Stabilitas Industri Perunggasan Butuh Keseimbangan Rantai Produksi
Industri perunggasan Indonesia kembali dihadapkan pada pertanyaan mendasar: bagaimana menjaga keseimbangan antara keberlanjutan usaha peternak, stabilitas harga ayam di pasar, dan kepastian pasokan bagi masyarakat.
Dalam situasi seperti ini, langkah yang diambil oleh Japfa Comfeed Indonesia dengan menurunkan harga pakan menjelang Ramadan dan Idul Fitri patut diapresiasi sebagai sinyal kepemimpinan di dalam industri.
Kebijakan tersebut tidak hanya sekadar keputusan bisnis jangka pendek. Langkah ini menunjukkan kesadaran bahwa stabilitas industri perunggasan sangat ditentukan oleh keseimbangan sepanjang rantai produksi—mulai dari pakan, bibit ayam, peternak, hingga pasar konsumen.
Harga Pakan Menentukan Biaya Produksi Peternak
Sebagaimana disampaikan COO Poultry JAPFA, Arif Widjaja, penyesuaian harga pakan dilakukan untuk melindungi konsumen sekaligus membantu peternak meningkatkan efisiensi usaha.
Pernyataan tersebut sangat relevan dengan kondisi nyata di lapangan. Dalam usaha peternakan ayam broiler, biaya pakan menyumbang sekitar 70 persen dari total biaya produksi.
Artinya, setiap perubahan harga pakan memiliki dampak langsung terhadap kemampuan peternak dalam menjaga keberlanjutan usaha mereka.
Ketika harga pakan turun, struktur biaya produksi menjadi lebih sehat dan peternak memiliki ruang untuk menjaga margin usaha.
Ketika Harga Ayam Turun, Peternak Menanggung Tekanan Terbesar
Selama beberapa tahun terakhir, peternak rakyat sering menghadapi situasi yang tidak mudah.
Ketika harga ayam hidup turun di tingkat kandang, biaya produksi justru tetap tinggi karena harga pakan tidak mengalami penyesuaian yang memadai.
Ketidakseimbangan ini membuat margin usaha peternak semakin tipis. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut bahkan berujung pada kerugian.
Dalam konteks ini, keberanian sektor hulu untuk melakukan penyesuaian harga menjadi sangat penting. Penurunan harga pakan tidak hanya memperbaiki struktur biaya produksi, tetapi juga memberikan ruang napas bagi peternak untuk tetap bertahan dan menjaga kontinuitas produksi.
Industri Pakan Perlu Bergerak Bersama
Stabilitas industri perunggasan tentu tidak dapat ditopang oleh satu perusahaan saja.
Langkah yang dilakukan oleh Japfa Comfeed Indonesia seharusnya menjadi momentum bagi pabrik-pabrik pakan besar lainnya untuk ikut mengambil langkah serupa.
Industri perunggasan merupakan sebuah ekosistem yang saling terhubung. Ketika salah satu mata rantai berada dalam tekanan, dampaknya akan merambat ke seluruh sistem.
Karena itu, solidaritas antar pelaku industri menjadi kunci.
Jika penyesuaian harga pakan dilakukan secara lebih luas oleh para produsen pakan, maka perbaikan struktur biaya produksi dapat dirasakan secara merata oleh peternak di berbagai daerah.
Dampaknya bukan hanya pada keberlanjutan usaha peternak, tetapi juga pada stabilitas pasokan ayam di pasar nasional.
Harapan Peternak Rakyat terhadap Harga Pakan
Dari sisi peternak, harapan agar harga pakan segera diturunkan juga semakin kuat.
Melalui Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia, para peternak rakyat menyampaikan dorongan agar langkah yang telah diambil JAPFA dapat diikuti oleh perusahaan pakan lainnya.
Bagi peternak rakyat, harga pakan bukan sekadar persoalan bisnis perusahaan. Harga pakan adalah persoalan keberlangsungan usaha.
Ketika harga pakan terlalu tinggi sementara harga ayam fluktuatif, peternak berada pada posisi paling rentan dalam rantai industri perunggasan.
