Subsektor peternakan unggas, khususnya ayam ras pedaging (broiler) dan petelur (layer), merupakan komoditas yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga pakan. Mengapa demikian? Karena dalam struktur biaya produksi usaha perunggasan, pakan menyumbang porsi terbesar, yakni mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya operasional.
Memasuki Maret 2026, situasi harga pakan menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Kementerian Pertanian mencatat adanya tren penurunan harga pakan ternak di tingkat produsen sepanjang Februari hingga awal Maret 2026 . Penurunan ini diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak yang selama setahun terakhir tertekan oleh lonjakan harga bahan baku.
Namun, meski ada kabar baik ini, peternak ayam ras masih harus mencermati beberapa tantangan. Kebijakan pengalihan impor bungkil kedelai yang sempat memicu gejolak harga pada awal tahun, serta fluktuasi harga jagung, masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai . Artikel ini akan mengupas secara detail kondisi terkini harga pakan dan ketidakseimbangan ekonomi yang masih dihadapi peternak ayam ras, serta strategi bertahan yang mereka lakukan di tengah dinamika pasar Maret 2026.
Kabar Baik di Awal Maret 2026: Harga Pakan Mulai Terkoreksi
Setelah mengalami tekanan yang cukup berat sepanjang tahun 2025, peternak ayam ras mendapatkan angin segar di awal Maret 2026. Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementerian Pertanian, terjadi tren penurunan harga pada berbagai jenis pakan yang digunakan peternak ayam pedaging maupun petelur .
Data Harga Pakan Terbaru Maret 2026
Berikut adalah rincian harga pakan terkini di tingkat produsen berdasarkan data resmi Kementerian Pertanian per Maret 2026 :
Jenis Pakan
Harga Sebelumnya
Harga Maret 2026
Penurunan
BR0 (Broiler Pre-Starter)
Rp 8.533/kg
Rp 8.451/kg
Rp 82/kg
BR1 (Broiler Starter)
Rp 8.122/kg
Rp 8.010/kg
Rp 112/kg
BR2 (Broiler Finisher)
Rp 8.056/kg
Rp 7.967/kg
Rp 89/kg
P3 (Layer Masa Produksi)
Rp 6.889/kg
Rp 6.803/kg
Rp 86/kg
KP3 (Konsentrat Layer)
Rp 7.809/kg
Rp 7.735/kg
Rp 74/kg
Sumber: SPORA Direktorat Pakan Kementan, pemantauan 33 pabrik pakan per Maret 2026
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menyatakan bahwa tren penurunan harga pakan ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.
“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan stabilitas harga produk peternakan juga lebih terjaga,” ujar Agung di Kantor Kementan, Jakarta, Kamis (5/3/2026) .
Meski demikian, perlu dicatat bahwa penurunan harga ini baru dilakukan oleh sekitar 33 pabrik dari total 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, atau sekitar 38 persen dari total industri .
Perbandingan Harga yang Masih Perlu Dicermati
Meskipun harga pakan mulai menunjukkan tren penurunan, peternak ayam ras masih harus menghadapi tantangan dari sisi harga jual ternak yang cenderung fluktuatif. Mari kita lihat perbandingan terkini:
Data Harga Ternak Terbaru Maret 2026
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia per 25 Maret 2026 :
Komoditas
Harga Maret 2026
Daging Ayam Ras (eceran nasional)
Rp 43.450/kg
Telur Ayam Ras (eceran nasional)
Rp 32.350/kg
Sementara itu, berdasarkan data dari Pemerintah Kota Kediri per 26 Maret 2026, harga daging ayam ras tercatat Rp 40.600 per kilogram .
Perhitungan Feed Cost per Kilogram
Untuk memproduksi satu kilogram ayam hidup, diperlukan pakan sekitar 1,5 hingga 1,7 kilogram (tergantung kualitas pakan dan manajemen pemeliharaan). Dengan harga pakan BR1 terkini Rp 8.010 per kilogram, mari kita hitung biaya pakan:
Asumsi FCR (Feed Conversion Ratio) = 1,6
Harga pakan = Rp 8.010/kg
Biaya pakan per kg ayam hidup = 1,6 x Rp 8.010 = Rp 12.816
Nilai Rp 12.816 ini belum termasuk biaya DOC (day old chick), vitamin, obat-obatan, listrik, tenaga kerja, dan penyusutan kandang. Dengan harga jual ayam hidup di tingkat peternak yang berkisar Rp 18.000 – Rp 19.000 per kilogram (dengan asumsi margin distribusi dari peternak ke konsumen sekitar 50-60 persen), maka margin yang tersisa untuk menutup biaya lain masih sangat tipis.
