Connect with us

Berita

Amran Sulaiman Lepas Ekspor Unggas Rp18,2 Miliar: Bukti Kekuatan Industri Perunggasan Indonesia di Pasar Global

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Ekspor Unggas Rp18,2 Miliar Resmi Dilepas

Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong sektor pertanian dan peternakan menuju pasar global. Dalam sebuah seremoni resmi, ia melepas ekspor produk unggas dengan nilai fantastis mencapai Rp18,2 miliar.

Pelepasan ekspor ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan industri perunggasan nasional. Tidak hanya sekadar transaksi ekonomi, langkah ini juga menjadi simbol bahwa produk unggas Indonesia telah mampu bersaing di pasar internasional.

Produk yang diekspor meliputi berbagai olahan unggas, mulai dari daging ayam beku hingga produk olahan bernilai tambah tinggi yang telah memenuhi standar mutu global.


Bukti Daya Saing Industri Perunggasan Nasional

Keberhasilan ekspor ini bukan terjadi secara instan. Industri perunggasan Indonesia telah melalui proses panjang dalam meningkatkan kualitas, efisiensi produksi, hingga standar keamanan pangan.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus mendorong modernisasi sektor peternakan, termasuk:

  • Peningkatan biosecurity di kandang
  • Penguatan sistem rantai dingin (cold chain)
  • Sertifikasi halal dan standar internasional
  • Pengawasan ketat terhadap kesehatan hewan

Dengan berbagai upaya tersebut, produk unggas Indonesia kini mulai mendapat tempat di pasar global, termasuk negara-negara dengan standar ketat.


Peran Strategis Ekspor dalam Menjaga Stabilitas Harga Ayam

Ekspor unggas tidak hanya berdampak pada devisa negara, tetapi juga memiliki efek langsung terhadap stabilitas harga ayam di dalam negeri.

Selama ini, salah satu tantangan utama peternak adalah fluktuasi harga ayam hidup (live bird) yang sering merugikan peternak rakyat. Ketika produksi berlebih, harga bisa jatuh drastis.

Dengan dibukanya akses ekspor, kelebihan produksi dalam negeri dapat diserap oleh pasar luar negeri. Hal ini membantu:

  • Menjaga keseimbangan supply dan demand
  • Mengurangi overproduksi
  • Meningkatkan harga jual di tingkat peternak
  • Memberikan kepastian usaha bagi peternak mandiri

Bagi komunitas seperti PERMINDO (Peternak Rakyat Mandiri Indonesia), kebijakan ekspor ini menjadi harapan baru dalam memperbaiki kesejahteraan peternak.


Negara Tujuan Ekspor dan Peluang Pasar

Ekspor unggas Indonesia terus mengalami perluasan pasar. Negara tujuan ekspor meliputi kawasan Asia, Timur Tengah, hingga Afrika.

Beberapa negara memiliki permintaan tinggi terhadap produk unggas karena:

  • Pertumbuhan populasi yang pesat
  • Keterbatasan produksi dalam negeri
  • Kebutuhan protein hewani yang meningkat

Indonesia memiliki peluang besar untuk mengisi kekosongan tersebut, terutama dengan keunggulan:

  • Harga kompetitif
  • Sertifikasi halal
  • Kualitas produk yang terus meningkat

Momentum ekspor Rp18,2 miliar ini menjadi pintu masuk untuk ekspansi yang lebih besar di masa depan.


Tantangan yang Masih Harus Dihadapi

Meski capaian ini patut diapresiasi, industri perunggasan Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius, antara lain:

1. Biaya Produksi yang Tinggi

Harga pakan yang masih bergantung pada impor bahan baku seperti jagung dan soybean meal menjadi faktor utama tingginya biaya produksi.

2. Persaingan Global

Negara seperti Brasil dan Thailand sudah lebih dulu menguasai pasar ekspor unggas dengan skala produksi besar dan efisiensi tinggi.

3. Standar Internasional yang Ketat

Negara tujuan ekspor memiliki regulasi ketat terkait keamanan pangan, residu antibiotik, dan kesejahteraan hewan.

4. Ketimpangan antara Integrator dan Peternak Rakyat

Masih terdapat kesenjangan besar antara perusahaan besar (integrator) dan peternak mandiri dalam hal akses pasar dan teknologi.


Harapan Peternak Rakyat terhadap Kebijakan Ekspor

Bagi peternak rakyat, ekspor bukan hanya tentang angka miliaran rupiah. Lebih dari itu, ekspor adalah:

  • Jalan keluar dari krisis harga
  • Kesempatan mendapatkan harga yang layak
  • Bukti bahwa produk mereka punya nilai global

Namun demikian, peternak berharap pemerintah tidak hanya fokus pada ekspor oleh perusahaan besar, tetapi juga melibatkan peternak mandiri dalam rantai pasok ekspor.