Ancaman bagi Keberlanjutan Peternak Rakyat
Dalam beberapa tahun terakhir, tidak sedikit peternak kecil yang terpaksa mengurangi populasi ternaknya, bahkan menghentikan usaha karena tekanan biaya produksi.
Jika tren ini terus berlanjut, yang terancam bukan hanya usaha peternak rakyat, tetapi juga ketahanan pasokan protein hewani nasional.
Ayam merupakan salah satu sumber protein paling terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Stabilitas pasokan dan harga ayam memiliki dampak langsung terhadap daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.
Karena itu, menjaga keberlanjutan industri perunggasan bukan hanya kepentingan pelaku usaha, tetapi juga kepentingan publik secara luas.
Momentum Ramadan dan Idul Fitri
Momentum Ramadan dan Idul Fitri semakin memperjelas urgensi tersebut.
Pada periode ini, konsumsi produk unggas biasanya meningkat signifikan. Jika biaya produksi peternak terlalu tinggi, maka potensi gejolak harga di pasar juga akan meningkat.
Di sinilah pentingnya langkah kolektif dari seluruh pelaku industri.
Ketika pabrik pakan ikut menyesuaikan harga secara rasional, peternak memiliki kemampuan lebih baik untuk menjaga produksi. Dengan produksi yang stabil, pasokan ayam di pasar akan tetap terjaga sehingga harga di tingkat konsumen dapat dikendalikan.
Kepemimpinan Industri untuk Masa Depan Perunggasan
Apa yang dilakukan oleh Japfa Comfeed Indonesia sejatinya membuka ruang bagi lahirnya semangat baru dalam tata kelola industri perunggasan.
Industri ini tidak dapat hanya mengandalkan mekanisme pasar semata tanpa mempertimbangkan keseimbangan antar pelaku usaha.
Perusahaan-perusahaan besar di sektor pakan memiliki posisi strategis dalam menentukan arah industri. Ketika mereka mengambil langkah yang berpihak pada keberlanjutan ekosistem usaha, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh rantai nilai—dari peternak hingga konsumen.
Karena itu, momentum ini seharusnya tidak berhenti sebagai kebijakan satu perusahaan. Ia perlu menjadi titik awal konsolidasi industri pakan nasional untuk menciptakan struktur biaya produksi yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Menuju Industri Perunggasan yang Lebih Seimbang
Pada akhirnya, industri perunggasan Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kompetisi antarperusahaan.
Industri ini membutuhkan kepemimpinan kolektif yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan bisnis dan keberlanjutan sektor peternakan rakyat.
Langkah yang telah diambil JAPFA memberikan contoh bahwa kepentingan tersebut dapat berjalan seiring.
Kini harapannya sederhana namun penting: agar perusahaan pakan besar lainnya juga ikut mengambil langkah yang sama.
Jika seluruh pelaku industri bergerak bersama, maka stabilitas harga ayam bukan lagi sekadar harapan. Ia akan menjadi fondasi kuat bagi ketahanan pangan nasional sekaligus masa depan peternak Indonesia.
Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas
Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari
Hari/Tanggal: Selasa, 27 Oktober 2026 Waktu: 14.00 WIB – selesai Tempat: Kafe di depan Graha Gabah Agenda: Pembahasan dan evaluasi pola kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat
I. Latar Belakang
Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari membahas konsep, mekanisme, serta tantangan implementasi kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat. Pembahasan juga menjadi momentum untuk melakukan flashback terhadap pengalaman model kemitraan sebelumnya, termasuk referensi pembahasan MK-RI tahun 2016, sekaligus melihat relevansinya dengan kondisi Peternak Rakyat saat ini.
PERMINDO memandang kemitraan BUMN semestinya tidak hanya berorientasi pada keamanan bisnis perusahaan, tetapi juga menjalankan fungsi strategis dalam pemberdayaan, perlindungan, pembinaan, dan peningkatan kapasitas Peternak Rakyat.