Perbandingan dengan periode sebelumnya:
Akhir 2025: Biaya pakan mencapai Rp 14.400 per kg ayam hidup
Maret 2026: Biaya pakan turun menjadi Rp 12.816 per kg ayam hidup
Ada penurunan biaya pakan sekitar Rp 1.584 per kilogram ayam hidup atau sekitar 11 persen. Ini merupakan kabar baik, meskipun masih diperlukan upaya lebih lanjut agar margin keuntungan peternak dapat kembali pulih.
Tantangan yang Masih Menghantui
Meski ada tren penurunan harga pakan, peternak ayam ras masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi.
Gejolak Kebijakan Impor Bungkil Kedelai
Salah satu faktor yang sempat mengganggu stabilitas harga pakan di awal tahun 2026 adalah kebijakan pengalihan impor bungkil kedelai (soybean meal/SBM) dari swasta ke BUMN PT Berdikari yang mulai berlaku 1 Januari 2026 .
Pada akhir 2025 hingga awal Januari 2026, kebijakan ini sempat menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga SBM. Harga SBM melonjak dari kisaran Rp 6.800 – Rp 7.100 per kilogram menjadi Rp 7.700 – Rp 8.000 per kilogram .
Pemerintah kemudian merespons dengan menetapkan masa transisi selama tiga bulan (Januari–Maret 2026), di mana swasta masih diizinkan mengimpor SBM hingga 31 Maret 2026. Langkah ini membuat pasokan mulai kembali mengalir dan harga perlahan stabil .
Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Jawa Tengah Suwardi mengungkapkan kekhawatirannya:
“Kami berharap ketersediaan stok dan harga SBM dapat tetap terjaga selama masa transisi dan setelah kebijakan penuh diterapkan. Jika PT Berdikari bisa mendapatkan SBM dengan harga terjangkau dan kualitas baik, ini bisa menjadi solusi jangka panjang. Namun jika tidak, dampaknya ke para peternak unggas akan sangat luar biasa” .
Program SPHP Jagung Pakan
Untuk menjaga stabilitas harga pakan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan penyaluran 242.000 ton jagung pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dimulai Maret 2026 .
Program ini menyasar peternak unggas dengan harga jagung bersubsidi di bawah pasar. Pada tahun 2025, program SPHP jagung telah menyalurkan 51.200 ton kepada 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi .
Pada tahun 2026, target penyaluran meningkat drastis hingga 372,6 persen dengan anggaran Rp 678 miliar. Hal ini diharapkan mampu memberikan angin segar bagi peternak, terutama menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang biasanya disertai peningkatan permintaan .
I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, menyatakan:
“Program SPHP jagung pakan ini secara khusus menyasar para peternak unggas di berbagai wilayah Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengatasi gejolak harga jagung di tingkat peternak yang berdampak langsung pada biaya produksi” .
Strategi Bertahan ala Peternak Rakyat
Menghadapi dinamika harga yang masih fluktuatif, peternak rakyat yang tergabung dalam wadah Permindo terus melakukan berbagai strategi untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Pemanfaatan Bahan Pakan Alternatif
Gejolak harga SBM di awal tahun mendorong banyak peternak untuk mulai mencari bahan baku alternatif. Beberapa opsi yang mulai banyak digunakan antara lain :
Corn Gluten Meal (CGM) – sumber protein alternatif, harga saat ini Rp 10.500 – Rp 11.000 per kg
Corn Gluten Feed (CGF) – mengalami kenaikan permintaan signifikan, harga Rp 4.000 – Rp 4.300 per kg
Palm Kernel Meal (PKM) – sumber protein dari sawit, banyak tersedia di wilayah Sumatera dan Kalimantan
Bungkil Kopra – potensi besar di daerah penghasil kelapa
Tito Ari Santoso, dalam opininya di Poultry Indonesia edisi Februari 2026, menuliskan:
“Gejolak pasokan dan harga soybean meal yang mewarnai awal 2026 kembali menjadi pengingat sekaligus alarm bagi industri perunggasan nasional. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor membuat sektor ini sangat rentan terhadap perubahan kebijakan maupun gangguan pasokan global” .
