Kondisi industri perunggasan nasional saat ini kembali berada dalam tekanan serius. Di tengah harapan akan stabilitas pasar, kenyataannya peternak rakyat justru semakin terjepit oleh tingginya biaya produksi (HPP) yang tidak sebanding dengan harga jual ayam hidup di tingkat kandang.
Kenaikan harga Day Old Chick (DOC) dan pakan menjadi dua faktor utama yang mendorong lonjakan biaya produksi. Namun ironisnya, harga ayam hidup (livebird) justru kerap berada di bawah HPP, membuat peternak mengalami kerugian yang berulang.
Dalam situasi seperti ini, kehadiran pemerintah bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk memastikan keberlangsungan usaha peternak rakyat yang menjadi tulang punggung penyediaan protein hewani nasional.
Peternak di Ujung Tanduk: HPP Tinggi, Harga Jual Rendah
Realita di lapangan menunjukkan bahwa peternak rakyat saat ini menghadapi kondisi yang tidak sehat secara ekonomi. Biaya produksi terus meningkat akibat:
Kenaikan harga DOC yang tidak terkendali
Lonjakan harga pakan yang signifikan
Biaya operasional yang semakin tinggi
Dalam banyak kasus, HPP ayam hidup berada di kisaran Rp21.000 – Rp23.000 per kilogram, bahkan bisa lebih tinggi tergantung kondisi daerah. Namun harga jual di tingkat peternak seringkali hanya berada di kisaran Rp17.000 – Rp19.000 per kilogram.
Artinya, setiap siklus panen justru menghasilkan kerugian, bukan keuntungan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin peternak rakyat akan berguguran, meninggalkan industri perunggasan yang semakin terkonsentrasi pada pelaku besar.
Akar Masalah: Ketidakseimbangan Struktur Industri
Permasalahan utama dalam industri perunggasan bukan sekadar fluktuasi harga, tetapi lebih dalam dari itu—yakni ketidakseimbangan struktur industri.
Beberapa persoalan yang menjadi akar masalah antara lain:
1. Harga Input Tidak Terkontrol
Harga DOC dan pakan cenderung naik tanpa ada mekanisme pengendalian yang jelas. Peternak sebagai pengguna akhir tidak memiliki daya tawar terhadap harga tersebut.
2. Produksi Tidak Terkelola Secara Ketat
Kelebihan pasokan ayam di pasar sering terjadi akibat produksi yang tidak terkendali, sehingga harga livebird jatuh.
3. Distribusi Margin Tidak Adil
Margin keuntungan lebih banyak dinikmati di hilir, sementara peternak sebagai produsen utama justru menanggung risiko terbesar.
Tanpa intervensi pemerintah, ketimpangan ini akan terus berulang dan semakin memperparah kondisi peternak rakyat.
Mengapa Pemerintah Harus Hadir?
Dalam sistem pangan strategis seperti perunggasan, pemerintah memiliki peran penting sebagai regulator untuk menjaga keseimbangan antara produksi, harga, dan keberlanjutan usaha.
Kehadiran pemerintah dibutuhkan dalam beberapa aspek utama:
1. Menetapkan Harga Acuan yang Berkeadilan
Pemerintah perlu menetapkan harga acuan ayam hidup yang mempertimbangkan HPP peternak. Harga ini harus menjadi batas bawah agar peternak tidak menjual di bawah biaya produksi.
2. Mengendalikan Harga DOC dan Pakan
Tidak cukup hanya mengatur harga jual ayam, pemerintah juga harus memastikan harga input produksi tetap terkendali dan transparan.
3. Mengatur Produksi Secara Nasional
Pengendalian produksi melalui mekanisme seperti cutting DOC atau pengaturan siklus produksi harus dilakukan secara konsisten agar tidak terjadi over supply.
4. Melindungi Peternak Rakyat
Peternak rakyat harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan, bukan justru menjadi pihak yang paling terdampak.
Dampak Jika Tidak Ada Intervensi
Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah konkret, maka dampak yang akan terjadi tidak hanya dirasakan oleh peternak, tetapi juga oleh masyarakat luas.