II. Pokok-Pokok Pembahasan
1. Pola Kemitraan dan Pembiayaan
Dalam pola yang dibahas, Berdikari pada prinsipnya menyediakan DOC saja atau DOC + pakan. Beberapa komponen biaya menjadi tanggung jawab peternak, antara lain biaya OVK sekitar Rp500/ekor, biaya operasional sekitar Rp4.500/ekor, serta kandang dan sarana produksi. Hasil ayam hidup (LB) dibeli Berdikari berdasarkan harga kontrak. Model ini dapat menjadi pola kerja sama yang baik apabila terdapat keseimbangan antara risiko perusahaan, biaya produksi, kualitas sapronak, harga kontrak, dan margin yang diterima peternak.
2. Akses dan Seleksi Peternak Rakyat
Berdikari cenderung memilih calon mitra berdasarkan performance produksi, track record, kemampuan modal, dan kesiapan kandang, termasuk kandang closed house yang representatif. Pendekatan tersebut dapat dipahami dari sisi kehati-hatian bisnis, tetapi apabila diterapkan terlalu ketat, Peternak Rakyat konvensional dengan modal terbatas dan performance yang belum optimal akan sulit memperoleh akses. Kemitraan BUMN seharusnya tidak hanya memilih peternak yang sudah kuat, tetapi juga membina peternak agar menjadi lebih kuat dan naik kelas.
3. Prinsip Kehati-hatian dan Keterbatasan Pendampingan
Berdikari berkepentingan menjaga performance produksi dan menghindari risiko kerugian sebagai bagian dari tata kelola BUMN yang prudent. Di sisi lain, keterbatasan jumlah dan kapasitas tim pendamping dapat mendorong perusahaan lebih memilih mitra yang sudah memiliki modal, kandang memadai, dan track record baik. PERMINDO memandang prudential governance harus berjalan bersama fungsi pemberdayaan, melalui pola pendampingan bertahap agar peternak konvensional tidak langsung tersisih karena belum memenuhi standar awal.
4. Target Performance/IP
Dalam pembahasan terdapat penekanan bahwa peternak harus mencapai IP standar sekitar 350. Perhatian PERMINDO adalah bahwa Berdikari pada prinsipnya lebih menekankan hasil akhir IP dan tidak terlalu masuk pada bagaimana peternak mencapai angka tersebut. Peternak dapat melakukan berbagai upaya manajemen untuk mengejar IP, termasuk penambahan atau penggunaan pakan lebih banyak, selama target performance tercapai.
Kondisi tersebut perlu dievaluasi. IP seharusnya menjadi indikator hasil dari sistem produksi yang sehat, bukan sekadar angka yang harus dicapai dengan cara apa pun. Jika IP hanya menjadi target akhir, sementara kualitas DOC, kualitas pakan, kesehatan, OVK, mortalitas, FCR, kondisi kandang, manajemen pemeliharaan, dan dinamika kualitas sapronak tidak dievaluasi secara proporsional, akar persoalan performance produksi akan sulit diketahui. Target IP harus ditempatkan sebagai alat evaluasi, bukan sekadar target administratif.
5. Evaluasi Sapronak dan Beban Risiko Produksi
Kualitas DOC dan pakan dapat mengalami perubahan. Karena itu, tuntutan pencapaian IP tanpa evaluasi menyeluruh terhadap input produksi berpotensi menempatkan beban pencapaian performance terlalu besar pada peternak. Kemitraan yang sehat perlu melakukan evaluasi bersama terhadap kualitas DOC, kualitas dan konsumsi pakan, FCR, mortalitas, kesehatan dan OVK, manajemen kandang, kondisi lingkungan, biaya produksi, performance/IP, serta margin peternak.
Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup
“Peternak rakyat sedang menghadapi tekanan ganda (cost-price squeeze): harga input, terutama pakan, meningkat sehingga HPP semakin tinggi, tetapi pada saat yang sama harga ayam hidup di tingkat peternak justru turun jauh di bawah biaya produksi.”
Ada 3 tindakan konkret yang perlu didorong ke pemerintah:
1. Aktifkan Penyerapan Darurat Ayam Hidup
Pemerintah/Bapanas segera mengumpulkan RPA/RPHU, BUMN pangan, integrator, koperasi, dan offtaker.
