintah telah meminta seluruh pelaku usaha untuk mematuhi kesepakatan harga minimal, namun pengawasan di tingkat lapangan masih belum berjalan optimal.
Tidak sedikit laporan dari berbagai daerah yang menunjukkan adanya transaksi ayam hidup di bawah harga kesepakatan. Kondisi ini menciptakan persaingan yang tidak sehat dan menekan posisi tawar peternak rakyat yang umumnya tidak memiliki akses pasar yang kuat.
Apabila pelanggaran terhadap harga kesepakatan terus dibiarkan, maka kepercayaan peternak terhadap kebijakan pemerintah akan semakin menurun. Akibatnya, stabilisasi industri perunggasan yang menjadi tujuan utama kebijakan tersebut sulit untuk tercapai.
Peternak Rakyat Tidak Boleh Menjadi Korban
Peternak rakyat merupakan tulang punggung penyedia protein hewani nasional. Mereka berperan penting dalam menjaga ketersediaan daging ayam bagi masyarakat Indonesia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, peternak rakyat justru menjadi kelompok yang paling rentan ketika terjadi gejolak harga.
Saat harga ayam turun drastis, peternak menanggung kerugian besar. Sebaliknya, ketika harga ayam di tingkat konsumen tinggi, keuntungan yang diterima peternak sering kali tidak sebanding karena adanya ketidakseimbangan rantai distribusi.
Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa setiap kebijakan yang dibuat benar-benar berjalan di lapangan dan memberikan manfaat nyata bagi peternak. Pengawasan harus dilakukan secara berkala, transparan, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk asosiasi peternak.
PERMINDO Mendesak Pengawasan dan Penegakan Aturan
PERMINDO memandang bahwa stabilisasi harga tidak cukup hanya melalui kesepakatan bersama. Pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap implementasi harga minimal Rp19.500/kg serta memberikan sanksi tegas kepada pihak-pihak yang terbukti melanggar komitmen tersebut.
Selain itu, pemerintah juga perlu mengambil langkah strategis untuk menekan biaya produksi peternak, terutama melalui pengendalian harga pakan yang saat ini menjadi komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya ayam broiler. Upaya stabilisasi harga ayam harus berjalan beriringan dengan kebijakan penurunan biaya produksi agar peternak dapat memperoleh margin usaha yang layak.
Kesimpulan
Anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak menunjukkan bahwa kebijakan tanpa pengawasan yang kuat tidak akan memberikan dampak maksimal. Harga minimal Rp19.500/kg harus menjadi komitmen bersama yang benar-benar dijalankan di lapangan, bukan sekadar kesepakatan administratif.
Peternak rakyat membutuhkan keberpihakan nyata melalui pengawasan yang ketat, penegakan aturan yang konsisten, dan kebijakan yang mampu menekan biaya produksi. Dengan demikian, keberlangsungan usaha peternak dapat terjaga dan ketahanan pangan nasional tetap kuat.
PERMINDO akan terus mengawal kebijakan perunggasan nasional demi terciptanya iklim usaha yang adil, sehat, dan berkelanjutan bagi seluruh peternak rakyat Indonesia.
PERMINDO Sampaikan Keluhan Peternak Rakyat Terkait Harga dan Kualitas Pakan
Perhimpunan Masyarakat Indonesia Maju (PERMINDO) melakukan pertemuan dengan Direktorat Pakan Kementerian Pertanian Republik Indonesia guna menyampaikan berbagai persoalan yang tengah dihadapi peternak rakyat, khususnya terkait kenaikan harga pakan serta menurunnya performa beberapa produk pakan broiler di lapangan.
Dalam pertemuan tersebut, PERMINDO menyampaikan bahwa kondisi peternak rakyat saat ini semakin tertekan akibat tingginya biaya produksi yang didominasi oleh komponen pakan. Kenaikan harga pakan dinilai tidak sebanding dengan harga jual ayam hidup di tingkat peternak yang masih fluktuatif dan sering berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP).
Selain persoalan harga, PERMINDO juga melaporkan adanya keluhan dari para peternak mengenai beberapa produk pakan yang mengalami penurunan performa terhadap pertumbuhan ayam broiler. Beberapa peternak mengaku mengalami penurunan feed conversion ratio (FCR), pertumbuhan bobot badan yang tidak maksimal, hingga masa panen yang menjadi lebih lama dibanding biasanya.
PERMINDO menegaskan bahwa kualitas pakan merupakan faktor utama dalam keberhasilan budidaya ayam broiler. Oleh karena itu, pengawasan mutu dan stabilitas kualitas produk pakan harus menjadi perhatian serius seluruh pihak, terutama produsen pakan nasional.
Direktur Pakan Imbau Pabrik Tetap Jaga Kualitas Produk
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Direktorat Pakan Kementerian Pertanian RI menghimbau kepada seluruh perusahaan dan pabrik pakan agar tetap menjaga kualitas produk yang beredar di pasaran. Pemerintah juga meminta agar kenaikan harga pakan tidak dilakukan secara signifikan sehingga tidak semakin membebani peternak rakyat.
Direktorat Pakan menilai bahwa stabilitas industri perunggasan nasional hanya dapat tercapai apabila seluruh rantai usaha, mulai dari hulu hingga hilir, berjalan secara sehat dan berkeadilan. Peternak rakyat sebagai ujung tombak produksi nasional harus tetap mendapatkan perlindungan agar mampu bertahan di tengah tantangan industri saat ini.
Dalam kesempatan tersebut, PERMINDO juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap kualitas bahan baku pakan serta transparansi formulasi agar performa ayam broiler tetap optimal dan produktivitas peternak tidak terus menurun.