Beberapa risiko yang dapat terjadi antara lain:
Kebangkrutan massal peternak rakyat
Ketergantungan pada perusahaan besar (integrator)
Kenaikan harga ayam di masa depan akibat berkurangnya produksi rakyat
Terganggunya ketahanan pangan nasional
Dalam jangka panjang, hilangnya peternak rakyat akan menciptakan ketidakseimbangan pasar yang jauh lebih sulit untuk diperbaiki.
Belajar dari Siklus yang Terus Berulang
Industri perunggasan Indonesia sebenarnya sudah lama mengalami siklus berulang:
Harga DOC naik → peternak tetap produksi
Produksi berlebih → harga ayam jatuh
Peternak rugi → produksi menurun
Pasokan berkurang → harga ayam naik
Siklus ini terus terjadi karena tidak adanya pengaturan yang konsisten dan terintegrasi dari hulu ke hilir.
Tanpa pembenahan sistemik, peternak akan terus menjadi korban dari pola yang sama.
Solusi: Regulasi Terintegrasi dari Hulu ke Hilir
Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan langkah konkret dan terintegrasi dari pemerintah:
1. Transparansi Harga Input
Harga DOC dan pakan harus diawasi secara ketat dan dibuka secara transparan agar tidak terjadi distorsi pasar.
2. Penegakan Harga Minimum Livebird
Pemerintah harus berani menetapkan dan menegakkan harga minimum ayam hidup yang sesuai dengan HPP.
3. Penguatan Data Produksi Nasional
Data produksi harus akurat dan real-time agar kebijakan yang diambil tepat sasaran.
4. Pengawasan Distribusi
Distribusi ayam dari kandang ke pasar harus diawasi untuk memastikan tidak ada permainan harga di rantai pasok.
Peran Organisasi Peternak Sangat Penting
Selain pemerintah, organisasi peternak seperti Permindo memiliki peran strategis dalam:
Menyuarakan aspirasi peternak rakyat
Menjadi jembatan antara peternak dan pemerintah
Mengawal kebijakan agar benar-benar berpihak pada peternak
Solidaritas antar peternak juga menjadi kunci untuk memperkuat posisi tawar di tengah ketimpangan industri.
Kesimpulan
Kondisi peternak ayam rakyat saat ini tidak baik-baik saja. Tingginya biaya produksi akibat kenaikan harga DOC dan pakan, ditambah dengan rendahnya harga jual ayam hidup, telah menempatkan peternak pada posisi yang sangat rentan.
Dalam situasi ini, kehadiran pemerintah menjadi sangat krusial. Tanpa intervensi yang nyata dan terukur, industri perunggasan nasional berisiko kehilangan fondasi utamanya, yaitu peternak rakyat.
Pemerintah harus hadir bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai pengatur yang mampu menciptakan keseimbangan pasar yang adil.
Karena pada akhirnya, menjaga peternak tetap hidup berarti menjaga ketahanan pangan bangsa.
Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas
BOGOR — Peternak broiler rakyat kembali menghadapi tekanan biaya produksi. Memasuki November–Desember 2026, harga bahan baku pakan berpotensi naik ke Rp9.000–Rp10.000/kg. Harga jagung dan DOC juga masih menjadi beban peternak mandiri.
Kondisi ini dikhawatirkan menekan harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak. Biaya produksi naik, tetapi harga jual ayam tetap fluktuatif. Peternak pun menanggung risiko terbesar. Dalam berita peternakan nasional pekan ini, isu itu menjadi sorotan utama pelaku usaha unggas.
Biaya Produksi Naik, Peternak Rakyat Paling Rentan
PERMINDO menilai pemerintah perlu mengantisipasi kondisi ini sejak dini. Tekanan biaya produksi tidak boleh berubah menjadi kerugian berkepanjangan bagi peternak rakyat.
“Kalau pakan naik, DOC mahal dan terbatas, jangan sampai saat ayam panen justru harga livebird yang ditekan. Peternak tidak meminta harga tinggi, tetapi harga yang wajar dan mampu menutup biaya produksi,” ujar Sekretaris Jenderal PERMINDO, Heri Irawan.
Menurut Heri, struktur biaya produksi broiler sangat rentan terhadap gejolak pasar input. Pakan menyumbang porsi terbesar dalam total biaya. Kenaikan harga pakan langsung menggerus margin peternak. Terutama mereka yang mengelola kandang skala kecil dan menengah.