Beberapa harapan dari peternak antara lain:

  • Kemitraan yang adil
  • Akses pembiayaan yang lebih mudah
  • Dukungan teknologi dan pelatihan
  • Transparansi harga

Strategi Mendorong Ekspor Unggas Berkelanjutan

Agar ekspor unggas Indonesia dapat terus berkembang, diperlukan strategi jangka panjang yang terintegrasi, antara lain:

1. Penguatan Produksi Dalam Negeri

Peningkatan produksi jagung lokal sebagai bahan baku pakan menjadi kunci menekan biaya produksi.

2. Hilirisasi Produk Unggas

Fokus pada produk olahan bernilai tambah tinggi seperti nugget, sosis, dan ayam siap masak untuk meningkatkan daya saing.

3. Diplomasi Perdagangan

Pembukaan akses pasar baru melalui kerja sama bilateral dan multilateral.

4. Digitalisasi Rantai Pasok

Pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi distribusi dan transparansi harga.


Momentum Kebangkitan Industri Perunggasan Indonesia

Pelepasan ekspor unggas senilai Rp18,2 miliar oleh Andi Amran Sulaiman bukan sekadar seremoni. Ini adalah sinyal kuat bahwa industri perunggasan Indonesia sedang bergerak menuju level yang lebih tinggi.

Momentum ini harus dijaga dan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, perusahaan, hingga peternak rakyat.

Jika dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi salah satu pemain utama dalam industri unggas global.

Kesimpulan

Ekspor unggas senilai Rp18,2 miliar yang dilepas oleh Menteri Pertanian menjadi bukti nyata bahwa industri perunggasan Indonesia memiliki potensi besar di pasar global.

Namun, keberhasilan ini harus diiringi dengan kebijakan yang berpihak pada peternak rakyat agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata.

Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan peternak, masa depan perunggasan Indonesia bukan hanya bertahan—tetapi juga mampu menjadi pemimpin di pasar dunia.

Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari

Hari/Tanggal: Selasa, 27 Oktober 2026
Waktu: 14.00 WIB – selesai
Tempat: Kafe di depan Graha Gabah
Agenda: Pembahasan dan evaluasi pola kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat

I. Latar Belakang

Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari membahas konsep, mekanisme, serta tantangan implementasi kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat. Pembahasan juga menjadi momentum untuk melakukan flashback terhadap pengalaman model kemitraan sebelumnya, termasuk referensi pembahasan MK-RI tahun 2016, sekaligus melihat relevansinya dengan kondisi Peternak Rakyat saat ini.

PERMINDO memandang kemitraan BUMN semestinya tidak hanya berorientasi pada keamanan bisnis perusahaan, tetapi juga menjalankan fungsi strategis dalam pemberdayaan, perlindungan, pembinaan, dan peningkatan kapasitas Peternak Rakyat.

II. Pokok-Pokok Pembahasan

1. Pola Kemitraan dan Pembiayaan

Dalam pola yang dibahas, Berdikari pada prinsipnya menyediakan DOC saja atau DOC + pakan. Beberapa komponen biaya menjadi tanggung jawab peternak, antara lain biaya OVK sekitar Rp500/ekor, biaya operasional sekitar Rp4.500/ekor, serta kandang dan sarana produksi. Hasil ayam hidup (LB) dibeli Berdikari berdasarkan harga kontrak. Model ini dapat menjadi pola kerja sama yang baik apabila terdapat keseimbangan antara risiko perusahaan, biaya produksi, kualitas sapronak, harga kontrak, dan margin yang diterima peternak.

2. Akses dan Seleksi Peternak Rakyat

Berdikari cenderung memilih calon mitra berdasarkan performance produksi, track record, kemampuan modal, dan kesiapan kandang, termasuk kandang closed house yang representatif. Pendekatan tersebut dapat dipahami dari sisi kehati-hatian bisnis, tetapi apabila diterapkan terlalu ketat, Peternak Rakyat konvensional dengan modal terbatas dan performance yang belum optimal akan sulit memperoleh akses. Kemitraan BUMN seharusnya tidak hanya memilih peternak yang sudah kuat, tetapi juga membina peternak agar menjadi lebih kuat dan naik kelas.

3. Prinsip Kehati-hatian dan Keterbatasan Pendampingan

Berdikari berkepentingan menjaga performance produksi dan menghindari risiko kerugian sebagai bagian dari tata kelola BUMN yang prudent. Di sisi lain, keterbatasan jumlah dan kapasitas tim pendamping dapat mendorong perusahaan lebih memilih mitra yang sudah memiliki modal, kandang memadai, dan track record baik. PERMINDO memandang prudential governance harus berjalan bersama fungsi pemberdayaan, melalui pola pendampingan bertahap agar peternak konvensional tidak langsung tersisih karena belum memenuhi standar awal.