Penguatan Kelembagaan Peternak
Permindo terus mendorong peternak untuk bergabung dalam kelompok atau koperasi. Dengan berkelompok, peternak memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam membeli pakan, baik dari pabrik maupun distributor.
Pembelian kolektif (bulk buying) memungkinkan peternak mendapatkan harga yang lebih kompetitif, serta akses terhadap informasi harga dan stok bahan baku secara lebih cepat dan akurat.
Harapan pada Kebijakan Pemerintah
Meskipun harga pakan mulai menunjukkan tren perbaikan, masih ada sejumlah harapan dari peternak kepada pemerintah.
Konsistensi Kebijakan
Peternak berharap kebijakan pengalihan impor SBM ke PT Berdikari dapat berjalan lancar setelah masa transisi berakhir pada 31 Maret 2026. PT Berdikari diharapkan mampu:
Mendapatkan SBM berkualitas dari produsen langsung (bukan distributor tingkat lanjut) sehingga harga lebih kompetitif
Menyiapkan infrastruktur logistik dan pergudangan yang memadai
Menjaga ketersediaan pasokan secara rutin tanpa gangguan
Menjual SBM dengan harga yang terjangkau bagi peternak skala kecil dan menengah
Stabilitas Harga Jual Ternak
Penurunan harga pakan akan lebih bermakna jika diimbangi dengan stabilitas harga jual ternak di tingkat peternak. Pemerintah diharapkan terus memantau dan mengintervensi jika terjadi fluktuasi harga yang merugikan peternak.
Berdasarkan data PIHPS per 25 Maret 2026, harga daging ayam ras di tingkat konsumen masih di atas Rp 40.000 per kilogram . Dengan asumsi margin distribusi yang wajar, harga di tingkat peternak seharusnya berada di kisaran Rp 18.000 – Rp 20.000 per kilogram—masih memberikan ruang keuntungan tipis setelah memperhitungkan biaya pakan yang mulai turun.
Penutup
Memasuki Maret 2026, peternak ayam ras mulai melihat secercah harapan. Harga pakan yang mulai terkoreksi, program SPHP jagung yang ditingkatkan, serta masa transisi kebijakan impor SBM yang memberikan ruang adaptasi, menjadi kabar baik bagi peternak rakyat.
Namun, perjalanan masih panjang. Konsistensi kebijakan, ketersediaan bahan baku alternatif, serta penguatan kelembagaan peternak menjadi kunci agar momentum perbaikan ini dapat berkelanjutan.
Permindo akan terus mendampingi peternak rakyat dalam menghadapi dinamika pasar, memperjuangkan kebijakan yang berpihak, serta mendorong kemandirian pakan berbasis sumber daya lokal.
Call to Action
Apakah Anda peternak ayam ras yang sedang merasakan dampak penurunan harga pakan di daerah Anda? Bagikan pengalaman dan data Anda di kolom komentar. Mari kita kumpulkan suara peternak rakyat untuk memastikan bahwa momentum perbaikan ini benar-benar dirasakan oleh semua.
Bergabunglah dengan Permindo untuk mendapatkan akses informasi harga terkini, pelatihan pakan alternatif, dan pendampingan teknis. Bersama Permindo, kita kuatkan peternak rakyat Indonesia!
Emery Anindya adalah seorang jurnalis publik (public journalist) yang berdedikasi untuk mengubah ruang berita menjadi ruang kolaborasi warga. Melalui pendekatan jurnalisme solusi (solutions journalism), Emery tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog publik untuk menemukan jalan keluar bersama komunitas
Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari
Hari/Tanggal: Selasa, 27 Oktober 2026 Waktu: 14.00 WIB – selesai Tempat: Kafe di depan Graha Gabah Agenda: Pembahasan dan evaluasi pola kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat
I. Latar Belakang
Pertemuan PERMINDO dengan Divisi Kemitraan Berdikari membahas konsep, mekanisme, serta tantangan implementasi kemitraan Berdikari dengan Peternak Rakyat. Pembahasan juga menjadi momentum untuk melakukan flashback terhadap pengalaman model kemitraan sebelumnya, termasuk referensi pembahasan MK-RI tahun 2016, sekaligus melihat relevansinya dengan kondisi Peternak Rakyat saat ini.