Selain pakan, harga DOC atau anak ayam umur sehari yang mahal dan terbatas turut memperbesar risiko. Peternak kerap bersaing memperoleh DOC berkualitas dengan harga tinggi pada periode permintaan puncak.
HAP Rp25.000/kg Harus Jadi Perlindungan Nyata
PERMINDO meminta pemerintah memastikan Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam ras pedaging di tingkat produsen sebesar Rp25.000/kg benar-benar berfungsi. HAP jangan hanya menjadi angka acuan tanpa implikasi di lapangan.
Menurut organisasi yang menaungi peternak broiler rakyat ini, HAP semestinya menjadi bagian dari mekanisme perlindungan harga. Tujuannya agar peternak tidak menjadi pihak terakhir yang menanggung seluruh beban kenaikan biaya.
“Jangan sampai pola yang sama berulang: input naik, HPP naik, tetapi ketika ayam panen harga LB turun. Kalau seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada peternak, keberlanjutan peternak rakyat akan semakin terancam,” tegas Heri Irawan.
Ia menegaskan, peternak tidak menuntut harga jual yang tinggi. Yang diminta adalah harga yang wajar, transparan, dan berkeadilan. Harga wajar berarti mampu menutup biaya produksi sekaligus memberi ruang usaha yang layak.
Lima Usulan PERMINDO kepada Pemerintah
Dalam pernyataan resminya, PERMINDO menyampaikan sejumlah usulan konkret agar gejolak harga tidak terus merugikan peternak. Usulan ini menyasar hulu hingga hilir industri broiler.
Menjaga harga livebird agar tidak jatuh jauh di bawah HAP Bapanas.
Mengevaluasi HPP broiler secara berkala berdasarkan harga aktual DOC, pakan, jagung, SBM, OVK, energi, dan biaya produksi lainnya.
Menjamin ketersediaan bahan baku pakan seperti SBM dan jagung pakan dengan harga yang wajar.
Memperkuat pengendalian keseimbangan supply-demand agar oversupply tidak terus dibebankan kepada peternak.
Membuka dialog rutin antara pemerintah, integrator, industri pakan, dan peternak mandiri sebelum gejolak harga membesar.
Evaluasi HPP Berbasis Data Aktual
Poin evaluasi HPP dinilai krusial. Perhitungan HPP perlu mencerminkan harga nyata di pasar, bukan asumsi lama yang sudah tidak relevan. Jika HPP tidak diperbarui, selisih biaya akan tetap ditanggung peternak.
Ketersediaan Jagung dan SBM
Ketersediaan jagung pakan dan SBM atau soybean meal menjadi penentu utama biaya pakan. Kelangkaan kedua bahan ini cepat memicu kenaikan harga di tingkat pabrik. Dampaknya langsung terasa pada harga pakan jadi yang dibeli peternak.
Dialog Rutin Sebelum Krisis Harga
PERMINDO menilai komunikasi antar pemangku kepentingan selama ini berjalan reaktif. Dialog baru digelar setelah harga terlanjur jatuh. Padahal, deteksi dini terhadap potensi oversupply bisa mencegah kerugian yang lebih besar.
Stabilisasi Butuh Keseimbangan Harga Input dan Output
Menurut PERMINDO, stabilisasi industri broiler tidak cukup hanya dengan mengendalikan harga input. Keseimbangan antara harga input dan harga output harus dijaga secara bersamaan.
Jika pemerintah hanya menekan harga pakan tanpa menjaga harga jual ayam, peternak tetap berada di posisi lemah. Sebaliknya, mendorong harga jual tanpa menjamin pasokan dan permintaan yang seimbang juga tidak akan bertahan lama.
Karena itu, PERMINDO menilai perlindungan harga harus berjalan seiring dengan tata kelola pasokan. Peternak rakyat butuh kepastian biaya, kepastian harga jual, dan kepastian pasar. Tanpa itu, keberlanjutan usaha broiler rakyat sulit dijaga.