4. Target Performance/IP

Dalam pembahasan terdapat penekanan bahwa peternak harus mencapai IP standar sekitar 350. Perhatian PERMINDO adalah bahwa Berdikari pada prinsipnya lebih menekankan hasil akhir IP dan tidak terlalu masuk pada bagaimana peternak mencapai angka tersebut. Peternak dapat melakukan berbagai upaya manajemen untuk mengejar IP, termasuk penambahan atau penggunaan pakan lebih banyak, selama target performance tercapai.

Kondisi tersebut perlu dievaluasi. IP seharusnya menjadi indikator hasil dari sistem produksi yang sehat, bukan sekadar angka yang harus dicapai dengan cara apa pun. Jika IP hanya menjadi target akhir, sementara kualitas DOC, kualitas pakan, kesehatan, OVK, mortalitas, FCR, kondisi kandang, manajemen pemeliharaan, dan dinamika kualitas sapronak tidak dievaluasi secara proporsional, akar persoalan performance produksi akan sulit diketahui. Target IP harus ditempatkan sebagai alat evaluasi, bukan sekadar target administratif.

5. Evaluasi Sapronak dan Beban Risiko Produksi

Kualitas DOC dan pakan dapat mengalami perubahan. Karena itu, tuntutan pencapaian IP tanpa evaluasi menyeluruh terhadap input produksi berpotensi menempatkan beban pencapaian performance terlalu besar pada peternak. Kemitraan yang sehat perlu melakukan evaluasi bersama terhadap kualitas DOC, kualitas dan konsumsi pakan, FCR, mortalitas, kesehatan dan OVK, manajemen kandang, kondisi lingkungan, biaya produksi, performance/IP, serta margin peternak.

Continue Reading

Berita

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup

“Peternak rakyat sedang menghadapi tekanan ganda (cost-price squeeze): harga input, terutama pakan, meningkat sehingga HPP semakin tinggi, tetapi pada saat yang sama harga ayam hidup di tingkat peternak justru turun jauh di bawah biaya produksi.”

Ada 3 tindakan konkret yang perlu didorong ke pemerintah:

1. Aktifkan Penyerapan Darurat Ayam Hidup

Pemerintah/Bapanas segera mengumpulkan RPA/RPHU, BUMN pangan, integrator, koperasi, dan offtaker.

Tetapkan volume penyerapan harian/mingguan dari sentra yang harganya jatuh.

Penyerapan diarahkan ke karkas/frozen/captive market, bukan sekadar memindahkan ayam hidup dari satu broker ke broker lain.

Belum diusulkan atau belum ada penugasan dari pemerintah untuk peternak rakyat secara luas; yang sudah jalan hanya sebatas anggota kemitraan Berdikari saja.

2. Kurangi Supply DOC–FS

Lakukan pengendalian chick-in dan produksi DOC secara proporsional, termasuk perusahaan integrator dan kemitraan, berdasarkan data surplus-demand. Pengawasan lemah atau bahkan belum dilaksanakan.

3. Stabilisasi Harga Peternak

Terapkan mekanisme harga minimum sementara berbasis HPP; ketika LB jauh di bawah HPP, selisih tekanan ditangani melalui penyerapan dan pengurangan supply, bukan dibebankan seluruhnya kepada peternak.

Sudah dilakukan, tetapi belum berdampak pada realisasi.

Continue Reading

Berita

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

Avatar photo

Published

on

Spread the love

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

Berita Peternakan: PERMINDO Desak Harga Livebird

BOGOR — Peternak broiler rakyat kembali menghadapi tekanan biaya produksi. Memasuki November–Desember 2026, harga bahan baku pakan berpotensi naik ke Rp9.000–Rp10.000/kg. Harga jagung dan DOC juga masih menjadi beban peternak mandiri.

Kondisi ini dikhawatirkan menekan harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak. Biaya produksi naik, tetapi harga jual ayam tetap fluktuatif. Peternak pun menanggung risiko terbesar. Dalam berita peternakan nasional pekan ini, isu itu menjadi sorotan utama pelaku usaha unggas.

Biaya Produksi Naik, Peternak Rakyat Paling Rentan

PERMINDO menilai pemerintah perlu mengantisipasi kondisi ini sejak dini. Tekanan biaya produksi tidak boleh berubah menjadi kerugian berkepanjangan bagi peternak rakyat.