PERMINDO memandang kemitraan BUMN semestinya tidak hanya berorientasi pada keamanan bisnis perusahaan, tetapi juga menjalankan fungsi strategis dalam pemberdayaan, perlindungan, pembinaan, dan peningkatan kapasitas Peternak Rakyat.
II. Pokok-Pokok Pembahasan
1. Pola Kemitraan dan Pembiayaan
Dalam pola yang dibahas, Berdikari pada prinsipnya menyediakan DOC saja atau DOC + pakan. Beberapa komponen biaya menjadi tanggung jawab peternak, antara lain biaya OVK sekitar Rp500/ekor, biaya operasional sekitar Rp4.500/ekor, serta kandang dan sarana produksi. Hasil ayam hidup (LB) dibeli Berdikari berdasarkan harga kontrak. Model ini dapat menjadi pola kerja sama yang baik apabila terdapat keseimbangan antara risiko perusahaan, biaya produksi, kualitas sapronak, harga kontrak, dan margin yang diterima peternak.
2. Akses dan Seleksi Peternak Rakyat
Berdikari cenderung memilih calon mitra berdasarkan performance produksi, track record, kemampuan modal, dan kesiapan kandang, termasuk kandang closed house yang representatif. Pendekatan tersebut dapat dipahami dari sisi kehati-hatian bisnis, tetapi apabila diterapkan terlalu ketat, Peternak Rakyat konvensional dengan modal terbatas dan performance yang belum optimal akan sulit memperoleh akses. Kemitraan BUMN seharusnya tidak hanya memilih peternak yang sudah kuat, tetapi juga membina peternak agar menjadi lebih kuat dan naik kelas.
3. Prinsip Kehati-hatian dan Keterbatasan Pendampingan
Berdikari berkepentingan menjaga performance produksi dan menghindari risiko kerugian sebagai bagian dari tata kelola BUMN yang prudent. Di sisi lain, keterbatasan jumlah dan kapasitas tim pendamping dapat mendorong perusahaan lebih memilih mitra yang sudah memiliki modal, kandang memadai, dan track record baik. PERMINDO memandang prudential governance harus berjalan bersama fungsi pemberdayaan, melalui pola pendampingan bertahap agar peternak konvensional tidak langsung tersisih karena belum memenuhi standar awal.
4. Target Performance/IP
Dalam pembahasan terdapat penekanan bahwa peternak harus mencapai IP standar sekitar 350. Perhatian PERMINDO adalah bahwa Berdikari pada prinsipnya lebih menekankan hasil akhir IP dan tidak terlalu masuk pada bagaimana peternak mencapai angka tersebut. Peternak dapat melakukan berbagai upaya manajemen untuk mengejar IP, termasuk penambahan atau penggunaan pakan lebih banyak, selama target performance tercapai.
Kondisi tersebut perlu dievaluasi. IP seharusnya menjadi indikator hasil dari sistem produksi yang sehat, bukan sekadar angka yang harus dicapai dengan cara apa pun. Jika IP hanya menjadi target akhir, sementara kualitas DOC, kualitas pakan, kesehatan, OVK, mortalitas, FCR, kondisi kandang, manajemen pemeliharaan, dan dinamika kualitas sapronak tidak dievaluasi secara proporsional, akar persoalan performance produksi akan sulit diketahui. Target IP harus ditempatkan sebagai alat evaluasi, bukan sekadar target administratif.
5. Evaluasi Sapronak dan Beban Risiko Produksi
Kualitas DOC dan pakan dapat mengalami perubahan. Karena itu, tuntutan pencapaian IP tanpa evaluasi menyeluruh terhadap input produksi berpotensi menempatkan beban pencapaian performance terlalu besar pada peternak. Kemitraan yang sehat perlu melakukan evaluasi bersama terhadap kualitas DOC, kualitas dan konsumsi pakan, FCR, mortalitas, kesehatan dan OVK, manajemen kandang, kondisi lingkungan, biaya produksi, performance/IP, serta margin peternak.