Itulah sorotan berita peternakan pekan ini. PERMINDO berharap pemerintah bergerak cepat. Tujuannya agar harga livebird tetap wajar dan peternak rakyat tidak terus menanggung beban biaya produksi yang naik.
Berita Peternakan: Labirin Regulasi Unggas Nasional
JAKARTA — Di atas kertas, tata kelola industri perunggasan nasional tampak ideal. Deretan Permentan, Perbadan, hingga undang-undang dipasang sebagai jaring pengaman bagi peternak mandiri.
Namun, penelusuran dokumen matrik kebijakan mengungkap potret buram. Persaingan usaha penuh celah sistemik. Pertanyaannya tajam: sanggupkah negara menembus tembok kekuasaan hulu-hilir para integrator?
Inilah berita peternakan yang jarang tersaji utuh. Kami membedah lima titik rawan. Mulai dari kontrol bibit hingga skema kemitraan yang timpang.
Gurita Kontrol DOC dan Misteri Afkir Dini
Permentan No. 10/2024 diposisikan sebagai alat utama pengendalian pasokan bibit ayam atau Day Old Chick (DOC). Regulasi ini memberi pemerintah wewenang memaksa industri melakukan intervensi saat pasar kebanjiran pasokan.
Namun, mekanisme di lapangan kerap mempertanyakan independensi pengawasan. Saat oversupply, kebijakan afkir dini atau pemusnahan bibit dan indukan dijadikan tombol darurat.
Siapa Pemegang Data Hulu?
Tanpa transparansi data dari perusahaan pembibitan, afkir dini rawan jadi alat permainan harga.
Data produksi bibit di tingkat hulu dikuasai segelintir pemain besar skala nasional.
Peternak mandiri tak punya akses informasi untuk menguji kebijakan tersebut.
Artinya, kebijakan yang lahir untuk menstabilkan pasar berisiko menguntungkan pihak yang paling kuat. Catatan berita peternakan ini menunjukkan data hulu belum terbuka.
Janji Alokasi 50 Persen: Penyelamat atau Formalitas?
Salah satu poin paling krusial dalam Permentan No. 10/2024 adalah ketentuan Distribusi Final Stock (FS). Minimal 50 persen kuota FS wajib disalurkan kepada peternak mandiri atau koperasi.
Aturan ini lahir untuk mencegah integrator menguasai seluruh pasokan bibit bagi kandang internal mereka. Sayangnya, implementasinya menyisakan celah pengawasan yang rawan manipulasi.
Dua Celah yang Sering Terlewat
Kualitas bibit dipertanyakan. Apakah 50 persen DOC untuk peternak mandiri bergrade sama dengan kandang internal integrator?
Keterikatan implisit. Peternak kerap hanya mendapat jatah DOC jika bersedia membeli pakan dan obat dari grup perusahaan yang sama, dengan harga terkunci.
Praktik seperti ini membuat kuota 50 persen kehilangan makna sebagai alat pemerataan.
Penjepit Harga: Ditekan dari Dua Sisi
Melalui Perbadan No. 6 Tahun 2024, pemerintah mematok Harga Acuan Pembelian dan Penjualan (HAP). Tujuannya membatasi ruang gerak spekulasi di setiap tingkatan pasar.
Jagung KA 15 persen: Rp5.000 per kilogram
DOC Broiler: Rp7.000–Rp11.000 per ekor
DOC Layer: Rp9.000–Rp11.000 per ekor
Ayam hidup (livebird): Rp25.000 per kilogram
Daging ayam ras konsumen: Rp40.000 per kilogram
Telur ayam: Rp26.500 (farm gate) dan Rp30.000 (konsumen) per kilogram
Secara matematis, rentang angka itu dirancang mengunci margin keuntungan di tiap tingkatan. Realitas di kandang sering berbanding terbalik.
Saat pakan dan bibit melambung mendekati batas atas acuan, harga jual livebird di tingkat peternak justru anjlok. Gempuran pasokan dari kandang raksasa membuat harga tembus jauh di bawah Rp25.000 per kilogram.
Peternak mandiri pun terjepit. Biaya produksi membengkak, sementara harga jual hancur.
Integrasi Hilir dan Pemotongan Bertahap RPHU
Aturan integrasi hilir mewajibkan penggunaan Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) secara bertahap. Tahapannya mulai 30 persen hingga 100 persen, dengan kapasitas minimal 60 ribu ekor.