PERMINDO Dorong Keberpihakan terhadap Peternak Rakyat
PERMINDO berharap hasil pertemuan ini dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan kebijakan yang lebih berpihak kepada peternak rakyat. Stabilitas harga pakan dan kualitas produk yang konsisten menjadi kebutuhan mendesak agar peternak mampu menjaga keberlangsungan usaha mereka.
Di tengah kondisi industri perunggasan yang masih penuh tantangan, PERMINDO menegaskan akan terus menjadi wadah perjuangan peternak rakyat dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah maupun stakeholder terkait demi terciptanya ekosistem peternakan yang sehat, adil, dan berkelanjutan.
Industri perunggasan nasional kembali menghadapi tekanan serius. Harga ayam hidup di tingkat peternak rakyat saat ini berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp19.500 per kilogram. Angka tersebut masih berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) peternak yang mencapai Rp20.000 sampai Rp22.000 per kilogram.
Kondisi ini membuat banyak peternak rakyat kembali mengalami kerugian. Di sisi lain, harga pakan ternak masih tinggi dan menjadi beban utama biaya produksi para peternak mandiri.
Harga Pakan Jadi Beban Utama Peternak Rakyat
Dalam struktur biaya produksi ayam broiler, pakan menjadi komponen terbesar yang bisa mencapai lebih dari 70 persen total biaya operasional. Ketika harga jagung dan bahan baku pakan naik, maka biaya produksi peternak otomatis ikut meningkat.
Peternak rakyat menilai kebijakan harga ayam hidup minimum Rp19.500 per kilogram masih belum cukup membantu apabila harga pakan tidak ikut dikendalikan. Banyak peternak berharap pemerintah tidak hanya fokus menjaga harga jual ayam, tetapi juga menurunkan biaya produksi agar usaha peternakan rakyat tetap berjalan.
Peternak Rakyat Minta Pemerintah Hadir
Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) meminta pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Direktorat Jenderal Peternakan untuk lebih serius memperhatikan kondisi peternak rakyat.
Peternak berharap adanya langkah konkret seperti:
Pengendalian harga pakan ternak
Pengawasan distribusi DOC
Penyerapan hasil ternak peternak rakyat
Stabilitas harga ayam hidup di tingkat kandang
Pelibatan peternak rakyat dalam program strategis nasional
Menurut peternak, tanpa kebijakan yang berpihak kepada sektor rakyat, banyak peternak kecil berpotensi gulung tikar akibat kerugian yang terus berulang.
Program MBG Dinilai Bisa Menjadi Solusi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang disiapkan pemerintah dinilai dapat menjadi peluang besar bagi industri perunggasan nasional. Program tersebut membutuhkan pasokan protein hewani dalam jumlah besar, termasuk ayam dan telur.
PERMINDO menilai program MBG seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat peternak rakyat, bukan hanya menguntungkan perusahaan integrator besar. Jika penyerapan produk unggas dilakukan langsung dari peternak rakyat, maka program ini dapat membantu menjaga stabilitas harga ayam hidup di pasar.
Hilirisasi Unggas Harus Libatkan Peternak Mandiri
Selain program MBG, pemerintah juga mulai mendorong hilirisasi industri unggas nasional. Namun peternak rakyat berharap program hilirisasi tidak hanya terpusat pada industri besar.
Peternak mandiri harus dilibatkan dalam rantai produksi dan distribusi agar pertumbuhan industri perunggasan nasional berjalan lebih adil dan merata. Dengan begitu, ketahanan pangan nasional dapat dibangun bersama seluruh pelaku usaha, termasuk peternak rakyat.
Kesimpulan
Turunnya harga ayam hidup di bawah HPP kembali menjadi alarm bagi dunia peternakan nasional. Tanpa pengendalian harga pakan dan perlindungan terhadap peternak rakyat, krisis di sektor perunggasan dapat terus berulang.
Peternak rakyat tidak meminta keuntungan besar. Mereka hanya ingin harga jual yang layak dan biaya produksi yang tetap terkendali agar usaha peternakan dapat terus bertahan di tengah tantangan industri yang semakin berat.
Contains information related to marketing campaigns of the user. These are shared with Google AdWords / Google Ads when the Google Ads and Google Analytics accounts are linked together.
90 days
__utma
ID used to identify users and sessions
2 years after last activity
__utmt
Used to monitor number of Google Analytics server requests
10 minutes
__utmb
Used to distinguish new sessions and visits. This cookie is set when the GA.js javascript library is loaded and there is no existing __utmb cookie. The cookie is updated every time data is sent to the Google Analytics server.
30 minutes after last activity
__utmc
Used only with old Urchin versions of Google Analytics and not with GA.js. Was used to distinguish between new sessions and visits at the end of a session.
End of session (browser)
__utmz
Contains information about the traffic source or campaign that directed user to the website. The cookie is set when the GA.js javascript is loaded and updated when data is sent to the Google Anaytics server
6 months after last activity
__utmv
Contains custom information set by the web developer via the _setCustomVar method in Google Analytics. This cookie is updated every time new data is sent to the Google Analytics server.
2 years after last activity
__utmx
Used to determine whether a user is included in an A / B or Multivariate test.
18 months
_ga
ID used to identify users
2 years
_gali
Used by Google Analytics to determine which links on a page are being clicked
30 seconds
_ga_
ID used to identify users
2 years
_gid
ID used to identify users for 24 hours after last activity
24 hours
_gat
Used to monitor number of Google Analytics server requests when using Google Tag Manager