Peternak Rakyat Tertekan Harga Pakan dan Ayam Hidup
“Peternak rakyat sedang menghadapi tekanan ganda (cost-price squeeze): harga input, terutama pakan, meningkat sehingga HPP semakin tinggi, tetapi pada saat yang sama harga ayam hidup di tingkat peternak justru turun jauh di bawah biaya produksi.”
Ada 3 tindakan konkret yang perlu didorong ke pemerintah:
1. Aktifkan Penyerapan Darurat Ayam Hidup
Pemerintah/Bapanas segera mengumpulkan RPA/RPHU, BUMN pangan, integrator, koperasi, dan offtaker.
Tetapkan volume penyerapan harian/mingguan dari sentra yang harganya jatuh.
Penyerapan diarahkan ke karkas/frozen/captive market, bukan sekadar memindahkan ayam hidup dari satu broker ke broker lain.
Belum diusulkan atau belum ada penugasan dari pemerintah untuk peternak rakyat secara luas; yang sudah jalan hanya sebatas anggota kemitraan Berdikari saja.
2. Kurangi Supply DOC–FS
Lakukan pengendalian chick-in dan produksi DOC secara proporsional, termasuk perusahaan integrator dan kemitraan, berdasarkan data surplus-demand. Pengawasan lemah atau bahkan belum dilaksanakan.
3. Stabilisasi Harga Peternak
Terapkan mekanisme harga minimum sementara berbasis HPP; ketika LB jauh di bawah HPP, selisih tekanan ditangani melalui penyerapan dan pengurangan supply, bukan dibebankan seluruhnya kepada peternak.
Sudah dilakukan, tetapi belum berdampak pada realisasi.
BOGOR — Peternak broiler rakyat kembali menghadapi tekanan biaya produksi. Memasuki November–Desember 2026, harga bahan baku pakan berpotensi naik ke Rp9.000–Rp10.000/kg. Harga jagung dan DOC juga masih menjadi beban peternak mandiri.
Kondisi ini dikhawatirkan menekan harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak. Biaya produksi naik, tetapi harga jual ayam tetap fluktuatif. Peternak pun menanggung risiko terbesar. Dalam berita peternakan nasional pekan ini, isu itu menjadi sorotan utama pelaku usaha unggas.
Biaya Produksi Naik, Peternak Rakyat Paling Rentan
PERMINDO menilai pemerintah perlu mengantisipasi kondisi ini sejak dini. Tekanan biaya produksi tidak boleh berubah menjadi kerugian berkepanjangan bagi peternak rakyat.
“Kalau pakan naik, DOC mahal dan terbatas, jangan sampai saat ayam panen justru harga livebird yang ditekan. Peternak tidak meminta harga tinggi, tetapi harga yang wajar dan mampu menutup biaya produksi,” ujar Sekretaris Jenderal PERMINDO, Heri Irawan.
Menurut Heri, struktur biaya produksi broiler sangat rentan terhadap gejolak pasar input. Pakan menyumbang porsi terbesar dalam total biaya. Kenaikan harga pakan langsung menggerus margin peternak. Terutama mereka yang mengelola kandang skala kecil dan menengah.
Selain pakan, harga DOC atau anak ayam umur sehari yang mahal dan terbatas turut memperbesar risiko. Peternak kerap bersaing memperoleh DOC berkualitas dengan harga tinggi pada periode permintaan puncak.
HAP Rp25.000/kg Harus Jadi Perlindungan Nyata
PERMINDO meminta pemerintah memastikan Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam ras pedaging di tingkat produsen sebesar Rp25.000/kg benar-benar berfungsi. HAP jangan hanya menjadi angka acuan tanpa implikasi di lapangan.
Menurut organisasi yang menaungi peternak broiler rakyat ini, HAP semestinya menjadi bagian dari mekanisme perlindungan harga. Tujuannya agar peternak tidak menjadi pihak terakhir yang menanggung seluruh beban kenaikan biaya.
“Jangan sampai pola yang sama berulang: input naik, HPP naik, tetapi ketika ayam panen harga LB turun. Kalau seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada peternak, keberlanjutan peternak rakyat akan semakin terancam,” tegas Heri Irawan.
Ia menegaskan, peternak tidak menuntut harga jual yang tinggi. Yang diminta adalah harga yang wajar, transparan, dan berkeadilan. Harga wajar berarti mampu menutup biaya produksi sekaligus memberi ruang usaha yang layak.