Kebijakan ini dimaksudkan agar integrator menyerap produksi ayam hidup mereka sendiri menjadi karkas beku. Dengan begitu, pasokan tidak melimpah ke pasar basah yang menjadi ranah peternak mandiri.
Namun, pengawasan realisasi pemotongan bertahap tergolong sangat minim. Dalam pantauan berita peternakan, integrasi data real-time antara audit kapasitas RPHU dan rantai pasok pasar tradisional belum ada. Kewajiban ini pun berpotensi sekadar syarat administrasi.
Kemitraan Usaha: Inklusi atau Subordinasi?
Payung hukum penopang kemitraan amat berlapis. Mulai dari UU No. 41/2014, UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja, UU No. 20/2008 jo UU No. 6/2023, hingga PP No. 7/2021.
Semuanya menyerukan satu hal: kemitraan inklusif antara integrator dan peternak UMKM. Temuan di lapangan menunjukkan hubungan itu kerap berjalan tidak setara.
Peternak mandiri yang beralih menjadi peternak plasma terjebak skema bound partnership. Seluruh harga sarana produksi ternak ditentukan sepihak oleh perusahaan inti. Mulai dari pakan, bibit, hingga obat-obatan.
Dari lima titik rawan itu, satu benang merah terlihat jelas. Regulasi sudah cukup lengkap di atas kertas, tetapi lemah dalam pengawasan. Itulah wajah berita peternakan yang perlu terus diuji publik.
Berita Peternakan: Peternak Buka Suara soal Harga Ayam
Berita peternakan kali ini mengangkat nasib peternak ayam.
Harga ayam di pasar sedang naik. Karkas ayam dijual Rp40.000 per kilogram. Konsumen mengeluh. Namun, bagaimana nasib peternak? Jangan buru-buru menyalahkan mereka.
Berita peternakan ini membuka fakta penting. Perhimpunan Peternak Unggas Indonesia (PERMINDO) angkat bicara. Mereka meminta publik melihat harga secara utuh. Harga peternak dan pasar punya rantai panjang.
Kesenjangan harga sangat mencolok. Harga livebird di peternak sekitar Rp25.000 per kilogram. Konsumen di pasar membayar Rp40.000 untuk karkas. Banyak pihak bertanya. Ke mana selisih harga pergi?
Berita Peternakan: Harga Ayam dan Fakta di Tingkat Peternak
PERMINDO menegaskan, peternak tidak menikmati harga tinggi. Harga livebird Rp25.000 nyaris tanpa margin. Sebab, harga pokok produksi (HPP) sudah Rp22.500 sampai Rp25.000 per kilogram.
Artinya, peternak beroperasi di ambang batas. Mereka hanya dapat untung tipis. Jika populasi ayam berkurang, kerugian bisa terjadi.
Penyesuaian populasi memengaruhi pasokan. Populasi berkurang, suplai menurun. Permintaan tetap ada. Akibatnya, harga naik di sebagian titik. Kondisi ini kombinasi biaya produksi dan koreksi supply-demand.
Publik sering melihat harga di pasar saja. Pedagang dan konsumen jadi sorotan. Peternak dianggap biang keladi. Padahal, mereka menanggung biaya produksi besar.
Biaya Produksi dan HPP Membengkak
Apa penyebab utama HPP tinggi? Ada dua komponen terbesar. Pertama, harga DOC atau day old chicken. Kedua, harga pakan.
Harga DOC kini Rp8.000 hingga Rp9.000 per ekor. Harga pakan Rp9.000 sampai Rp10.000 per kilogram. Dua komponen ini menentukan nasib peternak.
“DOC sekarang Rp8.000 sampai Rp9.000 per ekor, pakan Rp9.000 sampai Rp10.000 per kilogram. Akibatnya HPP peternak sudah di kisaran Rp22.500 sampai Rp25.000 per kilogram,” kata PERMINDO.
Kutipan ini membuktikan peternak tidak menikmati harga tinggi. Harga jual Rp25.000 sangat dekat dengan HPP. Jika ada biaya lain, peternak bisa rugi.