Tetapkan volume penyerapan harian/mingguan dari sentra yang harganya jatuh.
Penyerapan diarahkan ke karkas/frozen/captive market, bukan sekadar memindahkan ayam hidup dari satu broker ke broker lain.
Belum diusulkan atau belum ada penugasan dari pemerintah untuk peternak rakyat secara luas; yang sudah jalan hanya sebatas anggota kemitraan Berdikari saja.
2. Kurangi Supply DOC–FS
Lakukan pengendalian chick-in dan produksi DOC secara proporsional, termasuk perusahaan integrator dan kemitraan, berdasarkan data surplus-demand. Pengawasan lemah atau bahkan belum dilaksanakan.
3. Stabilisasi Harga Peternak
Terapkan mekanisme harga minimum sementara berbasis HPP; ketika LB jauh di bawah HPP, selisih tekanan ditangani melalui penyerapan dan pengurangan supply, bukan dibebankan seluruhnya kepada peternak.
Sudah dilakukan, tetapi belum berdampak pada realisasi.
BOGOR — Peternak broiler rakyat kembali menghadapi tekanan biaya produksi. Memasuki November–Desember 2026, harga bahan baku pakan berpotensi naik ke Rp9.000–Rp10.000/kg. Harga jagung dan DOC juga masih menjadi beban peternak mandiri.
Kondisi ini dikhawatirkan menekan harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak. Biaya produksi naik, tetapi harga jual ayam tetap fluktuatif. Peternak pun menanggung risiko terbesar. Dalam berita peternakan nasional pekan ini, isu itu menjadi sorotan utama pelaku usaha unggas.
Biaya Produksi Naik, Peternak Rakyat Paling Rentan
PERMINDO menilai pemerintah perlu mengantisipasi kondisi ini sejak dini. Tekanan biaya produksi tidak boleh berubah menjadi kerugian berkepanjangan bagi peternak rakyat.
“Kalau pakan naik, DOC mahal dan terbatas, jangan sampai saat ayam panen justru harga livebird yang ditekan. Peternak tidak meminta harga tinggi, tetapi harga yang wajar dan mampu menutup biaya produksi,” ujar Sekretaris Jenderal PERMINDO, Heri Irawan.
Menurut Heri, struktur biaya produksi broiler sangat rentan terhadap gejolak pasar input. Pakan menyumbang porsi terbesar dalam total biaya. Kenaikan harga pakan langsung menggerus margin peternak. Terutama mereka yang mengelola kandang skala kecil dan menengah.
Selain pakan, harga DOC atau anak ayam umur sehari yang mahal dan terbatas turut memperbesar risiko. Peternak kerap bersaing memperoleh DOC berkualitas dengan harga tinggi pada periode permintaan puncak.
HAP Rp25.000/kg Harus Jadi Perlindungan Nyata
PERMINDO meminta pemerintah memastikan Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam ras pedaging di tingkat produsen sebesar Rp25.000/kg benar-benar berfungsi. HAP jangan hanya menjadi angka acuan tanpa implikasi di lapangan.
Menurut organisasi yang menaungi peternak broiler rakyat ini, HAP semestinya menjadi bagian dari mekanisme perlindungan harga. Tujuannya agar peternak tidak menjadi pihak terakhir yang menanggung seluruh beban kenaikan biaya.
“Jangan sampai pola yang sama berulang: input naik, HPP naik, tetapi ketika ayam panen harga LB turun. Kalau seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada peternak, keberlanjutan peternak rakyat akan semakin terancam,” tegas Heri Irawan.
Ia menegaskan, peternak tidak menuntut harga jual yang tinggi. Yang diminta adalah harga yang wajar, transparan, dan berkeadilan. Harga wajar berarti mampu menutup biaya produksi sekaligus memberi ruang usaha yang layak.
Lima Usulan PERMINDO kepada Pemerintah
Dalam pernyataan resminya, PERMINDO menyampaikan sejumlah usulan konkret agar gejolak harga tidak terus merugikan peternak. Usulan ini menyasar hulu hingga hilir industri broiler.