“Kalau pakan naik, DOC mahal dan terbatas, jangan sampai saat ayam panen justru harga livebird yang ditekan. Peternak tidak meminta harga tinggi, tetapi harga yang wajar dan mampu menutup biaya produksi,” ujar Sekretaris Jenderal PERMINDO, Heri Irawan.

Menurut Heri, struktur biaya produksi broiler sangat rentan terhadap gejolak pasar input. Pakan menyumbang porsi terbesar dalam total biaya. Kenaikan harga pakan langsung menggerus margin peternak. Terutama mereka yang mengelola kandang skala kecil dan menengah.

Selain pakan, harga DOC atau anak ayam umur sehari yang mahal dan terbatas turut memperbesar risiko. Peternak kerap bersaing memperoleh DOC berkualitas dengan harga tinggi pada periode permintaan puncak.

HAP Rp25.000/kg Harus Jadi Perlindungan Nyata

PERMINDO meminta pemerintah memastikan Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam ras pedaging di tingkat produsen sebesar Rp25.000/kg benar-benar berfungsi. HAP jangan hanya menjadi angka acuan tanpa implikasi di lapangan.

Menurut organisasi yang menaungi peternak broiler rakyat ini, HAP semestinya menjadi bagian dari mekanisme perlindungan harga. Tujuannya agar peternak tidak menjadi pihak terakhir yang menanggung seluruh beban kenaikan biaya.

“Jangan sampai pola yang sama berulang: input naik, HPP naik, tetapi ketika ayam panen harga LB turun. Kalau seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada peternak, keberlanjutan peternak rakyat akan semakin terancam,” tegas Heri Irawan.

Ia menegaskan, peternak tidak menuntut harga jual yang tinggi. Yang diminta adalah harga yang wajar, transparan, dan berkeadilan. Harga wajar berarti mampu menutup biaya produksi sekaligus memberi ruang usaha yang layak.

Lima Usulan PERMINDO kepada Pemerintah

Dalam pernyataan resminya, PERMINDO menyampaikan sejumlah usulan konkret agar gejolak harga tidak terus merugikan peternak. Usulan ini menyasar hulu hingga hilir industri broiler.

  • Menjaga harga livebird agar tidak jatuh jauh di bawah HAP Bapanas.
  • Mengevaluasi HPP broiler secara berkala berdasarkan harga aktual DOC, pakan, jagung, SBM, OVK, energi, dan biaya produksi lainnya.
  • Menjamin ketersediaan bahan baku pakan seperti SBM dan jagung pakan dengan harga yang wajar.
  • Memperkuat pengendalian keseimbangan supply-demand agar oversupply tidak terus dibebankan kepada peternak.
  • Membuka dialog rutin antara pemerintah, integrator, industri pakan, dan peternak mandiri sebelum gejolak harga membesar.

Evaluasi HPP Berbasis Data Aktual

Poin evaluasi HPP dinilai krusial. Perhitungan HPP perlu mencerminkan harga nyata di pasar, bukan asumsi lama yang sudah tidak relevan. Jika HPP tidak diperbarui, selisih biaya akan tetap ditanggung peternak.

Ketersediaan Jagung dan SBM

Ketersediaan jagung pakan dan SBM atau soybean meal menjadi penentu utama biaya pakan. Kelangkaan kedua bahan ini cepat memicu kenaikan harga di tingkat pabrik. Dampaknya langsung terasa pada harga pakan jadi yang dibeli peternak.

Dialog Rutin Sebelum Krisis Harga

PERMINDO menilai komunikasi antar pemangku kepentingan selama ini berjalan reaktif. Dialog baru digelar setelah harga terlanjur jatuh. Padahal, deteksi dini terhadap potensi oversupply bisa mencegah kerugian yang lebih besar.

Stabilisasi Butuh Keseimbangan Harga Input dan Output

Menurut PERMINDO, stabilisasi industri broiler tidak cukup hanya dengan mengendalikan harga input. Keseimbangan antara harga input dan harga output harus dijaga secara bersamaan.

Jika pemerintah hanya menekan harga pakan tanpa menjaga harga jual ayam, peternak tetap berada di posisi lemah. Sebaliknya, mendorong harga jual tanpa menjamin pasokan dan permintaan yang seimbang juga tidak akan bertahan lama.

Karena itu, PERMINDO menilai perlindungan harga harus berjalan seiring dengan tata kelola pasokan. Peternak rakyat butuh kepastian biaya, kepastian harga jual, dan kepastian pasar. Tanpa itu, keberlanjutan usaha broiler rakyat sulit dijaga.

Itulah sorotan berita peternakan pekan ini. PERMINDO berharap pemerintah bergerak cepat. Tujuannya agar harga livebird tetap wajar dan peternak rakyat tidak terus menanggung beban biaya produksi yang naik.

Continue Reading

Trending