“Jadi kalau peternak menjual Rp25.000, itu bukan berarti peternak mengambil untung besar. Harga tersebut dekat dengan HPP,” tambahnya.
Berita Peternakan: MBG Bukan Satu-Satunya Pemicu
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut dikaitkan dengan harga naik. Program ini memang menambah permintaan daging ayam. Namun, PERMINDO mengingatkan agar tidak menyederhanakan persoalan.
“Jadi yang terjadi sekarang adalah kombinasi biaya produksi tinggi dan supply-demand yang terkoreksi. MBG adalah salah satu faktor permintaan. Namun, itu bukan satu-satunya penjelasan,” ujar PERMINDO.
Faktor utama tetap biaya produksi. Saat pakan dan DOC mahal, HPP ikut naik. Pasokan berkurang, harga di pasar merespons. Kombinasi ini membuat berita peternakan kali ini kompleks.
Permintaan MBG mungkin menambah tekanan. Namun, tanpa biaya produksi tinggi, harga tidak akan naik besar. PERMINDO ingin publik paham. Masalah ini bersifat struktural.
Pemerintah Diminta Transparan Soal Rantai Pasok
PERMINDO meminta pemerintah mengawasi semua rantai pasok. Bukan hanya harga di peternak. Karkas dijual Rp40.000. Peternak menerima Rp25.000. Pemerintah harus memeriksa selisihnya.
Apakah selisih itu wajar? Atau ada inefisiensi di tengah? Pertanyaan itu butuh jawaban data.
Data yang Perlu Dibuka ke Publik
Berikut data yang perlu dibuka:
Berapa harga livebird dari peternak?
Berapa susut bobot saat pemotongan?
Berapa biaya pemotongan?
Berapa biaya distribusi?
Berapa margin pedagang?
Berapa harga akhir di konsumen?
Dengan data itu, pemerintah bisa menilai. Apakah harga di hilir wajar? Atau ada masalah di rantai pasok?
“Kalau harga karkas di pasar mencapai Rp40.000, mari kita lihat secara transparan. Selisihnya terbentuk di mana? Jangan dibebankan kepada peternak,” tegas PERMINDO.
Peternak Minta Harga Wajar, Bukan Harga Tertinggi
Peternak sadar diri. Mereka tidak meminta harga yang aneh. Mereka hanya minta harga wajar. Harga itu harus menutup biaya produksi.
Banyak peternak berharap ada kepastian. Mereka butuh kepastian harga pakan dan DOC. Mereka butuh kepastian pasar. Dengan begitu, usaha ayam bisa berkelanjutan.
Berita peternakan dari PERMINDO ini mengajak publik melihat masalah utuh. Jangan salahkan peternak. Jangan salahkan pedagang. Ayo dorong data transparan dari pemerintah.
Contains information related to marketing campaigns of the user. These are shared with Google AdWords / Google Ads when the Google Ads and Google Analytics accounts are linked together.
90 days
__utma
ID used to identify users and sessions
2 years after last activity
__utmt
Used to monitor number of Google Analytics server requests
10 minutes
__utmb
Used to distinguish new sessions and visits. This cookie is set when the GA.js javascript library is loaded and there is no existing __utmb cookie. The cookie is updated every time data is sent to the Google Analytics server.
30 minutes after last activity
__utmc
Used only with old Urchin versions of Google Analytics and not with GA.js. Was used to distinguish between new sessions and visits at the end of a session.
End of session (browser)
__utmz
Contains information about the traffic source or campaign that directed user to the website. The cookie is set when the GA.js javascript is loaded and updated when data is sent to the Google Anaytics server
6 months after last activity
__utmv
Contains custom information set by the web developer via the _setCustomVar method in Google Analytics. This cookie is updated every time new data is sent to the Google Analytics server.
2 years after last activity
__utmx
Used to determine whether a user is included in an A / B or Multivariate test.
18 months
_ga
ID used to identify users
2 years
_gali
Used by Google Analytics to determine which links on a page are being clicked
30 seconds
_ga_
ID used to identify users
2 years
_gid
ID used to identify users for 24 hours after last activity
24 hours
_gat
Used to monitor number of Google Analytics server requests when using Google Tag Manager