Lima Usulan PERMINDO kepada Pemerintah
Dalam pernyataan resminya, PERMINDO menyampaikan sejumlah usulan konkret agar gejolak harga tidak terus merugikan peternak. Usulan ini menyasar hulu hingga hilir industri broiler.
Menjaga harga livebird agar tidak jatuh jauh di bawah HAP Bapanas.
Mengevaluasi HPP broiler secara berkala berdasarkan harga aktual DOC, pakan, jagung, SBM, OVK, energi, dan biaya produksi lainnya.
Menjamin ketersediaan bahan baku pakan seperti SBM dan jagung pakan dengan harga yang wajar.
Memperkuat pengendalian keseimbangan supply-demand agar oversupply tidak terus dibebankan kepada peternak.
Membuka dialog rutin antara pemerintah, integrator, industri pakan, dan peternak mandiri sebelum gejolak harga membesar.
Evaluasi HPP Berbasis Data Aktual
Poin evaluasi HPP dinilai krusial. Perhitungan HPP perlu mencerminkan harga nyata di pasar, bukan asumsi lama yang sudah tidak relevan. Jika HPP tidak diperbarui, selisih biaya akan tetap ditanggung peternak.
Ketersediaan Jagung dan SBM
Ketersediaan jagung pakan dan SBM atau soybean meal menjadi penentu utama biaya pakan. Kelangkaan kedua bahan ini cepat memicu kenaikan harga di tingkat pabrik. Dampaknya langsung terasa pada harga pakan jadi yang dibeli peternak.
Dialog Rutin Sebelum Krisis Harga
PERMINDO menilai komunikasi antar pemangku kepentingan selama ini berjalan reaktif. Dialog baru digelar setelah harga terlanjur jatuh. Padahal, deteksi dini terhadap potensi oversupply bisa mencegah kerugian yang lebih besar.
Stabilisasi Butuh Keseimbangan Harga Input dan Output
Menurut PERMINDO, stabilisasi industri broiler tidak cukup hanya dengan mengendalikan harga input. Keseimbangan antara harga input dan harga output harus dijaga secara bersamaan.
Jika pemerintah hanya menekan harga pakan tanpa menjaga harga jual ayam, peternak tetap berada di posisi lemah. Sebaliknya, mendorong harga jual tanpa menjamin pasokan dan permintaan yang seimbang juga tidak akan bertahan lama.
Karena itu, PERMINDO menilai perlindungan harga harus berjalan seiring dengan tata kelola pasokan. Peternak rakyat butuh kepastian biaya, kepastian harga jual, dan kepastian pasar. Tanpa itu, keberlanjutan usaha broiler rakyat sulit dijaga.
Itulah sorotan berita peternakan pekan ini. PERMINDO berharap pemerintah bergerak cepat. Tujuannya agar harga livebird tetap wajar dan peternak rakyat tidak terus menanggung beban biaya produksi yang naik.
Contains information related to marketing campaigns of the user. These are shared with Google AdWords / Google Ads when the Google Ads and Google Analytics accounts are linked together.
90 days
__utma
ID used to identify users and sessions
2 years after last activity
__utmt
Used to monitor number of Google Analytics server requests
10 minutes
__utmb
Used to distinguish new sessions and visits. This cookie is set when the GA.js javascript library is loaded and there is no existing __utmb cookie. The cookie is updated every time data is sent to the Google Analytics server.
30 minutes after last activity
__utmc
Used only with old Urchin versions of Google Analytics and not with GA.js. Was used to distinguish between new sessions and visits at the end of a session.
End of session (browser)
__utmz
Contains information about the traffic source or campaign that directed user to the website. The cookie is set when the GA.js javascript is loaded and updated when data is sent to the Google Anaytics server
6 months after last activity
__utmv
Contains custom information set by the web developer via the _setCustomVar method in Google Analytics. This cookie is updated every time new data is sent to the Google Analytics server.
2 years after last activity
__utmx
Used to determine whether a user is included in an A / B or Multivariate test.
18 months
_ga
ID used to identify users
2 years
_gali
Used by Google Analytics to determine which links on a page are being clicked
30 seconds
_ga_
ID used to identify users
2 years
_gid
ID used to identify users for 24 hours after last activity
24 hours
_gat
Used to monitor number of Google Analytics server requests when using Google Tag Manager