Menjaga harga livebird agar tidak jatuh jauh di bawah HAP Bapanas.
Mengevaluasi HPP broiler secara berkala berdasarkan harga aktual DOC, pakan, jagung, SBM, OVK, energi, dan biaya produksi lainnya.
Menjamin ketersediaan bahan baku pakan seperti SBM dan jagung pakan dengan harga yang wajar.
Memperkuat pengendalian keseimbangan supply-demand agar oversupply tidak terus dibebankan kepada peternak.
Membuka dialog rutin antara pemerintah, integrator, industri pakan, dan peternak mandiri sebelum gejolak harga membesar.
Evaluasi HPP Berbasis Data Aktual
Poin evaluasi HPP dinilai krusial. Perhitungan HPP perlu mencerminkan harga nyata di pasar, bukan asumsi lama yang sudah tidak relevan. Jika HPP tidak diperbarui, selisih biaya akan tetap ditanggung peternak.
Ketersediaan Jagung dan SBM
Ketersediaan jagung pakan dan SBM atau soybean meal menjadi penentu utama biaya pakan. Kelangkaan kedua bahan ini cepat memicu kenaikan harga di tingkat pabrik. Dampaknya langsung terasa pada harga pakan jadi yang dibeli peternak.
Dialog Rutin Sebelum Krisis Harga
PERMINDO menilai komunikasi antar pemangku kepentingan selama ini berjalan reaktif. Dialog baru digelar setelah harga terlanjur jatuh. Padahal, deteksi dini terhadap potensi oversupply bisa mencegah kerugian yang lebih besar.
Stabilisasi Butuh Keseimbangan Harga Input dan Output
Menurut PERMINDO, stabilisasi industri broiler tidak cukup hanya dengan mengendalikan harga input. Keseimbangan antara harga input dan harga output harus dijaga secara bersamaan.
Jika pemerintah hanya menekan harga pakan tanpa menjaga harga jual ayam, peternak tetap berada di posisi lemah. Sebaliknya, mendorong harga jual tanpa menjamin pasokan dan permintaan yang seimbang juga tidak akan bertahan lama.
Karena itu, PERMINDO menilai perlindungan harga harus berjalan seiring dengan tata kelola pasokan. Peternak rakyat butuh kepastian biaya, kepastian harga jual, dan kepastian pasar. Tanpa itu, keberlanjutan usaha broiler rakyat sulit dijaga.
Itulah sorotan berita peternakan pekan ini. PERMINDO berharap pemerintah bergerak cepat. Tujuannya agar harga livebird tetap wajar dan peternak rakyat tidak terus menanggung beban biaya produksi yang naik.
Contains information related to marketing campaigns of the user. These are shared with Google AdWords / Google Ads when the Google Ads and Google Analytics accounts are linked together.
90 days
__utma
ID used to identify users and sessions
2 years after last activity
__utmt
Used to monitor number of Google Analytics server requests
10 minutes
__utmb
Used to distinguish new sessions and visits. This cookie is set when the GA.js javascript library is loaded and there is no existing __utmb cookie. The cookie is updated every time data is sent to the Google Analytics server.
30 minutes after last activity
__utmc
Used only with old Urchin versions of Google Analytics and not with GA.js. Was used to distinguish between new sessions and visits at the end of a session.
End of session (browser)
__utmz
Contains information about the traffic source or campaign that directed user to the website. The cookie is set when the GA.js javascript is loaded and updated when data is sent to the Google Anaytics server
6 months after last activity
__utmv
Contains custom information set by the web developer via the _setCustomVar method in Google Analytics. This cookie is updated every time new data is sent to the Google Analytics server.
2 years after last activity
__utmx
Used to determine whether a user is included in an A / B or Multivariate test.
18 months
_ga
ID used to identify users
2 years
_gali
Used by Google Analytics to determine which links on a page are being clicked
30 seconds
_ga_
ID used to identify users
2 years
_gid
ID used to identify users for 24 hours after last activity
24 hours
_gat
Used to monitor number of Google Analytics server requests when using Google Tag Manager